
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Maaf Nona Echy anda dipanggil Tuan Sean". Ujar Willy, asisten Sean.
"Ada apa Tian Willy?". Tanya Echy sedikit heran.
"Mungkin ada penting Nona. Silahkan Tuan sudah menunggu diruangan nya".
Echy menghela nafas panjang. Dia berusaha menjauhi Sean karena tidak mau salah paham nantinya. Apalagi Sean sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
Echy melangkah menuju ruangan Sean. Dia menyanyangkan makanan nya yang baru saja dia pesan. Kalau dia habiskan duluan makanan nya pasti akan membuat Sean kesal karena menunggu nya terlalu lama.
Echy masuk. Sean terkekeh melihat wajah kesal gadis itu. Wajah Echy yang terlihat kesal justru menggemaskan dimata Sean.
"Ada apa Tuan Boss memanggil saya?". Tanya Echy malas
Sean terkekeh gemes "Duduk". Perintahnya.
"To the point saja Boss. Pekerjaan saya masih banyak". Ketus Echy
"Dan saya Boss nya. Jadi jangan banyak protes". Ujar Sean "Buka". Sean memberikan dokumen pada Echy.
"Dokumen kerja sama?". Kening Echy berkerut heran
"Iya dan saya mau, kau menangani proyek kerja sama bersama RDW Group". Sahut Sean
Echy terdiam sejenak. Seperti nya nama perusahaan itu tidak asing dan dia seperti pernah mendengar nya. Tapi dimana dan kapan??
"Kenapa harus saya?". Tanya Echy heran
"Karena anda yang membuat proposal nya". Balas Sean tersenyum simpul. Echy sangat manis dimatanya
"Ya baiklah karena anda Boss nya dan saya hanya mengikuti perintah anda saja Tuan". Ketus Echy.
"Terima kasih atas kerjasamanya Nona". Goda Sean.
"Ya sudah saya permisi Tuan. Dan kapan kita akan bertemu pemilik perusahaan ini?". Tanya Echy sembari berdiri diekori oleh Sean yang akan mengantar gadis itu sampai pintu.
"Besok Nona Manis". Sean mengerlingkan matanya jahil.
"Kondisikan matamu Tuan, jika tidak mau kujadikan makanan Clue". Ancam Echy .
Sean malah terkekeh. Sudah biasa kedua orang itu bercanda. Jika hanya berdua mereka selayaknya sahabat biasa. Tapi jika ada orang maka mereka akan bersikap profesional.
__ADS_1
Echy keluar dari ruangan Sean dengan pria itu yang membukakan pintu untuknya.
Sean menatap punggung Echy yang menjauh dari ruangannya. Semakin hari gadis itu semakin manis dan menarik hati. Ahhh rasanya Sean ingin memiliki gadis itu. Tapi sedikit sulit. Echy ini gadis berbeda. Tidak seperti gadis lain. Dia sedikit sulit untuk didekati.
Echy membawa berkas yang diberikan Sean. Gadis itu membeku sesaat saat merasakan kepalanya sakit bukan main. Pandangan nya kabur. Segera gadis itu duduk untuk menenangkan perasaannya. Akhir-akhir ini dia sering merasakan kepalanya sakit luar biasa.
Echy menarik nafas dalam. Tidak. Tidak. Dia tidak boleh pingsan. Seperti kata dokter jika dia tidak kemoterapi minggu-minggu ini kemungkinan tubuhnya akan benar-benar drop.
Echy menyambar tasnya. Gadis itu berjalan menuju toilet sebelum Kelly.
"Nona Echy apa kau baik-baik saja?". Tanya salah satu pengawai yang satu divisi dengan Echy.
"Saya baik-baik saja". Echy memaksakan senyumnya.
Segera gadis itu masuk kedalam kamar mandi dan mengunci kamar mandi. Echy menarik nafas dalam. Echy merasakan lelehan merah mengalir dihidung nya.
Echy menatap pantulan dirinya dicermin. Benar darah mengalir dihidungnya. Ini kedua kalinya dia mimisan sejak diponis penyakit mematikan itu.
Gadis itu membersihkan darah dihidungnya dengan pelan. Air mata luruh dipipi cantiknya. Tak bisa dia bayangkan diusia semuda itu, dia harus menderita penyakit mematikan. Echy berusaha kuat tapi pada kenyataannya dia hanyalah gadis lemah.
Echy menangis dalam diam. Dia bukan tidak menerima takdir dirinya. Hanya saja dia kasihan pada adiknya Rein yang harus menjaganya dan merawat dirinya. Harusnya dia yang menjaga adiknya itu dan memberikan kasih sayang pada Rein.
"Kau harus kuat Echy, ingat ada Rein yang harus kau bahagiakan". Dia menyeka air mata yang leleh dipipinya
Echy menempel kan bedak tabur diwajah nya agar tidak pucat. Tak lupa dia juga mengoleskan sedikit lipstik dibibir seksinya. Sehingga wajah pucat gadis itu tisak terlihat jelas
"Hai Rein". Sapanya dengan senyum sumringah.
"Kakak". Senyum Rein "Pakai helm dulu Kak". Rein memasangkan helm dikepala munggil Echy. Kakaknya ini sungguh manja.
"Terima kasih Tampan". Goda Echy.
"Sama-sama Cantik". Balas Rein "Ayo naik. Adik tampanmu siap mengantarmu kemana saja?". Ujar Rein.
Echy terkekeh. Dia naik keatas motor dengan manjanya dia memeluk pinggang adiknya itu.
"Pegangan yang kuat".
"Siap".
Rein menjalankan motornya meninggalkan gedung pencakar langit itu. Sejak Kakaknya drop kemarin dia menjadi sedikit posessif. Dia membagi waktu untuk mengantar jemput Kakaknya itu. Dia harus memastikan bahwa sang Kakak baik-baik saja.
Tanpa Echy dan Rein sadari sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Pria itu tersenyum simpul melihat gadisnya tersenyum, manis sekali. Meski dia tahu jika senyum itu adalah senyum palsunya. Tapi setidaknya gadisnya itu tidak bersedih karena memikirkan kondisinya.
__ADS_1
"Ben jalan".
"Baik Tuan".
Regan memilih memantau Echy secara langsung. Sejak tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh gadisnya itu dia panik, khawatir dan akan berjuang mendapatkan kembali cinta Echy.
"Ben apa kau sudah menyelidiki hubungan Sean dan Echy?". Tanyanya tapi tatapannya menuju keluar jendela.
"Sudah Tuan. Menurut informasi yang saya dapatkan dari anak buah kita, mereka hanya sebatas Boss dan anak buah. Tuan Sean sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah". Jelas Ben sambil menyetir.
"Bagus. Awasi terus gadisku itu. Pastikan dia aman dan nyaman. Utus pengawal bayangan sebanyak mungkin untuk menjaganya. Jangan sampai ada yang berani melukainya. Kau tahu kan Ben, apa konsekuensi nya jika gagal menjalankan perintahku?". Ucap Regan dingin.
"B-baik Tuan saya paham".
Sampai di Mansion mewahnya Regan langsung turun. Wajahnya datar dan juga dingin tanpa ekspresi.
"Daddy".
Senyumnya mengembang ketika melihat seorang bocah tampan berlari kearahnya.
"Hai Boy". Dia menjongkokkan badannya dan menyambut pelukkan hangat pria Kecil itu.
"Kenapa Daddy lama sekali?". Gerutunya mengalungkan tangannya dileher Regan
"Memangnya kenapa? Kan Daddy kerja, cari uang biar kita bisa makan". Dia menoel hidung pria kecil itu dengan gemesnya.
"Tidak. Aku hanya sedang menunggu Daddy untuk makan malam".
Regan tersenyum hangat. Setidaknya ada yang menanti kedatangan nya dirumah meski hanya seorang anak kecil.
"Sudah lapar?". Bocah itu mengangguk "Ayo kita makan Daddy juga sudah lapar".
"Ayo Dad".
Regan mengendong bocah berusia lima tahun itu. Kedua pria beda usia itu masuk kedalam Mansion mewah yang hanya mereka huni berdua saja. Ada beberapa pelayan dan Ben yang menemani keduanya.
**Bersambung.....
Ehmmm bagaimana kira-kira reaksi Echy saat bertemu dengan??
Siapakah pria kecil yang digendong Regan??Apakah putranya dengan wanita lain???
Yuk ikutin terusss. Yang penasaran dukung terus karya author.....
__ADS_1
Makasih udah mau ikutin cerita author yaaa..
Kalau ada typo kalian boleh corret2 dibawah**...