
Tawaranku masih berlaku
Seseorang mengirim pesan pada Gerald. Kini ia sudah kembali ke ruang kerjanya, tak lama setelah Roxena tenang dan tertidur. Gerald menerka siapa yang mengirim pesan tersebut, Benjamin. Hanya adik Roxena itu yang memberikannya tawaran.
Gerald menghela nafasnya. Jujur, tawaran itu menggoda. Namun, ia tidak bodoh. Melihat karakter Benjamin, Gerald tidak bisa percaya pada tawaran atau kesepatan dengan Benjamin.
^^^Tidak.^^^
Apa yang kau ragukan? Kita tidak ada masalah, kita patner yang bagus!
Aku tidak minta banyak, pura-pura saja tidak tahu. Dia baru saja menjalani operasi besar, ada pendarahan atau komplikasi pasca operasi adalah hal yang wajar.
Aku tidak akan melibatkanmu terlalu jauh. Atau begini saja, biarkan aku membawanya pergi. Kau akan terbebas dari kecurigaan dan tanggung jawab apapun!
Begitu memaksa. Gerald berdecak sebal.
^^^Tidak.^^^
Setelahnya Gerald memblokir nomor itu.
Tidak mungkin semudah itu!
Darimana Benjamin mendapatkan nomor ponselnya? Itu hal mudah untuk Tuan Muda sepertinya. Ah lupakan saja.
Gerald merasa, ada hubungan lain atau masa lalu dengan
Roxena. Wanita itu memang gila, tapi kata-kata yang keluar dari mulut Roxena begitu membekas dan menganggu dirinya. Tak ingin dipikirkan, namun terngiang begitu saja.
Memang terasa terbalik. But ….
Gerald memijat pelipisnya. Menanyakannya pada Roxena? Mana mungkin Wanita itu langsung terus terang?!
Elisa, bersabarlah. Aku tengah berjuang untuk kita.
Gerald memantapkan hatinya. Ia harus meluluhkan Roxena. Untuk memperjelas semuanya.
*
*
*
“Sudahi penyelidikanmu, Erin,” titah Roxena kala Erin selesai menyampaikan laporannya.
“Tapi, mengapa, Nona?”tanya Erin tidak paham. Padahal Erin sudah mengumpulkan banyak petunjuk dan bukti pula. Ia sudah menugaskan James, pria berkulit coklat yang muncul pada hari Roxena akan berangkat ke Luxembourg, untuk mencari tahu galeri yang menjual lukisan itu serta siapa yang membelinya.
Roxena menatap dingin Erin. Ia sudah kembali pada dirinya
yang biasa. “Aku punya banyak musuh. Tapi, hanya satu yang berani untuk membunuhku,” ucap Roxena. “Mengapa harus dicari tahu lagi?”
“Biarkan aku membalasnya sendiri.”
Erin menghela nafasnya. Ia mengangguk mengerti. But, menghentikan penyelidikan? Erin tidak akan melakukannya.
“Kapan aku bisa keluar dari sini? Dekorasinya membuat mataku sakit,” keluh Roxena. Erin berdecak pelan. Ini bahkan belum 2 malam dan Roxena ingin keluar?
__ADS_1
“Setidaknya Anda harus seminggu di rumah sakit, Nona.
Memastikan tidak ada komplikasi atau efek samping akibat operasi,” jelas Erin.
“Tubuhku sakit semua, dan sial, lihat wajahku!!”gerutu
Roxena. Ia melihat wajahnya dengan cermin, ada luka gores akibat benturan dan juga serpihan kaca.
“Aku tidak akan memaafkannya!!”geram Roxena.
“Nona harus pulih untuk itu. Namun, Nona, ada satu hal lagi yang belum saya sampaikan,” ujar Erin.
“Apa itu?”
“Ada kecurigaan bahwa orang kerajaan ikut campur dalam kecelakaan Anda.” Roxena langsung menatap tajam Erin.
“Benjamin yang bodoh,” gumam Roxena seraya menggelengkan kepalanya. “Baiklah. Kau lanjutkan penyelidikan. Dan tambah penjagaan.” Jika benar pihak kerajaan ikut campur, ini tak lagi sesederhana hubungan buruk adik dan kakak. Apalagi pihak ketiga yang berpengaruh. Roxena menghela nafas pelan.
“Bangunkan aku jika Gerald datang,” titah Roxena. Erin mengangguk. Wanita itu kemudian mengangkat teleponnya untuk memerintahkan penambahan penjaga.
*
*
*
“Tidak bisa!”tolak Gerald saat mendengar ucapan Roxena yang ingin keluar dari rumah sakit segera.
“Aku bisa melanjutkan perawatan di apartemenku,” ucap Roxena, kekeh ingin pulang. Gerald memicingkan matanya.
“Gua katamu?!” Apartemen di Kawasan mewah dan tipe terbaik dibilang gua? Pria ini buta atau memang tidak tahu harga?! “Itu style!”ucap Roxena.
“Serba hitam, menyeramkan, apalagi kalau bukan gua? Rumah Hantu? Style darimana, huh!”sahut Gerald santai, meletakkan kedua tangan dalam saku jas.
“K-Kau!!” Roxena menunjuk marah Gerald.
“Tahukah Anda, jika lingkungan juga mempengaruhi pemulihan? Suasana apartemen Anda sangat tidak mendukung, saya saja yang sehat merasa sesak tinggal di sana, apalagi Anda yang sakit,” tandas Gerald, senyum semakin lebar melihat wajah merah Roxena.
“Erin, usir dokter sialan ini keluar!!”desis Roxena, menunjuk wajah Gerald. Erin yang sedari tadi menyaksikan perdebatan itu, mengangguk paham dan mempersilahkan Gerald untuk keluar. “Usir aku bilang!!” Bisa-bisa Roxena pergi karena naik darah bukan karena kecelakaannya.
Aneh sekali, Nona emosi karena hal sepele, gumam Erin dalam hati.
“I-iya, Nona!” Maka jadilah Erin menarik tangan Gerald tiba-tiba dan membawanya keluar. Bukannya kesal, Gerald malah tertawa puas.
“Apa ada yang lucu?”tanya Erin, kesal.
“Nona kalian kekanakan,” kekeh Gerald sebelum melangkah
pergi, sembari melambaikan tangannya. Erin mendengus pelan.
Erin kembali masuk ke kamar rawat. Roxena menatap dirinya. Membuat Erin bergidik sendiri. “Apa yang salah dari apartemenku? Apa yang menyeramkan? Apa ada hantu di sana?”tanya Roxena beruntun, matanya menyipit menyelidik. Wanita itu masih terusik dengan ucapan Gerald.
Uhh! Itu pertanyaan yang sukar dijawab, tidak dijawab pun sama saja. “Jawab, Erin!!”
“Begini, Nona-“
__ADS_1
Erin bingung. Ucapan Gerald tadi, tentang apartemen Roxena yang menyeramkan tidaklah sepenuhnya salah, hanya saja ... dekorasi serta pemiliknya yang – menyeramkan. Jika Erin menjawab demikian, tentu Roxena akan naik darah. Jika Roxena dalam keadaan sehat, mungkin tak masalah ia menjawab tanpa pikir panjang.
“Erin?”
“Sepertinya mata suami Anda bermasalah, Nona,” jawab Erin sekenanya.
“Cih!! Matanya memang buta!”cetus Roxena menyetujui.
Erin memalingkan wajahnya.
Kali ini, maafkan saya, Tuan Gerald.
*
*
*
Sudah dua hari Gerald tidak pulang ke apartemen. Tubuhnya perlu dikondisikan. Ia mengamati dekorasi apartemen Roxena, sekali lagi memastikan bahwa penilaiannya benar.
Menyeramkan.
Enggan berlama-lama, Gerald segera masuk ke dalam kamarnya, yang lebih hidup.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Merindukan banyak
hal.
Elisa
Gerald tak mampu menahannya. Ia berniat mencari tahu bagaimana Elisa sekarang. Dari internet dan juga media sosial Elisa. Dari media sosial, tidak ada postingan terupdated dari Elisa. Dari internet, hanya ada berita kebingungan public mengenai alasan runtuhnya rumah tangganya dengan Elisa dan juga berita pernikahannya bahkan masih ada. Namanya, menjadi jelek di tanah kelahirannya. Gerald menghela nafas kasar.
Maafkan aku, Elisa. Kau pasti sangat menderita.
Di saat merindui Elisa, wajah merah padam Roxena melintas
tiba-tiba. Ada getaran aneh. Perasaan asing. Apa itu?!
Gerald menggeleng pelan, menepis prasangkanya. Mana mungkin ia menaruh perasaan secepat ini? Ia, bahkan sangat membenci Roxena.
Tapi … mengapa? Hatinya gelisah saat melihat Wanita gila itu terbaring tak berdaya?!
Apakah benar ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
“AHHH … FORGET IT!!”
Gerald mengacak rambutnya frustasi.
“Pikirkan cara membuatnya kesal denganku!”
Gerald memikirkan caranya.
“Apartemen? Dekorasi?”
“Dapat!”
__ADS_1
Gerald sudah mendapatkan jawabannya. Gerald, matanya mulai terasa sangat berat dan akhirnya tertidur.