
"Maafkan saya, Prof. Gerald. Saya tidak bisa mengubah jadwal Anda tanpa persetujuan dari Presdir," ucap kepala departemen menunduk. Gerald yang kesal dengan percakapan yang ia dengar tadi, langsung menemui kepala departemen untuk mengembalikan jadwalnya seperti semula. Sayangnya itu ditolak mentah-mentah. Kepala departemen itu lebih takut pada Roxena daripada Gerald yang tak lain adalah suami dari Presdir mereka sendiri.
"Mengapa tidak bisa?! Kau kan kepala departemen!!"gerutu Gerald. Gerald tahu gerutunya tidak akan berguna.
"S-saya hanya orang kecil, Tuan. Tolong jangan sulitkan saya, Tuan." Kepala departemen membungkuk takut. Ia bahkan tergagap dan memanggil Gerald Tuan.
"Tidak berguna!" Gerald pergi dengan menghentakkan kakinya. Kepala Departemen mengusap dahinya yang berkeringat. Ia harus menutup mulutnya rapat agar posisi tetap aman.
*
*
*
Betapa liciknya wanita itu!
Di ruangannya di Gerald masih sangat kesal. Roxena membuat lingkungan kerjanya menjadi tidak nyaman. Dulu tak seterang ini, kini di setiap sudut sudah membicarakan dirinya. Banyak tatapan merendahkan yang dilayangkan pada dirinya. Meskipun ia punya kemampuan, karena cara masuknya dan juga campur tangan Roxena, ia kehilangan muka di sini.
Sungguh menyebalkan!
Lemah!
Dirinya tak punya kekuatan untuk menahan kekuasaan Roxena. Sungguh, mengapa nasibnya begitu sial. Menikah dengan wanita yang berpengaruh bukannya bahagia malah menderita.
Kapan?
Kapan penderitaan ini akan berakhir?!
Wanita keras kepala itu, bagaimana cara menyakinkannya?
Satu-satunya cara adalah bernegosiasi lagi dengan Roxena.
Tapi, Gerald tak yakin dengan cara itu.
Hah … lebih baik aku menyelesaikan jadwalku.
*
*
*
Sudah beberapa hari Roxena tidak kembali ke apartemen. Roxena menginap di ruangannya. Gerald yang sama sekali tidak mengikuti berita mengenai Lawrence Group, mengira bahwa Roxena sengaja menghindari dirinya.
Gerald sama sekali tidak memiliki kesempatan bicara pada Roxena. Wanita itu sangat sibuk mengurus akuisisi dan merge ekstrim yang ia lakukan. Dalam beberapa hari setelah perubahan rencana, semua perusahaan yang telah ditargetkan Roxena berhasil dikuasai.
Roxena tengah mengatur perusahaan tersebut agar mudah diatur. Mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk mengurus perusahaan yang telah diambil alih.
Gelombang tentang merger dan akuisisi ekstrim yang ia lakukan masih menjadi pembicaraan di kalangan pebisnis dan pengamat. Namun, sepertinya pihak pemerintah tidak mengincar kesalahan Lawrence Group lagi.
Tapi, bukan berarti mereka bisa bernafas lega dan bersantai. Justru ke depannya akan lebih banyak pasang mata dan rintangan. Membawa perubahan dan membuat gebrakan bukan semudah membalikkan telapak tangan.
Untung aku punya LS dan kekuatannya.
"Selamat, Nona. Rencana awal Anda telah terlaksana. Anda bisa menjalankan rencana berikutnya."
Erin tersenyum lebar. "Sudah kau kumpulkan semua itu?"tanya Roxena dengan senyum smirknya.
"Sudah, Nona. Semua data telah saya dapatkan. Kapan kita melancarkan rencana selanjutnya, Nona?"tanya Erin, tampaknya ia juga tidak sabar.
"Selesai gala dinner. Keluarkan satu persatu. Dana taktis kita cukup untuk itu semua," sahut Roxena. Erin mengangguk paham.
"Oh ya mengenai gala dinner, dapatkan siapa saja tamu undangannya. ESA Group mengundang banyak orang berpengaruh, kemungkinan besar pria bertopeng rubah itu juga ada di antara mereka." Roxena teringat tentang itu. Roxena masih penasaran dan jika ada, ia ingin melakukan sesuatu lagi.
"Jika ada, apa yang akan Anda lakukan, Nona?"tanya Erin. Roxena tertarik dengan identitas pria bertopeng rubah itu, apa mungkin ….
"Anda tertarik padanya, Nona? Anda akan berselingkuh?!" Erin berseru heboh.
__ADS_1
Tuk!
Dihadiahi lemparan pena yang tepat pada dahinya. Meringis. Itu sakit.
"Kau merendahkanku, Erin?" Aura intimidasinya menyebar.
"B-bukan begitu, Nona. S-saya berpikir terlalu jauh. Maafkan saya, Nona."
"Aku ingin merampoknya!!"
"Hah?" Erin terperangah.
Merampok pria bertopeng rubah itu, lagi?
"Dia domba gemuk. Mana mungkin aku melewatkan jika dia ada di dekatku?"kekeh Roxena.
"Tapi, Erin. Berselingkuh itu … aku ingin mencobanya." Roxena mengatakannya dengan serius. Sementara Erin melebarkan matanya tidak percaya.
*
*
*
"Sudah memikirkan gaun yang akan Anda gunakan, Nona?"tanya Erin dalam perjalanan pulang menuju apartemen Roxena. Gala dinner akan dilangsungkan malam ini. Tak terasa, pekan akan segera berganti dan sebentar lagi sudah akan di penghujung musim.
"Bagaimana dengan gaun "Samudra dan Angkasa Menari", Nona?"saran Erin. Itu gaun yang indah. Pasti akan penggunanya akan menjadi pusat perhatian.
"Kau ini! Apa yang kau pikirkan, Erin?" Suara dingin Roxena menjawab.
"Hehehe, hanya saran, Nona." Menunjukkan dua jarinya membentuk peace.
Menggunakan gaun hasil rampasan di acara gala dinner adalah mencari petaka. Roxena yakin sebagian dari tamu undangan gala dinner itu menghadiri acara pelelangan beberapa waktu lalu. Bagi yang tidak tahu bahwa gaun itu dirampas pasti akan mengira tuan muda berteman segala itu mempunyai hubungan khusus dengan Roxena. Jika pemilik asli gaun itu benar-benar hadir di sana, itu akan menjadi masalah besar.
"Leona sudah mengirim gaun dan setelan untuk Gerald," ucap Roxena memberitahu. Erin mengangguk mengerti.
Kini, mereka sudah tiba di basement apartemen Roxena. Erin menenteng paper bag yang berisikan pakaian ganti untuk digunakan di acara gala dinner nanti. Mengikuti langkah Roxena, naik menggunakan lift menuju apartemen Roxena.
"Aku ingin bicara padamu!" Gerald yang selalu menanti kepulangan Roxena, langsung menarik wanita itu menuju kamarnya. Erin terpelongo melihatnya. Apa ia tidak salah lihat? Gerald berinisiatif lebih dulu?
"Apa?" Roxena tak memberontak. Membiarkan tangannya tetap dicekal Gerald sementara kedua matanya beradu pandang dengan Gerald.
"Kau benar-benar licik dan mengerikan!" Cemooh itu terasa pujian bagi Roxena.
"Aku kan tidak pulang beberapa hari, apa salahku?" Ditanggapi tenang oleh Roxena. Binar-binar kesal Gerald semakin membesar.
"Kau menghilang setelah membuatku dicemooh, kau benar-benar kejam, Roxena! Kau membuatku mati karena marah!!"teriak Gerald emosi. Cekalan pada tangan Roxena mengerat. Tak ada perubahan ekspresi pada Roxena. Ia malah menarik senyum.
"Kau ini bodoh, ya?"
"Kau!!"
"CK!" Gerald mundur beberapa langkah, cekalan pada Roxena lepas. "Aku kan ingin membuatmu menderita. Kebaikanku tidak kau manfaatkan dengan baik. Rasakan saja penderitaannya!!"
Dalam satu kalimat, Gerald kehilangan kata-kata. Ia memutar otaknya.
"Reputasimu akan rusak karena gosip rumah tangga kita!" Menyerang lewat ini.
Akan tetapi, Roxena malah tertawa. "Aku ingat, aku punya julukan yang bagus, wanita gila, karena ambisiusku yang tinggi. Reputasiku di luar sana juga tidak murni bagus. Mungkin 50 banding 50. Gerald, aku tidak terlalu acuh dengan reputasi. Kekuasaan dan kekuatanku cukup untuk membungkamnya."
"Lagipula kau ini sangat lemah. Baru gosip itu saja sudah marah seperti ayam kehilangan induk. Ckckc!"cibir Roxena. Lihatlah wajah merah padam itu. Semakin menggelitik hati Roxena untuk mengolok nya.
"Begitu kau ingin lari dariku? Anganmu terlalu jauh, Gerald."
"Garam yang ku makan sudah menggunung. Sedang kau yang baru seember kecil sudah begini. Ckckck sudah lemah fisik, lemah mental pula. Bagaimana bisa kau seperti ini padahal memiliki gelar Prof. Otak profesor mu, mati ya?"
"DIAM!! JAGA MULUTMU, ROXENA!!"hardik Gerald. Ia hendak melayangkan tamparan namun dicekal oleh Roxena.
__ADS_1
"Mau main kekerasan, mau mencobanya, hah?!" Roxena mengeluarkan intimidasinya.
Bagaimana bisa dia begitu kuat?!
"Huh!!" Roxena melepaskan cekalan itu.
"Sophia!" Sedikit berteriak.
"Ya, Nona!" Secepat kilat langsung muncul.
"Bawakan kiriman Leona!"
Tak berani lama, Sophia langsung kembali membawa sebuah kotak dan meletakkan di atas meja sofa dan langsung keluar. "Sudahlah akhiri saja pertengkaran kecil ini. Kau segera lah bersiap, temani aku menghadiri gala dinner," ucap Roxena.
"Tidak mau!"tolak Gerald langsung. Matanya menantang Roxena.
"Hm." Mata yang dingin itu semakin dingin.
"Nyawanya masih ada di tanganku." Nada sedingin es itu mengancam.
Tangan Gerald mengepal. Lagi-lagi menggunakan Elisa untuk mengancamnya.
Gerald tidak menjawab. Ia segera mengambil kotak itu dan menuju kamar mandi.
Roxena tersenyum miring. Cuma cara itu yang ampuh. Roxena meninggalkan kamar Gerald.
"Anda bertengkar dengan Tuan Gerald, Nona?"tanya Erin setelah Roxena keluar.
"Hm."
"Anda baik-baik saja, kan?"tanya Erin cemas.
Roxena tersenyum, mengacak rambut Erin. "Jangan khawatir. Dia tidak akan bisa melukaiku."
*
*
*
Ingin rasanya Gerald melepas pakaian yang ia gunakan sekarang. Setelan yang ia gunakan saat ini adalah setelan senada dengan gaun yang Roxena gunakan. Gaun dan setelan berwarna putih gading digunakan oleh keduanya. Kesannya bukan seperti hendak menghadiri gala dinner namun lebih kepada melaksanakan resepsi pernikahan.
Erin yang mengemudi sesekali melirik ke belakang. Keduanya sibuk memandang keluar. Menatap bangunan perkotaan yang begitu hidup di malam hari.
"Di sana akan banyak yang mengincarmu. Kau jangan jauh-jauh dariku!"ucap Roxena memperingati.
"Lalu untuk apa membawaku?"ketus Gerald.
"Bukanlah kau mempedulikan reputasiku?" Menjawab dengan kata-kata Gerald sendiri.
Wanita itu tidak bercela.
Gerald oh Gerald. Mengapa kau lamban sekali? Roxena beberapa kali menunjukkan kelemahannya? Memangnya ada orang yang sempurna?
Sekitar 30 menit kemudian mereka tiba tempat acara. Acara gala dinner itu dilakukan di mansion yang baru selesai dibangun oleh keluarga ESA Group.
Itu adalah sebuah mansion mewah yang sangat luas. Area terbukanya mampu menampung banyak undangan dapat dilihat dari banyaknya tamu yang hadir saat ini.
Mansion bergaya modern itu didominasi oleh warna putih marmer dan sekelilingnya diberi penerangan lampu-lampu bulat yang mengeluarkan cahaya putih pula. Ada tiga lantai, air mancur di depan pintu masuk.
Mansion ini lebih mewah daripada kediaman utama keluarga Lawrence. Roxena berdetak, keluarga ESA Group ini memang ingin pamer kekayaan.
Mengusung tema outdoor, gala dinner ini benar-benar mewah. Piramida minuman menggunung. Wine-wine kelas atasa. Hidangan mewah dan ada hiburan dari penyanyi ternama. Pelayan hilir mudik melayani tamu undangan. Bangku-bangku yang disediakan tampak penuh. Roxena melihat Tuan rumah yang tengah berbincang dengan tamu undangan yang Roxena kenali sebagai Presdir dari beberapa perusahaan besar.
Erin berada di belakang Roxena dan Gerald. Mengamati Gerald yang tampak tidak nyaman lengannya digandeng oleh Roxena.
Roxena belum melangkah jauh. Ia masih mengamati. Meskipun tamu undangan menyadari kehadirannya, Roxena menyebarkan aura dingin sehingga mereka ragu untuk mendekat. Tidak ada berani mendekat apalagi memulai pembicaraan.
__ADS_1
Tuan Rumah menoleh ke arahnya, setelah menerima bisikan dari pelayan. Langsung mendekat dengan tawa senang. "Hahaha saya sangat senang Anda menghadiri undangan saya, Presdir Roxena Lawrence."