Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 68 Penjaga Cinta Roxena


__ADS_3

"Xena dan Gerald sudah pulang dari luar negeri?"tanya Tuan Lawrence pada asistennya.


"Sudah, Tuan Besar. Apakah Anda ingin mengunjungi mereka?"tanya balik asisten Tuan Lawrence.


"Musim gugur akan segera berakhir. Aku ingin membicarakan tentang pertemuan keluarga pada Xena," ucap Tuan Lawrence.


"Apakah Anda mengkhawatirkan sesuatu, Tuan?" Asisten itu melihat guratan cemas pada wajah Tuan Lawrence.


"Putriku itu sangat keras. Jika dia sudah bertekad tidak ada yang bisa menghentikannya. Pernikahan Pewaris keluarga adalah hal yang sangat penting. Para Orang Tua itu pasti sudah mendengar kabar dan menyelidiki latar belakang Gerald. Pikiran mereka ortodoks, aku memperkirakan mereka tidak akan mengakui Gerald!" Tuan Lawrence mengeluarkan kegelisahan hatinya.


"Tapi, Nona Besar tidak mungkin menerima itu, kan?"


Tuan Lawrence menghela nafas. "Yang aku khawatirkan bukan orang tua itu. Tapi, Xena. Sekarang dia kepala keluarga. Aku takut … Xena mengubah tatakan keluarga Lawrence. Aku takut dia akan mengabaikan sejarah dan latar belakang keluarga Lawrence."


Dipikirkan berulang kali, Tuan Lawrence tetap tidak bisa menemukan cara untuk menenangkan hatinya. Tuan Lawrence hanya bisa berharap Roxena tidak kehilangan kendali andaikata para tertua yang tinggal di pegunungan tidak menerima Gerald sebagai menantu keluarga Lawrence.


"Mungkin Anda bisa mengutarakan kekhawatiran Anda pada Nona, Tuan. Saya yakin Nona pasti mengerti," hujan asisten Tuan Lawrence. Tuan Lawrence mendongak menatap sang asisten. Terlihat mau membantah tapi tidak jadi.


Tuan Lawrence menghela nafas pelan. "Aku akan mengunjungi mereka besok malam."


*


*


*


"Jika Lady Stella terbukti melakukan pemberontakan, kemungkinan besar Anda akan diberikan penghargaan seperti sebuah gelar bangsawan. Apakah Anda akan puas dengan hal itu?"tanya Tuan Luz pada Roxena saat mereka bertemu di jam makan siang. Sebenarnya mereka bertemu bukan hanya untuk makan siang namun juga untuk pertemuan yang dijadwalkan setelah makan siang.


Roxena menghentikan suapannya. Melirik sekilas pada Tuan Luz yang tersenyum menanti jawabannya.


Roxena meletakkan alat makannya lalu menatap intens Tuan Luz. Tuan Luz tampak terintimidasi, ia berdehem lalu menatap lurus ke depan.


"Tujuanku bukan gelar, penghargaan, atau apapun itu. Sejujurnya aku tidak mau berurusan dengan pihak kerajaan baik itu pada putri mereka, pewaris tahta maupun raja dan ratu. Aku menargetkannya agar dia tidak menyentuh Lawrence Group! Akan lebih baik jika Jonathan Esca terlibat di dalamnya!"tanggap Roxena dingin.


"Meskipun ESA Group besar, mereka akan berpikir dua kali jika ingin bergabung dalam kudeta," sahut Tuan Luz. Lalu kembali menatap Roxena. "Saya pikir Anda sudah bisa memprediksinya."


Roxena mendengus pelan. "Berhenti membicarakan ini, Tuan Luz!"


*


*


*


"Bagaimana kelanjutan menaklukkan Lawrence Group, Nathan?"


Malam ini, Lady Stella dan Jonathan makan malam bersama. Mereka bertemu di sebuah restoran bintang lima yang sudah menjadi langganan. Para pengawal putri dan Jonathan menunggu di luar. Ruangan ini kedap suara, tempat yang cukup leluasa membicarakan banyak hal.


"Wanita itu sangat tangguh dan cerdik, Stella. Dia menggunakan kekuasaannya membantu klien yang ingin pergi. Dari awal aku bergabung ke ESA Group, ini kali pertama aku merasa kewalahan dan takut," jelas Jonathan lesu.


ESA Group tengah goyah. Kepalanya terasa ingin pecah dihadapkan pada laporan dan tuntutan petinggi untuk mencegah klien terus menghilang. Padahal itu bukan kesalahannya mengapa dia yang dituntut?!


"Wanita ular itu sungguh ancaman. Kita harus segera menghancurkannya!"ucap Stella menggebu. Kebencian pada Roxena terus bertambah.


"Secara kekuatan akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjatuhkannya. Tapi, Anda beberapa trik kecil untuk mempercepatnya!" Jonathan tersenyum licik.


"Katakan!"

__ADS_1


Jonathan masih tersenyum hingga matanya menyipit. Kemudian menatap Stella. "Trik ini … hanya bisa dilakukan oleh Anda!"ucap Jonathan.


"Aku?" Jonathan meminta Stella untuk mendekat, membisikan rencana pada Stella.


"Ini …." Stella terhenyak dengan rencana Jonathan. Tak lama ia tertawa. Wajahnya yang cantik terlihat mengerikan saat menorehkan senyum di bibir. Sorot matanya sungguh tajam dan penuh ambisi.


Sebuah rencana telah tercipta!


Sejoli itu tertawa bersama. Menertawakan rencana dan juga bayangan keberhasilan yang sudah bisa mereka lihat. "Julukan jenius Esca Group memang pantas kau terima, Nathan!"


"Terima atas pujian Anda, Lady." Jonathan mengecup punggung tangan Stella.


"Jika berkenan … apakah saya bisa mendapatkan hadiah atas ide saya itu?"tanyanya dengan wajah serius. Matanya memancarkan hasrat yang tidak dapat dibendung lagi.


"Kau sungguh licik, Nathan!" Stella tidak keberatan. Ia membalasnya dengan nada manja.


Jonathan tersenyum puas.


Tahta dan wanita aku akan memilikinya! Wanita ini datang dan menawarkan kesepakatan padaku. Dengan jaminan status serta tubuh, sebagai pengusaha wajar jika aku bertaruh. Sayang sekali, dia menganggap aku tidak tahu maksudnya yang sebenarnya. Stella kau memang rubah. Tapi, mengapa kau sangat polos?


*


*


*


"Hasil seleksi telah keluar, Nona. Mereka semua lulus," ujar Erin memberikan laporan saat dalam perjalanan pulang.


"Kapan Anda akan melantik mereka?"


"Anda lebih santai daripada sebelumnya. Apakah Anda sudah menyiapkan tugas untuk mereka?"


Roxena tersenyum. Berkat Luxury, ia memiliki perusahaan tambang dengan cadangan besar. Berkat Ferrum, ia bisa memperluas dan menjalankan inovasi persenjataan. Dan berkat organisasi tanpa nama itu, ia menambah jumlah orang berbakat di dalam Light and Shadow.


Seratus orang itu lulus juga ada sedikit campur tangan darinya.


"Bagaimana hasil penyelidikan Capital Group?"tanya Roxena mengubah topik pembicaraan.


"Maafkan kami, Nona. Kami kesulitan mengorek informasi dan menemukan cela di Capital Group. Kami butuh waktu lebih lama, Nona."


Roxena mendengus pelan. Erin sudah berkeringat dingin. Kemarin mereka gagal menemukan Regis. Tapi, takdir menuntun mereka untuk bertemu.


"Tidak perlu terburu-buru. Lawan kalian adalah Regis. Pria tercerdas yang pernah aku kenal."


Erin sedikit lega. Hanya saja, bukan berarti ia tenang. Di balik kata-kata itu adalah sebuah penegasan. Bahwasanya mereka harus lebih bekerja keras lagi.


"Nona …." Erin memberanikan diri.


"Hm."


"Apakah Anda mencintai Tuan Regis?"tanya Erin hati-hati. Sejujurnya sejak kembali dari Luxembourg, Erin bertanya-tanya. Mengapa Roxena tidak melakukan sesuatu pada Regis? Jika mencintai, setidaknya mereka bicara masa lalu, bukan? Lalu mengakhiri hubungan dengan Gerald. Tapi, mengapa Gerald semakin lengket pada Roxena? Dan samar juga sebaliknya.


"Meskipun aku sudah melalui puluhan kehidupan, dan hampir menghabiskan kewarasanku … di sini … cinta untuknya tidak pernah berubah." Roxena berkata sembari menyentuh dadanya. Matanya terpejam rapat, seolah tengah merasakan hatinya yang berdegup untuk Regis.


"Lalu bagaimana dengan Tuan? Apakah Anda tidak memiliki perasaan padanya?" Erin kembali melontarkan pertanyaan yang sama seperti beberapa waktu lalu.


"Mungkin." Menjawab dengan ketidakpastian.

__ADS_1


"Lupakan saja. Tidak mengenakkan membawa dua perasaan saat pulang ke salah satu rumah," putus Roxena.


Erin tersenyum lebar mendengarnya.


Bukan mungkin. Melainkan pasti.


*


*


*


"Ayah?" Tuan Lawrence yang sedang mengobrol dengan Gerald menoleh.


"Kau sudah pulang? Ayo-ayo sini duduk," ujar Tuan Lawrence menepuk sisi sofa di sampingnya.


"Untuk apa Anda datang?"tanya Roxena to the point.


"Jangan begitu, Xena. Ayah datang karena merindukanmu. Lagipula apa perlu alasan untuk Ayah dan anak bertemu? Bahkan jika Ayah tinggal bersama kita adalah hal yang wajar," tegur Gerald tak senang. Roxena menatap garang Gerald. Sayang, Gerald mengabaikannya.


"Benar-benar. Kau adalah putriku. Tidak perlu alasan untuk bertemu denganmu. Lagipula mengapa kau baru kembali?" Tuan Lawrence menjadi galak seketika. Roxena yang masih berdiri membelalakkan matanya.


"Aku tahu kau itu tidak kenal dengan pekerjaan rumah. Tapi, bagaimana mungkin suamimu yang memasak makan malam dan kau pulang larut begini? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Xena, pikirkan kembali, biar bagaimanapun kau seorang istri. Lalu … bagaimana cara kalian bisa segera punya anak jika kalian jarang bertemu seperti ini?"cerca Tuan Lawrence, dengan menunjuk-nunjuk Roxena dan membela Gerald. Roxena mencebikkan bibirnya kesal. Dan entah mengapa, ia tidak bisa melawan kata-kata itu.


"Ayah, jangan marah-marah. Xena bekerja keras demi menjaga kekuatan Keluarga. Aku yang hanya dokter dan lemah ini hanya bisa menunggunya sembari memasak makan malam dengan penuh cinta. Aku tidak menuntut Xena melakukan tugas seorang istri. Aku hanya ingin dia baik-baik saja," ujar Gerald sambil menatap Gerald dengan perasaannya.


Roxena membelalakkan matanya mendengar dan melihat itu. Cara Gerald mendapatkan hati ayahnya, dan berpura-pura seperti ini … bagus! Roxena menarik senyum. Tidak disangka Gerald bisa bermain licik juga.


Akan aku tanggapi.


"Astaga, Ayah! Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku? Aku ingin pulang cepat, apa Ayah tahu jika selama aku bekerja aku sangat merindukan suamiku? Bagaimana bisa Ayah berkata kejam bahwa aku sengaja melakukan?" Ekspresi Roxena berubah drastis. Bahkan melangkah menghampiri Tuan Lawrence lalu memeluk lengan sang Ayah.


Gerald terbatuk tak percaya. Tuan Lawrence kebingungan. "Lalu apa Ayah ingin menantu yang Ayah sayangi ini keracunan akibat memakan masakanku? Kemampuan memasakku ini menurun dari Ibu, Ayah!"rengek Roxena, mendongak menatap Tuan Lawrence yang kehabisan kata.


Tuan Lawrence ingat sekali bahwa masakan istrinya sangat tidak enak. Entah bagaimana cara memasaknya, meskipun sudah belajar dari chef ahli tetap tidak ada yang berubah.


"Benarkan, Ayah?" Roxena mengerlingkan matanya.


"Ya, benar-benar! Kemampuan masak Gerald sangat baik. Ada Lily dan Sophia juga, kau tidak perlu turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah."


"Hehehe." Roxena tersenyum.


Lalu … mengenai anak … Roxena muram mengingatnya.


"Ayah, aku dan Xena berusaha sebaik mungkin untuk segera memiliki anak. Anda tidak perlu cemas. Sebenarnya, Xena yang lebih mengharapkan hal itu," ujar Gerald membela istrinya. Ia sudah berpindah tempat, menarik Roxena agar bersandar pada dirinya.


"Jika begitu aku lega mendengarnya."


"Kalau begitu, ayo kita makan," ajak Gerald. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00.


Ketiganya menuju meja makan. Aroma yang mulai familiar di Roxena. Aroma masakan Gerald. Anak dan ayah itu makan dengan lahap. Lega dan senang rasanya bisa memberikan kebahagiaan kecil lewat hidangan. Gerald sudah membuat keputusan, ia harus lebih sering memasak untuk Roxena.


"Xena, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu Ayah bicarakan padamu." Tuan Lawrence berkata sambil melirik Gerald, meminta Gerald meninggalkan mereka berdua.


"Ah aku ada yang harus dikerjakan. Xena, bicaralah baik-baik dengan Ayah!"


Gerald bergegas pergi. "Ada apa, Ayah?"

__ADS_1


__ADS_2