
Gerald mendapati Roxena sudah ada di ruang makan. Dilihatnya minuman coklat Roxena sudah tinggal setengah. Gerald segera mengambil tempat.
Makanan negaraku?
Gerald lalu menatap Roxena yang tengah fokus pada tabletnya.
"Ehem."
Batuk untuk menyadarkan Roxena.
Benar saja. Roxena langsung mengangkat pandangannya, meletakkan ponselnya.
Tanpa sepatah kata, Roxena langsung meraih sarapannya. Gerald tertegun. Tak biasanya Roxena diam begini. Apa ia membuat kesalahan?
Gerald gelisah. Padahal beberapa hari ini ia hanya pura-pura. Tapi, agaknya perasaannya nyata.
"Lain kali jangan menungguku pulang. Tubuhmu penuh luka, harus mengonsumsi nutrisi yang cukup," ucap Gerald dingin.
Sial, bukan ini yang ingin aku katakan?!
"Okay." Disahut singkat oleh Roxena.
Mereka sarapan dalam hening. Lily yang melihat itu menghela nafas pelan.
*
*
*
"Jadwalnya padat juga," gumam Roxena. Kini ia sudah berada di gedung pusat Lawrence Group. Duduk di kursi kebesarannya seraya membaca jadwal Gerald yang sudah dikirim oleh Thomas. Jadwal Minggu hanya melakukan pemeriksaan kepada pasien yang memerlukan perawatan khusus, hanya di pagi hari saja. Di tangan Roxena sudah ada jadwal Gerald untuk 3 hari kerja ke depan.
Ada beberapa jadwal operasi. Pemeriksaan rutin, rapat mingguan, konsultasi, dan beberapa kegiatan lainnya.
Roxena lalu meraih ponselnya.
"Selamat siang, Presdir."
"Jadwal Gerald di hari Minggu, serahkan itu ke dokter lain!"ucap Roxena.
"Tapi, Presdir. Pasien tersebut dari awal berada di dalam pengawasan Prof. Gerald. Saya tidak bisa mengubahnya secara mendadak. Dokter Gerald juga tidak keberatan dengan hal tersebut," jawab seseorang di seberang telepon dengan ragu.
"Aku keberatan!"jawab Roxena Gerald. Roxena melanjutkan, "kau kepala departemen sialan! Apa kau tidak tahu jika Gerald sudah menikah, hah?Jadwal kerjanya lebih padat daripada kau dan dokter lain. Apa aku mempekerjakan kalian untuk menjadi pajangan, hah?!"
"Presdir, saya-"
"Serahkan sebagian jadwal Gerald pada dokter lain. Jika pengaturanmu tidak becus, silahkan angkat kaki!!"
"B-baik, Presdir!"
Roxena baru saja menghubungi kepala departemen tempat Gerald bekerja. Ia marah. "Pria ini lagi, apa dia menurut saja?! Ku kira pintar ternyata mudah dimanfaatkan! Dedikasi sialan, ini merusak wibawaku!"
"Padahal kan aku istrinya, tempatnya bekerja juga di bawah kepemimpinanku. Beraninya mereka tidak hormat padanya?! Atau aku jadikan saja dia kepala departemen?"gumam Roxena.
"Ahh, tidak! Biar saja, kecuali jika dia memintanya."
Selesai dengan pertimbangannya, Roxena kembali fokus bekerja.
*
*
*
__ADS_1
"Pergerakan perusahaan mengakuisisi banyak perusahaan lain menimbulkan kekhawatiran di lingkar bisnis dalam negeri dan luar negeri, Nona. Jika kekhawatiran ini disuarakan ke kementerian perekonomian maka akan menghambat rencana jangka panjang yang sudah dijalankan."
"Jika hal tindakan kita dianggap mengancam stabilitas perekonomian maka ada kemungkinan besar akan dibuat peraturan baru yang akan menahan langkah kita. Jika hal itu terjadi, akan mengganggu internal dan eksternal perusahaan. Dewan direksi pasti juga tidak akan senang. Keputusan terburuknya, Anda akan dipaksa mundur karena dianggap mengambil keputusan yang membahayakan perusahaan."
Roxena mendengarkan secara seksama penuturan Erin. Roxena memang sudah merencanakan memperbesar Lawrence Group dengan mengakuisisi perusahaan yang dianggap dapat mendukung kejayaan Lawrence Group. Dana juga sudah ia sediakan jauh-jauh hari. Dan rencana langsung dijalankan begitu Roxena menjabat sebagai Presdir. Perjalanan bisnisnya ke luar negeri juga dalam rangka menandatangani pembelian atas akuisisi perusahaan yang sudah ditargetkan. Rencananya sudah setengah jalan, hanya setengah dari perusahaan target yang belum diakuisisi.
"CK!"
Berdecak sebal. Mengapa para pengamat itu sibuk sekali mengurusi sepak terjang perusahaannya?
Harga saham Lawrence Group stabil. Pinjaman perusahaan di bank juga belum mencapai limit. Masalah karyawan perusahaan yang diakuisisi juga sudah dalam jangkauan, dalam artian tidak banyak kerugian yang ditimbulkan.
Ah, memang tindakannya sedikit menggebu. Karena Roxena sudah terlalu lama menahan diri untuk melaksanakan rencananya ini.
Sial! Meskipun Lawrence Group kuat tapi tetap di bawah kekuasaan negara. Jika begini, pasti akan dimanfaatkan pihak kerajaan.
"Nona haruskah kita menghentikan akuisisi?"tanya Erin yang tak kunjung mendapat tanggapan dari Roxena kecuali decakan sebal.
"Tidak perlu. Kita akan gunakan kekuatan lain untuk menyelesaikan rencana," jawab Roxena. Ya, ia sudah menduga hal ini. Roxena tak ingin menahan diri lagi, apapun yang terjadi rencananya harus selesai.
"Maksud Nona, menggunakan kekuatan LS?"tanya Erin memastikan.
"Akuisisi perusahaan itu atas nama LS. Diakusisi di kekuatan maupun, keduanya adalah milikku!!"ucap Roxena memutuskan.
"Baik, Nona!" Erin tersenyum. Ia merasa dirinya terlalu panik. Namun, dalam sekejab Roxena sudah menemukan jalan.
Lawrence Group dan LS adalah satu. Kini, siapa yang berani menghentikan Nonaku? Lawrence Group mungkin terkekang oleh undang-undang. Tapi, LS tidak mengenal undang-undang.
*
*
*
Erin mengangguk kaku. Karena jadwal pekerjaan ia hampir melupakan ucapan Roxena beberapa hari yang lalu, latihan bersama.
Semoga Nona berbelas kasih.
Kini Roxena sudah berada di kamarnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian menggunakan piyama. Saat membuka lemari pakaiannya, Roxena menatap beberapa saat gaun yang ia rampok dari pria bertopeng rubah.
Sebelumnya Roxena acuh. Tapi, kali ini ia mulai memikirkan identitas pria bertopeng rubah itu. Jika mampu bersaing dengannya untuk mendapatkan gaun ataupun kalung Blue Ocean maka dia memiliki latar belakang yang hebat.
Tuan muda dari keluarga mana?
Hm, jika takdir berkehendak cepat atau lambat kita akan bertemu. Entah tetap menjadi lawan atau kawan, biar waktu yang menjawab.
Roxena menutup lemarinya. Beranjak keluar kamar dan mendapati Gerald di meja makannya. Dari ekspresi Gerald, pria itu meminta penjelasan.
"Jadwalku berubah dan jadwal di hari Minggu dialihkan ke dokter lain, itu ulahmu?"tanya Gerald menyelidik.
Roxena mengangguk. "Mengapa?"
"Hanya karena kau hebat bukan berarti semua harus dibebankan padamu. Aku membayar mereka untuk bekerja bukan berpangku tangan. Meskipun kau tidak keberatan karena menganggap itu loyalitas terhadap pekerjaan. Tapi, aku sebagai atasan dan istri keberatan!!"jawab Roxena, menjelaskan dengan datar.
"Meskipun begitu kau tidak bisa seenaknya tanpa mengatakan apapun padaku!"kesal Gerald.
"Ku pikir aku sudah mengatakannya waktu itu." Gerald memutar memorinya. Percakapan tentang dia belajar bela diri. Tapi, kan tidak ada membahas tentang pengurangan jadwal?
"Sudah terjadi, mau apa lagi? Kau manusia butuh istirahat yang cukup. Tidak lucu jika kau sibuk menyelamatkan orang lain tapi tubuhmu sendiri menderita. Lalu apa kau pernah mendengar ini? Dilarang sakit di hari Minggu?"
Roxena sudah menyiapkan jawaban untuk ini. Ia tahu, Gerald pasti akan menanyakan hal ini.
"CK!"
__ADS_1
Berdecak karena tak bisa melawan lagi. Gerald kemudian menatap makan malam, steak dan terdapat minuman beralkohol di atas meja. Satu botol dan dua cangkir. Roxena melirik Erin dan Sophia. "Alkohol dari kamarku?"
"Kami dengar ada beberapa masalah di perusahaan, saya pikir alkohol dapat membantu Anda rileks," jawab Sophia. Dalam hati menahan takut dan tegang. Berharap Roxena tidak mempermasalahkannya.
"Perpaduan yang cocok." Lily dan Sophia tersenyum lega.
Sudah lama Roxena tidak minum alkohol favoritnya.
"Kau tidak minum?"tanya Roxena yang melihat Gerald tak menyentuh minuman beralkohol itu. Sedangkan Roxena sudah habis dua gelas.
Gerald menggeleng. Ia tak suka alkohol dan toleransinya terhadap alkohol sangat lemah. Jika ia minum dan mabuk di kandang singa ini bukankah dirinya akan dalam bahaya?
Manik hazel Roxena seakan tengah menelanjangi dirinya, mencari kebenaran dalam ucapan itu. "Huh!!" Roxena mendengus kemudian meninggalkan meja makan dengan membawa botol minuman itu.
*
*
*
Gerald membaringkan dirinya di peraduan. Hari ini tak selelah hari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena pengaruh jadwalnya yang berubah.
Gerald menyentuh dadanya. Ada perasaan yang sukar dijelaskan di sana. Semakin hari, malah semakin aneh. Padahal ia menurut untuk membuat Roxena lengah dan melemah padanya. Tapi, agaknya terbalik. Ia merasa dirinya akan kalah.
Elisa ….
Gerald berusaha menghilangkan pikirannya tentang Roxena, menjadi memikirkan Elisa. Diraihnya ponsel dan membuka galeri foto.
Di sana ada foto Elisa yang ia ambil dari internet. Setidaknya cukup untuknya membasuh kerinduan.
"Bagaimana kabarmu, Sayang? Apakah kau masih terpuruk? Jangan terpuruk. Aku baik-baik saja. Kau juga harus baik-baik saja."
"Ku pikir mudah menghadapi wanita itu. Nyatanya sangat sulit. Ada tabir besar yang belum terungkap. Sejujurnya … aku bisa kabur tapi hatiku menolaknya. Elisa, kau tahu aku tipe yang harus menyelesaikan sesuatu secara tuntas. Setelah mengetahui apa alasannya, mengatasi mimpi dan kepingan ingatan yang menggangguku, aku akan pulang. Percayalah padaku, aku akan kembali padamu."
Gerald mengecup foto di layar ponselnya itu.
"Aku mencintaimu, Sayang." Gerald menitikkan air mata untuk itu. Setelahnya perlahan matanya memejam kantuk. Tidur memeluk foto Elisa.
*
*
*
Apa yang aku lakukan melenceng dari rencana awalku.
Roxena belum tidur. Ia duduk menghadap jendela dengan tirai yang dibuka itu. Lampu kamar tidur dinyalakan. Pencahayaan hanya berasal dari lampu tidur dan juga cahaya dari luar. Di tangannya ada sebotol wine dan di kakinya sudah ada satu botol wine kosong. Roxena kembali menenggak minumannya.
Balas dendamku terhambat banyak hal. Dan faktor terbesarnya adalah diriku sendiri.
Niat hati ingin membuat Gerald menderita, tertekan, dan semakin membenci dirinya. Perbuatannya malah seperti memanjakan Gerald. Memberinya pekerjaan, memberikan mobil, bahkan ikut campur dalam meringankan jadwal Gerald, dan juga akan diajarkan bela diri. Meskipun ada dibatasi, Gerald diperlakukan dengan baik.
Perasaan yang telah lama ku bunuh tumbuh lagi. Aku ingin menyiksanya. Aku ingin membunuh mentalnya. Tapi, aku sama sekali tidak melakukannya.
Ck, mentalku begitu lemah. Padahal aku sudah hidup sangat lama.
Elisa … ya, hanya Elisa yang dapat membangkitkan amarah Gerald. Perasaan ini, aku harus membunuhnya!!
Ting!!
Ponsel Roxena berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.
Roxena membelalakkan matanya. Tak lama, ia tertawa terbahak. Air matanya sampai keluar. "Takdir berpihak padaku!"
__ADS_1
Tampaknya Roxena mendapatkan sebuah informasi penting. Infomasi yang dapat ia gunakan sebagai alat. Senyuman itu, dalam benaknya sudah terangkai rencananya.