Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 85 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Ingatan Stella kembali ke masa lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengan Roxena. Kala itu usia mereka barulah 4 tahun. Bertemu di acara kerajaan. Roxena datang bersama dengan ibunya yang merupakan seorang bangsawan.


Kesan pertama Stella pada Roxena adalah angkuh dan sombong. Roxena kecil tak menyapa maupun tersenyum padanya. Tidak seperti anak-anak bangsawan lain yang menarik perhatiannya.


Kala itu, Stella kecil yang terbiasa dimanja dan dihormati langsung menunjuk Roxena marah. Bertanya mengapa Roxena menyapanya?


Dengan datar Roxena menjawabnya, "maaf … saya tidak mengenali Anda!"


Hal itu membuat emosi anak 4 tahun meledak-ledak. Namun, Roxena malah mengatakan sesuatu yang membuatnya menangis, "bodoh."


Hal itu tidak hanya menarik perhatian bangsawan lain namun juga Raja dan Ratu. Melihat keberanian Roxena, mereka tidak heran, terutama Ratu yang menyadari bahwa sikap Roxena mirip dengan ibunya. Ratu dan ibu Roxena adalah teman SMA.


"Roxena Lawrence menyapa Lady Stella." Setelah mendapat teguran dari sang ibu dan ayah, akhirnya Roxena menyapa dengan ekspresi malasnya.


Pertemuan pertama itu sangat membekas pada Stella. Seiring berjalannya waktu, mereka lebih sering bertemu karena berada dalam satu sekolah yang sama.


Sikap acuh Roxena pada Stella tidak berubah sama sekali. Ia hanya menyapa alakadarnya karena tuntutan status sosial. Sayangnya, bukan hanya itu yang membuat Stella tidak menyukai Roxena. Di sekolah, Roxena selalu menjadi nomor satu dalam angkatannya. Roxena selalu lebih unggul darinya. Dan itu membuatnya dibandingkan-bandingkan dengan Roxena.


Stella tidak terima itu. Sejak itu, dia bertekad untuk mengalahkan Roxena, merebut semua ketenaran dan reputasi yang seharusnya menjadi miliknya. Hanya ia yang boleh bersinar! Karena dia adalah satu-satunya putri kerajaan.


Namun, ia selalu berada di belakang Roxena. Saat mengira dirinya menang, ia kalah satu langkah bahkan lebih.


Semakin dewasa, semakin Roxena berani padanya. Mengabaikan undangan, berkata sinis, bahkan mengejek dirinya. Stella membenci itu! Atas dasar apa Roxena lebih baik darinya?!!


Sebagai magnolia kerajaan, ia sangat tidak terima. Untuk membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan, lebih baik dari Roxena, Stella menghimpun kekuatan untuk membalikkan pewaris tahta. Mengalahkan, membuat Roxena berlutut padanya. Pada akhirnya, satu-satunya tujuan adalah menghancurkan Roxena.


Namun, ada satu hal yang tidak Roxena ketahui. Atau mungkin dia mengetahuinya tapi mengabaikannya.


Roxena tak pernah berniat berebut dengannya. Pada dasarnya Roxena tahu, mengapa harus pura-pura tidak tahu? Ia mampu, mengapa harus mengalah? Memangnya kenapa jika itu putri kerajaan, haruskah ia merendahkan diri dan selalu berada di bawah. Maaf, itu bukan dirinya.


Jika ketinggalan ya dikejar. Tapi, jangan mengejar yang tidak pasti. Daripada sibuk menghancurkan lebih baik membangun. Seorang putri kerajaan namun cakrawalanya sempit sekali. Membuat Roxena yang sudah melalui puluhan kehidupan merendahkan Stella.


Setiap orang adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri. Semua memiliki porsinya sendiri.


"Sebenarnya aku iri pada Stella." Roxena bercerita pada Gerald. Mengenai asal mula mengapa Stella membenci dirinya.


"Dia memiliki orang tua yang lengkap. Yang menyayanginya. Dia juga punya kakak yang juga sangat menyayanginya."


"Sejujurnya aku yang harusnya kesal. Aku tidak mementingkan status sosial itu. Aku sudah muak. Aku bekerja keras untuk tujuanku sendiri. Sayang, otak kecilnya tidak memikirkan hal itu!"


"Aku hanya mau mempertahankan apa yang menjadi milikku. Lawrence Group lalu membentuk sesuatu yang menjadi kekuatan lainku, LS. Coba kau pikirkan, jika aku menandinginya, menentangnya, mudah saja. Aku cukup menjadi putri mahkota!"


Gerald tersentak kaget mendengarnya. "Menikah dengan putra mahkota?!"


"Ya, jika aku tidak punya tujuan lain. Sayang, sejak awal tujuan utamaku di kehidupan bukankah tahta melainkan pembalasan dendam."


Sedetik kemudian, Gerald langsung memeluk Roxena. Wajahnya bersembunyi di balik punggung Roxena. "Jangan bahas lagi. Aku tidak mau mendengarnya."


Roxena menangkup tangan Gerald yang memeluknya dari belakang. Roxena tersenyum. "Benar. Semua telah berlalu."


Di sisi lain, Jade masih mendengarkan cerita Stella. Diakhiri dengan pertanyaan, "apakah aku salah, Jade?"


Jade yang mendengar secara seksama segera menanggapi, "Anda mungkin salah mengartikan, Lady."


"Maksudmu?"


"Lady Lawrence mungkin tidak menghormati Anda. Namun, beliau tidak pernah mengusik Anda, kan?"


"Dia tidak menghormatiku sudah termasuk menyinggungku, Jade!"


"Tapi, Anda tidak ada menceritakan bahwa Lady Lawrence mengancam posisi Putri Anda karena posisi Anda adalah mutlak!! Persaingan itu wajar, Lady. Hanya saja menurut saya Anda yang berlebihan menanggapinya. Bisa saja apa yang Anda kejar dan inginkan dari Lady Lawrence, adalah hal yang sangat tidak dipedulikan olehnya. Lady, dengan cara seperti ini, kecemburuan Anda menghancurkan martabat Anda sendiri."


"Kau!" Stella menunjuk Jade kesal. "Kau membelanya?!"berang Stella.


"Tidak, Lady. Saya bersikap netral."

__ADS_1


Plakkk!!


Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Jade. Jade tersenyum simpul. "Anda mengakuinya."


Amarah adalah bentuk pengakuan. "Jade! Kau itu orangku! Kau harus membelaku! Mengatakan bahwa dia yang salah!!"


"Hitam adalah hitam. Putih adalah putih. Anda tidak bisa mencampuradukkan kedua hal tersebut!!"tegas Jade. Ia sama sekali tidak takut pada Stella.


"Pergi!!" Stella mengusir Jade keluar dari kamarnya.


Jade menghela nafas sebelum keluar dari kamar Stella. Tak lama setelah Jade keluar, Asisten Rose masuk dan mengabarkan bahwa ada utusan Raja di ruang tamu.


Stella gegas merapikan penampilan dan ekspresi wajahnya. Keluar dengan anggun.


"Yang Mulia Raja memanggil Anda, Lady."


"Pimpin jalannya." Utusan itu memimpin jalan. Stella menerka mengapa sang ayah memanggilnya.


Jade melihat itu. Sorot matanya mengartikan sebuah penantian yang akan segera tercapai.


Wanita yang aku inginkan akan aku dapatkan. Memberi madu di atas luka, aku sangat menantikannya, Stella.


*


*


*


Stella merasakan suasana asing saat memasuki ruang kerja Raja. Perasannya tidak tenang. "Ayah memanggilku?"


"Yang lain keluar!"titah Raja. Mimik wajah Raja sangat dingin. Stella bergidik karenanya.


"Hal apa-"


Stella segera melihat berkas yang berserakan di bawah kakinya itu. Matanya membulatkan sempurna mengetahui isi berkas itu. Lalu mendongak. Wajah Raja sangat menyeramkan.


"Ayah! Ini tidak benar!" Stella langsung berlutut.


Bagaimana ini ada di tangan Ayah? Siapa yang mengkhianatiku?


"Ayah, semua ini fitnah. Bagaimana bisa aku merencanakan hal sejahat ini?! Ayah kau mengenalku, aku tidak mungkin melakukannya!!"


"LANCANG KAU, STELLA! BERANINYA KAU MERENCANAKAN PEMBERONTAKAN?! ATAS DASAR APA, HAH?!" Amarah Raja meledak. Ia sangat marah saat menemukan berkas itu di ruang kerjanya. Awalnya ia tidak percaya dengan apa yang tertera di dalam sana. Sayangnya, stempel yang digunakan adalah stempel asli. Stempel lily yang merupakan stempel dari istana Putri.


"STELLA, MENGAPA KAU MERENCANAKAN PEMBERONTAKAN? APA KAU MERASA TIDAK PUAS DENGAN STATUSMU SAAT INI?!"


Raja tidak habis pikir. Stella selalu mendapatkan yang terbaik. Ia kecewa pada Stella. Ini adalah aib dalam pemerintahannya.


Stella menggeleng keras. Ia kembali membela dirinya. Dirinya dijebak! Musuh ingin mengadu domba keluarga inti kerajaan. "Jangan percaya, Ayah!"


"PENGAWAL!! ASISTEN!!" Yang dipanggil segera menghadap.


"AYAH TIDAK, AYAH! AKU TIDAK BERSALAH!" Stella buru-buru memeluk kaki Raja. Sayang, kekecewaan Raja sangat besar.


"MULAI HARI INI, LADY STELLA MENJADI TAHANAN RUMAH. TIDAK BOLEH MENINGGALKAN ISTANA PUTRI TANPA IZIN. TIDAK ADA YANG BOLEH MENGUNJUNGI TANPA IZIN DARIKU! SISAKAN HANYA DUA PELAYAN LALU ¾ UANG BULANAN LADY STELLA DIPOTONG. SAMPAIKAN PERINTAHKU. JIKA ADA YANG MELANGGAR, JEBLOSKAN KE PENJARA!!"


"SI, YANG MULIA RAJA!"


Stella membelalakkan matanya. "AYAH!"


"AKU MOHON, AYAHH!!" Raja berbalik. Stella dibawa paksa oleh pengawal meninggalkan ruang kerja Raja.


Raja menghela nafas kasar. Menjadikan Stella tahanan rumah adalah solusi terbaik saat ini. Kabar ini tidak boleh tersebar keluar. Bahkan pihak istana tidak boleh mengetahuinya. Jika tidak pasti akan terjadi kekacauan besar.


Jika parlemen tahu Stella merencanakan pemberontakan, Stella akan diadili dengan berat. Stella bisa terancam hukuman mati. Jika itu terjadi, aib dalam pemerintahannya sangat besar. Nama negara atau kerajaan ini pasti akan tercoreng. Baik di dalam maupun diluar negara. Reputasi kerajaan dipertaruhkan.

__ADS_1


Berharap Stella akan introspeksi diri dan mengakui kesalahan. Dengan begitu, ia tetap bisa melindungi Stella. Sesungguhnya, Raja sangat menyayangi anak-anaknya.


Hah! Mengapa kau melakukan ini, Stella?


*


*


*


Sesuai titah, istana Putri hanya tersisa dua pelayan. Stella memilih Rose dan Jade. Istana Putri juga dijaga ketat.


"Hancur! SEMUANYA HANCUR! ARGHHHH!!"


Stella mengamuk. Menghancurkan barang, mengumpat, kemudian jatuh terduduk lemas. Ruang tamu yang rapi itu berubah menjadi kapal pecah.


Rose tak berani mendekat apalagi menghentikan. Memilih menghindar jauh. Emosi Stella sangat hancur belakangan ini.


Hanya Jade yang mendekat untuk memenangkan Stella. Mengulurkan tangan pada Stella.


Stella mendongak. "Kau?"


"Lantai sangat dingin, Lady."


Stella menerima uluran tangan itu. Lalu ia memeluk Jade. Menangis sejadi-jadinya. Kali ini, Stella merasa sangat hancur. Rencana yang ia susun rapi telah diketahui oleh Raja. Dirinya menjadi tahanan rumah dan kehilangan hak. Semua jadwalnya dibatalkan, wewenangnya dihapuskan. Dirinya tak ubah seorang putri yang kehilangan kekuatan.


Stella takut. Takut kehilangan statusnya sebagai seorang putri kerajaan. "Setidaknya Raja tidak menjebloskan Anda ke penjara, Lady. Raja melindungi Anda dari parlemen," bisik Jade memberikan sebuah harapan. Bahkan Stella tidak akan dibuang dan ditinggalkan.


Stella baru menyadarinya. Ia melepas pelukannya. "Kau benar!"


Ada sedikit kelegaan. "Tapi, bagaimana berkas itu bisa berada di tangan Raja?" Stella bertanya-tanya. Sorot matanya lekat pada Jade yang menampilkan raut wajah polos.


"Anda mencurigai saya?"tanyanya dengan mimik kecewa.


"Violet tidak akan berani. Hanya kau yang memiliki keberanian besar, Jade!" Stella langsung mencengkram kerah kemeja Jade. Matanya berang, sangat marah.


"Ternyata aku meletakkan ular di sampingku!"


Jade tidak mengatakan apapun selain terlihat tersenyum. "SIALAN KAU, JADE!! AKU MEMPERCAYAIMU TAPI KAU MENGKHIANATIKU! APA ALASANNYA?!"


PLAKKK!!


Jade kembali mendapatkan tamparan. Ia tetap tak mengatakan apapun selain menarik senyum dengan agak susah payah.


"MENGAPA, JADE? MENGAPA KAU MELAKUKAN ITU?!"


"Anda percaya pada saya adalah kesalahan Anda. Sejak awal kesetiaan saya bukan milik Anda, Stella."


Stella terkejut. Bola matanya membulat tidak percaya. Jade yang lembut padanya. Menyatakan cinta dan perasaan tulus. Jepit rambut magnolia sebagai bukti. Semua itu … palsu?! Tujuan Jade berada di sisinya adalah untuk berkas itu lalu untuk … tubuhnya?!


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Ladyku satu-satunya."


"DASAR-"


Sebelum Stella selesai, Jade memeluk Stella lalu membungkam mulutnya dengan ciuman. Stella melawan. Tapi, ia tidak bisa melawan tenaga Jade. Ciuman itu kasar, dan memaksa.


"Kau milikku, Stella!"ucap Jade menyatakan kepemilikan.


"Ba*jingan gila! Aku akan membunuhmu!!" Mencoba memberontak. Jade segera memanggul Stella. Langkahnya tegas meskipun Stella memukul keras bahunya.


"Kau bukan tahanan rumah. Kau adalah tahananku, Stella!"ucap Jade. Penampilan Stella kacau dengan tangan terikat dan mulutnya disumpal kain.


Aku harus berterima kasih pada Lady. Tugas ini sangat menyenangkan. Wanita cantik ini, mainan yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2