Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 18 Pelantikan


__ADS_3

Sophia fokus pada tugasnya, merias wajah dan menata rambut Roxena. Hari pelantikan telah tiba.


Kali ini, Roxena tak bangun terlambat, tak seperti pelantikan sebelumnya, bahkan bangun sebelum Erin membangunkannya.


Tak pula memakai celana dan blazer, melainkan memakai dress berwarna biru, pilihan Erin setelah berdebat panjang dengan Roxena.


"Sempurna." Sophia berdecak sendiri dengan hasil kerjanya. Roxena membuka matanya. Terpantul wajah cantik sempurna di cermin. Sorot mata yang dingin, dipadukan dengan dress biru itu, meningkatkan kesan dingin dan misterius.


"Nona, kali ini Anda harus benar-benar mengikuti arahan saya!"ucap Erin yang masuk dengan membawa secarik kertas.


Roxena tidak menjawab. Ia berdiri dan menerima kertas itu lalu melangkah keluar. "Saya yakin Nona akan serius untuk hal ini," ucap Sophia.


"Semoga saja." Erin gegas menyusul Roxena.


Gerald? Pria itu tak peduli. Berangkat bekerja seperti biasanya.


Kini, mereka tengah dalam perjalanan menuju Lawrence Group. Pelantikan akan dilakukan tepat pukul 10.00 nanti.


Erin mengemudi dengan kecepatan sedang, mereka tak dalam keadaan terburu-buru. Melirik Roxena yang melihat keluar jendela. Ditemani dengan musik yang mengalun dengan volume kecil, Roxena memikirkan hal setelah pelantikannya. Sudah ia pikirkan sebelumnya. Namun, ia memikirkannya ulang.


Chitt!


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Dahi Roxena menghantam kursi di depannya.


"What the-"


Umpatan Roxena terhenti saat melihat di depan mobilnya ada 3 sepeda motor dengan enam orang di atasnya. Penampilan sangar, membawa senjata tajam.


"Orang bodoh mana lagi yang menyuruh mereka, Erin?"tanya Roxena kesal, menyilangkan kedua tangannya di dada.


Erin menggeleng. Ekspresinya datar.


"Nona, bagaimana?"tanya Erin, melirik ke belakang.


"Terobos saja." Roxena tak ingin hari ini dinodai dengan darah. Erin mengangguk. Ia segera bersiap, memegang erat kemudi mobil.


Sementara Roxena, ia mengirim pesan pada bawahannya untuk mengurus orang-orang itu.


Brumm!


Erin melajukan mobil kencang. Motor-motor itu menghindar. Dan segera mengejar mereka. Lalu lintas tak terlalu padat, alhasil terjadi aksi kejar-kejaran dan kebut-kebutan.


Roxena mengambil sesuatu dari laci mobil, sebuah pistol. "Senjata tajam, terlalu kuno, bukan?" Roxena kemudian menurunkan kaca jendelanya. Ia mengubah niatnya, biarkan ia mengawali hari dengan darah.


"Nona, hati-hati. Anda baru saja pulih. Luka jahit Anda masih berpotensi untuk robek," ucap Erin memperingatkan.


Roxena mengangguk. Ia mengeluarkan kepala dan tangganya, membidik pengendara motor yang mengejar mobilnya. Terdengar suara riuh dari yang melihat Roxena mengeluarkan senjata api.

__ADS_1


Dorr!


Senyum smirk ditorehkan bersamaan dengan lepasnya peluru.


BRAKK!


Satu motor jatuh, menyebabkan kecelakaan. Lalu lintas kacau seketika.


Roxena kembali membidik.


Dorr!


Lagi tepat sasaran. Matanya menghunus tajam dibalik kacamata hitamnya. Roxena semakin menyeringai. Ini menyenangkan.


Namun, sudah tumbang dua, malah semakin banyak yang mengejar mereka.


Roxena kembali membidik namun tidak jadi karena melihat beberapa mobil tipe SUV memburu sepeda motor yang mengejarnya. Roxena masuk ke dalam mobil dan menaikan kaca jendela.


"Pemburu diburu?"gumam Roxena, terkekeh.


Erin membelokkan mobil ke kiri saat tiba di perempatan lampu merah. Ia menghela nafas pelan, bukan karena lepas dari kejaran itu. Akan tetapi, karena dampak yang ditimbulkan.


"Erin, aku tak mau berlama-lama memberikan sambutan. Setelah pelantikan, malam nanti kita culik anggota kerajaan yang mengusikku!"titah Roxena, sembari membenarkan letak kacamatanya.


Erin mengangguk paham. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di Lawrence Group. Ada banyak karangan bunga ucapan selamat atas pelantikan Roxena, dari gerbang menjalar masuk dan keluar.


Media juga sudah bersiap. Karena, pelantikannya ini adalah suatu hal besar. Pergantian pimpinan perusahaan besar yang menopang sebagian besar ekonomi negara.


Roxena tiba tepat waktu. Di panggung, sudah ada spanduk bertuliskan "SELAMAT ATAS PELANTIKAN ROXENA LAWRENCE SEBAGAI PRESDIR LAWRENCE GROUP".


Pria tua ini, pura-pura tidak tahu? Roxena menyipitkan matanya kala melihat Benjamin yang berada di sisi Tuan Lawrence, tersenyum lebar menyambut dirinya.


Bagaimana bisa ia lepas? Mengapa dia selalu beruntung?


Tuan Lawrence tampak berseri. Ia menyambut sembari menepuk bahu Roxena. Bangga dengan putri semata wayangnya itu.


"Selamat, Kakak. Semoga Kakak membawa kejayaan untuk Lawrence Group," ucap Benjamin, dengan nada dan wajah yang bersahabat.


Roxena tersenyum tipis. "Tentu!"


"Xena, mana suamimu?"tanya Tuan Lawrence, tidak mendapati Gerald ikut dengan Roxena.


"Dia? Ada jadwal operasi," jawab Roxena. Itu benar. Roxena tahu jadwal Gerald di rumah sakit. Pria itu, memang ia awasi.


"Baiklah. Ayo, acara akan dimulai."


Rangkaian demi rangkaian acara dilewati. Tiba saatnya penyerahan dan pelantikan jabatan.

__ADS_1


Acara ini dihadiri oleh banyak pihak. Ada dewan direksi juga pemegang saham, serta perwakilan dari undangan yang disebar, termasuk perwakilan keluarga kerajaan yang mengirimkan menteri perdagangan mereka.


Benjamin menatap tajam saat Tuan Lawrence menyodorkan map yang berisikan penyerahan jabatan. Hatinya geram. Namun, ia harus tersenyum dan ikut bertepuk tangan.


Aku gagal menyingkirkanmu. Tapi, aku akan mencoba lagi! batin Benjamin.


Ayah, kau pilih kasih dan sangat mengecewakanku juga ibu!


Benjamin marah pada Tuan Lawrence. Akan tetapi, ia tak bisa melawan pria tua itu.


"Mulai detik ini dan selanjutnya, Lawrence Group resmi dibawah pemerintahan putriku, Roxena Lawrence!!"ucap Tuan Lawrence lantang. Disambut dengan tepuk tangan yang meriah.


"SELAMAT!!"


"SELAMAT!!"


Semakin besarlah rasa ingin menyikirkan Roxena. Benjamin berjanji, ia akan berada di tempat yang Roxena tempati itu. Ia berpegang pada prinsip anak laki-laki pertamalah, yang mewarisi keluarga. Sementara Tuan Lawrence berpegang pada prinsip anak pertamalah yang mewarisi keluarga, tak peduli laki-laki ataupun perempuan. Serta, hak itu, memang milik Roxena, karena wanita itu adalah anaknya yang sah. Lain dengan Benjamin.


Roxena menghela nafas pelan. Ia mengedarkan pandang sebelum bicara, memberi sambutan.


Ditempatnya, Erin sungguh berharap besar. Ia menyatukan kedua tangannya berdoa. Bukan hanya Erin, yang lain juga menantikan sambutan Roxena. Akankah seperti yang lalu?


"Kata-kata ini terlalu bertele-tele. Akan aku singkat saja. Jangan mengusikku dan segera kembali bekerja!"


"Aku rasa kalian masih ingat kata-kataku waktu pelantikan sebelumnya. Di tempat ini, aku akan kembali mengatakannya. Jangan mengusikku!"


Erin memejamkan matanya. Harusnya ia tidak berharap.


Roxena mengeluarkan aura intimidasinya. "Belakangan ini, aku mengalami beberapa hal menarik. Hari ini, aku juga mengalami hal yang menarik."


Aksi kejar-kejaran tadi pagi belum tersebar, mungkin sebentar lagi akan menghiasi layar kaca.


"Ah, sambutan ya? Sejujurnya aku bingung mau mengatakan apa. Terima kasih? Bukankah ini hakku?"


Tuan Lawrence tersenyum kaku. Sementara hadirin yang lainnya saling pandang dan kemudian tersenyum, mencoba memahami kata-kata Roxena itu.


"Ya, tentu ada hal yang ingin aku katakan selain itu. Selama kalian dapat diajak bekerja sama dan tidak mengkhianatiku, selama itu pula kalian akan aman. Aku tak mau menjanjikan apapun pada kalian. Cukup lihat dan nikmati saja masa kepemimpinanku."


Nona ….


Erin mengusap dadanya lega. Syukurlah, meskipun bukan naskah yang ia berikan, kata-kata itu tidak buruk juga.


"Suasana hatiku sedang bagus hari ini. Jadi, hari ini silakan pulang dan kembali besok dengan semangat kerja yang tinggi!"


Roxena mengakhiri sambutannya, disambut meriah dengan tepuk tangan karyawan yang juga menyaksikan acara itu.


Roxena kemudian turun panggung dan menghampiri Tuan Lawrence. "Ayah, nanti malam aku dan Gerald akan ke kediaman lama," ucap Roxena.

__ADS_1


"Haha, baik-baiklah!" Tuan Lawrence tertawa senang.


Roxena kemudian meninggalkan tempat acara bersama dengan Erin yang mengikutinya.


__ADS_2