
Gerald bergegas pergi. "Ada apa, Ayah?"
"Mengenai pertemuan keluarga apa kau sudah membuat persiapan, Xena?"tanya Tuan Lawrence langsung.
"Ayah tenang saja. Tidak perlu khawatir," jawab singkat Roxena.
"Jika tidak sesuai dengan keinginanmu, apa yang akan kau lakukan?" Gurat kecemasan Tuan Lawrence tidak sirna.
"Tergantung." Roxena menjawab dengan senyum.
"Ayah tidak perlu cemas. Aku tidak akan melakukan hal yang merugikan keluarga," ucap Roxena menyakinkan.
Tuan Lawrence menatap Roxena serius. Kemudian menghela nafas pelan dan akhirnya mengangguk.
"Ayah tidak pulang?"tanya Roxena saat Tuan Lawrence bangkit.
"Kalian semakin mesra, bagaimana mungkin aku menganggu. Lagipula aku tidak sabar untuk menimang cucu."
Roxena tidak menjawab. Tuan Lawrence keluar dari apartemen. Sorot mata Roxena dingin. Tangannya mengusap perut rata yang belum berisi janin.
"Eh, Ayah sudah pulang?" Gerald keluar dari kamar dan mencari sosok Tuan Lawrence.
"Hm." Dan rasanya ini bukan pertama kali Gerald tidak mengetahui kepulangan Tuan Lawrence.
"Ya sudah. Ayo." Gerald menarik Roxena ke kamar.
"Kau ingin apa?"tanya Roxena saat Gerald memangku dirinya. Roxena waspada seketika. Otaknya sudah menerka-nerka.
"Katakan padaku, kau ingin berapa anak?"tanya Gerald serius.
"Satu saja cukup," jawab Roxena, mengingat dirinya yang sulit memiliki anak.
"Satu saja? Lalu ingin anak laki-laki atau perempuan?"
__ADS_1
"Laki-laki atau perempuan, aku tidak masalah. Namun, akan lebih baik jika laki-laki," jawab Roxena. Intinya ia memiliki anak, tidak peduli gendernya.
"Belakangan ini aku mempelajari hal baru dan tahu beberapa trik untuk memiliki anak dengan jenis kelamin yang diinginkan. Bagaimana jika kita coba?"
"Kau?"
Gerald tersenyum hingga menunjukkan giginya. Menatap Roxena penuh perasaan. Tatapan Gerald itu seakan menjerat Roxena. Roxena mengalungkan kedua tangannya pada leher Gerald. Perlahan, Gerald memajukan wajahnya.
*
*
*
"Ayo berkencan," ajak Gerald saat mereka berada di meja makan, sarapan sebelum berangkat kerja.
"Ke mana?"tanya Roxena seraya menaikkan alisnya.
Gerald sudah lama menginginkan hal ini, hanya saja sebelumnya berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Tapi, alangkah lebih lengkapnya jika berdua bersama kekasih.
Roxena baru pertama kali mendengar kencan seperti itu. Meskipun ia setiap hari lalu lalang di kota, ia hanya begitu fokus pada arsitektur dan keindahan kota. Kemacetan itulah yang membekas di ingatan.
Ide Gerald menarik. Mungkin ada sesuatu yang unik nanti. Roxena segera mengangguk setuju.
Lily dan Sophia saling pandang. Mereka harus membuat penampilan Roxena sempurna!!
*
*
*
Roxena tiba lebih dulu daripada Gerald. Segera Lily dan Sophia mengeksekusi rencana yang telah mereka siapkan. Memandikan Roxena dengan wawangian mawar. Mencuci rambut bahkan mewarnai kuku Roxena.
__ADS_1
Lily dan Sophia memang pelayan yang serba bisa. Roxena tak perlu ke salon untuk perawatan dirinya.
Menggunakan celana berwarna putih dipadukan dengan coat berwarna abu dan baret bewarna putih, Roxena tampil style serta elegan. Ditunjang pula dengan make up-nya. Meskipun usianya sudah memasuki kepala tiga, tidak ada jejak penuaan pada wajahnya.
"Sempurna!" Lily dan Sophia berseru seraya bertos ria.
"Xena." Gerald mengetuk pintu kamar. Ia bersiap di kamar sebelah sebab Sophia tidak mengizinkan Gerald untuk masuk. Gerald hanya bisa pasrah. Padahal ia ingin membantu Roxena bersiap. Walaupun hanya menyisir rambut atau memakaikan aksesoris.
"Buka pintunya."
"Baik, Nona." Kedua pelayan itu segera membuka pintu dan juga meninggalkan kamar. Meninggalkan Gerald yang terpaku dengan penampilan Roxena.
"Tidak bagus?"tanya Roxena langsung. Dengan wajah galak memberikan ancaman.
"Sangat cantik." Gerald melangkah mendekat. "Kau sangat cantik, Xena."
"Aku memang cantik!"tukas Roxena.
"Bagaimana jika kita kencan di sini saja?"bisik Gerald serak yang diberi hadiah pukulan pada perut.
"Jika kau ingin mati!" Roxena menghentakkan kakinya keluar. Gerald terkekeh pelan. Padahal menyukai tapi bersikap seolah tidak mau.
"Nona, Anda harus tersenyum lebar. Menggandeng mesra tangan Tuan. Berdampingan menikmati kota yang bangun setelah matahari terbenam ini! Pokoknya Anda berdua harus menikmati kencannya!" Terdengar Lily menginstruksi Roxena.
"Iya-iya, Cerewet!"
"Nona Erin sudah mengatur pengawalan untuk Anda berdua. Semoga kencan Anda menyenangkan, Nona," ujar Sophia.
"Okay."
Gerald bergabung. Mengulurkan tangannya pada Roxena. Roxena menerimanya. Mereka keluar dengan bergandengan tangan. Lily dan Sophia mulai terbiasa dengan pemandangan itu.
Hanya saja, kencan itu tidak berjalan semulus yang Gerald rencanakan. Namun, ada hikmah di dalam yang membuat hubungan Roxena dan Gerald lebih erat.
__ADS_1