Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 91 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Waktu itu musim semi. Bunga-bunga bermekaran, pepohonan menghijau. Bumi hangat dengan cahaya musim semi.


Di tengah hamparan bunga yang begitu indah, Regis berlutut di depan Roxena, mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.


“Menikahlah denganku, Xena,” lamar Regis pada wanita pujaan hatinya, yang begitu cantik dan bersinar.


Roxena mengulurkan tangannya menerima lamaran itu. Regis tersenyum lega, segera menyematkan cincin pada jari manis Roxena.


“Terima kasih telah menerimaku, Xena.” Keduanya berciuman. Tak lama setelah lamaran itu, kerajaan akan melakukan peperangan dengan negara musuh. Saat itu, Gerald berada di luar kerajaan, sedang melakukan tugas diplomatik.


Karena merupakan perang besar, Regis sebagai Putra Mahkota terjun langsung bersama dengan komandan pasukan elit yakni Roxena.


Perang besar ini mereka memiliki kemungkinan menang yang kecil, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Regis dan Roxena memutuskan untuk menikah diam-diam. Terjun ke medan perang dengan status sebagai suami dan istri.


Setelah kurang lebih enam bulan pertempuran, akhirnya mereka pulang membawa kemenangan. Disambut dengan suka cita rakyat kerajaan. Martabat Regis sebagai Putra Mahkota jelas meningkat tajam. Perayaan dibuat begitu meriah, tujuh hari tujuh malam. Di malam terakhir, Regis mengumumkan sesuatu yang membuat gempar kerajaan sekaligus hari patah hati nasional.


Meskipun pernikahan mereka diam-diam. Hubungan mereka mendapat restu dari kedua keluarga. Roxena yang merupakan putri duke, dikenal memiliki reputasi yang bagus, cerdas, dan kuat karena seorang swordmaster, cocok menjadi seorang permaisuri. Pasangan yang kuat saling melengkapi akan membawa kejayaan bagi kerajaan. Hanya satu orang yang tidak bisa menerima kenyataan itu.


Gerald. Ia begitu marah mengetahui fakta tersebut. Dan kemarahannya itu berujung pada pemberontakan yang menewaskan Regis dan keluarga Roxena. Kaisar dan Permaisuri jatuh sakit dan akhirnya meninggal, Gerald naik tahta menjadi Kaisar dengan Roxena sebagai Permaisuri.


*


*


*


Roxena menyeka air matanya, ia baru saja mengenang masa lalu. Kejangan yang sebagian besar sangat menusuk hatinya. Tapi, ia harus mampu menghadapinya.


Lelah dengan penerbangan hari ini, juga dengan hatinya sendiri, rasa kantuk menyerang Roxena. Wanita itu terlelap.


Sementara di sisi lain, Erin menghubungi Gerald untuk segera ke markas LS. Akan di antar oleh Sophia dan Lily. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Menurut Erin, Gerald sangat dibutuhkan oleh Roxena.


*


*


*


Sementara itu, sebelum dihubungi oleh Erin, Gerald sudah memasak untuk makan malam, menunggu kepulangan Roxena. Mengetahui dirinya disuruh datang ke LS, Gerald bergegas. Perasaan tidak enak seketika. Ia takut jika Roxena terluka.


Xena ku mohon. Kau harus baik-baik saja! Jangan terluka, okay.


Aku akan segera tiba. Bersabarlah.


Berulang kali Gerald meminta Sophia supaya lebih cepat. Ia tidak bisa tenang, gelisah dalam tidurnya. Pantas saja pesan-pesannya tidak dijawab. Ternyata Roxena sedang tidak baik-baik saja.


Sekitar 1 jam kemudian, mereka tiba di LS. Gerald yang tahu letak kamar Roxena langsung berlari kencang setelah turun dari mobil.


"XENA!!" Membuka pintu dengan berseru memanggil Roxena.


Roxena yang terlalu lelah dan nyenyak mendengar suara itu namun enggan untuk di muka mata. Ia hanya bergumam sebagai jawaban. Meninggalkan Gerald yang begitu panik.


"Xena, are you okay? Xena?"


Mengguncang pelan tubuh Roxena. Sorot matanya sangat cemas, Roxena tak kunjung membuka mata.


"Nona sedang beristirahat, Tuan. Beliau baik-baik saja." Untungnya kirim surat datang menenangkan kekhawatiran serta ketakutan Gerald.


"Sungguh?"


"Dengarkan nafas Nona," tunjuk Erin.


Barulah Gerald mendengarkan dengan tenang. Hatinya lega menyadari bahwa itu hanya kekhawatirannya semata. Roxena sedang nyenyak dalam tidurnya.


Ada rasa bersalah. "Maafkan aku," ucapnya kemudian mengecup kening Roxena.


"Kapan kalian tiba?" Hilang kekhawatiran saatnya mengintrogasi Erin. Mengapa Roxena pulang ke LS, bukan ke apartemen langsung. Apakah ada sesuatu yang serius?


Sesuatu yang serius? Apakah itu …. Cara membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Erin … apakah … Xena tahu mengenai Elisa yang berada di Madrid?"tanya Gerald memastikan.


Erin mengangguk membenarkan. "Lalu di mana Elisa sekarang?"


Tatapan Erin langsung menajam.


"Aku memang mengkhawatirkannya. Tapi, itu hanya bentuk peduli biasa. Biar bagaimanapun dia adalah mantan istriku. Anak dalam kandungannya, adalah anakku," jelas Gerald dengan nada berat.


"Elisa ada di sini," jawab Erin. Sontak, Gerald membulatkan matanya.


"Di sini? Tunggu, apa yang kalian lakukan?"selidik Gerald. Ia harus tahu kondisi Elisa.


"Elisa dalam keadaan baik. Anda tidak perlu cemas."


"Dari kemarin aku selalu mendengar jawaban itu. Berikan jawaban lain yang lebih spesifik, Erin. Atau biarkan aku melihatnya. Dari jauh." Memberikan desakan. Sayangnya, Erin menggeleng.


"Erin … please. Aku hanya ingin memastikan dengan kedua mataku sendiri."


"Bisa setelah mendapat izin Nona. Hanya saja Elisa sudah memiliki status baru."


"Status baru? Apa? Kalian membawanya bergabung ke LS?"terka Gerald. Tapi, rasanya tidak mungkin.


"Emmm …." Roxena menggumam dalam tidurnya. Merasa terganggu dengan percakapan di dekatnya.


Percakapan itu terhenti. Dengan tipenya Erin tidak akan bicara lagi. Gerald pasrah menunggu Roxena bangun.


Duduk di ranjang dengan tangan mengusap lembut wajah Roxena. Terlihat seperti bayi. Yang ketika bangun akan berubah menjadi singa betina.


"Kau pasti sangat lelah. Menanggungnya sendiri. Kau hebat, Xena."


"Kau luar biasa."


"Meskipun aku tidak bisa menyaingimu, aku akan melakukan yang terbaik. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Xena."


*


*


*


Dalam hati Gerald berpikir bahwa Roxena sangat lelah setelah melewati banyak hal. Hanya saja, tidur berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan.


Menghitung waktunya, sudah waktunya bangun. Gerald kembali masuk ke dalam kamar, dengan lembut membangun Roxena. Cara menepuk dan menggoyahkan tubuh tidak berefek. Dipanggil juga tidak mempan. Gerald terpikir satu cara, memagut bibir yang istri.


Benar saja langsung mendapat respon dari Roxena. Roxena membalas ciuman itu dengan mengalungkan tangan pada leher Gerald. Selesai berciuman barulah Roxena membuka mata. Manik hazelnya yang indah tampak sayu. Masih mengantuk.


Roxena lantas tersenyum. "Kau datang?"


"Aku mendengar bahwa kau sudah pulang ke LS. Aku sangat merindukanmu hingga memberanikan diri datang kemari," jelas Gerald. Benar, sejujurnya Gerald takut dengan bangunan ini. Ya, karena ini adalah markas mafia.


Roxena terkekeh tanpa suara. "Beberapa hari tidak bertemu, mengapa kau semakin kurus?"tanya Roxena setelah memperhatikan pipi Gerald.


"Benarkah?" Roxena mengangguk.


"Mungkin karena kau sangat merindukanmu. Xena, aku punya penyakit serius," ucap Gerald dengan mimik yang mendukung.


"Apa?"tanya Roxena dengan menaikan satu alisnya.


"Namanya penyakit rindu. Tidak ada obatnya kecuali kau, Xena," ungkap Gerald seraya menggesekkan hidungnya pada hidung Roxena.


Rasanya geli. Roxena tertawa. "Terdengar menggelikan. Tapi, aku suka."


Krucuk


Suara perut Roxena merusak suasana romantis mereka. Gerald tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa lepas. "Jangan tertawa!" Roxena yang malu melempar bantal pada Gerald.


"Aku membawa makan malam dari rumah."


"Kau memasak?" Langsung diangguki oleh Gerald. Roxena segera turun dari ranjang dan membasuh wajahnya. Mendapatkan kembali kesegaran.

__ADS_1


Gerald sudah menyajikan makanan yang ia bawa dari apartemen. Aromanya sangat menggoda selera, membuat perut semakin lapar. Roxena segera menyantapnya. Tak perlu waktu lama, sebagian besar makanan berpindah ke lambung Roxena.


Tak lupa sendawa setelah kenyang. "Kau seperti anak kecil. Makannya berantakan," ucap Gerald seraya menyeka noda di bibir Roxena dengan bibirnya.


"Aku melewatkan makan siang tadi," aduh Roxena.


"Lain kali tidak boleh."


"Aku mengerti."


Selesai makan, suasana hening itu membawa ke arah pembicaraan serius.


Roxena yang dalam tidurnya mendengar percakapan Gerald dan Erin segera menanggapi keheningan itu, "tanyakan saja yang apa yang ingin kau tanyakan. Aku akan menjawabnya."


Mendapatkan aba-aba, Gerald segera mengutarakan segala pertanyaan.


"Kau benar. Aku sudah mengetahui kedatangan Elisa dan juga Regis. Aku tahu tujuannya datang untuk membawamu pergi. Namun aku tidak tahu dengan cara apa mereka akan melakukannya. Oleh karenanya, aku hanya membuat persiapan dan rencana. Ternyata dengan cara seperti itu, so … aku memutuskan untuk melakukan satu hal besar."


"Kau tahu tapi tidak memberitahuku?" Kecewa.


Roxena tidak terlalu memperdulikan itu. "Jika aku beritahukan, rencanaku tidak akan akan berjalan."


"Apa rencanamu? Apakah berhasil? Lalu maksudnya Elisa memiliki status baru apa?"cerca Gerald tak sabar.


"Menikahkah Elisa dan Regis."


"APA?!" Berteriak kaget. Terkejut sempurna.


"Elisa butuh pendamping. Regis baik, jadi mereka cocok. Dan tidak akan mengganggu rumah tangga kita lagi. Mengapa? Kau tidak terima? Tapi, tidak masalah. Toh mereka sudah menikah."


Gerald tak mampu berkata-kata lagi. "Xena kau!"


Sebenarnya terbuat dari apa otak Roxena sampai bisa memikirkan hal ini?!


"Bagaimana aku cerdas, kan? Ku lihat kau juga mendukung mereka. Tidak ada alasan untuk marah!"


Malah meminta pujian. Gerald memijat dahinya. "Jadi, mereka sudah menikah?"tanya Gerald memastikan.


"Hm."


"Okay. Itu kabar bagus. Kondisi Elisa, apa kau tahu bagaimana?"


"Kau peduli sekali," decak Roxena cemburu.


"Bagaimana keadaan Elisa? Berikan aku jawaban spesifik. Atau biarkan aku melihatnya dari jauh!" Roxena menirukan kalimat yang Gerald katakan saat bersama dengan Erin tadi.


"Xena ….."


"Tidak tahu lagi bagaimana. Tanyakan saja pada Erin. Terakhir kali dia pingsan kelelahan," jawab Roxena ketus.


"Xena, aku … ya aku peduli padanya. Tapi, tidak lebih peduli kepada teman lama." Gerald memeluk Roxena. Meredakan kekesalan wanitanya. "Aku senang kau cemburu. Artinya kau sangat mencintaiku." Sempat lagi berbicara dengan bangga.


Roxena yang masih kesal membuka mulutnya lalu menggigit bahu Gerald.


Gerald langsung meringis sakit. Dengan menahan sakit, Gerald berkata, "jika masih lapar aku akan membuatmu makanan, Xena. Bahuku sangat keras dan tidak enak dimakan."


"Diam kau!'


"Xena."


"Kalau mau lihat, lihat saja. Aku mau mandi." Roxena bangkit. Tepat saat itu, Erin datang dengan tergesa, melaporkan sesuatu pada Roxena.


"Gawat, Nona!"


"Ada apa, Erin?"


"Regis terluka. Kepalanya membentur batu saat bertengkar dengan Elisa."


"APA?!"

__ADS_1


__ADS_2