Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 23 Hukuman


__ADS_3

Ceklek.


Roxena membuka sebuah pintu ruangan. Ruangan yang auranya terasa suram dan menyeramkan. Ruangan kubus itu, memiliki ubin yang dingin dengan dinding batuan kasar.


Di dalamnya ada sebuah meja dengan dua buah bangku. Di dinding kanan Roxena, terpanjang berbagai macam senjata tajam dan tumpul. Ada pula alat yang berhubungan dengan listrik. Pajangan tak lazim, yakni hewan yang diawetkan juga ada di dalamnya.


Ah, ada lagi. Entah replika atau asli, di dalamnya ada pula pajangan organ manusia seperti jantung dan hati. Ditempatkan dalam sebuah akuarium kaca tertutup.


Sekilas saja. Sudah tahu ruangan apa itu. Roxena melangkah maju, mendekati seorang pria yang terikat di sebuah tiang. Matanya dan mulutnya ditutup. Selain itu itu, ada seorang pria lagi yang duduk terikat di bangku dengan kondisi yang sama.


Roxane lalu membuka penutup mata pria itu. Pria itu bergerak meronta.


"Emm! Emm! Emm!" Tertahan oleh sumpal di mulutnya.


"Hola Joven Maestro Edwardo Felipe," sapa Roxane dengan setingainya.


Mata pria yang bernama Edwardo Felipe itu langsung terbelalak, terkejut bukan main. Mulutnya kembali meronta. Tubuhnya semakin intens dan tatapannya bercampur dengan marah. Menuntut penjelasan dari Roxena.


"Bagaimana kabarmu, hm?"


Roxane bertanya sembari mengusap pipi Edwardo.


"Emm! Emm! Emm! Emmm!" Meronta semakin kencang. Disambut dengan kekehan Roxena.


"Kau ingin bicara?"tanya Roxena seraya berbalik. Menuju dinding yang penuh dengan senjata. Mengambil sebuah pisau silet. Roxane menyentuhnya, mengecek ketajaman. Itu, tumpul.


"ROXANE LAWRENCE! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!" Pria itu langsung berteriak saat Roxane melepas penutup mulutnya. Dadanya naik turun. Matanya merah menatap Roxena.


"Menurutmu?" Roxane menempelkan pisau dingin itu di pipi Edwardo.


Edwardo terdiam. Mulutnya bungkam beberapa saat sebelum akhirnya menatap pria yang diikat di kursi. "ITU DIA! DIA YANG MENYURUHKU UNTUK MELAKUKAN!! LEPASKAN AKU, ROXENA LAWRENCE! AKU ADALAH KELUARGA KERAJAAN! KAU AKAN DALAM MASALAH JIKA MENCELAKAIKU!!"seru Edwardo lantang.


Sementara yang ditunjuk, memberontak dengan fisik dan suara tertahan. Roxena terkekeh. Sesaat kemudian, pisau itu menempel di leher Edwardo. Pria itu menatap horor Roxena kalau Roxane menelan pisau itu, melukai lehernya. "Aku adalah orang yang adil, Edwardo. Tak mungkin aku melepasmu setelah kau berusaha membunuhku!"bisik Roxane dingin.


Glukk!


Edwardo menelan ludah. "Keluarga kerajaan? Kau pikir aku takut dengan itu? Lihatnya, Edwardo. Kau ada di mana saat ini. Aku, bukan Roxane Lawrence. Aku adalah pemilik Light and Shadow!"ucap Roxane. Mata Edwardo kembali terbelalak. Ia lantas menilik lekat ruangan ini. Dapat ia jelas logo organisasi Light and Shadow.


Lidahnya keluh, dengan terbata mengeja Light and Shadow. Nyalinya menciut seketika. Di depannya, adalah pemilik organisasi yang disegani oleh pihak kerajaan. Bagaimana bisa ia berusaha dengan orang seperti ini?!


"M-maafkan aku. Aku mohon, lepaskan aku. A-aku akan memberikan semua harta bendaku. Tolong jangan bunuh aku," ucapnya memelas.


"Apa aku membutuhkannya?" Mata Roxena memicing tidak senang.


Roxena, ia memiliki kekayaan, kekuatan, kekuasaan, tak perlu harta orang lain yang hanya sepersekian dari jumlah kekayaannya.


Jlbbb!


Mata Edwardo melotot, menoleh ke bawah. Darah keluar dari tusukan di pahanya.


Jlebbb!


"Ugh!"


Kembali, tusukan Roxane layangkan pada paha Edwardo.


"Aghrgggg!"


Tusukan ketiga, Edwardo berteriak nyaring. Itu tusukan di perutnya.


Roxena melengkungkan senyum lebar. Pakaian Edwardo yang berwarna terang kini bernoda dengan merah darah.


Nafas Edwardo terengah. Sakitnya bukan main. Roxena lantas menatap dada Edwardo. Dalam sekali tarik, kain yang menutupi dada itu terenggut.

__ADS_1


"M-maafkan aku. Aku mohon," rintih Edwardo.


"Kau kan sering melakukan itu pada hewan, mengapa kau merasa sakit saat mengalaminya sendiri?"tanya Roxane sembari memiringkan kepalanya. Kemudian terkekeh pelan.


"Jangan. Aku mohon."


Roxane tidak menjawab. Kini, ia asyik menggores perut Edwardo. Pisau yang tumpul, membuat rasa sakit berkali-kali lipat. Katakanlah hal itu mengerikan lagi menjijikkan. Tapi, itulah yang Roxane lakukan.


Ia tidaklah suci. Tangannya berlumuran banyak darah. Matanya, kini dipenuhi sorot mata membunuh.


Gila. Ya!


Dia memang gila!


Jika tidak, bagaimana mungkin membawa organisasi yang ia bangun menjadi yang berkuasa dan ditakuti?!


Mengerikan?!


Ah, seseorang perlu seperti itu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.


Edwardo, pria itu setengah mati kini. Mulutnya dipenuhi dengan rintihan. Luka tusuk dan gores di tubuhnya semakin banyak.


Tahukah apa yang sangat menyiksa? Roxane tak segera membunuhnya. Malah bermain-main. "J-jangan cerai berai tubuhku, aku mohon," ucap Edwardo dengan susah payah. Biarlah ia mati di tangan Roxane. Asalkan tubuhnya tetap utuh. Edwardo mendengar rumor itu, rumor kengerian pimpinan Light and Shadow yang suka memutilasi musuh yang jatuh ke tangannya.


"PENJAGA!"


Dua penjaga segera menghadap. Mereka bergidik melihat kondisi Edwardo. Dalam keadaan terpancang, mengalir darah seger dari tubuhnya. Pria itu, jika tidak segera dibunuh pun, akan kehilangan nyawa karena kehabisan darah.


"Masukkan dia ke kandang Hering!"titah Roxena.


"Baik, Nona." Mereka bergerak dengan cepat. Membuka ikatan dan membawa Edwardo keluar, menuju tempat yang diperintahkan Roxane.


"Kandang apa itu?"tanya Edwardo lirih. Ia penasaran.


"Anda akan tahu sendiri," jawab Penjaga itu. Mereka bergidik.


Ruangan itu gelap. Edwardo tak melihat apa-apa.


"Ahhh!" Edwardo terjerembab. Menyentuh tanah yang keras. Indra nya masih berfungsi dengan baik.


Suara aneh. Mengeringkan. Bau kandang yang sangat tidak enak.


"Hering?" Edwardo bergumam.


"T-tidak! Keluarkan aku dari sini! Keluarkan, tolong!!"


Roxena benar-benar kejam. Ia membiarkan Edwardo mati perlahan di dalam kandang Hering atau kandang burung bangkai itu.


"Tidakkk! Ahhhhh! Tolonggg!"


Jeritannya ditelan oleh angin malam. Kedua Penjaga yang membawanya tadi mengusap tengkuk.


"Lady sama sekali tidak pandang bulu."


Kembali ke dalam ruangan siksa itu. Pria yang diikat di kursi itu mencoba untuk mundur saat mendengar langkah kaki mendekatinya. Ia semakin gelisah.


Pria itu, Benjamin mendengar semuanya. Percakapan, kekehan Roxane, Edwardo yang memelas, dan juga teriakan Edwardo. Ia mendengar semuanya.


Keringat membasahi wajahnya. Air mata, mengalir di pipinya.


Deg!


Langsung tegang, kala Roxena meletakkan tangan di bahunya.

__ADS_1


"Hai, Ben. Kita bertemu lagi." Roxena tersenyum saat penutup mata Benjamin dibuka. Sorot mata takut dan memelas langsung ditujukan. Ia sudah tahu. Tahu siapa wanita di depannya.


Bukan kakaknya, melainkan Pimpinan Light dan Shadow. Meskipun demikian, di luar itu, di luar kesalahannya, wanita di depannya itu adalah kakak satu ayah dengannya. Berharap, Roxena akan berbelas kasihan. Benjamin sadar, ia tak akan lepas. Setidaknya kematian yang mudah dan cepat.


Juga, ia ingin tahu. Mengapa Roxane kembali menangkapnya setelah melepaskannya?


"Mungkin kau bertanya-tanya mengapa kau berada di sini. Jawabannya hanya satu, urusan kita belum selesai. Mengusirmu dari keluarga Lawrence adalah balasan atas rasa sakit yang Ibuku rasakan. Bahkan, itu tidak cukup. Dan kau berada di sini untuk membalas perbuatanmu yang hendak mengambil nyawaku. Ben, aku tak semurah hati itu melepasmu!"


"A-apa yang akan kau lakukan padaku? A-aku mohon. Jangan siksa aku, hiks," lirih Benjamin saat penutup mulutnya dilepas.


Air matanya kembali tumpah. Ia sangat takut. Sosok sebagai Roxane Lawrence saja ia sudah gentar, bagaimana jika di depan Pimpinan Light dan Shadow?!


Mengancam dengan nama keluarga Lawrence? Tentunya ia akan sangat bodoh. Di depannya juga adalah kepala keluarga Lawrence.


Mengingatkan status? Kakaknya sangat tidak pandang bulu. Ayahnya? Siapa yang akan tahu jika ia akan mati di tangan Roxena?


"Baru-baru ini aku mengembangkan jenis ramuan lain. Bagaimana jika kau mencobanya?"


Racun?


Benjamin yang sudah kehilangan harapan seketika mengangguk. Roxane tertawa. Ia merasa Benjamin sangat lucu. Saat meninggalkan kediaman Lawrence dengan tekad, ia malah kehilangan harapan dan menerimanya begitu saja.


Tak ada lagi perlawanan diri. Ia pasrah.


Roxena lantas memerintahkan Penjaga untuk meminta ramuan yang baru ia kembangkan ke bagian laboratorium. Penjaga segera bergegas.


"Takdirku memang sangat kejam, Kak. Aku lahir di luar nikah, hidup di bawah belenggu sebutan anak haram. Dinomorduakan Ayah. Dibenci olehmu. Dan saat ini, aku akan mati di tanganmu. Andai kata aku menerima takdir itu, apakah hasilnya akan berubah? Andai kata, aku tak iri dan sadar diri, apakah aku masih hidup esok pagi?"tanyanya dengan senyum pahit, kemudian terkekeh hambar.


"Mungkin." Roxane menjawab singkat. Penjaga sudah kembali. Memberikan ramuan dalam botol porselen itu dengan hati-hati.


Roxena kemudian tanpa banyak kata, langsung meminumnya isi dalam botol kepada Benjamin. Benjamin terbelalak, ia terbatuk.


Pahit, sangat pahit!


Organ bagian dalamnya terasa diremas dengan kuat. Kepalanya sangat pusing. Semakin sakit hingga ia mengerang sakit. Otot-otot tangannya menonjol. Urat lehernya pula. Keringat dingin semakin membanjiri dirinya.


Roxena menatap dingin itu. "Ahhhhh!"


"Agkghgg!"


"SAKIIITT! KAKAKK!!"


Bugh!


Benjamin berguling setelah ikatannya dilepas. Ia memeluk perutnya.


Jika berhasil, maka dia masih hidup besok.


Roxane melangkah meninggalkan ruangan. Diiringi dengan erangan yang semakin intens dari Benjamin.


Roxena kemudian mencuci kedua tangannya yang berlumur darah.


"Nona." Erin kembali menyongsong Roxena yang tengah mencuci tangan. Sedari tadi ia menunggu.


"Kirim sisa tubuhnya ke keluarga kerajaan. Katakan ia menyinggungku!"titah Roxena.


Erin mengangguk. "Apakah Anda akan menginap?"tanya Erin. Sudah dini hari. Dan Roxena sama sekali belum ada istirahat.


"Erin, aku wanita yang sudah bersuami," jawab Roxane tersenyum.


Erin terkesiap. Ia lantas menunduk. "Saya mohon maaf, Nona."


"Kau urus itu, sampai jumpa hari Senin, Erin."

__ADS_1


Roxena melambaikan tangannya. Erin membungkuk hormat mengantar kepulangan Roxena.


Nona, sejujurnya saya tidak melihat masa depan pernikahan Anda dan Dokter itu. Kalian bagaikan air dan api yang tidak bisa menyatu. Sampai kapan, Anda akan mengikatnya dalam pernikahan kalian?


__ADS_2