
"Tiga satu."
"Tiga dua."
"Tiga tiga."
"Tiga empat."
"Lakukan sampai 100 kali. Lalu lanjut dengan sit up 100 kali!"
Roxena memberi perintah pada Gerald yang kini tengah melakukan push up.
"Wanita sialan! Aku akan mati jika kau terus di atasku!!"geram Gerald dengan nafas yang menderu.
"Huh! Push up tanpa beban apa gunanya? Lagipula aku tidak berat!"sahut Roxena yang duduk bersila di punggung Gerald.
Gerald menggertakkan giginya. Pagi hari setelah mengkonsumsi roti dan minuman pagi, Gerald ditarik menuju ruangan gym apartemen ini. Ruangan gym kosong karena telah dikondisikan oleh Roxena. Dan Erin juga sudah menunggu dengan melakukan pemanasan.
Saat ini, Erin latihan dengan samsak tinju. Tendangan dan pukulannya sangat bertenaga meskipun keringat mengalir deras. Roxena memberinya waktu satu jam untuk latihan itu kemudian dilanjutkan dengan leg extension.
"Seratus!!"
Gerald menjatuhkan dirinya.
Bugh!
"Sh*it!"umpat Roxena yang jatuh karena gerakan tiba-tiba itu.
Gerald membalikkan tubuhnya. Terkekeh melihat Roxena yang menepuk bahunya yang sakit. "Kau sengaja?!"
Gerald hanya menyeringai tipis. Itu tidak sebanding dengan beban yang ia tanggung tadi. Seratus kali push up dengan beban yang lebih dari 50 kg!
"Lanjutkan dengan sit up lalu kita sparring."
"Lalu kau sendiri?"tanya Gerald. Sejak tadi Roxena hanya memerintah.
"Aku kan coach nya," jawab Roxena sambil menyilangkan kedua tangannya.
Gerald berdecak. "Sudah sana. Lakukan sit up!!"sentak Roxena dengan garang. Kini berkacak pinggang.
Gerald segera melakukan sit up. Kali ini tanpa gangguan Roxena. Sit up itu segera diselesaikan oleh Gerald. Keringat semakin mengucur deras.
"Tuan." Erin memberikan air minum pada Gerald.
Gerald menerimanya. Setelah minum mengucurkan air itu pada rambutnya.
Gerald mengalihkan pandangannya. Roxena tengah memeriksa ponselnya. Erin menghampiri Roxena. Mereka tampak berbincang serius. Gerald tersentak saat tiba-tiba keduanya menatap dirinya serius.
"Anda serius, Nona?"tanya Erin memastikan. Roxena mengangguk.
"Baik, Nona!"
Erin kemudian melangkah menghampiri Gerald. "Tuan, mari lakukan sparring," ucap Erin, mengulurkan tangannya menantang.
"Aku bukan banci!"sahut Gerald. Lalu mengalihkan tatapan pada Roxena. "Beri aku lawan sejenis!"
"Erin bukan sekretaris lemah. Jangan menangis saat kalah. Erin, hajar dia!!" Erin mengangguk. Gerald yang masih belum siap terembab jatuh menerima tendangan Erin.
"Yang tadi hanya pemanasan, Tuan! Bangun dan lawan saya, Tuan!!"
"Ini bukan sparring!"gumam Gerald merasakan tendangan Erin yang full power.
Kedua orang itu melakukan sparring. Erin yang kebetulan juga menyimpan rasa kesal pada Gerald, tak menahan dirinya. Setiap serangan yang ia lancarkan mengincar titik vital. Gerald kewalahan. Tidak menduga Erin begitu mumpuni.
Pukulan Erin ada yang meleset dan ada yang mengenai sasaran. Gerald yang hanya bertahan bak samsak tinju bagi Erin.
Roxena yang menonton itu tersenyum smirk sambil menyilangkan kedua tangannya. Erin adalah tangan kanannya yang terpercaya. Tugasnya rangkap merangkap. Ia handal dalam banyak hal termasuk bela diri.
__ADS_1
Roxena memang tak memperingatkan Erin untuk menahan diri. Sejujurnya, Roxena takut. Jika ia turun tangan, Gerald akan setengah mati dibuatnya.
Hah … hah … hahh
Nafas Gerald begitu memburu. Lebam menghiasi wajahnya. Tubuhnya terasa remuk sementara Erin masih tegap tanpa luka satupun. Erin lantas membungkuk. "Terima kasih sudah mengalah, Tuan," ucap Erin dengan tersenyum lebar.
"Bagaimana? Masih meremehkan Erin?"
"Ini bukan sparring!!"protes Gerald. Remuk sudah tubuhnya.
"Jika ini bukan sparring, Anda sudah tak sadarkan diri, Tuan." Erin menjawab. "Dengan tulang Anda yang patah."
Gerald memucat. Beragam terkaan muncul di pikirannya. Mengapa hanya sekretaris sekuat itu? Pelatihannya juga keras. Wait, jika sekretaris saja sekuat itu, bagaimana dengan nonanya? Muncul kecurigaan di hati Gerald mengenai pekerjaan Roxena. Benarkah hanya seorang Presdir?
"Cukup hari ini. Kita lanjutkan Minggu depan. Erin, kau kembalilah. Lakukan 50 kali gaya kupu-kupu pulang pergi!!"titah Roxena.
"Nona?!" Erin membulatkan matanya.
"L-lima puluh kali?!" Wajahnya memucat. Itu gaya yang sulit. Benar, ia merasakan dilatih langsung oleh Roxena.
"Ayo," ajak Roxena pada Gerald. Gerald mengikut dengan tertatih. Mereka kembali ke apartemen mereka. Erin kembali ke markas LS untuk melakukan perintah Roxena. Dalam perjalanan itu, Erin meruntuki dirinya sendiri.
Nona memang pendendam!
*
*
*
Gerald menatap wajahnya yang lebam di beberapa sudut. Sudah ia obati tapi perihnya tetap terasa. Juga menatap tubuh bagian atasnya yang naked.
Tubuhnya ideal. Tinggi, berotot namun tidak sekekar binaragawan. Tubuhnya padat dan yang pasti perutnya sixpack. "Huft!!"
Teringat ucapan Roxena sebelum ia masuk ke dalam kamar.
"Pertarungan secara fisik mungkin kau sudah cukup paham. Bagaimana jika dihadapkan pada senjata? Apakah kau akan bertahan tanpa berlindung, Gerald?" Entah itu pecut atau cibiran, Gerald panas mendengarnya.
Kembali dihelanya nafas. Gerald lalu segera membasuh tubuhnya.
*
*
*
Roxane kini duduk santai di sofa ruang tengah sembari memeriksa email-nya. Di meja ada jus alpukat serta makanan ringan.
Lily dan Sophia tengah melakukan tugas mereka yakni membuat makan siang.
"Bagaimana lukamu?" Roxena mengangkat pandangannya. Gerald duduk di sofa tunggal. Tercium aroma parfum menyegarkan darinya, Citrus. Bertanya dengan wajah datar.
"Baik."
Roxena kembali fokus pada ponselnya. Ada beberapa informasi penting yang masuk. Baik mengenai LS ataupun Lawrence Group.
Suasana berubah hening. Jujur saja, Gerald merasa tidak nyaman. Padahal ia yang ingin menghindar tapi hatinya menolak. Kini, Gerald tak hanya pusing dengan sikap Roxena namun juga hatinya sendiri.
Hati tak bisa berbohong. Namun, dalam hatinya bercampur beragam perasaan. Apalagi ia sama sekali tidak tahu tentang Roxena. Ingatan itu memang terus datang namun tidak ada titik terang. Mimpi sama, ia seperti digantungkan.
Gerald tengah mempertimbangkannya. Haruskah ia menanyakan hal itu?
Tidak boleh ragu!! Kau harus menyelesaikan urusanmu dengannya, Gerald!
"Ehem!"
Kembali batuk untuk menyadarkan Roxena bahwa ada seseorang yang duduk bersama dirinya. Roxena hanya melirik tanpa niat menanggapi.
__ADS_1
"Wanita gila, apa telingamu tuli?!"sarkas Gerald.
"Kalau batuk minum obat," balas Roxena tak acuh.
"Aku memanggilmu!!"
"Oh. Apa?"
Sungguh sulit dimengerti. Roxena kembali seperti landak.
"Kehidupan lalumu itu, kau seorang jenderal?"tanya Gerald to the point.
Roxena tertegun. Ia menoleh dengan lambat. "Apa yang kau lihat?"tanya Roxena. Ia seperti tercekat. Emosional saat berhubungan masa lalu.
"Lalu Regis-Regis itu, dia kekasihmu di masa lalu?"tanya Gerald tadi. Semua ingatan yang bercampur dengan mimpi itu ia keluar untuk mencari titik terang.
"Jika benar kau terlahir kembali, berarti aku juga, kemungkinan besar Regis itu juga terlahir kembali. Bagaimana dengan Elisa? Apa dia juga bagian dari kehidupan lalumu? Mengapa kau mencariku sedangkan kekasihmu bukan aku. Bagaimana caranya aku menghancurkan kehidupanmu? Katakan padaku, aku akan membayarnya, aku akan membayarnya lunas!!"
Roxena mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya memancarkan keinginan untuk membunuh pria ini! Suasana ruang tengah mencekam tiba-tiba.
"Katakan padaku! Kau membuatku seperti orang bodoh!!"desak Gerald.
"Bahkan jika kau menyerahkan jantungmu tidak akan bisa membayar hutang-hutangmu padaku!!" Roxena berseru. Ia bangkit dan menatap Gerald penuh amarah.
"Apa yang aku lakukan sekarang sangat jauh dari apa yang kau lakukan padaku! Meskipun Regis juga terlahir kembali itu tidak akan mengubah apapun. Aku ada hingga saat ini karena mencarimu untuk membalas semuanya!!"
"Katakan padaku! Aku akan berusaha membayarnya jika memang itu adalah kesalahanku! Informasi putus-putus dan sikapmu sangat menyebalkan, kau menyiksaku dengan tanda tanya ini!!" Gerald juga ikut berdiri. Keduanya berdebat.
Roxane tersenyum smirk. Memang itu tujuannya. Perpisahan, informasi putus-putus, dan sikapnya yang terkadang dingin dan hangat, itu menyiksa batin Gerald. Meskipun tidak tampak, benaknya berperang dan tersiksa. Roxena hanya kurang memberikan siksaan fisik.
"Tampaknya aku terlalu baik padamu!" Roxena melangkah maju, mendekati Roxena.
Otak Gerald mengirimkan sinyal bahaya. "Urusan pewaris belum selesai. Bukankah sudah waktunya menjalankan kewajibanmu, suamiku?"
Merinding mendengar kata-kata itu. Gerald menyadarinya. Tatapan Roxena menjelaskannya. "Lepaskan aku!! Lepaskan aku, wanita gila!!" Gerald ditarik oleh Roxena. Berantakan itu seakan tak berefek pada Roxena.
BRAKK!!
Pintu kamar Gerald ditutup dengan keras.
"LEPASKAN AKU!! PERGI, SIALAN!! MENJAUH DARIKU!!"
"Nona hilang kendali." Lily menunjukkan wajah prihatin untuk Gerald. Roxena benar-benar marah.
"Siapkan saja makan siang yang bernutrisi juga vitamin. Lalu tutup telinga kita," sahut Sophia. Teriakan Gerald masih terdengar jelas. Panik dan histeris bercampur menjadi satu.
"Sepertinya sudah dalam kuasa Nona," ucap Lily. Teriakan itu sudah tidak ada lagi.
"Seketika aku ingin kembali ke markas. Di sini sangat menegangkan," lirih Lily kemudian. Mereka adalah saksi bagaimana interaksi pasangan itu. Tentu itu hal yang sangat mendebarkan. Harus siap dengan cekcok dan ya, kekerasan dalam rumah tangga juga. Dan itu sedang terjadi.
"Cuih!"
Roxena mengusap wajahnya yang terkena ludahan Gerald. Tangan Gerald diikat dengan tali pinggang. Sementara kakinya diduduki oleh Roxena.
"Lihat bagaimana caraku mengurusmu!"
Roxena melancarkan aksinya. Desisan Gerald berubah menjadi ******* tertahan. Satu persatu kancing kemeja Gerald ditanggalkan. Kecupan demi kecupan Gerald terima.
Roxena kembali melakukan penyatuan dengan Gerald. Lagi, tanpa persetujuan Gerald. Kembali, Gerald merasa harga dirinya diinjak. Wanita tak tahu malu itu benar-benar memaksanya. Sama sekali tidak mendengar umpatan dan kebenciannya. Malah menunjukkan senyum kemenangan.
Fisik Roxena benar-benar kuat. Mampu menahan pemberontakan Gerald.
"Jika kau tidak mau seperti ini, jangan pancing amarahku dengan omong kosongmu!" Roxena kembali memakai pakaiannya sementara Gerald mengusap pergelangan tangannya yang terluka akibat ikat pinggang. Sorot matanya dingin. Dingin yang beradu dengan dingin. Tidak ada pancaran rasa bersalah di mata Roxena.
"Jika kau ingin tahu yang sebenarnya maka tunggu saja hingga semuanya lengkap. Kau laki-laki, lemah sekali baru seperti ini sudah menyerah," sinis Roxena. Ia sudah selesai memakai pakaiannya. Bersiap untuk keluar.
"Simpan tatapan sialanmu itu! Kau adalah suamiku. Sudah sepatutnya melakukan hubungan suami istri. Jika kau keberatan kau dapat mengajukan keberatan ke pengadilan, Prof. Gerald," ucap Roxena sebelum keluar dari kamar Gerald.
__ADS_1
Gerald tidak menjawab. Jika ia melakukan itu, ia hanya akan menjadi bahan tertawaan. Amarah di hatinya harus ia pendam. Matanya memejam, tangannya mengepal. "Mengapa aku lemah sekali?!"