
"Kita bertemu lagi." Roxena tersenyum melihat secercah cahaya di hadapannya.
"Kau merindukanku, hm?"tanya Roxena kemudian.
Dirinya tengah bermimpi. Secercah cahaya itu adalah wujud dari calon anaknya.
"Aku senang, Ibu."
"Di waktu yang lalu kau tidak menjawabku. Apa kau Rey?"
"Apa ibu akan membenci saya jika saya bukan Rey?" Cahaya itu membalikkan pertanyaan Roxena. Roxena tertegun sesaat.
"Katakan padaku, mengapa aku harus membencimu?"
Secercah cahaya itu semakin terang, seolah sangat senang dengan jawaban Roxena.
"Rey akan hadir kembali, Ibu. Kami akan kembali bersaudara di kehidupan ini. Namun, tentu saja dengan ayah dan ibu yang sama." Suaranya begitu riang. Tampak sangat bersemangat dan tak sabar untuk segera lahir ke dunia.
Air mata Roxena turun. Tentu jawaban itu adalah karunia untuk dirinya. Kegagalan di masa lalu akan dibayar lunas di kehidupan ini.
"Kau harus sehat selama di dalam rahimku. Kau tahu kan kalau aku ini punya pekerjaan yang berbahaya."
"Tenang saja, Ibu. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk bertemu dengan Ibu. Aku mencintaimu, Ibu."
Cahaya itu kemudian menghilang dan Roxena terbangun dari tidurnya. Mengusap sudut matanya yang berair. Gerald tidur nyenyak di sisinya.
Roxena lantas termenung, menelaah kembali mimpinya. Roxena mengambil kesimpulan bahwa anak dalam kandungannya ini adalah anak keduanya di kehidupan pertama yang belum sempat lahir dan ikut mati bersamanya saat bunuh diri. Pantas saja menyuruh dirinya untuk berdamai dengan masa lalu. Roxena tersenyum tipis. “Tampaknya aku akan punya anak lelaki yang cerewet.”
“Tenang saja. Aku akan menyambutmu dengan suka cita. Akan ku buat seluruh dunia ikut merayakan kelahiranmu.” Mengusap perutnya yang sudah menonjol. Jika dihitung mungkin usia kandungannya sudah memasuki bulan kedua. Rencananya sepulangnya dari sini akan ke dokter untuk pengecekan lebih lanjut.
“Aku harus mulai memikirkan nama untukmu.”
*
*
*
Pagi harinya, Tuan Lawrence sudah berada di aula keluarga, menunggu anggota keluarga yang merasa keberatan dengan keputusan Roxena. Namun, sudah satu jam ia menunggu, tidak ada yang datang untuk protes. Memutuskan menunggu beberapa saat lagi.
“Mengapa di sini?” Yang datang mana Roxena dengan wajah andalannya.
“Menindaklanjuti keputusanmu tadi malam. Ayah kira akan banyak yang datang protes tapi tidak ada satupun yang datang. Tidak mungkin kau memprotes keputusanmu sendiri, bukan?”
“Oh.” Roxena menanggapi datar. “Lupakan hal itu. Ayah mau ikut pulang atau tetap di sini?” Mengutarakan maksud kedatangannya.
“Tentu saja ikut pulang.”
“Kalau begitu bersiaplah. Tiga puluh menit lagi kita pulang.”
Tuan Lawrence mengangguk singkat lalu meninggalkan aula. Roxena mengedarkan pandang sebelum meninggalkan aula. Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, ia bertemu dengan beberapa anggota keluarga yang masuk dalam kategori kerabat dekat. Mengobrol singkat dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Kepala keluarga begitu mendominasi. Aku sedikit khawatir dengan rumah tangganya.”
“Meskipun kepala keluarga keras dan mendominasi, suami kepala keluarga juga bukan orang sembarangan. Keberaniannya berbicara dengan percaya diri kemarin sudah membuktikan bahwa dia layak dari berbagai sisi. Jangan lupa, pendidikannya juga tinggi.”
“Biasanya sih saling melengkapi. Sudahlah tak perlu mencemaskan. Kita doakan saja keluarga ini aman dan sejahtera.”
*
*
*
Setelah menyampaikan beberapa pesan dan peringatan kembali, Roxena dan rombongan meninggalkan kediaman keluarga Lawrence. Menaiki helikopter menuju bandara.
Sepanjang perjalanan, Roxena memutuskan untuk istirahat, meninggalkan pekerjaannya meskipun di depannya Erin sibuk dengan tugasnya.
"Aku sudah membuatkan jadwal check kandungan. Besok pukul 14.00," ujar Gerald. Tampak antusias.
"Tanya pada Erin," jawab Roxena malas, ia belum mendengar jadwalnya untuk besok.
"Aku sudah sesuaikan dengan jadwalmu, Xena."
"Okay." Roxena tidak keberatan.
"Mau aku pijat?"tawar Gerald. Roxena menggeleng.
__ADS_1
"Jangan berisik." Roxena kembali memejamkan matanya.
*
*
*
Hari sudah berlalu. Pagi yang cerah menyambut Roxena untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ada ada banyak laporan yang harus ia periksa dan tanda tangani di atas meja. Belum lagi jadwal meeting.
Hari pertama kerja yang melelahkan.
"Kau harus kuat, okay?" Mengusap perutnya.
"Nona, Tuan Lux ingin bertemu," ucap Erin melaporkan.
"Ada janji?"
"Tidak," jawab Erin. "Tapi, ada waktu jika Anda menerima kedatangannya," imbuh Erin. Roxena menimbang sejenak, menerka apa yang akan Tuan Lux bahas.
"Okay."
Erin segera beritahu resepsionis untuk mempersilahkan Tuan Lux naik menuju ruangan Roxena. Tak lama kemudian, Tuan Lux tiba di ruangan Roxena. Menyapa pimpinan utama Lawrence Group itu.
Roxena yang sudah duduk di sofa mempersilahkan Tuan Lawrence duduk. Sedang Erin membuatkan teh untuk keduanya.
"Ada apa?" Pertanyaan singkat Roxena lontarkan.
"Hanya ingin berbagi kabar," sahut Tuan Lux, mengalihkan atensinya pada teko berisi teh lengkap dengan dua gelas kecil berwarna putih.
"Sejak kapan kau minum teh?"
"Sudah lama." Roxena menuangkan teh untuk Tuan Lux.
"Ini teh putih, bagus untuk kesehatan orang tua seperti Anda." Wajah Tuan Lawrence berubah sepat.
"Lekaslah minum, wajah Anda sangat tidak enak dipandang."
"CK! Kau ini!"gerutu Tuan Lux.
"Anda belum menjawab." Tuan Lux mendelik kesal. Ia baru saja minum langsung ditagih jawaban.
"Lantas?" Roxena merasa pernikahan anggota keluarga tidak ada urusan dengan dirinya. Mau mereka jungkir balik asal tidak merugikan dirinya, Roxena tak peduli.
"Apa kau belum tahu siapa calonnya?" Roxena diam. Ia memang belum mendengar kabar ini. Kesibukan akan pekerjaan menghalanginya. Lalu atensinya beralih pada Erin yang tampak tengah sibuk dengan tabletnya. Wajahnya yang menunduk membuat Roxena tak melihat jelas ekspresinya.
"Kita dapat undangan?"tanya Roxena kemudian.
"Anda, Nona! Undangan masih berada di resepsionis," ujar Erin menjawab. Wajahnya tegang.
"Okay." Bukan hal yang urgent, Roxena tidak mempermasalahkannya.
"Siapa calonnya?" Kembali pada topik pembicaraan.
"Putri dari Perdana menteri," beritahu Tuan Lux.
"Manusia itu?" Roxena tersentak pelan. Alisnya naik tanda bertanya.
"Tampaknya untuk meredam kabar kemarin. Saat ini kan mantan putri kerajaan menjadi buronan."
Ya, kabar pernikahan Xavier memang ampuh meredam kabar Stella yang melakukan pemberontakan. Media massa dan baliho dipenuhi dengan kabar pernikahan putra mahkota yang akan menjadi pernikahan Akbar. Apalagi calonnya adalah putri tunggal dari perdana menteri.
"Stella, kau ada mendengar kabarnya?" Tuan Lux memicingkan matanya.
Roxena mengangkat bahunya. Ia belum mendengar kabar terbaru tentang Stella dari Jade. Entah masih hidup atau sudah tewas.
"Tidak ada urusan denganku," imbuh Roxena.
"Apa hanya ini yang menjadi urusan Anda?"tanya balik Roxena, memicingkan matanya kesal.
"Tentu saja tidak. Aku menemuimu juga mau membahas bisnis."
Maka jadilah pembicaraan itu menjurus kepada bisnis. Satu jam kemudian, Tuan Lux pamit dan Roxena kembali pada pekerjaannya.
*
*
__ADS_1
*
Empat puluh lima menit sebelum jadwal pemeriksaan yang ditentukan, Roxena meninggalkan ruangan bersama dengan Erin, menuju rumah sakit.
"Pernikahan Putra Mahkota, menurutmu bagaimana, Erin?"
Erin melirik Roxena dari kaca spion. "Perdana Menteri adalah orang yang sangat memandang penting kekuasaan. Hanya saja, mungkin akan ada perubahan regulasi yang akan menguntungkan atau bisa jadi merugikan," tanggap Erin.
"Namun, kita tidak perlu khawatir berlebihan karena orang-orang kita tidak akan merugikan, Nona," imbuh Erin kemudian. Benar, anggota Roxena banyak yang berada di pemerintahan. Meskipun kekuasaan perdana menteri besar, namun orang-orangnya di pemerintahan juga tak bisa diremehkan. Terlebih ia memiliki hubungan kekerabatan dengan anggota kerajaan. Itu adalah satu tameng yang cukup kuat untuk melindunginya.
"Lawrence Group berada dalam puncak perekonomian, Capital Group juga akan berkembang menjadi perusahaan keuangan utama, kita tidak bisa disinggung sembarangan, Nona. Jadi, menurut saya, kita memantau saja."
Roxena mengangguk pelan mendengar pemaparan Erin.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Melihat sang istri memasuki lobby, Gerald gegas menyambut. Tangan Roxena ia genggam dan pinggangnya ia rangkul. Menunjukkan hubungan yang sangat harmonis. Tak ada penolakan. Erin mengekor di belakang, menuju ke tempat pemeriksaan kandungan.
Sesuai jadwal yang ditentukan yakni pukul 14.00, mereka langsung masuk ke dalam ruangan. Erin menunggu di luar.
"Selamat siang, Presdir, Prof." Dokter kandungan menyapa.
Keduanya mengangguk singkat. Roxena diarahkan untuk berbaring. Dokter perempuan itu lalu menyikap kemeja yang Roxena gunakan.
"Hanya sebentar saja. Untuk USG," ujar Gerald melihat Roxena yang tidak nyaman dengan kondisi ini.
"Harus?"
"Tentu."
Dokter tersenyum tipis. Mulai mengoleskan gel lalu menempelkan alat deteksi.
"Tuan, Nyonya, ini adalah bayi kalian. Ada dua kantung yang menandakan bayi kalian kembar. Kondisinya sehat dan usianya sekitar 8 minggu," ujar dokter menjelaskan. Roxena dan Gerald mengamati layar monitor.
Ada dua kantung dan di dalam kantung itu adalah bayi mereka yang masih sangat kecil.
Detik berikutnya, Gerald langsung mengecup dahi Roxena. Sungguh, rasa bahagia tidak terlukiskan. Sementara Roxena termenung sesaat.
Kembar?
Apakah kedua anaknya di masa lalu hadir bersamaan?
Dokter lalu memberikan pengarahan untuk keduanya.
"Bagaimana, Tuan, Nona?" Erin menyongsong begitu keduanya keluar dari ruangan.
"Mereka sehat," jawab Gerald singkat.
"Mereka?" Dahi Erin mengernyit, "kembar?"
Gerald mengangguk.
"Selamat, Tuan, Nona!!" Erin berseri. Namun, atensinya terpaku pada ekspresi Roxena. Datar, apakah tidak senang dengar hasil pemeriksaannya? Sedang Gerald yang tenggelam dalam euforia tak menyadarinya.
"Aku akan kembali ke kantor. Kau lanjutkan pekerjaanmu." Roxena melangkah pergi dan Erin lekas menyusul.
*
*
*
"Anda tidak senang, Nona?"tanya Erin ketika tiba di mobil.
"Siapa yang tidak senang, Erin?"tanya balik Roxena. Wajahnya yang datar berubah sendu, "aku hanya … sedikit takut."
"Takut?"
"Mungkin aku belum benar-benar berdamai dengan masa lalu. Aku takut tidak bisa menyayangi mereka dengan seimbang."
"Mengapa? Bukankah keduanya sama? Lahir sebagai anak Anda dan Tuan Gerald? Mereka kandung, Nona." Erin tak paham.
"Anda sudah berdamai, apakah ingin perang dingin lagi? Kapan semua akan benar-benar tuntas, Nona? Anda tidak bisa terus berputar pada lingkaran masa lalu. Jika Anda ragu, maka di masa depan akan pelik. Anda harus memutuskan, Nona!!" Entah keberanian dari mana, Erin mengatakan semua itu. Dan semua itu menampar Roxena.
"Jangan karena masa lalu, Anda menghancurkan masa depan, Nona. Tuan Gerald orang yang baik. Dia bisa dipercaya dan dapat menjadi sandaran. Tolong jangan ragu lagi, Nona!"
Roxena memejamkan matanya. Selama ini, hidupnya selalu berputar di tempat yang sama. Benar, ia harus keluar. Menyongsong masa depan yang bahagia.
Tuhan itu baik. Dia memberikan hadiah yang manis setelah cobaan yang begitu besar.
__ADS_1
"Kau benar, Erin. Aku yang bodoh karena meragukan diriku sendiri. Aku yang bodoh karena mempertanyakan takdirku. Terima kasih telah menyadarkanku."
Benar. Masa lalu adalah masa lalu. Hutang sudah selesai. Mari bersiap untuk menata dan menyambut masa depan.