
"Di mana Xena? Lalu ini di mana?"tanya Gerald menatap Erin.
"Nona … dia ada sedikit urusan. Akan kembali sebentar lagi. Lalu untuk pertanyaan kedua, baik saya atau Liu tidak punya hak untuk menjawabnya."
Gerald mengangguk paham. Tidak bertanya lagi karena rasa nyeri akibat lukanya. Erin dan Liu kembali izin keluar kamar.
"Ikut aku, Liu," ajak Erin setelah keduanya keluar dari kamar.
"Kemana?"tanya Liu mengekor.
Erin tidak menjawab. Langkahnya kian cepat hingga sedikit berlari. Dokter Liu mulai bisa menerka mau ke mana mereka.
"Erin!!" Tiba-tiba ada yang memanggil nama Erin. Erin sontak menghentikan langkahnya, menoleh ke sumber suara.
"Jade!"balas Erin.
"Kau mau ke mana?"tanya Jade penasaran.
"Rumah kaca. Kau sendiri, mengapa kembali? Sudah mendapatkan informasi penting?"tanya Erin tergesa-gesa.
Jade mengangguk, "tabir semakin jelas. Lady bisa mengambil langkah selanjutnya," jawab Jade serius.
"Kau kembalilah dulu, nanti kita bicara lagi!"ucap Erin kemudian langsung berlari lagi.
"Sampai nanti, Jade!"pamit Dokter Liu menyusul Erin. Jade menggaruk kepalanya. Penasaran mengapa keduanya buru-buru.
*
*
*
"NONA/LADY!!" Erin dan Dokter Liu berseru saat melihat Roxena yang duduk dan merebahkan kepalanya di atas meja bundar di tengah kebun mawar rumah kaca.
"Nona?" Erin menggoyahkan pelan tubuh Roxena.
Erin segera mengecek nafas dan denyut nadi Roxena. Matanya terbelalak sesaat, lalu menatap Erin, "bawa Lady ke klinik!"
Erin mengangguk, gegas menggendong Roxena yang tak sadarkan diri dengan suhu tubuh rendah. Wajah Erin cemas, lebih-lebih wajah Dokter Liu.
"Apakah sangat serius, Liu?"tanya Erin melihat raut wajah Dokter Liu. Dokter Liu sibuk memasang infus pada Roxena, lalu menyalakan penghangat ruangan. Kembali, ia mengecek denyut nadi Roxena.
__ADS_1
"Liu?"
"Gosok tangan Lady!" Roxena terkena hipotermia akibat berada di udara terbuka yang dingin dalam waktu yang lama.
Perlahan, suhu tubuh Roxena mulai stabil. Dan Liu bisa sedikit lega.
"Liu?" Erin kembali bertanya.
"Kau akan tahu nanti," jawab Dokter Liu, menekankan bahwa Roxena yang harus pertama kali mendengarnya.
"Lady membawa Senor ke markas, apakah menurutmu Lady bertindak karena panik atau memang berniat mengatakan identitas lainnya pada Senor?"tanya Dokter Liu.
Erin berpikir sejenak. Lalu menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa menerka apa yang dipikirkan Nona."
"Ugh!"
"Nona/Lady!"
Roxena membuka matanya perlahan. Bibirnya yang masih pucat bergerak mengatakan sesuatu, "air." Dokter Liu membantu Roxena duduk sementara Erin mengambil air hangat yang telah disiapkan sebelumnya.
"Bagaimana Gerald?"tanya Roxena lagi.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan Senor, Lady. Justru sebaliknya, kondisi Anda yang harus diperhatikan," ucap Dokter Liu.
"Apa maksudmu aku sakit parah?"tanya Roxena memicing tajam. Dokter Liu menggeleng. Lalu ia sedikit membungkuk memberi penghormatan.
"Penantian Anda telah usai. Anda hamil. Selamat, Lady!"ucap Dokter Liu lantang.
"Hamil?!" Erin berseru lantang sementara Roxena membeku. Ia teringat mimpi atau sesuatu yang terasa nyata itu.
Saya belum lahir. Ibu … saya selalu berdoa pada Tuhan, saya ingin menjadi anak Ibu. Saya harap keinginan saya segera terwujud, Ibu. Saya akan jadi anak yang baik. Saya mohon Ibu jangan membenci saya.
"Kita akan segera bertemu," gumam Roxena, mengusap perutnya canggung. Apakah itu pertanda? Benar, itu pertanda! Dirinya hamil, penantiannya telah usai. Langit masih berbaik hati padanya. Tak peduli dengan kondisi fisik dan mentalnya yang berantakan, dirinya tetap diberi kepercayaan memiliki seorang anak.
"Selamat, Nona!" Erin memeluk Roxena. Erin menangis haru. Roxena menepuk punggung Erin.
"Sudah berapa lama, Liu?"
"1 bulan, Lady."
__ADS_1
"Anda tidak senang, Nona?"tanya Erin melihat raut wajah Roxena. Terlihat biasa saja namun menyimpan beban mendalam. Apa yang dikhawatirkan oleh Roxena?
"Aku tidak bisa menentukan kapan dia akan hadir. Aku hanya menyayangkan dia hadir di tengah kekacauan. Aku berharap dia mampu bertahan dan berjuang bersamaku. Karena kedepannya, tidak akan hari damai dan bersantai. Musuh semakin menunjukkan diri dan keinginannya. Ambisi dan nafsu makan yang besar … merepotkan!!"
"Nona … Anda tidak sendirian. Light and Shadow adalah satu kesatuan. Anda cukup memberikan perintah maka kami akan melaksanakannya untuk Anda. Anda sedang hamil, tolong jangan memaksa diri," ucap Erin meminta.
"Erin benar, Lady. Light and Shadow tidak kekurangan orang berbakat dan dapat dipercaya. Mau itu Gerakan Misterius maupun pihak kerajaan, kami akan maju menyerbu!"timpal Dokter Liu.
"Aku percaya pada rumah yang aku bangun. Hanya saja … kehamilan ini, sebaiknya tidak disebarkan lebih dulu."
"Tapi, sampai kapan, Lady? Tubuh Anda tidak gemuk. Kehamilan Anda akan semakin terlihat hari demi hari. Apakah Anda berniat menarik diri dari khayalak untuk sementara waktu?"tebak Dokter Liu yang dibalas anggukan oleh Roxena.
"Mungkin itu lebih baik. Sekali lagi, selamat, Lady. Saya akan meresepkan vitamin serta beberapa hal lain untuk Anda." Dokter Liu undur diri, meninggalkan Roxena dan Erin berdua.
"Bagaimana cara Anda memberitahu pada Tuan, Nona?"tanya Erin membuka pembicaraan.
Roxena yang sesaat tenggelam dalam ingatan masa lalunya, menoleh menatap Erin. Mata hazelnya menunjukkan kabut keraguan. Ada kegelisahan di dalamnya.
"Jangan beritahu dia!"
"Aku mengingat kembali kehidupan lama. Ingatan itu membawakan dilema mendalam padaku. Selama ini, yang ku yakini ternyata keliru. Sementara aku telah berbuat dosa yang besar. Apa yang harus aku lakukan? Tanganku berlumur darah, aku juga membuat tangan orang lain bersimbah darah. Puluhan kehidupan terasa neraka bagiku. Aku tidak yakin … apakah bisa memutus takdir ini?"
"Jika bisa, penyakit hatiku sudah terlalu dalam. Bisakah diobati?"
"Bisakah aku mendapat kebahagiaan?"
"Pantaskah aku mendapatkan kebahagiaan ini? Sedangkan hubungan sebab akibat itu entah menjurus ke mana. Gerald, Regis, Elisa, aku berdosa pada mereka. Apa yang harus aku lakukan, Erin?"
Roxena menyandarkan kepalanya pada Erin. Erin mengusap lembut rambut Roxena. Mengapa hal bahagia ini masih tidak bisa menarik Roxena dari jurang?
Sebenarnya harus dengan cara apa?
"Nona … mungkin Anda bisa melepas dan menerimanya pelan-pelan."
"Maksudmu menerima cinta Gerald dan melepaskan dendam selama ini? Menerima takdirku, begitu?"tanya Roxena, menatap dalam Erin. Erin adalah orang yang paling dekat dengannya di kehidupan ini. Erin selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Kesetiaannya berada di level tertinggi.
"Benar, Nona. Saya tahu ini sangat sulit. Tapi, saya percaya Anda bisa melewatinya. Saya selalu menemani Anda, Nona." Erin tersenyum menyemangati Roxena.
"Terima kasih, Erin."
Roxena bersyukur memiliki Erin, sekretaris, asisten, dan sahabat terbaiknya.
__ADS_1