Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena
Bab 37 Penjara Cinta Roxena


__ADS_3

"Maafkan kami, Nona Erin. Kami belum menemukan pria yang dilukis oleh Lady." Beberapa orang anggota LS membungkuk di belakang Erin. Erin baru saja kembali dari kolam renang, selesai menuntaskan perintah Roxena.


"Menemukan orang kecil memang seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Kalian jangan berkecil hati. Cari terus, gunakan waktu kalian sebaik mungkin," ucap Erin. Ini sudah beberapa hari setelah perintah disebar. Menemukan orang dengan waktu yang tak singkat, tentu bukan orang sembarangan atau kemungkinan besar adalah orang kecil yang terkubur di antara jutaan manusia.


"Baik, Nona."


Beberapa anggota itu undur diri.


"Huff, yang dicari seorang pria. Tidak tahu apa yang akan dilakukan Nona setelah ditemukan," gumam Erin, lekas melanjutkan langkahnya menuju kamar.


*


*


*


"Ternyata hubungan suami istri mampu mengembalikan mood."


Roxena tengah menikmati sore hari ditemani dengan segelas wine dan juga cemilan yang dibawakan oleh Sophia. Sore yang benar santai dan rileks.


Tok


Tok


Roxena menolehkan wajahnya ke arah pintu.


"Masuk!"


Itu Lily. "Tuan Besar datang, Nona," ucap Lily memberitahu.


Roxena seketika menurunkan kakinya dari sofa, menaikkan alisnya tak percaya. "Dalam rangka?"


Lily menggeleng tak tahu. "Tuan Besar ada di ruang tamu, Nona. Beliau datang bersama dengan kepala pelayan, juga membawa bingkisan," ujar Lily, kembali memberitahu.


"Aku mengerti." Roxena bangkit. Dan segera melangkah keluar kamar.


"Xena!" Tuan Lawrence langsung sumringah dan berdiri, menyambut kedatangan Roxena dengan tangan terentang, meminta pelukan. Sayang, Roxena menatap itu dingin.


"Alasan kedatangan?"tanya Roxena tanpa banyak kata. Ia bahkan tak duduk. Tuan Lawrence kecewa. Namun, secepat mungkin ia tetap mempertahankan senyumnya. Roxena mau datang menemui dirinya saja sudah syukur.


"Anda kan tidak pernah datang kemari. Untuk apa?" Roxena kembali bertanya.


"Nona Besar, Tuan datang karena sangat merindukan Anda. Karena Anda sekarang adalah seorang Presdir, tentu sulit untuk datang berkunjung ke kediaman utama. Jadi, Tuan lah yang datang pada Anda," jelas Kepala Pelayan, juga tersenyum lebar pada Roxena.


"Oh."


"Sudah bertemu. Silahkan kembali." Roxena enggan menerima tamu. Ia ingin bersantai menyendiri. Ditemani dengan minuman favoritnya. Namun, alasan utamanya adalah Roxena tak ingin bertemu dengan Tuan Lawrence. Menurutnya, hubungan itu telah usai saat ia menjadi kepala keluarga Lawrence.


"Xena. Duduklah dulu. Ayah ingin berbincang denganmu. Lihat ini, Ayah bawakan kesukaanmu, Anda membawa kue paling terkenal di kota ini untuk membuatnya," bujuk Tuan Lawrence memelas, seraya membuka keranjang yang disebut bingkisan oleh Lily tadi.


Di dalamnya terdapat banyak makanan. Ada sponge cake, semifreddo, dan juga permen yang terbuat dari kelopak mawar. Itu adalah favorit Roxena sewaktu kecil. Namun, setelah sang ibu meninggal, Roxena tidak pernah lagi menyantapnya. Pernah, namun kue masa kecilnya itu berbeda karena ada campuran mawar di dalamnya.


"Aku tidak suka manis," tolak Roxena.


"Xena, tidak mungkin kau tidak menyukai ini. Dulu kau selalu meminta ini, kan? Xena, tolong jangan karena kesalahanku, kau menghilangkan semua kenangan manis tentang ibumu." Tuan Lawrence tergugu.


"Kenangan manis apanya?"gumam Roxena jengah.


"Aku bukan anak kecil lagi. Jika tujuan Anda hanya untuk bertemu dan memberikan ini, urusan Anda sudah selesai!!"ucap Roxena, sekali lagi meminta Tuan Lawrence untuk meninggalkan apartemennya.


Kepala pelayan membisikkan sesuatu pada Tuan Lawrence. "Baiklah. Ayah akan pulang. Jangan lupa dimakan, okay? Titip salam untuk suamimu." Tuan Lawrence dan kepala pelayan meninggalkan apartemen Roxena.


Sejenak Roxena menatap punggung Tuan Lawrence. Langkah kakinya sudah tak begitu tegas lagi. Sedikit lambat. Roxena menghela nafasnya lalu menatap keranjang rotan yang ditinggalkan.


"Ibu kan tidak bisa masak apalagi membuat ini. Anda berbohong," gumam sendu Roxena. Kenangan masa kecil terbayang di benaknya.


Ibunya sangat menyukai mawar. Sehingga ada kebun mawar di kediaman utama keluarga Lawrence. Ibunya sangat menyukai hidangan dari mawar, apapun bentuknya. Dan itu menurun pada Roxena.


"Padahal Anda yang membuatnya."

__ADS_1


"Nona, kue dan permen ini?" Lily mendekat.


"Simpan saja di pendingin. Sajikan saat makan malam," ucap Roxena. Ia kembali ke kamarnya dengan membawa toples berisikan permen mawar itu.


Lily menggeleng pelan. Nonanya itu memang tsundere.


"Halo, Erin."


"Ya, Nona."


"Bangun rumah kaca di markas untuk dijadikan kebun mawar. Tanam semua varietas mawar yang ada di dunia!"titah Roxena.


"Bukankah kita sudah punya kebun mawar sendiri, Nona?"tanya Erin tak paham dengan perintah Roxena.


"Khusus untukku. Bangun di dekat danau, pastikan posisinya cocok untuk melihat matahari terbit dan tenggelam!"jawab Roxena menegaskan.


"Baik, Nona." Erin tak banyak tanya lagi. Segera menyanggupi. Panggilan berakhir.


Roxena kembali memasukkan permen kelopak mawar ke dalam mulutnya. Rasa manis gula dan mawar itu sendiri pecah di mulut. Ditambah dengan aroma mawar yang khas. Ada beberapa warna kelopak yang digunakan, tidak semuanya mawar merah.


"Rasanya tidak berubah."


*


*


*


Hidangan makan malam sudah tersaji di meja makan. Lengkap dengan dessert nya. Akan tetapi, penikmat hidangan itu belum lengkap. Gerald tidak ada di tempatnya. Sejak Roxena melampiaskan amarahnya tadi, Gerald sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Mungkin tengah meringkuk di atas ranjang. Atau meratapi nasib. Roxena memutar-mutar pisau makan di tangannya.


Ia masih menunggu. Barangkali Gerald keluar. But, kesabaran yang ia pupuk agar tidak setipis kertas habis sudah.


BRAKK!!


Kesal. Ia menggebrak meja. Hidangan yang tersaji rapi agak berantakan karenanya. "Memangnya aku melakukan apa padanya? Jika hubungan suami istri saja tidak bisa, untuk apa dia jadi suamiku, sialan!!"


"Nona tolong jangan marah. Mungkin Tuan kelelahan," hibur Sophia.


"Biarkan saja. Tak usah antar apapun padanya!"ucap Roxena yang melihat Lily hendak mengantar makan malam untuk Gerald. Roxena yang terlanjur kesal, tak menyentuh makan malamnya, meninggalkan meja makan dengan membawa dessert yang ada.


Lagi, kedua pelayan wanita itu menghela nafas mereka.


Tarik ulur terus. Sudah cukup baik bertengkar lagi. Nona yang keras kepala dan mendominasi lalu Tuan yang keras juga. Keras sama keras, yang mana yang akan hancur lebih dulu?


*


*


*


"Dia benar-benar menghindariku?" Roxena bertanya dengan wajah terkejut. Gerald sudah pergi bekerja sebelum waktu sarapan. Ingatannya kembali pada beberapa hari lalu. Setidaknya masih ada perbincangan.


"Huh! Lihat saja, sampai di mana kau bisa menghindariku, Gerald!" Roxena kehilangan selera. Ia meninggalkan meja makannya.


"Suasana hati Nona mudah sekali berubah semenjak menikah. Bagaimana ini? Nona tidak makan malam juga tidak sarapan. Jika makan siang dilewatkan juga, bukankah Nona agak maag?"cemas Lily.


"Hubungi asisten Erin. Biar dia yang mengurusnya," tanggap Sophia. Hanya Erin yang mampu membuat Roxena sedikit lunak dan menurut.


Lily segera melakukannya.


*


*


*


"SEA Group mengirim undangan gala dinner yang akan dilaksanakan akhir pekan ini, Nona."


Erin menunjukkan undangan tersebut. Roxena melihatnya. "SEA Group, mereka pesaing kita, bukan?"tanya Roxena. Desain undangan itu mewah. Hanya melihat sampul kemudian meletakkannya kembali.

__ADS_1


"Untuk apa mengundang rival?" Roxena enggan datang.


"Meskipun rival, tidak mungkin terang-terangan kan, Nona? Lawrence Group bukan perusahaan kecil. Jika kita tidak di undangan akan menimbulkan kesan negatif pada SEA Group. Atau mungkin mereka ingin menunjukkan kekuasaan. Saya dengar, ada ratusan undangan yang disebar dan juga mengundang pihak kerajaan. Jadi, ini bukan gala dinner biasa, Nona!"jelas Erin. Roxena berdecak. Intinya SEA Group ingin pamer. Gala dinner itu pasti menghabiskan banyak dana. Dibandingkan dengan perayaan penobatannya yang sederhana, kalah jauh.


"Harusnya aku buat mewah saja kemarin."


"Omong-omong dalam rangka apa?"


"Dalam rangka menyambut kepulangan pewaris SEA Group, Nona. Sekaligus merayakan naiknya pewaris menjadi Presdir baru SEA Group. Ini adalah biodata dan beberapa catatan mengenai pewaris yang sudah lama berada di luar negeri. Mungkin bisa membantu jika dia mencari masalah dengan Anda," jelas Erin, memberikan sebuah map pada Roxena.


Roxena tersenyum. Erin memang dapat diandalkan.


"Oh ya, pihak kerajaan diundang, menurutmu apakah ada hubungan di antara keduanya?"tanya Roxena, ingin mendengar pendapat Erin. Sebab teringat dengan pimpinan Sky yang sudah tiada. Dalang dibalik itu belum diketahui dan kecurigaan Roxena pada pihak kerajaan belum padam. Ia hanya terus mencari untuk mendapatkan bukti yang akurat sebelum membalas semuanya.


"Saya tidak bisa memastikannya, Nona. Pihak kerajaan jarang menampilkan kecondongan mereka. Mereka cenderung netral di depan. Mereka selalu mengirim perwakilan untuk menghadiri undangan tersebut," jawab Erin.


"Itu mudah! Lihat saja siapa yang datang, itu menunjukkan kecondongan mereka," sahut Roxena santai.


Erin terkesiap. Benar juga! Mengapa tidak terpikir olehnya.


"Kembali bekerja."


"Si, Nona." Erin undur diri.


"Gala dinner, ya?" Bergumam sembari mengetukkan jari ke meja.


"Membawa pasangan, bukan?"


Roxena tersenyum. Ia sudah mendapatkan rencana untuk gala dinner itu.


*


*


*


"Kalian sudah dengar kabar itu? Itu kabar tentang jadwal Prof. Gerald yang dibagi ke dokter lain. Bahkan kepala departemen juga mendapatkan bagian."


"Aku setuju dengan itu. Sejak Prof. Gerald datang, beliau mengerjakan banyak operasi dan jadwalnya sangat padat, berbeda dengan jadwal kepala departemen. Menurutku itu tidak masalah."


"Iya, sih. Tapi, bukan itu intinya!"


"Lantas?"


"Dengar-dengar pengurangan jadwal itu diperintahkan langsung oleh Presdir Lawrence Group. Bukankah itu menyalahkan gunakan kekuasaan untuk mengistimewakan seseorang?"


"Sttt! Jaga kata-katamu! Dinding punya telinga!" Membekap mulut temannya. Beberapa perawat itu tengah bergosip. Membicarakan gosip yang tengah hangat di departemen mereka.


"Meskipun itu penyalahgunaan kekuasaan, itu tidak merugikan kita. Jika hanya jadwal Prof. Gerald yang padat tentu tidak adil. Justru kepala departemen yang tidak kompeten. Aku setuju dengan tindakan Presdir. Lagipula, rumah sakit ini di bawah kuasanya dan Prof. Gerald adalah suami beliau, menurutku wajar saja. Bahkan jika Prof. Gerald dijadikan sebagai kepala departemen ataupun direktur rumah sakit, tidak akan ada yang protes. Prof. Gerald kan punya kemampuan." Perawat dengan alis tebal membela Gerald. Ada yang pro dan ada yang kontra. Adapula yang tidak ambil pusing, toh tidak merugikan mereka.


"Hm, benar juga apa yang kau katakan. Huh! Kuasa orang dalam memang amazing!!"


"STT! Aku bilang jangan menjelekkan Prof. Gerald!!"


"Hei, Letta, apa kau pernah mendengar ini?" Perawat beralis tebal itu bernama Letta.


"Apa?"


"Katanya Prof. Gerald sudah pernah menikah di negara asalnya. Tapi, karena terpincut dengan Presdir, beliau meninggalkan istrinya. Itu … kejam dan baj*ingan, kan?!"


"Benarkah?!"


"Sungguh, kau jangan mengada-ada. Bisa bahaya jika terdengar atasan. Presdir itu berdarah dingin." Letta kembali mengingatkan teman-temannya.


"Sungguh. Tapi, aku kan hanya dengar kabar angin, hehehe." Menyengir. Disambut dengan senyum simpul Letta.


"Sudahlah. Toh bukan urusan kita juga. Ayo kembali bekerja," ajak Letta.


"Ayo!"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, percakapan itu terdengar oleh yang bersangkutan. Wajah Gerald mengeras, wajahnya menggelap. "Roxena!" Mendesis geram.


__ADS_2