
Angin bermain dengan dedaunan menimbulkan suara berisik yang khas. Di dekat mata air jernih, Roxena dan Gerald mengistirahatkan tubuh mereka. Selesai melepas dahaga, mereka duduk menikmati nyanyian alam.
Roxena bersandar pada Gerald. Dengan suasana mendukung, perlahan keduanya bertatapan dan berakhir dengan ciuman.
"Besok kau hanya perlu memperkenalkan diri. Selebihnya biar aku yang urus," ucap Roxena, kembali memberikan briefing untuk Gerald.
"Tidakkah peranku terlalu kecil, Xena? Seharusnya aku yang menyakinkan keluargamu, bukan dirimu seorang. Ini tidak adil untukku, Xena!"
"Ini bukan tentang siapa yang berperan lebih banyak, Gerald. Biarkan aku yang mengurus. Aku yang memilihmu maka aku yang harus bertanggung jawab atas pilihanku. Tidak perlu kau risaukan penolakan karena hasil akhirnya adalah persetujuan," jawab Roxena, meyakinkan Gerald untuk tidak berkecil hati.
"Xena, Sayang …."
"Aku tidak menerima penolakan!"
Ya, rumah tangga ini memang didominasi oleh Roxena.
"Baiklah."
Serahkan semua pada Roxena. Gerald cukup melakukan peran yang telah ditetapkan.
"Omong-omong Xena, suasana di sini bukankah cocok untuk bermesraan?" Lupakan sejenak pertemuan esok. Masih manfaatkan waktu 'liburan' yang singkat ini.
"Di sini?" Roxena terkesiap.
"Kamar," ralat Gerald menyadari arah pemahaman Roxena.
Roxena terkekeh. Meskipun menarik melakukannya di alam terbuka namun ini bukan tempat yang cocok untuk ibu hamil seperti dirinya. Roxena berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Gerald, "come on."
*
*
*
Keesokan paginya, acara resmi pertemuan keluarga dimulai. Di aula pertemuan, semua anggota keluarga Lawrence hadir. Mulai dari keluarga inti, cabang, dan para tetua. Roxena duduk di kursi kepala keluarga. Di sisi kanan dan kirinya diikuti oleh Tuan Lawrence dan para tetua.
Pembahasan dalam rapat itu tak jauh dari perkembangan keluarga Lawrence selama satu tahun belakangan dan juga dibahas tentang rencana ke depannya. Kemudian adalah keputusan yang diambil oleh kepala keluarga. Semua dibahas dan dikupas tuntas dalam pertemuan ini. Mengenai pernikahan Roxena dan Gerald akan dibahas di akhir pertemuan.
"Akuisisi dan merger yang kepala keluarga saat ini lakukan sangatlah berbahaya. Bagaimana bisa Anda mengambil keputusan ekstrim seperti itu tanpa mempertanyakan pendapat kami? Apakah Anda tidak menganggap lagi keluarga ini?" Seorang tetua mempertanyakan keputusan Roxena.
"Lalu mengenai pernikahan Anda, Anda melakukan hal-hal yang melanggar norma dengan mencuri suami orang lain! Anda mencoreng nama baik keluarga Lawrence!!"
"Apakah Anda tidak paham bahwa keputusan yang Anda ambil mempengaruhi keseluruhan keluarga Lawrence?!"
"Anda juga mengeluarkan Benjamin dari keluarga Lawrence. Apakah sudah mendapatkan persetujuan kami? Anda mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat kami. Apa gunanya kami dalam kepemimpinan Anda?"
Intinya, banyak yang mengeluh tentang keputusan yang Roxena ambil seperti ini. Sedangkan yang dikeluhkan memutar bola matanya malas. Para tetua ini memang pintar mencari masalah.
"Jika Anda terus seperti ini, kami punya hak untuk mencabut posisi Anda sebagai kepala keluarga dan mengeluarkan Anda dari keluarga Lawrence!!"
Tuan Lawrence langsung memukul kursinya, menatap tajam tetua yang mengatakan hal tersebut. Sedang Roxena tersenyum sinis. Apakah mereka pikir, ia takut dengan ancaman itu? Roxena ini selalu melewati batas.
"Apakah masih ada keluhan? Sampaikan sekaligus sehingga aku dapat sekalian menjawabnya," tanya Roxena tenang, mengedarkan pandangannya.
"Tidak ada?"
"Baiklah. Aku akan menjawab semua keluhan kalian."
Roxena berdiri dari kursinya. Ia menatap satu demi satu wajah para tetua dan berhenti lama saat menatap wajah Tuan Lawrence. Jantung Tuan Lawrence berdebar lebih kencang. Ia cemas dengan jawaban Roxena.
"Selama aku berada di keluarga Lawrence aku tidak pernah menimbulkan kerugian sedikitpun. Justru aku membawa Lawrence Group berada pada puncak kejayaan. Sejak kecil, aku dididik untuk bisa mengambil keputusan sendiri. Menentukan mana yang terbaik."
"Sejak keluarga Lawrence berdiri, dari generasi ke generasi, kepala keluarga selanjutnya selalu anak pertama dari keluarga ini. Jika aku diturunkan, siapa yang akan naik dan apakah latar belakang pencapaiannya melebihi aku? Jika ada, aku tidak keberatan."
__ADS_1
Roxena memilih untuk menantang balik. "Jika tidak ada, artinya kalian melanggar tradisi!!"sarkas Roxena.
Wajah para tetua pias dan anggota keluarga Lawrence lainnya tampak setuju dengan pernyataan Roxena. Sejauh ini, tak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan prestasi dari seorang Roxena Lawrence. Dia sempurna.
"Mengenai pernikahanku. Bukankah seorang pewaris diberi kebebasan untuk menentukan pasangannya? Dan aku memilih suamiku. Mengenai dia yang sebelumnya memiliki istri, mereka sudah bercerai saat kami menikah. Jadi, tidak ada masalah bukan?"
"Lalu tentang akuisisi dan merger yang aku lakukan, apakah Lawrence Group jatuh? Mari bicara hasil saja, kalian mendapat untung kan? Sungguh licik jika kalian menendangku begitu mendapatkan keuntungan."
Roxena terkekeh. Ucapannya menampar banyak anggota keluarga.
"Lalu Benjamin, manusia itu tidak layak berada di keluarga Lawrence. Dia adalah benalu. Jadi, sebagai kepala keluarga aku memutuskan untuk menebang benalu itu. Apakah salah? Toh kehilangannya tidak mempengaruhi apapun."
Sorot matanya dingin. Benjamin adalah duri tajam yang mengusik hatinya selama bertahun-tahun. Tuan Lawrence memejamkan matanya. Kebencian Roxena tidak memudar pada Benjamin.
"Ya … aku memang tidak mengikuti aturan untuk meminta pendapat kalian. Aku minta maaf untuk itu."
Apa ini?!
Semua terkejut dengan permintaan maaf itu.
"Putriku sudah menanggung tanggung jawab besar untuk keberlangsungan dan kejayaan keluarga Lawrence. Tapi, kalian dengan teganya menyudutkan putriku sampai seperti ini? Apakah kalian benar-benar ingin menggantikan putriku? Jika memang kerja keras putriku tidak dihargai, lebih baik aku dan putriku keluar dari keluarga ini!!"ucap Tuan Lawrence lantang. Ia mulai muak dengan drama keluarganya. Selalu saja mencari kesalahan dan celah. Namun, nyatanya mereka tidak mampu untuk melakukan apa yang dicela itu.
Panik.
Buru-buru mereka bersikap patuh dan baik.
"Kepala keluarga mohon jangan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan kami. Kami hanya ingin sebuah kejelasan. Sungguh!!
"Hal-hal tersebut sudah berlalu dan kini semua baik-baik saja. Kisah cukupkan saja hal ini."
Cih!
Roxena mendecih kesal dalam hati.
Selanjutnya adalah peresmian Gerald masuk ke dalam keluarga Lawrence. Pintu aula terbuka. Gerald yang mengenai jas hitam senada dengan dress Roxena memasuki aula diikuti beberapa orang yang membawa barang-barang. Itu adalah hadiah yang Gerald siapkan untuk para tetua dan anggota keluarga penting lainnya.
Gerald lebih dulu memberi salam kemudian menatap Roxena cukup lama. Roxena mengangguk kecil.
"Orang-orang mengatakan bahwa keluarga Lawrence adalah keluarga yang sangat terpandang. Hari ini aku membuktikannya sendiri. Aku adalah orang asing. Maka izinkanlah aku memperkenalkan diri."
"Namaku Gerald Chaddrick dan saat ini aku bekerja di Lawrence Hospital sebagai dokter bedah. Gelar terakhirku adalah profesor. Yang paling utama aku adalah suami dari Roxena Lawrence!"
Astaga. Perkenalan diri yang terlalu … percaya diri. Tapi, Roxena menyukainya.
"Seperti yang sudah kalian dengar tadi, dia adalah suamiku. Apakah di antara kalian ada yang keberatan?!"
"Izinkan kami menanyakan beberapa hal pada Tuan Gerald."
"Okay."
Beberapa pertanyaan diajukan pada Gerald dan Gerald menjawabnya dengan lancar dan percaya diri. Roxena puas dengan performa Gerald.
"Setelah kami tinjau kembali, Anda adalah orang yang tepat untuk mendampingi Kepala Keluarga."
Gerald tampak terhenyak. Sudah selesai? Semudah ini?
Ini jauh dari bayangannya. Ia kira akan ada situasi bersitegang.
Bukan tanpa alasan Para Tetua itu tidak memperumit peresmian Gerald masuk ke dalam keluarga Lawrence. Dengan jawaban Roxena tadi, sudah menandakan bahwa Para Tetua tidak ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Dengan persetujuan itu maka Gerald sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Lawrence. Hadiah-hadiah yang dibawa diterima dengan baik.
“Sebelum pertemuan ini diakhiri, aku ingin mengumumkan 2 hal!”ucap Roxena.
__ADS_1
Semua saling pandang, pengumuman apa gerangan?
Roxena berdiri. “Mulai hari ini, dengan otoritasku sebagai Kepala Keluarga, aku mencabut hak dan wewenang para tetua dalam setiap pengambilan keputusanku. Jadi, kalian dibebaskan dari setiap keputusan yang aku ambil!!”
Semua terkejut!! Keputusan itu!!
“LANCANG!!”
“No. Aku memikirkan kalian. Sudah berumur lanjut lebih baik hidup tenang. Tak perlu memusingkan urusan keluarga biar aku yang tangani semuanya.”
“Xena.” Tuan Lawrence benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Roxena. Keluarga lain menganggap bahwa Tetua adalah komponen yang sangat penting. Roxena malah hendak mencabut otoritasnya. Tentu itu suatu penghinaan!
“Kami tidak terima!!”
“Terima tidak terima, keputusanku sudah bulat!!”balas Roxena dengan nada dinginnya.
Merah padam. Kesal. Mereka tidak terima juga tidak digubris. Anggota keluarga lain juga tampak tidak berdaya. Mereka yang hidup di bawah naungan keluarga Lawrence tidak ada daya untuk menentang, hidup mereka mengikuti keputusan pimpinan tertinggi.
“Anda keterlaluan!!"
Para tetua yang tidak terima meninggalkan aula. Roxena tersenyum dingin. Keluar artinya menentang dan ia tidak suka ditentang.
“Xena ini ….”
“Syut! Biarkan saja.”
“Lalu apa yang kedua, Xena?”tanya Tuan Lawrence, berhenti memusingkan keputusan Roxena.
“Aku hamil.”
Keadaan hening seketika. Gerald merasa pendengarannya salah. “Xena apa yang baru saja kau katakan?”
“I’m pregnant.”
“God!! Ini kabar yang sangat baik!!” Tuan Lawrence memanjatkan syukur. Gelombang kata selamat juga berdatangan. Xena masih terpaku di tempatnya. Sungguh, ini kabar yang ia tunggu tapi rasanya mengapa ia malah cemas?
“Kita harus merayakan ini. Siapkan dinner untuk seluruh anggota keluarga!!”
“Kyaaa!!!”
Baru saja Tuan Lawrence menjatuhkan perintah, tiba-tiba ada teriakan histeris. “Ada apa?”
“Di gerbang ada singa besar, itu … itu membawa rusa hidup yang sekarat!!”ujarnya melaporkan.
Gerald langsung teringat perintah Roxena kemarin siang pada seekor singa jantan.
“Rusa itu menjadi hidangan makan malam hari ini.” Roxena melangkahkah kakinya keluar dari aula menuju gerbang. Singa itu masih di sana dengan seekor rusa berukuran cukup besar di mulutnya. Roxena mendekati singa itu, “lepaskan.” Raja hutan itu menurut.
“Pintar.” Mengusap kepala singa.
“Kembalilah.”
Singa itu berbalik dan lari menghilang. Roxena tersenyum simpul. “Segera sembelih rusa itu.” Beberapa orang segera membawanya pergi.
“Keinginan cucuku?”tanya Tuan Lawrence. Roxena membenarkannya.
“Hahaha!! Tampaknya anak laki-laki.”
“Ini sungguhan? Aku akan jadi seorang Ayah?” Gerald bertanya untuk memastikan.
“Xena … kau akan jadi ibu dari anak-anakku?” Sejenak Gerald tenggelam dalam masa lalu. Ia takut. Roxena akan melakukan hal gila seperti kehidupan pertama, ia takut Roxena masih belum benar-benar melepaskan trauma masa lalu.
BUGH!!~~~~
__ADS_1
Gerald terjerembab ke tanah. “Mati saja jika kau tidak mengakuinya!!”umpat Roxena kesal.