Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 57 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Suasana ini tidak sesuai dengan yang saya perkirakan. Anda membawa masalah pribadi ke dalam pembahasan kita, Presdir Roxena," tegur Tuan Luz tidak senang dengan Roxena yang tidak fokus.


Schedule makan siang dengan Tuan Luz adalah hari ini. Sebutannya saja makan siang namun pembahasan di dalamnya sangatlah dalam. Tuan Luz membahas mengenai keinginannya untuk ikut serta berinvestasi dalam perusahaan keuangan yang akan Roxena.


"Apa Anda bertengkar dengan suami Anda?"terka Tuan Luz kemudian yang masih belum mendapat respon dari Roxena. Wanita itu tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


"CK!" Tuan Luz berdecak. "Wajar bagi pasangan baru bertengkar. Tapi, jangan berlarut-larut karena akan merembet ke semua aspek. Sebagai senior saya akan memberikan Anda nasehat, dalam rumah tangga hanya ada satu hati dan tujuan. Jika sudah berbeda tujuan, rumah tangga akan mendapatkan guncangan besar. Pasangan itu berada pada perahu yang sama. Harus saling membantu dan menguatkan agar perahu tidak terbalik dibantai ombak!"ungkap Tuan Luz serius.


"Jadi, maksud Anda saya harus membiarkannya begitu saja?"ketus Roxena tidak terima. Barang pentingnya hancur dan hanya dibalas dengan maaf?


Maaf, Roxena tidak semudah hati itu!


"Bukan begitu juga," sergah Tuan Luz. Ia menghela nafas pelan.


"Jadi, bagaimana?"tanya Roxena.


"Anda harus bertindak sesuai dengan situasi dan kondisi. Saya tahu memang terkadang tidak cocok. Akan tetapi, ada kalanya mengalah untuk menang. Selain itu, tinggal satu atap tapi bagai air dan api kan tidak enak. Lagipula, Anda tampak saat terganggu dengan pertengkaran itu," jelas Tuan Lux hati-hati. Roxena adalah sekutu yang kuat. Ia tidak boleh menyinggungnya.


"Maksud Anda saya sangat terpengaruh?"tanya Roxena memperjelas yang dibalas dengan anggukan Tuan Luz. Itu terlihat jelas dari raut wajah Roxena.


Roxena mencerna sesaat. Dahinya mengernyit tipis, haruskah aku memaafkannya? Tapi, barang itu sangat berharga bagiku.


Dia masa lalumu, yang di sampingmu kini dan ke depannya adalah aku! Roxena, kau telah memilihku. Jadi, aku mohon lupakan semua tentangnya.


Permintaan Gerald terlintas dalam ingatannya. Roxena mengusap wajahnya kasar. "Maafkan saya. Mari lanjutkan pembahasan kita sebelumnya," ucap Roxena, memutus pembicaraan tentang rumah tangganya.


Tuan Luz yang tidak ingin ikut campur lebih dalam menyetujuinya. "Jadi, saya berniat menanamkan investasi pada perusahaan keuangan Anda. Apakah Anda setuju dengan niat saya?"


"Hm." Roxena sudah menguasai perasannya, mengesampingkan masalah pribadi. "Mengapa Centauri?"tanya Roxena meminta alasan.


"ESA Group jauh lebih menjanjikan daripada perusahaan yang belum resmi beroperasi," lanjut Roxena.


"Karena Anda yang memimpinnya," jawab Tuan Luz. Ia memang rasional. Tapi, nalurinya lebih kuat untuk menjadi sekutu Roxena.


"Haha, Untuk apa bekerja sama dengan rubah licik? Bukankah ada singa sang penguasa?"


"Jangan meremehkan rubah, Tuan Luz," lakar Roxena.


"Meskipun demikian, belum ada sejarahnya rubah menjadi penguasa hutan," balas Tuan Luz tersenyum. Roxena terkekeh pelan.


"Jika hanya membicarakan ini, Anda kan hanya perlu mengirimkan proposal. Jangan basa-basi lagi. Katakan yang sebenarnya," ucap Roxena dengan nada dinginnya.


Tuan Luz semakin melebarkan senyumnya seraya mengangguk pelan. Ia puas dengan Roxena.


"Kita punya musuh yang sama, tidak ada salahnya bekerja sama," ucap Tuan Luz.


"Menjatuhkan mereka?"terka Roxena menaikkan alisnya.


"Hm … ESA Group tidak boleh menjadi milik kerajaan begitupun sebaliknya!"ujar Tuan Luz serius.


"Caranya?"tanya Roxena lagi. Ia penasaran dengan ide dan rencana Tuan Luz. Pria itu terus berusaha mendekati dirinya untuk menjadi sekutu. Tidak mungkin tanpa alasan. Hanya saja itu yang masih belum bisa Roxena ketahui. Tapi, tidak ada salahnya bekerja sama asalnya tujuan Tuan Luz tidak mengganggu rencananya.


Tuan Luz meminta Roxena untuk mendekat padanya, membisikkan sesuatu pada Roxena. “Anda serius? Apa yang Anda katakan barusan adalah hal yang sensitif. Jika tersebar Anda bisa mati!”


Tuan Luz tertawa. “Saya kan tidak seceroboh itu. Bagaimana?”


“Ini rumit. Saya tidak ada niat mengganggu sistem pewaris. Tapi, bagaimana cara Anda mengetahui hal itu?”tanya Roxena penasaran. Tuan Luz ini terlihat sederhana namun tidak sesederhana yang terlihat.


Sekali lagi, Tuan Luz tersenyum seolah menjawabnya sebagai rahasia. Roxena berdecak pelan.


Pria tua ini rubah licik. Tapi, informasi ini memang patut ditindaklanjuti. Hm, mari bekerja sama selama dia tidak menggangguku.


Tuan Luz mengulurkan tangannya, “deal?”


“Yeah.” Roxena membalas, berjabat tangan.


“Senang bekerja sama dengan Anda.” Yang hanya diangguki singkat oleh Roxena. Tuan Luz pamit lebih dulu, meninggalkan Roxena yang kini sedang menggoyahkan gelas alkoholnya. Tak lama kemudian Erin masuk.


“Kita harus kembali ke kantor, Nona,” ujar Erin. Roxena menatap Erin sekilas kemudian menenggak habis minumannya.


“Hari akan semakin panas, Erin,” ucap Roxena berdiri dan melangkah keluar lebih dulu. Erin tidak paham maksud Roxena. Cuaca memang lebih hangat di musim gugur tapi akan berubah menjadi dingin saat musim dingin tiba.


Kerajaan penuh intrik dan konflik. Seberbahaya di luar tembok lebih berbahaya lagi di dalam tembok kerajaan. Dinding mempunyai mata dan telinga. Politik menjadi permainan. Ekonomi dan kesejahteraan rakyat dipertaruhkan. Belum lagi gejolak pewaris. Stella, nafsu makanmu besar sekali.

__ADS_1


Roxena terkekeh pelan. Erin merasa suasana hati Roxena lebih baik. Tapi, tetap penasaran apa penyebabnya.


“Erin.”


“Ya, Nona.”


“Selidiki latar belakang Luz, aku ingin sampai informasi yang paling kecil!”ucap Roxena yang dibalas dengan anggukan Erin.


*


*


*


“Kepergian ke Luxembourg, apakah jadi membawa Tuan, Nona?”tanya Erin sebelum Roxena turun dari mobil.


“Tidak ada berubah, Erin,” jawab Roxena.


“Owh, okay, Nona.”


Roxena melangkah menuju lift sementara Erin melajukan mobil meninggalkan basement. Roxena disambut oleh Lily dan Sophia. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Gerald. “Tuan ada jadwal mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, Nona. Kemungkinan Tuan tidak pulang malam ini,” ujar Sophia, dibalas Roxena dengan ber-oh-ria.


Sedikit hampa, seperti ada yang hilang. Roxena menyantap makan malamnya dengan cepat dan segera menuju kamar. Kembali ditiliknya sejenak suasana kamar.


Hah!


Sialan!


Aku terlena.


Roxena membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap awang-awang.


Semua perasaan ini akan sirna jika aku menemukannya. Regis, kekasihku.


*


*


*


Makan malam keesokkan malamnya, Gerald pulang dengan membawa kotak kecil bewarna biru, memberikannya pada Roxena dengan raut wajah cemas.


“Aku tahu mau semirip apapun itu tidak akan bisa menggantinya. Maafkan aku.” Gerald menundukkan kepalanya.


Roxena membuka kotak itu. Jepit rambut yang sama persis seperti miliknya. Roxena menatap Gerald, tatapannya turun pada jari-jari Gerald yang kemudian berusaha Gerald sembunyikan di belakang tubuhnya.


“Kenangan tidak bisa aku ganti. Tapi, bolehkan aku aku mengisi kenangan di dalam jepit rambut itu?”


Melihat itu, Roxena merasa sedikit terharu. Ia menghela nafas pelan, sudahlah. Masalahnya tidak boleh berputar di sini terus. Pertengkaran ini akan menghambat semua rencanaku.


"Aku terima permintaan maafmu. Tapi, jika sekali lagi kau menyentuh barangku tanpa persetujuan, aku tidak akan pernah mengampunimu!!"


Senyum Gerald mengembang seketika. Itu sudah cukup, "aku berjanji."


"Biar ku lihat jarimu." Gerald mengeluarkannya dengan ragu. Jari-jarinya terbungkus perban, terluka karena sesuatu. Roxena menatapnya datar.


"Sudah aku obati. Jadi, tidak masalah," ucap Gerald.


"Baiklah."


Luka di jari Gerald itu ada karena Gerald membuat sendiri jepit rambut itu. Memadukan logam dengan ukuran yang rumit dan harus mendetail, hal itu bukan keahliannya sehingga menerima beberapa luka pada jari. Namun, Gerald masih merasa itu tidak sepadan.


"Kita baiklah?"tanya Gerald memastikan.


"Hm."


"Terima kasih, istriku!" Roxena terperanjat saat Gerald memeluknya tiba-tiba.


"Ya." Roxena menutup matanya. Seperti ada beban yang hilang dari pundaknya.


Akhirnya, ketenangan kembali. Sophia bernafas lega.


*

__ADS_1


*


*


"Tuan?" Sophia yang hari ini bertugas membuat sarapan terkejut mendapati Gerald sedang sibuk di dapur.


"Ah, aku membuat sarapan," jawab Gerald sembari terus mengaduk sarapan yang ia buat.


Sophia menyipitkan matanya ragu. Tapi, aroma dan penampilan dari makanan yang Gerald buat terlihat menjanjikan.


"Saya akan mengerjakan hal lain." Sophia undur diri dari dapur.


Gerald membuat beberapa menu. Tidak hanya menu sarapan melainkan juga menu untuk makan siang, Gerald berencana membawa bekal makan siang.


Sekitar 30 menit kemudian sarapan dan bekal makan siang telah selesai dibuat. Gerald puas dengan hasilnya. Berharap Roxena suka. Ini adalah bagian dari permintaan maafnya, act of service.


Gerald kemudian kembali ke kamar, ranjang telah kosong dan terdengar suara air dari kamar mandi. Kembali ia melakukan act of service dengan memilih pakaian untuk Roxena. Pilihannya tertuju pada gaun cream yang pernah Roxena kenakan, itu terlihat sangat cocok. Juga mencocokkan aksesoris.


Sekilas matanya tertuju pada kalung blue diamond. Tapi, itu terlalu mencolok. Kalung, Roxena jarang mengenakan perhiasan. Akhirnya pilihan Gerald tertuju pada jam tangan dengan tali strap mesh berwarna rose gold. Warna yang cocok dengan kulit Roxena dan dress yang akan digunakan.


"Kau sedang apa?"


Gerald berbalik. Roxena mengenakan handuk mandinya.


"Memilih pakaian dan jam tanganmu hari ini," ucap Gerald seraya menyodorkan dress dan jam tangan pilihannya.


"Oh." Tak ada penolakan. Roxena segera menerima dan memakainya tanpa menyuruh Gerald keluar.


Astaga! Gerald memalingkan wajahnya.


*


*


*


"Bagaimana? Sesuai seleramu?"tanya Gerald saat Roxena mulai sarapan.


"Ya," jawab singkat Roxena. "Meskipun ada yang berbeda, tidak masalah." Roxena melirik Sophia dan Lily yang berada tak jauh darinya.


"Itu … Tuan yang memasaknya, Nona," beritahu Sophia.


Roxena tersentak pelan. Ada ingatan lama yang hadir di benaknya.


Di antara kita bertiga hanya Gerald yang pandai memasak. Sedang aku dan Xena hanya pandai menghabiskannya, tawa seorang pria. Suasana di sana penuh kebahagiaan.


"Kau … tidak berubah ya?"gumam Roxena.


"Ya?"


"Tidak ada. Ini enak." Roxena memalingkan wajahnya untuk menyeka air mata yang keluar.


"Kalau begitu ayo makan lagi," ujar Gerald yang diangguki Roxena.


Selesai sarapan, Gerald mengeluarkan bekal yang telah ia buat. Untuk Roxena dan untuk dirinya sendiri. "Katanya kau jarang makan siang. Mulai hari ini aku akan membawakanmu bekal."


"Erin mengatakannya?"


"Aku tahu. Jangan lupa dimakan."


Sudah dibuat. Dan rasanya enak. Roxena menerimanya. Keduanya lantas berjalan keluar apartemen bersama. Di basement, Erin, Jack, dan Thomas sudah menunggu di luar mobil masing-masing.


"Asisten Erin."


"Ya, Tuan?"


"Aku membawakan bekal makan siang untuk Xena. Ingatkan Xena untuk memakannya, okay?"harap Gerald.


Bekal makan siang? Ini … terbalik?


Erin yang sedikit bingung menjawab dengan anggukan.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Ehem." Roxena berdehem pelan.


Erin segera membukakan pintu untuk Roxena, sebelum masuk Roxena mengatakan sesuatu pada Gerald, "besok siang aku lihat ada waktu luang. Kita akan buat lukisan pernikahan. Erin akan menjemputmu."


__ADS_2