
Gerald tertidur setelah berkelut dengan rasa mual dan muntah yang mendera dirinya. Tertidur setelah mengonsumsi teh jahe.
Roxena menyeka dahi Gerald. Suaminya itu tampak tak berdaya akibat perbuatan dari bayi dalam kandungannya.
"Aku tidak akan melarangmu. Silakan kau hukum dia sampai kau puas, okay." Senyum licik tercipta di bibir Roxena. Meskipun khawatir, Roxena senang melihatnya. Anggap saja salah satu balasan akibat perbuatan di masa lalu.
Roxena merenung sesaat. Masih berupa janin kecil saja sudah nakal, bagaimana jika sudah lahir nanti? Seakan bernostalgia, Roxena teringat masa-masa kecil di beberapa kehidupan. Waktu itu Roxena sangat nakal dan juga energik. Mungkin, akan menurun pada anaknya.
Ia juga ingat masa kecil Gerald. Mereka sama, masa kecil yang penuh dengan kenakalan dan tawa. Hingga orang tua dan juga orang di sekitar mereka angkat tangan tak berdaya.
"Jika setelah lahir kau akan seperti itu, lakukanlah. Anggap saja sebagai permohonan maafku. Masa kecil tak boleh dibatasi."
*
*
*
Seharusnya Gerald sudah bisa masuk kerja. Hanya saja, diurungkan karena kondisi tubuh yang tidak bertenaga. Saat bangun, Gerald merasa sangat lemas dan juga ada rasa malas di dalamnya. Ia berbaring seharian di ranjang. Tak juga selera makan. Hanya mengonsumsi sebuah apel dan teh jahe untuk menekan rasa mual yang sudah reda.
Hari sudah siang, Gerald menyeret langkahnya keluar kamar. Mendengar suara pintu terbuka, Lily dan Sophia yang berada di ruang tengah menoleh. Langsung menghampiri Gerald.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?"tanya Lily. Cemas melihat wajah lemas Gerald.
"Aku lapar," jawab Gerald.
"Anda ingin makan apa? Kami memasak tumisan, steak tuna, dan juga sup brokoli," berondong Lily kemudian. Terpancar kelegaan karena selera makan Gerald kembali. Ini kabar baik.
Gerald menggeleng mendengarnya.
"Tidak mau? Atau Anda ingin masakan kampung halaman? Katakan saja Anda ingin makan apa, kami akan membuatnya. Atau Anda ingin membeli makanan di luar? Katakan saja kami akan pergi membelinya. Pizza, steak, burger, spaghetti, katakan saja, Tuan!"
Gerald dan Sophia mengerjap mendengar keantusiasan Lily. Sayangnya, Gerald kembali menggeleng.
"Anda tidak ingin makan? Bagaimana dengan cemilan?"tawar Lily lagi.
"Aku tidak masalah dengan menunya, hanya saja aku ragu dengan kokinya," jawab Gerald.
"Bukan-bukan, aku bukan tidak menyukai masakan kalian. Hanya saja kali ini khusus," jelas Gerald, sedikit meringis melihat tatapan tajam Sophia.
"Oo kokinya. Katakan saja Anda mau koki yang mana? Koki kediaman utama Lawrence sangat hebat. Tapi, lebih hebat lagi koki Lawrence Group dan LS."
"Anda ingin dimasakkan oleh siapa, Tuan?"tanya Sophia.
"Bagaimana dengan Xena?"tanya Gerald meminta pendapat kedua bawahan Roxena itu. Sophia dan Lily sama-sama melebarkan mata.
Keduanya lantas berbalik dan saling berbisik. "Aku tidak salah dengar, kan?"tanya Lily yang diangguki oleh Sophia.
"Seingatku Tuan sudah tahu kalau Nona itu Koki yang buruk. Apa otak Tuan bermasalah?"
"Kemungkinan tidak. Mual Tuan juga aneh. Nona juga tidak terlalu ambil pusing. Jangan-jangan ada hubungan dengan kehamilan Nona?" Sophia berbisik lirih saat mengatakan kehamilan.
"Ngidam?"terka Lily seketika, ia mendekap mulutnya hampir berteriak.
"Sepertinya."
"Jika begitu, hanya Nona bisa menyelesaikannya," ujar Lily yang kembali diangguki oleh Sophia. Keduanya kembali menghadap Gerald.
"Sebenarnya bisa saja. Hanya saja apa Anda siap dengan hasilnya?"tanya Sophia memastikan.
Gerald mengangguk tanpa ragu. Meskipun sudah mendengar bahwa Roxena adalah koki yang buruk, ia tetap ingin makan masakan Roxena. Apapun rasakan. Sebenarnya ia juga tidak paham mengapa tiba-tiba ingin. Dua hari ini, Gerald merasakan keanehan pada tubuhnya tapi tak tahu penyebabnya.
"Kalau begitu, silahkan hubungi Nona, Tuan," saran Sophia. Biar bagaimanapun itu urusan di antara dua orang itu.
Gerald mengangguk. Dan kembali ke kamarnya. Ia keluar hanya untuk meminta pertimbangan keduanya.
*
*
*
Di lain sisi, Roxena tengah memimpin rapat. Ia sedang mendengarkan presentasi direktur keuangan Lawrence Group. Beberapa saat kemudian, ponsel Roxena menyala. Tertera nama Gerald di layar.
__ADS_1
Roxena mengangkat tangannya menyuruh direktur keuangan berhenti persentase. Lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Xena."
"Ada apa, Suamiku? Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Sudah lebih baik. Emm … aku ingin meminta sesuatu, apa boleh?"tanya Gerald ragu-ragu di sana.
"Katakan, akan aku belikan nanti," jawab Roxena.
"Tidak-tidak, ini tidak bisa dibeli. Hanya kau yang bisa membuatnya."
"What?" Roxena mengernyit.
"Memasaklah untukku." Seketika Roxena membulatkan matanya.
"Apa yang kau katakan, Gerald?"
"Memasaklah untukku, Xena!"
Kali ini Roxena mengerjapkan matanya. Ia tidak salah dengar. Roxena tiba-tiba menatap Erin. Erin terkesiap. Roxena memintanya untuk mendekat. Roxena berbisik padanya.
"Kapan terakhir kali aku memasak?"
Erin mengingat-ingat. "Itu sekitar dua tahun yang lalu, Nona. Dan dapur terbakar karenanya," jawab Lily berbisik. Roxena berdecak. Selain koki yang buruk, ia juga bermusuhan dengan yang namanya dapur.
"Kau bersedia?" Gerald bertanya dengan harapan di ujung sana.
"Okay. Hanya saja … jika tidak kau habiskan, kau harus menghabiskannya!"
"Okay." Gerald tidak menolaknya.
Peserta rapat lainnya saling pandang, bukankah itu pemaksaan? Tapi, siapa yang berani mengutarakan itu?
"Aku mencintaimu, Xena."
Panggilan berakhir. Roxena lebih dulu mengedarkan pandangnya. Semua peserta rapat menundukkan kepala.
"Lanjutkan!"titahnya dengan nada tegas.
*
*
*
"Sudah siap?"tanya Sophia. Lily mengangguk. Keduanya baru saja selesai mempersiapkan alat dan bahan untuk nanti Roxena memasak. Tak lupa panduan cara memasak juga disertakan.
Sekitar pukul 17.00, Roxena tiba di basement. Erin tampak cemberut. Tentu saja karena Roxena memutuskan pulang lebih awal, meninggalkan tumpukan berkas yang belum usai.
"Keinginan bayiku lebih penting." Tapi, apa mau dikatakan. Janin dalam perut Roxena adalah pemilik tahta tertinggi saat ini.
"Semoga dapur dan Tuan selamat, Nona," ucap Erin sebelum meninggalkan basement. Tak peduli dengan Roxena yang mendelik kesal. Ia menghentakkan kakinya kesal sembari melangkah menuju lift.
"Xena!" Disambut sumringah oleh Gerald. Roxena melepas jasnya.
"Kau kelaparan?"
"Tuan hanya makan beberapa buah sejak tadi pagi, Nona," ujar Sophia.
"Tunggulah di sini," ucap Roxena seraya menggulung lengan bajunya.
"Semoga semua baik-baik saja," harap Lily.
Gerald menggumam, "apakah seburuk itu?"
*
*
*
__ADS_1
Gerald mengerjap melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Roxena dengan wajah dinginnya duduk di depan Gerald seraya menghembuskan nafas kasar seolah baru saja melakukan hal berat. Sementara Lily dan Sophia sibuk membersihkan dapur.
"What this?"tanya Gerald melihat makanan yang rasanya familiar tapi sangat aneh bahkan mengerikan. Hanya tumisan yang penampilannya masih bisa ditoleransi.
"Tumis brokoli, wortel dan buncis. Lalu kalap merah goreng dengan saus asam pedas, telur mata sapi dan sup ayam," jawab Roxena lancar.
Kakap merah berukuran cukup besar tidak berbentuk lagi setelah digoreng. Daging dan duri tercampur serta matang tidak merata. Ada yang gosong dengan setengah matang.
Lalu telur mata sapi yang juga gosong. Lalu supnya, jika orang normal akan kehilangan selera makannya.
"Kau sudah lapar satu harian. Ayo makan! Biar aku sajikan!"ucap Roxena, mengambil nasi beserta lauk pauk untuk Roxena.
Satu piring penuh. Gerald yang masuk dalam fase tidak normal, merasa bahwa hidangan di depannya itu sangat menggoda. Ia mulai menyantapnya.
"Enak?"
"Sesuai dengan yang aku inginkan." Gerald lahap memakannya. Tidak ada wajah terpaksa. Roxena jelas keheranan. Ia saja tidak yakin dengan masakannya.
Penasaran, Roxena mencicipi masakannya sendiri. Baru saja berusaha menelan, Roxena merasa mual seketika. Sesuai ekspektasi, rasanya tidak manusiawi. Tapi, bagaimana Gerald selahap itu?
"Kau … bagaimana bisa kau memakannya?"
"Karena aku menginginkannya. Lagipula ini enak," jawab Gerald.
"Kau bisa sakit," ucap Roxena, mengingat ada yang mentah dan matang.
"Tidak juga." Gerald menyendok sayur tumis itu. "Wortel ini tidak masalah matang atau tidak. Brokoli dan buncis setengah matang lebih cocok. Nutrisi di dalamnya tidak banyak terbuang."
"Lalu ikan ini, meskipun rasanya sedikit aneh masih dapat ditoleransi. Lagipula di Jepang, makanan laut biasa dimakan mentah. Mungkin ayam ini yang perlu dimasak lebih lama. Tapi, kuahnya enak. Dan telurnya, masih bisa ditoleransi," ucap Gerald memberi penilaian.
Mata Roxena berkedut mendengar penilaian itu. Jika ada orang lain mendengarnya, Gerald akan dinilai mabuk cinta.
"Terserahmu saja." Roxena memijat dahinya. Rasanya Gerald yang sudah seperti ini jauh lebih sulit.
Gerald bersendawa pelan. Makanan di atas meja berpindah ke dalam perut Gerald. Lily dan Sophia sangat melongo melihatnya. Keduanya lantas mengacungkan jempol pada Gerald.
Suami Roxena itu memecahkan rekor pertama yang mampu menghabiskan masakan Roxena.
"Apa besok kau mau aku memasak lagi?"tanya Roxena.
"Cukup sekali saja," jawab Gerald.
"Kau jera? Kau akhirnya mengakui bahwa masakanku tidak enak?!"tunjuk Roxena emosi.
"Bukan! Masakanmu enak. Hanya saja …."
"Hanya saja?!" Wajah Roxena dingin. Sorot matanya tajam pada Gerald.
"Aku tidak mau merepotkanmu lagi karena keinginanku yang tiba-tiba ini," ungkap Gerald. Ia tahu Roxena meluangkan waktu untuk ini. Ia senang. Hanya saja, pasti mengganggu pekerjaan Roxena.
"Untukmu … memasak tiap hari pun tidak masalah," gumam Roxena pada dirinya sendiri.
Gerald tersenyum. Ia mendekat dan berlutut di dekat Roxena.
"Terima kasih untuk masakannya. Aku merasa menjadi suami yang sempurna karena sudah menikmati masakanmu," ujar Gerald lembut. Pancaran matanya tidak menunjukkan kebohongan.
"Kau gila!"desis Roxena.
Gerald tertawa renyah. "Di dunia ini hanya satu hal yang bisa membuatku gila. Kau, Xena."
"Hentikan omong kosongmu. Aku lelah." Roxena beranjak dari duduknya. Gerald menatapnya dengan senyuman.
"Sama persis dalam mimpiku. Sekali saja sudah cukup, ke depannya aku yang akan memasak untukmu, Xena," gumam Gerald.
Di dalam kamar, Roxena menggertakkan giginya kesal.
"Mulut pria itu semakin manis saja!"gerutu Roxena.
Namun, tak memungkiri bahwa ia senang. Sama seperti Gerald, rasanya menjadi istri yang sempurna setelah memasak untuk Gerald. Ya, meskipun hasilnya di luar ekspektasi.
Roxena tersenyum saat tangannya mengusap perut.
"Setelah ini, kehebohan apa lagi yang akan kau buat?"tanya Roxena.
__ADS_1