
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹
"Pagi Rein". Sapa Echy duduk dikursi meja makan "Sarapan apa hari ini kita?". Tanyanya
"Seperti biasa roti dengan selai strawberry dan Kakak tidak boleh makan makanan yang berat pagi hari". Rein memberikan diri yang baru saja dia olesi dengan selai strawberry.
Echy merenggut kesal "Apa tidak bisa bubur saja adikku sayang?". Tak lupa Echy menampilkan puppy eyes nya.
"No... No.. No.. Besok baru makan bubur". Ujar Rein sambil menggoyangkan jari telunjuk nya.
"Ya baiklah". Ketus Echy sambil memutar bola matanya malas.
Echy mengigit roti itu dengan kesal. Sejak dia diponis penyakit mematikan itu, makan pun tidak boleh sembarangan dan harus dalam pengawasan adiknya yang calon dokter itu.
"Bagaimana kuliahmu?". Tanya Echy sambil menguyah rotinya.
"Seperti biasa, akan menyebalkan jika bertemu dengan dosen killer itu". Ucap Rein setengah kesal.
"Hmmm, Kakak pikir ada baiknya juga jika ada dosen killer dikampus mu. Sebagai penyemangat agar kau rajin kuliah". Celetuk Echy cekikikan melihat wajah kesal adiknya.
Rein mencebik kesal "Ya, dan sayangnya Rein tidak sepintar Kakak". Echy terkekeh pelan
Setelah makan seperti biasa Rein akan mengantar Kakaknya itu berangkat ke kantor. Tabungan Echy belum cukup untuk membeli mobil mewah. Dia sedang mengumpulkan uang untuk membelikan adiknya itu mobil, agar tidak setiap hari ke kampus pakai motor.
Echy masuk kedalam gedung pencakar langit itu dengan senyuman menggembang. Tak lupa dia menebarkan senyum mempesona pada siapa saja yang dia jumpai.
"Pagi Nona Echy".
"Pagi semua".
Echy meletakkan tasnya diatas meja. Dia tersenyum hangat melihat para bawahannya sudah berada dimeja masing-masing dan mengerjakan pekerjaan mereka.
Sebagai seorang pemimpin Echy memang harus memberikan contoh yang baik terutama dalam kedisplinan waktu agar datang tepat waktu dikantor dan mengisi absensi masuk serta finger print.
"Pagi Nona, ini laporan pendapatan bulan ini". Ucap salah satu pengawai Echy.
"Oh oke. Terima kasih". Dia mengambil berkas itu "Apa semua yang saya minta ada disini?". Tanyanya
"Sudah Nona".
Echy berdiri dan membawa berkas serta tasnya menuju ruangan Sean. Hari ini adalah pertemuan nya dengan pemilik perusahaan RDW Group.
"Pagi Tuan Sean". Sapanya.
Wajah Sean langsung sumringah saat melihat siapa yang datang. Pria itu meletakkan berkas ditanganya dan segera menyambut Echy.
__ADS_1
"Bagaimana apakah sudah siap?". Tanyanya tapi katanya terfokus pada wajah cantik Echy.
"Sudah Tuan. Semua data yang anda minta sudah saya siapkan. Apakah kita bisa berangkat sekarang?".
"Ohhh tentu. Ayo".
Echy dan Sean keluar dari ruangan CEO. Diikuti oleh Willy dibelakang mereka. Jika masalah pekerjaan Echy adalah gadis yang serius dan tidak suka bermain-main.
Sejujurnya dia kurang nyaman dengan kedekatan pada Sean. Tapi Echy berusaha profesional karena Echy tidak mau kinerjanya diganggu oleh pikiran nya yang kacau itu.
Ketiga orang itu masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan selalu ditemani dengan obrolan hangat.
"Kau ini.......". Sean gemes sendiri.
"Kakak. Jangan pegang-pegang". Ketus Echy memukul pelan lengan Sean yang mengacak rambutnya.
Sean hanya terkekeh gemes. Setiap kali dia mengacak rambut Echy rasanya dia bahagia. Tapi berbeda dengan Echy dia sedikit terganggu dan tidak suka. Bagi Echy tidak ada yang boleh menyentuh tubuhnya sembarangan walaupun itu hanya rambut dan hanya sebuah candaan.
"Kenapa rambutmu rontok?". Sean mengambil beberapa helai rambut yang menempel dibaju belakang Echy.
"Seperti biasa salah pakai shampoo". Jawab Echy asal. Padahal dalam hati dia sudah panik. Takut jika Sean curiga.
"Kan sudah tahu salah shampoo kenapa masih dipakai?". Sean geleng-geleng kepala heran.
"Ya Kakak tahu kan jika wanita itu mahkluk ajaib yang selalu suka melakukan kesalahan tapi tidak mau disalahkan".
Sean terkekeh. Begitu juga dengan Willy yang menyetir. Terbiasa dengan ocehan Echy membuat kedua pria itu tak heran lagi.
Seorang pria tengah menatap kosong keluar jendela ruangannya. Jantungnya berdegup kencang. Beberapa kali dia memegang dadanya agar detak jantungnya normal.
"Mereka sudah dimana Ben?". Tanyanya menarik nafas dalam.
"Dalam perjalanan kesini Tuan". Sahut Ben.
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya Ben? Jangan sampai gadisku curiga". Ujarnya
"Semuanya beres Tuan".
Kembali pria itu menatap keluar jendela ruangannya. Hari ini adalah hari yang dia nantikan, dimana dia akan berpapasan secara langsung dengan gadis nya itu.
"Aku merindukan mu sayang. Semoga pertemuan kita ini tidak membawa kebencian dihatimu. Maafkan aku". Gumamnya sambil memejamkan mata berusaha menahan gugup dihatinya.
Ben hanya melihat saja. Dia turut prihatin dengan kehidupan Tuan-nya ini. Setelah kehilangan yang cukup membuatnya menguras emosi. Dia juga harus pergi meninggalkan cinta yang sebentar lagi berakhir di pelaminan. Dan semua hancur dalam sekejap.
"Saya berharap anda selalu bahagia Tuan. Semoga Nona memberi anda maaf. Meski ini terlalu sulit untuk Nona". Batin Ben.
__ADS_1
Selama bertahun-tahun mengikuti Tuan-nya tentu Ben tahu seperti apa kehidupan pria itu. Tidak mudah memang tapi harus dijalani bukan.
Drt drt drt drt drt drt
Ponselnya berbunyi. Segera pria itu meronggoh saku celananya dan mengambil benda pipih itu.
"Hallo Son". Sapanya tersenyum ramah saat melihat gambar bocah tampan dilayar ponselnya.
"Daddy, Daddy pulang jam belapa?". Tanya seorang bocah tampan dengan wajah imut dan menggemaskan nya.
"Ehem, Daddy usahakan pulang cepat. Kenapa Son?". Tanyanya.
"Tidak. Aku hanya ingin Daddy pulang cepat, agar bisa belmain". Ujarnya
"Baiklah akan Daddy usahakan". Senyumnya
Setelah menelpon putranya dia mematikan sambungan telponnya.
"Tuan mereka sudah datang dan menunggu diruang meeting". Ucap Ben sambil memberi hormat.
"Baik".
Dia itu memperbaiki dasi dan jasnya yang sedikit bergeser. Tak lupa dia sedikit merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
Dia memaksakan senyum diwajah dinginnya dan berharap semua akan baik-baik saja
"Silahkan Tuan".
Dia keluar dari ruangan CEO dan berjalan dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celana kanan dan kirinya. Tatapannya tajam dan juga dingin. Seolah mampu menebus Indra penglihatan siapa saja.
Dia tampak tenang. Padahal dalam hati, dia sebenarnya sedikit gugup dan was-was. Dia akan berusaha untuk menahan emosi nya untuk tidak memeluk gadis yang dia cintai itu. Hanya ingin bertemu dan memastikan jika gadis itu baik-baik saja.
Sampai didepan pintu ruangan meeting beberapa kali pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Gugup, jelas saja gugup sekian waktu lama berlalu hari ini dia akan melihat wanita yang dia cintai selama ini.
Ben membuka pintu agar pria itu segera masuk. Disana sudah ada dua orang pria tampan dan seorang gadis cantik yang tampak sibuk dengan iPad ditangannya, ada bulu agenda dan pulpen juga diatas meja.
"Apakah sudah menunggu lama?".
Deg
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Bersambung.........