
Gerald terjaga semalaman. Ia sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan. Pertama, ia harus punya akses mobilitas yang tetap, meskipun kemungkinan besarnya akan terbatas. Profesinya sebagai dokter, akan memudahkannya bernegosiasi dengan Roxena.
Gerald langsung berdiri kala melihat Roxena. Bersiap untuk berangkat kerja dengan setelan warna gelapnya. Rambutnya digerai asal yang berantakan namun, entah mengapa, itu adalah pesona tersendiri. Tas kecil tergantung di bahunya.
Gerald menahan Roxena. Berdiri tepat di hadapannya. Roxena mengeryit, mencari jalan lain dan Gerald tetap menghalangi. "What's up? Aku sudah terlambat!"kesal Roxena.
"Biarkan aku bekerja!"ucap Gerald, langsung pada pointnya.
Roxena memicingkan matanya. "Apa kau berencana untuk kabur? Tidak, kau tidak mungkin sebodoh itu!" Dibalas dengan ketus.
Gerald meramalkan ucapan sabar di dalam hatinya. Wanita ini tidak ada lembut-lembutnya.
"Atau, kau ingin mengabari wanita itu?"selidik Roxena. "Tenang saja. Selama kau tidak macam-macam, wanita itu akan aman." Suaranya dingin. Namun, sorot mata Roxena sedikit meredup.
"Aku seorang dokter. Mengobati pasien adalahnya kewajiban dan panggilan jiwaku. Kau masih punya hati nurani, bukan?!"
"Ada banyak dokter di rumah sakit. Alasanmu terlalu klise."
"Minggir!"
"Kau menganggap janji dokter adalah hal yang klise?! Aku adalah seorang profesor, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku!!"
"Itu bukan masalahku!" Roxena memegang lengan Gerald yang menghalangi langkahnya. Gerald mengernyit. Tenaga Roxena besar sekali.
Menatap kepergian Roxena dengan rumit. "Benar-benar tidak punya hati nurani," gumam Gerald.
*
*
*
"Nona, tiga hari lagi adalah hari pelantikan Anda. Saya rasa tidak perlu menjelaskan susunan acaranya seperti apa. Hanya saja, saya minta Anda untuk memberikan sambutan sewajarnya. Jangan seperti pada pelantikan kemarin," ucap Erin, mengomel kesal pada Roxena sebelum Roxena keluar dari mobil.
"Aku malas bertele-tele, Erin!"
"Nona, apa Anda tidak tahu Anda menjadi pembicaraan panas di perusahaan? Ada banyak mata yang mengawasi Anda, Nona. Terutama adik Anda yang terang-terangan ingin naik menjadi Presdir, ingin menjatuhkan Anda," ucap Erin, gemas dengan Roxena yang santai.
"Apalagi suami Anda itu," cicit Erin. Roxena menaikkan alisnya. "Ada banyak orang yang membicarakannya. Ada isu tidak menyenangkan pula. Menganggap bahwa pria itu memiliki latar belakang yang tidak jelas, hingga enggan dipublikasikan," lanjut Erin tegas.
"Saya juga masih membingungkan siapa sebenarnya dia. Masih bingung dengan alasan Anda menikahinya secara paksa. Nona, status Anda tinggi, apakah harus merebut suami orang?!" Cukup sarkas. Erin mengeluarkan unek-unek.
"HARUS!" seru Roxena, dengan tinggi. "Aku tidak peduli statusnya, aku hanya ingin membalas semuanya!!"
"Apa yang harus dibalas, Nona? Saya mendampingi Anda sejak kecil. Anda sama sekali tidak pernah bertemu ataupun berhubungan dengannya. Dari mana semua dendam itu berasal? Saya tahu Anda paranoid. Tapi, tolong jangan seperti ini, Nona." Nada tinggi di awal, melemah di akhir.
"Erin."
"Jangan berkata seolah kau yang paling memahami diriku. Kau hanya tahu diriku di kehidupan ini!" Seusai mengatakan itu, Roxena keluar dari mobil.
"Nona!"
"Besok aku berangkat sendiri," ucap Roxena sebelum menutup pintu.
Erin menghela nafasnya. "Aku sama sekali tidak mengerti, Nona."
*
*
__ADS_1
*
Roxena menghela nafas sebelum masuk ke dalam apartemennya. Di tangannya membawa plastik dari sebuah restoran ternama. Mendapati Gerald tidur dengan posisi duduk di ruang tengah. Pakaiannya belum terganti. Jas putih teronggok di sisinya. Roxena tidak mengeluarkan sepatah katapun. Meletakkan plastik itu kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Kini, Roxena berdiri menghadap cermin. Membuka satu demi satu kancing kemejanya. Darah merembus dari perban yang membalut lukanya. Roxena sedikit meringis kala membuka perban. Itu, luka senjata tajam.
"Hm …." Dahinya mengernyit. Mengganti perban seraya mengingat kejadian tadi malam.
Ingin membunuhku? Benjamin, kau mengangkat bendera perang denganku!
Sejujurnya, aku muak bermain. Tapi, tidak masalah. Aku akan menemanimu bermain!
Hanya saja …. Roxena memainkan lirikan matanya.
Hm … baiklah.
*
*
*
Gerald terkejut saat membuka matanya. Di depan matanya sudah duduk Roxena dengan mata seakan tengah meneliti dirinya. Roxena tiba-tiba menyeringai. "Kau ingin membunuhku. Tapi, kau makan makanan yang aku berikan," kekeh Roxena.
"Tidak lucu aku mati kelaparan!"balas Gerald dengan terkekeh pula. Keduanya sama-sama terkekeh.
"Lupakan!"sentak Roxena tiba-tiba.
Ekspresi keduanya kembali dingin. "Lihat semua data ini, apakah sudah benar?"
Roxena menunjuk map di atas meja. Gerald mengambil dan melihatnya dengan beberapa kali melirik Roxena yang kini bersedekap tangan.
"Kau ingin bekerja, bukan?"
"Rumah sakit di bawah Lawrence Group, kau akan berkerja di sana."
"Kau?!"
"Bersiaplah untuk masuk kerja besok." Roxena kemudian meninggalkan apartemen.
Aku semakin tidak mengerti apa yang dia pikirkan.
*
*
*
"Erin, mereka menanyakan soal siapa suamiku sebenarnya, bukan?"tanya Roxena dalam perjalanan menuju ruang meeting.
"Benar, Nona."
"Besok dia akan bekerja di Lawrence Group. Kau atur pertanyaan itu!!"titah Roxena.
Erin mengeryit. Namun, tetap mengiyakan.
"Kemudian, setelah meeting pesan beberapa set pakaian pria."
"Untuk ukurannya, Nona?"tanya Erin. Roxena menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ukuran?"gumam Roxena.
"Akan aku kirimkan padamu," jawab Roxena kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
*
*
*
Gerald mematut dirinya di depan cermin. Satu hari dua malam di apartemen ini, baru ia mendapat kamar. Di kamar ini, kamar masih full bercat putih. Tampaknya sama sekali tidak pernah disentuh.
Di atas ranjang, ada beberapa paper bag berisi keperluannya. Akhirnya ia bisa berganti pakaian.
Elisa, aku sangat merindukanmu.
Gerald kembali tertidur dengan pikiran dan rindu mendalam terhadap Elisa.
Paginya, Gerald sudah siap dengan setelannya yang dibelikan oleh Roxena.
Pas sekali, dari mana dia tahu ukuranya? pikir Gerald. Namun, ia segera menghapusnya. Dan segera keluar. Roxena sudah duduk di ruang makan. Ada dua sosok lain di sisi Roxena. Dua wanita yang menatapnya lekat. Gerald dengan ekspresi dinginnya, kemudian duduk di hadapan Roxena.
Aku adalah suami!
Gerald memegang prinsip itu. Apapun alasan pernikahan ini, Gerald adalah suami!
"Dia adalah suamiku, Gerald Chaddrick," ucap Roxena memperkenalkannya.
"Ke depannya dia akan tinggal di sini. Namun, tidak perlu menganggapnya sama denganku. Berlaku seperti biasanya!"
"Baik, Nona."
Astaga!
Roxena memang tidak akan membiarkannya tenang. "Setelah makan kita berangkat ke rumah sakit," ucap Roxena.
Gerald merespon kali ini. Ia mengangguk. Ada rasa bersemangat di hatinya.
*
*
*
Benar-benar tidak bisa lepas. Bahkan untuk bekerja saja ia didampingi. Roxena memperkenalkan Gerald pada direktur rumah sakit sebagai dokter baru di departemen bedah kardiovaskular. .
Bergabungnya Gerald, disambut dengan sangat baik di sana. Reputasi Gerald dikenal di dunia bedah kardiovaskular itu. Ia adalah jenius yang terkenal dan telah diakui.
Pujian terlontar dari direktur serta jajaran lainnya. Gerald tersenyum, ini dunianya.
"Tidak perlu perlakukan dia sebagai suamiku. Perlakuan dia sebagaimana mestinya," ucap Roxena.
"Tentu saja, Nona. Nona, Anda benar-benar seorang pewaris. Dengan adanya Profesor Gerald, reputasi Lawrence Hospital akan naik drastis," ucap direktur rumah sakit bersemangat. Roxena memicingkan matanya.
Ia kesal.
Lihatlah. Tanpa embel-embel suamimu, aku bisa berdiri sendiri!
Senyum Gerald semakin lebar.
__ADS_1
Elisa, aku akan segera mengabarimu!