
Istana gempar dengan kabar hilangnya Stella dari kediamannya. Pengkhianatan yang berusaha ditutup rapat meluap seketika karena titah sang Raja untuk membawa kembali Stella dengan panggilan pengkhianat, hidup atau mati untuk diadili!
Xavier langsung menghadap sang ayah begitu tiba di istana. Terlihat raja masih dengan amarahnya yang membuncah. “Ayah ….”
“Kau jangan menyalahkanku. Aku hanya mengikuti keinginan adikmu,” ucap Raja menyela ucapan Xavier.
“Sejak dia meninggalkan istana ini, dia bukan lagi putriku. Bukan lagi putri kerajaan ini. Statusnya hanyalah seorang pengkhianatan,” lanjur Raja.
Xavier keluh. Keputusan sang ayah sepertinya sudah final dan dalam suasana hati seperti sulit, sulit untuk meredakannya. Xavier menghela nafas kasar. Ia memijat dahinya. Sebenarnya apa yang adiknya itu pikirkan? Mengapa kabur? Dengan seorang pelayan pula!
Tunggu!!
Xavier mengernyitkan dahinya mengingat pelayan laki - laki Stella, Jade. Pelayan itu jika ia pikirkan lagi, mencurigakan. “Aku akan menemukan Stella,” ucap Xavier, menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang kerja Raja.
“Aku juga tidak mau melakukan ini. Tapi, parlemen sudah mengetahuinya,” gumam Raja. Ia juga dilema dan putus asa. Sebagai Raja tentu kepentingan negara yang harus diutamakan hanya saja sebagai ayah, dirinya gagal, gagal mendidik dan gagal melindungi. Saat ini juga, ia tengah perang dingin dengan Ratu. Ratu sudah tahu tentang apa yang terjadi pada Stella, sungguh keluarga kerajaan sedang tidak baik-baik saja.
Di lain sisi, meninggalkan kegemparan dan kalang kabut istana, Roxena tengah menikmati sore hari yang indah dari gazebo kediaman utama Lawrence. Dengan dress berwarna cream, ia duduk bersandar dengan tangan menyangga kepala, matanya terpejam dengan seulas senyum menggambarkan bahwa dirinya tengah berada dalam suasana hati yang baik.
Tuan Lawrence datang menghampiri Roxena dengan membawa nampan berisikan camilan sore, lengkap dengan jus buah kiwi. Gerald sedang bekerja. Ia akan cuti di hari keberangkatan sampai kepulangan. Maklum saja tugas seorang dokter sulit untuk ditinggalkan. Sementara Roxena memang memilih mengambil hari tenang.
Tuan Lawrence meletakkan bawaannya di atas meja yang ada di gazebo. Ia duduk dengan hati-hati dan mengamati wajah putri semata wayangnya. Wajahnya berseri, rona wajahnya jauh lebih baik, sangat baik malah. Kelegaan terpancar, menandakan sang putri telah menemukan kebahagiaannya.
“Apa yang Anda pikirkan dengan senyum itu?” Tuan Lawrence tersentak pelan mendengarnya.
“Kau tidak tidur?”
“Aku terbangun saat mendengar langkah kaki.” Roxena membuka matanya. Roxena tak kehilangan kesensitifannya atas suara sekecil apapun. Tuan Lawrence terkekeh pelan. Ia lantas kembali memperhatikan Roxena.
"Ayah perhatikan lagi, kau jauh lebih gendut daripada sebelumnya, Xena. Apa kau jarang olahraga?"tanya Tuan Lawrence penasaran. Sedikit banyak ia tahu rutinitas Roxena. Meskipun sibuk, Roxena tetap berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya.
"Mungkin belakang ini agak tenang. Berat badanku jadi bertambah." Masih tak memberitahukan tentang kehamilannya.
Tuan Lawrence mengangguk paham. "Syukurlah kalau begitu."
Roxena duduk bersila kemudian mengambil jus kiwinya.
"Kepulangan kali ini, apakah ada sesuatu hal yang ingin kau lakukan, Xena?"tanya Tuan Lawrence.
"Sesuatu? Mungkin ada. Aku belum memikirkannya," jawab Roxena. Yang ada dalam benak Roxena saat ini adalah membayangkan reaksi Gerald nanti ketika Roxena memberitahu tentang kehamilannya. Itu lebih penting ketimbang pertemuan itu.
"Seleramu berubah, Xena," celetuk Tuan Lawrence.
"Tidak sama sekali. Ini hanya sementara," sangkal Roxena langsung.
"Ada alasan khusus?"selidik Tuan Lawrence.
"Tidak tahu." Roxena mengangkat bahunya acuh.
Tuan Lawrence tidak bertanya lagi. Ia menghela nafas pelan. Tampak termenung. Dan beberapa saat kemudian, matanya berkaca-kaca. Roxena yang baru saja menghabiskan jus kiwinya, melirik sekilas. Ekspresinya tidak berubah, acuh.
“Apa yang mau ayah tangisi?”tanya Roxena datar.
“Tidak tahu. Ayah hanya ingin menangis,” jawab Tuan Lawrence, mengusap sudut matanya.
“Jika ingin menangis, menangislah. Aku tidak akan terganggu dengan itu. Tapi, aku tak tahu cara menghibur,” ujar Roxena dengan wajah acuh namun kata-katanya mengandung kasih sayang.
*
*
__ADS_1
*
Stella terbangun di sebuah kamar dengan nuansa maskulin yang begitu kental. Warna kamar didominasi warna hitam dan furniture yang terlihat begitu mewah. Kamar yang asing baginya. Wajah kuyu dan kusam dengan pakaian yang berantakan. Tercium bau tak sedap dari tubuhnya, bau yang sangat Stella benci.
Stella mengingat keputusan yang ia ambil. Sebenarnya tidak penuh pertimbangan dirinya sebab dirinya terkena manipulatif dan sugesti dari Jade yang selalu membisikkan kata-kata, mencuci otaknya.
Pikirlah lagi, Stella. Berita pembatalan pertunanganmu sudah diumumkan. Masalah rencana pemberontakan yang kau lakukan cepat atau lambat akan terungkap. Meskipun ayahmu adalah raja, mereka tidak akan bisa melindungimu dari hukuman dan apa kau tahu hukuman seorang pengkhianat? Hukuman mati!!
Oleh karena itu, ayo pergi bersamaku. Bebas dari istana menyesakkan ini. Aku jamin kau akan hidup dengan baik tanpa kekurangan apapun. Aku juga menjamin keamananmu.
Kata-kata membius Stella dan ia mengulurkan tangannya pada Jade. “Bawa aku pergi!”
“Apakah begini caranya meminta bantuan?” Stella terhenyak. Jade benar-benar keterlaluan. Stella menggigit bibir bawahnya.
“Ku mohon bawa aku pergi dari sini, Jade. Aku … akan menikah denganmu.” Senyum puas terukir di bibir Jade. Ia menerima uluran tangan Stella dan mengecup punggung tangan ini. Stella memejamkan matanya. Perasaannya campur aduk.
“Dengan senang hati, Lady.”
Stella membuka matanya, ia mendapati beberapa orang masuk ke dalam kamar ini. Dengan kehidupannya selama ini, langsung mengetahui bahwa mereka adalah pelayan.
“Tuan Jade meminta kami membantu Anda bersiap, Nona,” ujar salah seorang dari mereka.
“Di mana Jade?”
“Tuan sedang ada urusan, Nona. Kami akan membantu Anda.”
Stella kemudian dibantu bersiap oleh mereka. Membersihkan diri dan membantu berpakaian. Barulah Stella menyadari bahwa ia memakai gaun putih pengantin. Lidahnya kelu, Jade benar-benar serius dengan ucapannya. Ia dirias begitu cantik. Wajah kuyu dan kusamnya hilang seketika. Kantung matanya juga tersamarkan dengan make up.
“Mari, Nona.” Lalu Stella dipandu keluar, menuju tempat pemberkatan akan dilakukan.
Di sana Stella mendapati ada beberapa orang lagi. Stella tidak bisa melihat detail tempat ia berada saat ini, kepala dan wajahnya ditutupi tudung dengan kain yang cukup tebal.
“Tuan dalam perjalanan, kita tunggu saja.”
“Kasihan calon pengantinnya.”
“Aku kaget Tuan mengumumkan akan menikah. Aku pikir dia akan seperti wanita-wanita sebelumnya.”
“Mungkin Tuan sudah menentukan masa depannya. Hanya saja mengapa harus aib sebuah negara?”
Stella mendengar bisik-bisik itu. Perasaannya yang campur aduk semakin tak karuan. Gelisah, gugup, marah, emosi, sedih semua ia rasakan apalagi setelah mendengar bahwa Jade adalah seorang playboy. Ia kembali meragukan keputusannya.
Apakah masih bisa lari?
Tapi, lari kemana?
Dirinya terjebak!!
“Tuan bukan orang yang sembrono. Kita tidak boleh mempertanyakan keputusannya!” Kalimat tegas itu menghentikan bisik-bisik itu.
“Tuan!!”
Mereka berseru saat sosok pria tinggi dan rupawan masuk ke dalam ruangan. Stella juga ikut terhenyak. Tubuhnya tegang seketika.
Jade datang dengan mengenakan jas putih, sangat tampan. Ia melangkah menghampiri Stella lalu membisikkan, “ya, akhirnya … aku sudah menunggu lama untuk ini, Stella. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik.”
Stella bergidik. Suara rendah itu sangat mengerikan ditambah lagi dengan seringai.
“Mulai acaranya!!”titah Jade.
__ADS_1
Rangkaian acara pemberkatan dimulai. Dan kini Stella sudah resmi menjadi istri Jade. “Welcome, Stella.”
Kehidupan baru Stella dimulai.
Lady, terima kasih atas mainan sahnya.
*
*
*
“Lady, apakah tidak masalah mengizinkan Jade menikah dengan wanita itu?”tanya Erin kala berkunjung ke kediaman utama Lawrence untuk menyampaikan beberapa hal.
“Apa yang kau khawatirkan, Erin?”tanya balik Roxena, tampak tidak ada kekhawatiran pada ekspresinya.
“Biar bagaimanapun Stella adalah anak dari seorang Raja. Apakah Anda percaya bahwa ia benar - benar menyerah?”
“Menyerah? Mungkin tidak. Tapi, apa kau meremehkan karakter Jade, Erin? Dia playboy manipulatif LS. Atau jangan-jangan kau sudah lupa dengan Jade yang sebenarnya?”
Mendengar itu, Erin langsung mengusap tengkuknya.
“Pria gila itu! Anda benar, Nona. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!!” Buru-buru menjawab demikian. Rocena tertawa renyah.
“Besok aku akan pergi beberapa hari, kau handle selama aku tidak di tempat,” ujar Roxena.
“Baik, Nona.”
Erin kemudian undur diri sebab urusannya sudah selesai. Roxena kemudian mengecek ponselnya. Jade mengirim foto pernikahan padanya, Tersenyum tipis.
“Lari dari mulut buaya dan mulut singa tapi malah terjerumus ke neraka. Stella, nikmatilah pilihanmu.”
*
*
*
“Kau tidak ikut?”tanya Gerald yang melihat Roxena tetap duduk di dalam mobil.
“Tidak ada yang mau aku sampaikan. Lagipula seharusnya kau mau membuat pengakuan padanya?”
Gerald tertawa canggung. Ia kemudian keluar dan menuju makam ibunda Roxena. Menunduk dalam memberikan penghormatan. Ekspresinya bersalah, merasa malu akibat kata-kata kasar yang pernah ia lontarkan di tempat ini. Kali ini datang untuk menebusnya.
Gerald kemudian berjongkok, untuk meletakkan beberapa tangkai mawar putih di atas makam. “Ibu.”
“Izinkan saya memperkenalkan diri sekali lagi. Saya Gerald Chaddrik, suami dari putri Anda, Xena. Ibu, saya ingin meminta maaf sekaligus bersumpah pada Anda. Saya sangat menyesal dengan kekasaran saya pada saat pertama kali mengunjungi Anda. Sungguh, saat itu saya benar-benar di luar kendali. Namun, saat ini saya sudah mendapatkan jawaban dan saya menyadarinya, saya mengakuinya bahwa saya sangat mencintai Xena, bahkan sudah begitu lama saya mencintainya.”
“Saya berharap Ibu merestui dan mendoakan hubungan kami.”
Gerald menarik nafas dalam. “Saya bersumpah akan menjaga dan membahagiakan Xena seumur hidup saya. Saya tidak akan menyakitinya. Saya bersumpah pada Anda, Ibu.”
Bukan janji melainkan sumpah. Tanggung jawabnya bukan lagi hanya kepada ibunda Roxena namun juga kepada Tuhan.
“Terima kasih karena telah melahirkan putri yang cantik dan kuat seperti Xena. Saya tidak akan pernah mengecewakan Xena lagi, saya bersumpah untuk itu.”
Setelah mengatakan semua yang ingin diungkapkan, Gerald kembali memberi penghormatan sebelum berbalik dan kembali ke mobil. “Sudah selesai?”
“Hm.”
__ADS_1
Roxena tidak bertanya lagi. Mereka meninggalkan area pemakaman. Dan besok, mereka akan berangkat pagi-pagi sekali untuk menghadiri acara pertemuan keluarga. Musim gugur sudah di ujung dan musim dingin segera datang. Artinya, tak lama lagi natal dan tahun baru akan segera tiba. Roxena benar-benar menantikan hal-hal yang semula menjadi angan dan duri dalam hatinya dibayar dengan tuntas.