
“Hari ini Stella datang untuk memberiku peringatan,” ucap Roxena begitu Erin masuk ke dalam ruangannya.
“Meskipun dia sangat membenciku dia tidak bisa mencelakaiku baik secara langsung atau tidak. Tapi, aku tidak menjamin untuk anggota keluargaku, Gerald, termasuk kau juga Erin,” lanjut Roxena.
“Saya sudah menempatkan pengawal tambahan untuk Tuan, Nona. Jika Lady Stella benar-benar melakukan seperti dugaan Anda maka hal tersebut bisa menjadi bukti pendukung yang kuat,” tanggap Erin cermat. Roxena mengangguk puas.
“Penyelidikan informasi Luz sudah sejauh mana? Aku akan segera mengembalikan cara rendahannya.”
“Informasi tersebut sangat sensitif, Nona. Jadi, tim informan mengalami beberapa kendali. Selain itu, kita butuh bukti pendukung kuat lain untuk bisa menghadap pada Raja dan Ratu,” jelas Erin. Informasi dan tindak tanduk keluarga kerajaan bukanlah rahasia umum, di dalamnya penuh intrik dan konflik. Tapi, mau setebal apapun dinding istana, pasti ada celah dan orang-orang tertentu dapat mengetahui rahasia besar di dalamnya.
Sejujurnya Roxena masih sangat penasaran bagaimana cara Tuan Luz mendapatkan informasi yang sangat menarik itu.
“Kita perlu cara, bukan?”tanya Roxena yang diangguki oleh Erin. Roxena kemudian mengambil tabletnya. Senyumnya mengembang lebar.
Suatu kebetulan yang diperlukan.
“Atur orang untuk ini. Untuk mendapatkan informasi penting tentu harus masuk ke dalam sarangnya. Pastikan orang kita berada di dekat Stella!”titah Roxena.
Erin sedikit tercengang. Namun, segera ikut tersenyum.
*
*
*
“Roxena Lawrence … dia selalu bergerak, ya?” Jonathan Esca tersenyum penuh arti menatap foto Roxena di sampul majalah bisnis.
“Dia wanita yang menarik, dia lebih menarik ketimbang putri itu. Anda saja aku tahu lebih awal … dia akan menjadi milikku. Sayang sekali.” Jonathan tersenyum kecut. Ketidakpuasan terpancar di matanya.
“Dari rumor yang saya dengar, Presdir Lawrence Group itu tidak tertarik dengan pria manapun di negara ini termasuk Putra mahkota. Tapi, tiba-tiba mengumumkan bahwa dia sudah menikah dengan orang asing dan dari sumber yang saya baca, suaminya sekarang sebelumnya sudah menikah. Jadi, skandal bahwa Roxena Lawrence mencuri suami orang lain tersebar luas. Akan tetapi, karena pengaruhnya tidak ada yang berani mengungkit hal itu. Lalu … semua berita skandal itu hilang, bahkan jika kita mencari identitas suaminya di internet, tidak disebutkan bahwa dia pernah bercerai,” jelas Asisten Jonathan, Lucio.
Mendengar itu, senyum Jonathan semakin lebar. “Semakin menarik. Bunga seindah itu apakah pantas menjadi milik dokter yang bahkan tidak tahu nilai bunga di genggamannya?” Percikan ketertarikan semakin besar, ada ambisi yang tercipta.
“Anda tidak boleh sembarangan, Tuan. Pertunangan Anda dengan Lady Stella telah ditetapkan. Jika Anda bermain api, keluarga Esca akan dalam bahaya!”tegas Lucio tak senang.
Jonathan tertawa, lalu menepuk bahu Lucio, “bagaimana jika api itu berguna untuk dua belah pihak? Dapatkah mereka menolaknya?”
Mata Lucio membulat. Mulutnya sedikit terbuka, kaget dengan pemikiran gila Jonathan.
“Roxena Lawrence bukan wanita yang sering Anda temui, Tuan. Dia terkenal dengan wajah dingin dan tangan yang tak segan menghancurkan lawannya. Selain itu, dia juga sudah menikah. Memang akan untung jika Anda berhasil. Tapi, Roxena Lawrence … persentasenya sangat kecil. Jika gagal Anda akan terbakar oleh api yang Anda ciptakan sendiri, Tuan.” Lucia kembali memberi peringatan. Roxena bukanlah orang yang bisa ia sentuh. Sebaliknya, Roxena adalah orang yang harus diwaspadai.
“Hahaha … kau terlalu kaku, Lucio. Dengan ketampananku … wanita manapun akan bertekuk lutut. Bahkan Stella saja takluk padaku!” Jonathan yang keras kepala.
“Daripada memikirkan menaklukannya, lebih baik Anda memikirkan cara agar klien kita tidak pindah haluan,” ketus Lucio, menyodorkan laporan terbaru pada Jonathan.
“Apa ini?!” Jonathan membulatkan matanya. Melihat ada beberapa klien penting yang menarik semua dana yang ditanamkan di ESA Group.
“Saya maklum Anda baru kembali dan masih beradaptasi. Tapi, Anda tidak boleh lengah dan memiliki ambisi yang tidak penting! Pengaruh Lawrence Group itu luas. Kita bertahan hanya karena sejauh ini kitalah perusahaan keuangan terbaik. Namun, lain halnya jika Lawrence Gruop membuat gerakan pembaruan. Setelah melakukan merger dan akuisisi ekstrim, kini mereka mendirikan perusahaan keuangan. Dan kebanyakan klien kita bekerja sama dengan Lawrence Group,” papar Lucio dengan geram.
Jonathan terlalu santai untuk ukuran pewaris yang belum resmi naik jabatan. Ia juga angkuh. Mungkin menghadapi lawan lain mudah. Kecuali Roxena dan mungkin ada pendukung kuat di belakangnya.
Sungguh Lucio ingin meninju wajah yang masih tercengang itu. Kuliah bertahun-tahun di Amerika tapi tak bisa memimpin perusahaan dengan baik untuk apa?! Percuma!
“Hah? Hahahaha … menarik, semakin menarik!! Lucio aku sangat bersemangat. Jika seperti ini ada peluang untuk berkolaborasi dengannya! Aku bisa membidik dua burung dengan satu batu!” Jonathan tidak marah, sebaliknya ia tersenyum lebar.
“APA ANDA SUDAH GILA, TUAN?!”seru Lucio tak habis pikir.
“Tenang, Lucio. Aku akan menjanjikan dua hal padamu. Pertama kita tidak akan kehilangan klien dan akan bekerja sama dengan Lawrence Group. Kedua, Roxena Lawrence akan takluk padaku,” ucap Jonathan dengan penuh percaya diri. Lucio menganga tidak percaya.
“Apa Anda sadar dengan apa yang Anda katakan?!” Lucio mengguncang tubuh Jonathan. Jika pemikiran gila ini terdengar oleh Tuan Besar maka Jonathan akan dalam masalah.
*
__ADS_1
*
*
“Ada apa?”tanya Gerald heran saat Thomas tiba-tiba mempercepat laju mobil.
“Ada yang mengikuti kita, Tuan,” jawab Jack, mereka menyuruh Gerald untuk merunduk, antisipasi jika ada serangan mendadak. Gerald melakukan sesuai perintah.
Dalam hatinya berdoa agar semua baik-baik saja.
“Mereka mengontrol kita, Thomas,” ucap Jack menyadari bahwa arah pulang mereka sudah berubah haluan, seharusnya mereka lurus namun karena lampu merah dan terjadi aksi kejar-kejaran, Thomas mengambil arah ke kiri. Dan jalur ini menuju ke pinggiran kota yang sepi.
Mereka dikejar oleh dua mobil. Dan di belakang kedua mobil itu ada satu mobil lagi yang mengejar. Terdengar beberapa kali tembakan. Thomas dan Jack sedikit lega karena mobil ini sudah dimodifikasi dengan body yang anti peluru dan juga peledak.
“Untung saja Asisten Erin sudah memberi peringatan dan mengirim bantuan,” ucap Jack.
Gerald mendengarkan percakapan keduanya dengan seksama. Ditarik kesimpulan bahwa Roxena telah memprediksi hal ini.
“Berhenti di depan sana.”
Thomas menurut. Menghentikan mobil di tempat yang Jack tunjukkan. “Apapun yang terjadi, Anda tidak boleh keluar, Tuan. Jika dalam lima menit kami tidak kembali, Anda pergilah dengan mobil!”ucap Jack memberi Gerald instruksi.
“Kalian-”
Belum selesai Gerald bicara, Jack dan Thomas keluar dengan pistol mereka. Dua mobil yang mengejar mereka terdiri atas sepuluh orang bersenjata. Jack dan Thomas menjadi body mobil sebagai tameng, menahan tembakan yang semakin menjadi.
Tidak ada kesempatan untuk membalas, selain itu minimnya pencahayaan menjadi kendala bagi keduanya.
Dorr
Dorr
Dorr
Jack menjulurkan kepalanya keluar. Matanya mencari.
Bugh!
Bugh!
Jack dan Thomas saling pandang. Sepertinya yang dikirim adalah anggota elit. Lain dengan mereka yang merupakan anggota biasa yang kurang pengalaman bertarung di kondisi gelap.
Rintihan yang terdengar bersahutan diakhiri dengan bunyi letusan pistol. “Apa kalian baik-baik saja?” Suara berat mengejutkan keduanya.
“Kami baik-baik saja. Terima kasih,” ucap Thomas menunduk.
“Kami akan mengawal kalian kembali.”
Jack dan Thomas segera masuk ke dalam mobil. “Kalian baik-baik saja?”
“Kami aman, Tuan.”
“Syukurlah.” Gerald bernafas lega.
*
*
*
Penyerangan hari ini membuka pikiran Jack dan Thomas. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki kekurangan yang fatal. Mereka merasa kurang mampu menjadi pengawal Gerald. Dan kini mereka menghadap Roxena untuk menyampaikan keinginan mereka.
“Jadi, kalian ingin digantikan sementara?”
__ADS_1
“Benar, Nona. Kami akan kembali jika sudah menjadi anggota elit!”tekad Thomas.
“Kami ingin menghilangkan kekurangan kami, Nona. Agar kami bisa menjaga Tuan dengan maksimal,” imbuh Jack.
“Keinginan yang bagus. Berapa lama?”tanya Roxena kemudian.
“1 bulan, Nona. Tidak, akan lebih cepat dari itu!”jawab Thomas.
“Kualifikasi menjadi anggota elit bukan hal mudah. Tapi, melihat tekad kalian … maksimal satu bulan!”
“Terima kasih, Nona!!”
“Lalu … jangan mati,” pesan Roxena sebelum meninggalkan keduanya.
Kini Roxena sudah di dalam kamarnya, menatap Gerald yang duduk di sofa, melamun.
Roxena mendekat, menyadarkan suaminya itu.
“Xena.”
“Apa kau baik-baik saja?”tanya Roxena. Gerald segera memeluk istrinya.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa bodoh,” aduh Gerald, pinggang Roxena semakin erat dipeluk.
“Kau profesor, Gerald,” sangkal Roxena.
“Tapi, aku lemah di bela diri.”
Roxena tersenyum, “tidak ada manusia yang sempurna. Seseorang punya bidangnya masing-masing. Jangan berkecil hati, perlahan saja karena ada aku yang bisa melindungimu.”
“Lagi dan lagi, aku merasa semakin tak berguna,” lirih Gerald. Tampaknya mentalnya down karena kejadian tadi. Suara tembakan masih terekam jelas di benaknya.
“Syutt!” Posisinya tidak berubah. “Kau itu berharga, Gerald. Jangan rendah diri seperti ini. Aku tidak suka.”
“Xena….”
“Apa kau lupa dengan apa yang pernah kau katakan?”tanya Roxena. Gerald mendongak mendengarnya. “Kau adalah rumahku. Itu adalah hal yang bisa dicapai olehmu.” Ya meskipun itu tidak sepenuhnya benar setidaknya menjadi penghiburan untuk Gerald.
“Kau adalah sword master di masa lalu. Aku yakin kau punya bakat bela diri,” imbuh Roxena lagi.
“Em. Aku akan berusaha,” tekad Gerald. Meruntuki kelemahan diri tanpa tindak lanjut malah semakin tak berguna dan lemah. Roxena tersenyum kemudian meminta Gerald untuk membersihkan diri.
Ekspresi Roxena menggelap saat Gerald sudah menjauh darinya. Erin sudah mendapatkan informasi mengenai pelakunya. “Stella, kau menggali kuburanmu sendiri!”
*
*
*
Sementara di lain sisi, Stella terkejut dengan foto berdarah yang dikirim padanya melalui nomor tidak dikenal. Diikuti dengan pesan, aku kembalikan hadiahmu.
“Dia tidak mungkin tahu, kan?” Wajah Stella pucat.
“Anda harus bersyukur karena Anda adalah seorang putri kerajaan, Lady. Meskipun Nona Roxena tahu Anda pelakunya, beliau tidak akan mengumbarnya dan tetap hati-hati dalam bertindak,” ujar Asisten Stella.
Stella menoleh garang seketika, “kau mengejekku dan menghomatinya?”hardik Stella meledak, melayangkan tamparan pada sang asisten.
“B-bukan begitu maksud saya, Nona!”
“S*ialan kau!! Ini semua karena kau tidak becus mengirim orang!”nyalang Stella lagi. Tak peduli dengan asisten yang merunduk memegangi pipi yang sakit.
“Nona saya-”
__ADS_1
“Jika dia berani datang dan menuduhku, kau harus pasang badan untukku!”titah Stella dengan keangkuhannya.