
"Gawat, Nona!"
"Ada apa, Erin?"
"Regis terluka. Kepalanya membentur batu saat bertengkar dengan Elisa."
"APA?!"
Roxena dan Gerald saling pandang sebelum akhirnya melihat kondisi Regis dipandu oleh Erin. Mereka menuju klinik. Di luar klinik, asisten Regis menunggu dengan cemas. Nyawa Tuan Mudanya dalam bahaya. Jika terdengar oleh keluarga Regis, ia pasti akan disalahkan karena lalai menjaga pewaris tunggal Capital Group.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi?”tanya Roxena pada asisten Regis. Asisten Regis itu segera menggeleng tidak tahu pasti karena ia tidak ada di tempat.
Flashback ke beberapa waktu lalu sebelum kejadian.
Elisa sadar setelah kurang lebih 3 jam tak sadarkan diri. Begitu bangun, ia langsung meminta penjelasan dari Regis. Regis menjelaskannya dengan runtut, bahwa ia juga terpaksa. Juga segera menjanjikan bahwa karena Elisa tidak menghendaki pernikahan mereka, mereka hanyalah pasangan di atas kerja. Meskipun begitu, mulai saat ini Regis bertanggung jawab atas Elisa. Tidak masalah jika hak dan kewajiban lain tidak dipenuhi.
Sayangnya, Elisa masih dengan keras kepalanya. Ia mau mendatangi Roxena. Regis berusaha menahan namun Elisa tidak menghiraukan. Regis berusaha mengejar dengan kursi rodanya. Note, kursi rodanya bukan kursi roda pada umumnya, rancangan khusus yang dapat memudahkannya bergerak lebih cepat. Juga tak perlu bantuan orang lain ataupun didorong dengan tangan karena sudah dilengkapi dengan teknologi.
“Jangan, Elisa. Ku mohon jangan membuat masalah lagi.” Menahan tangan Elisa kemudian memeluknya.
“Elisa … ayo pergi dari sini besok pagi. Lepaskan masa lalu, buka lembaran baru, ku mohon, Elisa.”
“Tidak, Regis.” Elisa berontak. Regis mempertahankan pelukannya hingga Elisa menjadi penopangnya berdiri.
“Jangan, cukup!! Kau akan mati jika ke sana!!”
“Aku tidak peduli.”
“Aku peduli, Elisa!! Kau istriku sekarang!!”tegas Regis dengan posisi masih memeluk Elisa.
“LEPAS, REGIS!!”
Elisa mendorong kuat Gerald. Dorongan itu membuat Gerald terpelanting, sayangnya bukan jatuh terduduk di kursi rodanya melainkan ke tanah. Naas, kepala Regis membentur batu.
“Arghhh!!” Mengerang keras sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Elisa membeku sesaat. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Sekian detik kemudian, ada darah yang menetes dari kepada Regis.
“Regiss!!!”
Elisa segera memangku Regis. Mencoba membangunkannya. “Tidakk bukan seperti ini! Bangun, Regis. Bangun!! Maafkan aku … TOLONG!! TOLONG!!” Air mata Elisa bercucuran. Gaun putih yang masih ia gunakan bernoda merah darah Regis.
Mendengar teriakan itu, anggota yang mendengarnya langsung menghampiri. “Tolong, dia ….” Tanpa menunggu penjelasan Elisa, Regis dibawa ke klinik. Barulah asisten Regis tahu jika majikannya terluka. Kala itu sorot matanya kesal dan kecewa pada Elisa. Sementara Violet membawa Elisa kembali ke kamar untuk menenangkan diri. Elisa terperangkap dalam keterkejutan.
*
*
*
Roxena mencibir ketidak profesional asisten Regis itu. Asisten itu tertunduk dalam. Karena benar, ia teledor. Sudah hampir satu jam mereka menunggu di depan klinik. Liu tak kunjung keluar mengindikasikan luka Regis sangat serius.
Gerald merangkul Roxena, memberikan ketenangan pada sang istri. Gerald merasakan Roxena sangat khawatir pada Regis. Tak menutupi bahwa ia cemburu. Tapi, harus tahu situasinya. Ia tidak mau kekanak kanakan cemburu di waktu urgent.
Sekitar lima belas menit kemudian, Liu keluar. “Lady.”
“Bagaimana keadaan Regis?”tanya Roxena langsung.
“Kondisinya sudah stabil. Hanya saja ….”
“Hanya saja?” Asisten menyambung tak sabar.
“Tuan Regis koma.”
Degg!!
Regis koma, bagaimana ini? Kabar buruk!! Asisten itu luruh seketika. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
Roxena dan Gerald saling pandang, tidak menyangka. Erin menutup mulutnya kaget. Padahal siang tadi baru menikah, dan kini terbaring koma, permainan takdir apa ini?!
Roxena memijat pangkal hidungnya. Kejadian ini di luar prediksinya. Langkah apa yang harus ia ambil? Regis harus segera kembali ke Luxembourg. Capital Group membutuhkannya. Tapi, Regis malah koma karena didorong Elisa.
“Gila!”ucapnya lantang.
Bugh!! Roxena meninju dinding di dekatnya. Tindakannya mengejutkan semua orang termasuk Gerald. Buru-buru ia mengecek jari Roxena.
“WANITA GILA ITU!! BAGAIMANA BISA … BAGAIMANA BISA DIA MELAKUKAN ITU PADA GERALD?!”
“PUNYA OTAK TIDAK DIGUNAKAN!! BODOH TAPI ANGKUH!! ORANG YANG PALING INGIN MELINDUNGI MALAH DICELAKAI!!”
__ADS_1
“Sebenarnya apa? Apa yang Regis lihat dari wanita sialan itu?! Mengapa begitu melindunginya bahkan rela berkorban?!”
“AKU TIDAK HABIS PIKIR. AKU TIDAK BISA MENERIMA HAL INI!! DIA … DIA MELUKAI REGIS!!”
Emosi Roxena meledak seketika. Ia hendak mendatangi Elisa dan memberinya pelajaran. “Xena!” Gerald mengejar. Roxena tidak lagi melangkah melainkan berlari.
Keadaan jadi kacau balau. Seharusnya masalah terhenti sampai pada pernikahan Regis dan Elisa. Ini … Elisa mengacaukan rencananya. Juga melukai perasaannya.
“ELISA!!” Teriakan Roxena menggelegar di kamar Elisa hingga pemilik nama yang berada dalam pelukan Violet berdiri kaget.
“Roxena … bagaimana keadaan Regis?”
PLAKKK
PLAKKK
PLAKKK
“Xena!!”
“Nona!!”
Tepat saat Elisa menyelesaikan pertanyaannya, Roxena melayangkan tiga tamparan keras dengan penuh emosi. Gerald gagal menghentikannya.
Kepala Elisa berdengung. Ia linglung untuk beberapa saat. Pipinya sangat merah dan bengkak, bibirnya juga mengeluarkan darah. “KAU!!”
“AKU SUDAH BERBAIK HATI MEMBIARKANMU MEMILIKI REGIS TAPI KAU MELUKAINYA?!”
“BERANINYA KAU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!”teriak Roxena. Posisinya siap untuk menyerang. Gerald segera menahan Roxena dengan menyeka cela di antara Elisa dan Roxena, lalu memeluk Roxena membelakangi Elisa.
Tatapan Elisa nanar seketika. Tidak ada yang membelanya. Punggung tempatnya bersandar itu kini telah berpaling. Sementara yang satu lagi terluka parah karena dirinya.
“LEPASKAN AKU, GERALD! JANGAN KAU LINDUNGI DIA!!” Roxena semakin berang. Tenaganya sangat besar.
“Sudah, Xena. Aku mohon. Elisa juga tidak mau Regis terluka. Dia tidak sengaja.”
“Tidak sengaja?”
“Ini bukan urusan kita, Xena. Ini urusan rumah tangga mereka. Ayo kita kembali, redakan amarahmu.”
Urat leher Roxena masih tegang. Emosinya belum turun. Erin memberi kode pada Gerald untuk membawa Roxena keluar. Gerald kemudian menarik Roxena keluar dari kamar Elisa.
Elisa sesaat refleks hendak menahan Gerald. Kini, Roxena sudah keluar dari kamar, suara teriakan amarahnya masih terdengar jelas.
“Seperti yang Anda dengar tadi. Suami Anda koma akibat kerasnya benturan,” ucap Erin memberitahu.
“A-aku ingin melihatnya,” gagap Elisa dipenuhi rasa bersalah. Erin menggeleng pelan.
“Sepertinya akan sulit sebab Asisten Suami Anda sangat marah pada Anda.”
Elisa jatuh berlutut seketika. Sudah berapa kesalahan yang ia buat?
Elisa menangis, meraung. Menutupi wajahnya dengan tangan. Ia sudah menyadarinya. Ia menyesali ide dan keras kepalanya. Nasi menjadi bubur, penyesalan selalu berada di akhir, sia-sia karena sudah terjadi.
“Sebaiknya Anda menenangkan diri. Janin Anda akan dalam bahaya,” peringat Erin. Tepat setelah mengatakan itu, Elisa memegangi perutnya.
“Sakitt!!”
“Nona!!”
“Darah?!” Violet terkejut. Erin membulatkan matanya, segera memanggil Liu.
“Darah? Anakku … Vio ….”
Dan, Elisa kembali tak sadarkan diri.
*
*
*
“Keguguran?”
Baru saja berhasil menenangkan Roxena, datang lagi kabar buruk dari Elisa. Tekanan mental dan fisik yang dialami Elisa menyebabkan keguguran pada janinnya. Roxena yang mendengarnya tersenyum sinis, “karma langsung datang. Baguslah.”
“Diam, Xena!”bentak Gerald yang masih shock. Anaknya meninggal?
__ADS_1
“Kau membentakku?”
“Cukup, jangan seperti ini!! Bagaimana bisa kau mengatakan itu padahal kau tahu anak itu adalah anakku!!”geram Gerald.
Ekspresi Roxena menggelap. Gerald yang masih tidak percaya dengan kabar yang Erin bawa tak merasakan aura tekanan Roxena.
“Aku akan melihatnya.”
Roxena tidak menghentikannya. “Nona!” Erin menyenggol Roxena untuk menyadarkan sang Nona.
Roxena tertawa. Tawanya begitu menggelegar puas. Sakit hatinya akibat Elisa melukai Regis sirna mendengar kabar keguguran Elisa. Ia puas, ia senang, tanpa harus ia turun tangan, maut menjemputnya sendiri. Selain itu, salah satu yang menjadi duri dalam hatinya yakni anak dalam kandungan Elisa telah sirna. Sebagai seorang calon ibu, ia tidak ingin kasih sayang anaknya terganggu dengan kehadiran anak lainnya. Dengan begitu, Roxena bisa tenang.
Hatinya kejam? Hei, sejak awal ia menegaskan bahwa dirinya bukan seorang protagonis. Ia adalah antagonis yang mengerikan. Tangannya berlumur darah. Ia licik, memanfaatkan setiap kesempatan untuk keuntungannya.
“Nona … jangan seperti ini. Biar bagaimanapun Tuan adalah ayah bayi itu,” ucap Erin yang kesal dengan tanggapan Roxena.
“Lantas aku harus apa, Erin? Ikut meratapi keguguran itu? Atau mengucapkan bela sungkawa? Maaf, aku tidak akan melakukannya.”
“Bukan begitu, Nona! Tidak masalah dengan Elisa. Tapi, Tuan … Tuan berbeda, Nona. Dia kan suami Anda. Masa’ Anda tidak ada simpatik sedikitpun?” Erin berusaha menyadarkan Roxena.
“Hm.”
“Aku harus menghiburnya?”
“Bagaimana caranya?”
Erin menaikkan alisnya tidak percaya. Padahal selama ini sangat lengket dan manja. Bagaimana mungkin tidak tahu cara menghibur orang? “Aku tidak pernah menghibur orang,” ungkap Roxena menyadari keterkejutan Erin.
Erin menghela nafas kasar. “Begini loh, Nona!”
Erin mengajari Roxena cara menghibur Gerald.
*
*
*
Gerald menatap nanar janin yang sudah kehilangan nyawa, yang sudah keluar dari rahim
Elisa. “Maafkan Ayah, Nak. Ayah bersalah padamu. Ayah harap kau bahagia di sana.” Sebelum membungkus janin itu dengan kain putih. Rencananya besok pagi akan dikebumikan. Malam itu, Gerald tidak kembali ke kamar. Ia tetap berada di klinik di mana anaknya berada, menunggu malam berakhir.
Elisa sadar keesokan harinya. “Nona, Anda sudah sadar?” Violet berjaga semalaman. Membantu Elisa duduk. Elisa menatap perutnya yang sudah kempes. Ia langsung menarik kerah Violet.
“Ini tidak benar kan, Vio? Bayiku masih ada kan?”
“Vio?”
Violet menggeleng pelan. “Turut berduka, Nona. Saya yakin Anda kuat.”
“Vio … tidak … hiks … Vio tidak mungkin.”
“Kau berbohong kan? Janinku masih ada, kembalikan Vio! Kembalikan! Anakku!!”
“Nona tenanglah!” Menahan pundak Elisa.
“Bayi Anda sudah tidak ada! Anda keguguran!!”
“Keguguran?” Elisa blank seketika. Bersandar pada Violet. Wajah yang pucat semakin pucat. “Apa dosaku, Vio? Apa kesalahanmu? Setelah suami, giliran anakku yang diambil, apakah besok nyawaku?”
“Jangan berkata seperti itu, Nona. Semua ini sudah takdir. Mungkin hal ini adalah yang terbaik untuk Anda.”
“Hiks … Vio ….”
Elisa kembali mengeluarkan air matanya. Mengekspresikan sesak yang sangat menyiksa dirinya.
“Di mana janinku sekarang?”tanyanya setelah cukup tenang.
“Tuan Gerald sudah memakamkannya, Nona.” Elisa memejamkan matanya.
Maafkan Ibu, Nak. Ibu gagal menjagamu. Semoga kau bahagia di sana. Terima kasih telah menemani Ibu selama ini.
*
*
*
__ADS_1