Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 32 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

Setelah semua pekerjaan beres, Roxena dan Erin meninggalkan gedung utama Lawrence Group menuju markas


Light and Shadow. Tujuan utama Roxena ke markas adalah untuk mengurus pimpinan yang menyerangnya sewaktu di bandara dan juga mengurus beberapa hal lainnya.


Sepanjang perjalanan Roxena meminjamkan matanya dengan kernyitan dahi. Sepanjang perjalanan itu pula, Erin menyimpan rasa penasaran terhadap Apa yang harus Roxena pikirkan.


Kini Roxena dan Erin sudah tiba di markas utama Light and Shadow. Disambut oleh anggota yang sedang hilir mudik melakukan tugasnya. Roxena melambaikan tangannya, menyuruh mereka kembali pada tugas masing-masing.


Erin mengikuti langkah Roxena. Tidak langsung menuju ruangan di mana pimpinan kelompok itu berada melainkan menuju menara utama markas Light and Shadow. Lift membawa keduanya menuju puncak menara.


Erin masih setia dengan kediamannya. Tak melontarkan satupun pertanyaan. Sementara Roxena, berdiri menatap lurus hamparan pepohonan di depannya. Markas ini dikelilingi pepohonan yang lebat. Dengan sebuah danau di depannya. Goresan senja berpadu dengan sebagian langit yang masih biru dan hijaunya pepohonan. Membentuk gradasi warna yang sangat indah.


Nona sedang menenangkan diri.


Erin berkata dalam hati. Menara ini adalah tempat yang paling tinggi dan juga nyaman untuk menenangkan diri. Dari atas dapat melihat keseluruhan bangunan markas dan pepohonan di sekitarnya.


Apa yang Nona pikirkan?


Erin bertanya dalam hati. Melihat punggung Roxena yang tampak ringkih namun mampu menanggung beban dan tanggung jawab yang besar. Punggung yang terasa dekat namun nyatanya sukar untuk dijangkau. Erin sudah lama bersama dengan Roxena. Nonanya itu kesepian meksipun ada banyak manusia di sekitarnya. Entah memang karena korban broken home atau ada penyebab lain, Erin tidak tahu pasti. Meskipun ia dipercaya namun bagi Erin, Nonanya itu menyimpan banyak rahasia dan akhir-akhir ini, Erin mulai paham tentang rahasia Nonanya itu.


Emosi Roxena lebih bervariatif belakangan ini. Meskipun Roxena sedikit senang dengan itu. Namun, ia cenderung khawatir.


Cinta itu bisa melemahkan dan menguatkan. Aku takut Nona melemah karena cinta.


"Serius sekali wajahmu, Erin. Apa yang kau pikirkan?" Erin terperanjat. Tatapan tajam Roxena langsung ia terima.


"Tidak ada, Nona." Erin berkilah. Tak yakin jika jawabannya cukup untuk Roxena.


"Terlihat begitu jelas."


Erin menelan saliva. "Huh! Lupakan saja. Suasana hatiku sudah lebih baik. Ayo temui orang itu."


Roxena mengajak Erin turun. Erin yang baru menghela nafas langsung mengejar.


"Tumben kau tidak cerewet. Apa kau kehabisan pertanyaan, Erin?"tanya Roxena dalam perjalanan.


"Hehehe." Erin menggaruk pelipisnya.


"Ah ya, Nona. Apa Nona akan mengambil nyawanya?"


Roxena tersenyum. Baru dipasang umpan sudah dilahap. Dasar Erin.


"Tidak."


Erin bingung. Bukannya biasanya Roxena akan langsung mengambil nyawa musuhnya? Mengapa kali ini tidak? Apa yang Roxena rencanakan?


"Lalu apa Nona akan mengambil nyawanya?"


"Tentu saja."


"Erin oh Erin, mengapa otakmu lambat sekali?"gemas Roxena, menghentikan langkahnya, berbalik dan menyentil dahi Erin.


Erin masih memikirkannya. Itu terlihat mudah. Namun, otaknya lama mencerna. Mungkin karena pengaruh pekerjaan atau karena sudah sering sehingga melupakan hal-hal yang mudah.


"Ah!" Tiba-tiba Erin berseru.


"Nona, apa yang Anda rencanakan?"tanya Erin. Ia bersemangat. Matanya dipenuhi dengan binar penasaran.

__ADS_1


Roxena tersenyum. Kembali melanjutkan perjalanannya. Erin mengejar. Tetap berada selangkah di belakang Roxena.


Kini mereka tiba di sebuah ruangan tempat pimpinan itu ditahan. Sebuah ruangan yang lebih layak daripada penjara atau ruang penyiksaan tempo hari. Ini mirip penjara pada umumnya. Sel itu ada ranjang untuk tidur.


Roxena sengaja memerintahkan agar pria itu tidak disentuh sama sekali. Hanya ditangkap dan dimasukkan dalam penjara.


Erin mengira itu adalah trik Roxena. Meskipun tidak disiksa tetap saja pria itu akan ketakutan. Ini adalah tempat yang sangat berbahaya, markas organisasi terbesar di negara ini, Light and Shadow.


Tadinya Erin mengira akan langsung diambil nyawanya. Tapi, mengapa berubah rencana? Apa yang Erin lewatkan?


Hari yang sudah malam dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang ataupun redup, membuat atmosfer penjara semakin terasa. Pria itu tengah meringkuk di ranjang. Menutupi dirinya dengan selimut.


Tubuhnya merasakan bahaya mendekat. Matanya memejam rapat dengan rapalan doa dalam hati.


"AHHHH!"


Pria itu langsung melonjak dan duduk meringkuk kala selimut yang ia gunakan diangkat dan dibuang. Menyembunyikan wajah di balik lutut. Tubuhnya bergidik.


"Hm. Erin, apa ada yang mengganggu dia?"tanya Roxena, menatap Erin menyelidik.


"Tidak ada, Nona." Erin mendekati pria itu. Menunjukkan lengan, kaki, dan juga menarik baju pria itu hingga robek. Pria itu tampak pasrah meskipun masih ada gerakan meronta. Hanya bisa memalingkan wajahnya dengan tangan mengepal. "Lihat, Nona. Tidak ada satupun luka. Jika Anda ragu ada luka dalam, dokter Liu bisa memastikannya," ucap Erin dengan percaya diri.


"Lupakan saja." Roxena melambaikan tangannya. Kemudian mengambil kembali selimut dan melemparkannya menutupi tubuh pria itu.


"Tubuhmu tidak sebanding dengan priaku!"sinis Roxena, menyadari pria itu memeluk tubuhnya erat.


"Bunuh saja aku," ucapnya, tegas namun tak berani menatap wajah Roxena. Roxena terkekeh.


"Itu mudah. Tapi, tidak seru."


Roxena tersenyum. Pria di depannya ini cukup pintar. Tak mau berbelit-belit langsung bertanya to the point.


"Katakan siapa yang ada di belakangmu!" Roxena meraih kursi dan duduk di sana. Erin berdiri di belakang Roxena. Menerka rencana Roxena. Jika ia menyimpulkan dengan baik, pasti Roxena akan memuji dirinya.


Pria itu tidak menjawabnya.


"Hm. Erin, cara apa yang biasa kita buat agar musuh buka mulut?"tanya Roxena.


"Buat luka lalu siram dengan asam kuat."


"Ambilkan alat-alatnya."


Erin bergegas. Sementara Roxena mengamati gerak-gerik pria itu. Ingin menatap namun tak berani. Ingin lari tapi tak bisa. Ingin menghabisi nyawa sendiri di depan malaikat maut? Itu lebih sulit. Pria itu menggigit bibirnya. Sampai berdarah. Ingatan anggota dan rekan yang meregang nyawa di tangan anggota Roxena menghantui dirinya.


Lebih baik membunuh dirinya daripada harus menderita karena ingatan dan bayang-bayang itu. Selama ia ditahan, terus memimpikan amarah anggota setiap ia berusaha memejamkan mata.


"Bunuh saja aku. Tak peduli dengan cara apapun aku tidak akan buka mulut!"


"Oh." Roxena semakin melebarkan senyumnya.


"Sepertinya ada kekuatan besar di balikmu. Apakah lebih besar dari Light dan Shadow?"tanya Roxena penasaran.


"Bunuh saja aku!"


"Orang-orang Sky memang keras kepala dan sok hebat. Padahal hanya organisasi kecil tapi berani melawan kami. Tindakan kalian terlihat jelas. Ada yang memprovokasi, ada yang terpancing, dan ada yang akan menangkap si provokator. Tapi, Light and Shadow punya beribu cara untuk memenangkan permainan termasuk membuka mulut yang bungkam. Mari kita lihat sekuat apa kau dari rasa sakit yang akan terasa."


Erin kembali dengan membawa kereta dorong berisikan satu set pisau dan juga cairan asam kuat.

__ADS_1


Roxena menggunakan sarung tangannya. Erin menyuruh dua anggota untuk mengikat kaki dan tangan pria itu. "Mari kita mulai."


Teriakan demi teriak terdengar dari ruangan itu. Setiap luka yang sudah dibuat disiram dengan asam kuat. Rasanya bukan main. Seperti terbakar dan meleleh. Namun, pria itu tak kunjung bicara meskipun nafasnya sudah di ujung. Teguh pada pendiriannya.


Roxena kesal. Memutuskan mengakhiri siksaan itu. Namun, tetap tak mengambil nyawanya. Memerintahkan dokter untuk menangani pria itu. Disembuhkan lalu disakiti lagi, itulah sakit yang terobati. Roxena berencana untuk menekan mental dan fisik lawannya.


"Sepertinya saya melewatkan hal penting, Nona. Saya akan menyelidikinya ulang." Erin akhirnya paham.


"Lawan memprovokasi melalui lawan lainnya. Taktik yang bagus. Erin lawan kita kali ini tidak mudah. Mungkin itu organisasi tersembunyi atau sisa organisasi yang pernah kita hancurkan. Atau mungkin juga organisasi dari luar. Kau jangan gegabah."


"Mengerti, Nona."


"Lalu jika dalam 3 hari dia masih bungkam, lemparkan saja ke kandang hering."


Erin mengangguk paham. "Sudah kau siapkan apa yang aku minta?"


"Semua sudah ada di ruang lukis, Nona."


Roxena mengangguk. Melanjutkan langkahnya sementara Erin mengerjakan tugas lainnya. Roxena melangkah sendiri. Setiap anggota yang berpapasan dengannya menunduk hormat.


Kini, Roxena tiba di ruang lukis. Ruangan yang luas seperti aula. Ada banyak kanvas dan alat lukis di sana. Roxena segera mengambil satu tempat. Tempat ini kosong, sengaja dilakukan agar tidak mengganggu Roxena.


Roxena menghela nafasnya pelan. Menatap tangannya yang kembali berlumur darah. "Ada banyak kemungkinan. Semoga tidak seperti yang aku pikirkan."


Roxena kemudian memejamkan matanya. Segera setelah membuka mata, ia menggoreskan garis di kanvas. Garis demi garis, arsir demi arsir membentuk sebuah sketsa wajah. Tak lupa memberikan detail berupa warna. Itu adalah lukisan seorang pria. Dengan rahang tegas dan alis tebal, pria itu benar-benar tampan. Namun, masih di bawah ketampanan Gerald.


Jika Gerald 10, maka pria dalam lukisan itu adalah 9,5. Ya, selisih tak begitu banyak. Roxena kemudian menuliskan sebuah nama di pojok kanan lukisannya.


Regis.


Tertulis apik nama pria itu dengan tulisan bersambung.


Selesai.


Roxena kemudian meninggalkan ruang lukis dengan membawa lukisan itu. Memanggil Erin ke kamarnya.


Karena kesibukan perjalanan bisnis dan hal-hal lainnya, Roxena tak sempat melukis wajah pria yang ingin ia cari. Barulah sempat saat ini. Kemarin hanya nama, kini sudah dengan lukisannya.


Erin mengamati lukisan itu. Catnya belum kering sempurna. Lukisan yang kental dengan nuansa kerajaan abad pertengahan. Erin menatap Roxena yang tengah mengecek ponselnya.


Nona menyuruh kami mencari orang atau menemukan makam?


"Sebarkan lukisan itu ke semua anggota Intel. Cari sampai batasnya!"titah Roxena.


"Baik, Nona." Meskipun masih bingung. Erin menurut.


"Jam berapa Anda akan kembali ke apartemen, Nona?"tanya Erin kemudian.


"Aku menginap di sini."


"Anda serius?"


"Aku ingin menenangkan diri, Erin. Mungkin selama beberapa hari ke depan aku akan tinggal di sini."


Itu mengagetkan Erin. Semenjak menikah, mau terluka parah pun tujuan pulang Roxena adalah apartemennya, tempat di mana suaminya berada.


Sebesar apa kegelisahan Nona?

__ADS_1


__ADS_2