Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kau masih beruntung


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Berhenti menyakiti dirimu". Suara Echy naik satu oktaf "Bayi dalam kandungan mu tidak bersalah. Kenapa kau ini keras kepala sekali?". Echy mulai geram.


"Oke kalau Kakak tidak mau bayi itu dan menikah dengan Kak Sean silahkan bunuh diri saja Kak". Echy mengambil silet diatas nakas "Akhiri hidupmu Kak jika kau benar-benar ingin melihat Dilsa dan Ibu mu menderita. Kau pikir dengan kau mengugurkan bayi itu dan bunuh diri semua akan kembali seperti sedia kala?". Echy menggeleng "Tidak Kak. Kau hanya akan menambah masalah. Kau hanya akan menambah beban". Deska terdiam sambil melihat tangan Echy yang menyedorkan silet padanya. Sementara Dilsa sudah ketakutan bukan main.


"Kau tidak boleh egois dan hanya mementingkan perasaan mu sendiri. Kau tidak hanya menyakiti dirimu. Tapi juga menyakiti orang-orang yang mencintaimu Kak". Echy menatap Deska yang terdiam juga menatapnya "Kau pikir hanya kau saja yang mengalami hal seperti ini? Kau tidak tahu bagaimana kisah hidupku. Aku_".


Echy yang menangis dan terisak. Dia paham perasaan Deska. Sama dia juga hancur


"Aku kehilangan kedua orang tua ku dihari yang sama. Harta benda. Cinta. Semua nya hilang dalam waktu yang begitu singkat Kak. Aku terpuruk. Aku tidak punya siapa-siapa. Tidak ada ada Ayah. Tidak ada Bunda. Benar-benar hidup sendiri. Kau masih beruntung memiliki Ibu yang menjadi alasan untuk kau tetap bertahan dan berjuang ditengah kejamnya dunia ini". Echy menangis tersedu-sedu. Deska menatap wanita cantik itu juga dengan mata berkaca-kaca.


"Dan kau tahu satu hal Kak. Saat tahu aku hamil, aku bahagia sekali. Tapi ada satu kenyataan pahit lagi yang menghancurkan hatiku. Kehamilan ku akan mempertaruhkan nyawaku, dokter menyarankan agar aku mengugurkan bayi ini".


"Tapi aku tidak mau Kak. Bagaimana bisa seorang Ibu membunuh anaknya? Bagaimana bisa seorang Ibu tega membunuh darah dagingnya agar dia tetap hidup? Aku tidak akan pernah melakukan itu. Dia adalah anugrah yang Tuhan berikan padaku. Jika aku harus mati karena melahirkannya, itu adalah bentuk kasih sayangku padanya". Dada Echy terasa benar-benar sesak.


"Kau masih beruntung. Kau sehat. Kandungan mu tidak bermasalah. Tapi kenapa kau ingin membuang nya? Apa karena Kak Sean? Apa karena anak itu adalah oleh sebuah kesalahan? Apa menurutmu dia tidak layak mendapat kan cinta dari kedua orangtuanya? Jawab aku Kak. Jawab?". Echy menguncang-guncang tubuh Deska sambil menangis kuat.


Harusnya Deska bersyukur memiliki tubuh yang sehat. Kehamilan nya tidak bermasalah. Sementara Echy, nyawanya adalah taruhannya. Tapi Echy tidsk pernah berniat membuang anaknya


"Jawab aku Kak jangan diam saja. Jangan egois Kak. Jawab aku. Jawab?". Echy masih menguncang-guncang tubuh Deska


"Harusnya kau bersyukur Kak, Kak Sean mau bertanggungjawab dan mau menikahi. Coba kau bayangkan jika laki-laki lain yang melakukan nya. Mungkin dia sudah memilih acuh dan tidak mau tahu dan bahkan dia merasa beruntung karena mengambil mahkota Kakak. Tapi lihat Kak Sean Kak, dia terus mendatangi mu, membujuk mu, membuktikan padamu bahwa dia sungguh menyesal. Apa kau tidak lihat betapa dia juga terluka Kak. Kalian sama-sama terluka. Kalian sama-sama kecewa. Ada yang lebih kecewa lagi?". Echy mengusap perut rata Deska "Ini. Dia kecewa melihat Ibunya yang keras kepala".


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks".


Tangis yang tadi tertahan akhirnya tumpah. Ucapan Echy membuat hati Deska terasa koyak dan hancur seperti diremes-renes.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks".


Echy merengkuh tubuh lemah Deska. Dia paham perasaan wanita ini. Dia pernah mengalami ini. Berkeras hati memaafkan Regan, dan dia hampir kehilangan pria itu yang rela berkorban demi menyelamatkannya.


"Belajarlah untuk menerima Kak Sean dan anak Kakak. Kalian pasti bisa bahagia jika saling memaafkan". Butiran bening lolos di mata Echy.


Deska memeluk Echy dengan erat. Dia menangis sepuasnya sambil terisak, tersedu-sedu terhebat- hebat dan tak peduli seberapa banyak air mata yang berjatuhan. Dia hanya ingin menangis dan menangis sekuat mungkin.


"Aku tahu Kakak bisa. Kakak kuat. Kakak wanita hebat". Ucap Echy.


Dilsa ikut menangis bersama kedua wanita itu. Dilsa yang tidak mengalami saja paham arti sakit nya dihati Deska.


Echy melepaskan pelukannya. Lalu menyeka air mata Deska.


"Kak".


"Kakak mau kan menikah dengan Kak Sean? Kalau tidak mau menikah cepat. Kalian saling mengenal lah. Sebelum perut Kakak membuncit". Senyum Echy


Deska terdiam sejenak seperti sedang berpikir keras.


"Tapi dia tidak mencintaiku. Dia menikahi ku hanya karena kasihan". Jawab Deska.


"Kak cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kak Sean itu pria baik-baik Kak. Dia mau bertanggungjawab sudah membuktikan bahwa dia calon suami dan Ayah yang baik untuk Kakak dan anak Kakak nanti". Ujar Echy lagi.


Deska mengangguk "Aku akan mencoba membuka hati untuk nya". Jawab Deska yakin


Echy tersenyum lembut. Tidak sia-sia dia datang kesini tadi. Padahal jujur saja dia sudah ketakutan.

__ADS_1


"Siap. Kakak pasti bisa".


"Kak". Dilsa berhambur memeluk wanita itu "Hiks Kak, akhirnya kau sadar juga Kak. Dilsa benar-benar takut Kak". Ujarnya


"Maafkan Kakak Dil. Kakak sudah menyakiti mu dan Ibu".


Dilsa melepaskan pelukannya dan menggeleng "Tidak Kak. Kami menyanyangi mu". Sahutnya lagi.


"Wahhh senang sekali rasanya". Echy menyimpan silet ditangannya dan memasukkan benda berbahaya itu kedalam laci nakas "Kak kau tahu tidak tadi aku sebenarnya tidak berani memegang silet itu. Untung saja kau tidak jadi bunuh diri. Bisa jantungan aku melihat darah lagi". Celetuk Echy.


Deska dan Dilsa terkekeh bersamaan. Benar kata Rein, jika Kakak nya ini wanita gresek.


"Ya sudah Kak. Ayo kita keluar, menemui calon suami Kakak". Echy bangkit dan menarik tangan Deska.


Deska tampak ragu. Sebenarnya dia masih takut. Tapi tidak bisa begini terus


"Kakak masih takut?". Deska mengangguk "Tidak perlu takut Kak, Kak Sean itu pria tampan bukan pocong beranak jadi dia tidak akan menakuti Kakak". Celetuk Echy lagi.


Dilsa menutup mulut menahan tawa. Sementara Deska langsung tersenyum hangat. Dia tidak menyangka jika istri CEO seperti Echy ternyata wanita bar-bar juga yang bicara asal keluar.


"Ayo Kak". Echy dan Dilsa memapah Deska keluar dari kamar.


"Sayang". Regan langsung menarik Echy dan memeluk "Kau tidak tahu betapa panik nya aku sayang?".


Mendengar teriakkan Deska dari dalam membuat Regan ketakutan bukan main. Jika bukan Rein dan Ben yang memasung tubuh pria itu sudah pasti dia akan menobrak pintu dan memaksa untuk masuk.


Echy membalas pelukkan suaminya. Bahagia rasanya dikhawatirkan merasa berarti dan dimiliki.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2