Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 66 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Setelah selesai menerima laporan dari tangan kanannya, Roxena kembali ke aula di mana sebagian besar calon anggota telah menyelesaikan ujian seleksi mereka. Hari sudah mulai gelap. Roxena memberikan sedikit kata penutup setelah semua calon anggota selesai ujian.


Hasilnya akan diumumkan dua hari setelah ujian.


Erin mengantar kepulangan Roxena. Membungkuk hormat saat Roxena melajukan mobil meninggalkan markas Light and Shadow.


Roxena tidak langsung pulang melainkan lebih dulu berhenti di tepi jalan untuk meredakan sakit kepala yang tiba-tiba muncul. Roxena berdecak pelan.


Masalah semakin besar dan pelik saja. Kepalanya sakit berhadapan dengan intrik dan politik kerajaan untuk menundukkan dirinya. Tidak hanya mengincar Lawrence Group namun juga mengincar LS. Dan semua itu di bawah ambisi seorang putri.


Seorang putri yang memiliki ambisi besar. Tujuannya tentu saja tahta Kerajaan. Meskipun tidak menjadi ratu, jika kekuatan ekonomi dan dunia bawah Spanyol berada dalam genggaman Stella, raja atau ratu hanya akan menjadi boneka.


Roxena terkekeh pelan. Meskipun nafsu makan Stella besar, lebih besar lagi nafsu makan dirinya. Roxena tidak ingin hanya menguasai sekadar sebuah negara namun juga dunia.


Jonathan, Stella, dua orang itu sudah jadi rivalnya. Lalu … jika mengingat kembali Regis dan juga Elisa juga sudah menjadi musuhnya.


Roxena mengernyitkan dahinya. Dadanya tiba-tiba sakit mengingat tatapan dingin Regis padanya. Helaan nafas berat. Roxena mencoba meredam gejolak hatinya. Roxena berpikir di kehidupan ini takdir akan berpihak pada dirinya. Tidak masalah, mungkin alurnya sama seperti Gerald. Dari kebencian menjadi cinta.


Cepat atau lambat, Regis akan mengingat masa lalu mereka yang penuh sakit.

__ADS_1


Menunggu takdir itu mungkin Gerald menjadi pelampiasannya.


"Jangan melemah, Xena! Musuhmu banyak. Kau tidak boleh lemah! Ini bukan masalah besar, kau sudah hidup puluhan kali!"ucap Roxena pada dirinya sendiri.


Roxena menarik dan membuang nafas beberapa kali. Setelah merasa cukup tenang, ia kembali melajukan mobil menuju apartemennya.


"Kau sudah pulang?" Gerald sedari tadi menunggu kepulangan Roxena.


"Hm." Roxena menarik senyum. Entahlah, rasanya semua beban di pundak hilang melihat senyum Gerald.


"Segeralah mandi lalu kita makan malam bersama. Aku sudah membuat menu favoritmu," ujar Gerald.


Roxena mengangguk seraya tersenyum. Bergegas ke kamar untuk membersihkan tubuh.


Penyajian makanan yang elegan. Ruang makan terasa berbeda hari ini. Aroma mawar yang segar. Di meja makan juga ada segelas anggur merah.


Roxena menatap Gerald. "What this?"


"Mungkin semacam perayaan," jawab Gerald tersenyum.

__ADS_1


"Apa yang perlu dirayakan?"bingung Roxena.


Tentu saja karena kita tetap bersama, Xena.


Tapi, jika Gerald menjawab seperti itu kemungkinan besar Roxena akan mengamuk.


"Apakah aneh? Ku pikir wajah jika kita dinner romantis. Kau tidak senang?"


"Bukan begitu." Ada mawar kesukaannya, lalu makanan favorit dan tentu saja anggur. Itu sempurna.


Roxena menatap anggur yang sedang dituang ke gelas. Dulu, anggur selalu menjadi tempat pelariannya.


Roxena tersenyum, "tentu saja tidak."


"Urusanmu lancar?"tanya Gerald mencari topik obrolan lain dengan Roxena.


"Hem."


Keduanya mulai makan. Lily dan Sophia yang bekerja sama dengan Gerald segera memutar alunan romantis. Menemani sepasang suami istri itu. Roxena tanpa tertegun sesaat.

__ADS_1


"Kau menyiapkannya dengan baik."


"Semua untukmu. Senang jika kau menyukainya," sahut Gerald.


__ADS_2