Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kepergian Megan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Echy menutupi mulut tak percaya ketika melihat peti mati Megan. Bukankah kemarin wanita itu merespon saat Echy mengajaknya berbicara. Lalu kenapa sekarang wanita ini malah tertidur selamanya?


Bukan hanya Echy, Regan pun tak kuasa menahan air matanya. Adiknya. Saudara kembarnya dan orang yang begitu juga Regan sayangi kini menghilang untuk selamanya. Regan selalu berharap jika saudara kembarnya itu dapat bangun kembali dan tersenyum ramah padanya. Tapi lihatlah betapa kejamnya takdir padanya. Setelah dia berhasil memperjuangkan Echy kembali kedalam pelukkannya. Namun dia justru kehilangan adiknya. Benar kata orang-orang ada yang datang dan ada yang pergi.


“Kak Megan”.


“Kak Megan”.


Echy menangis dengan histeris ketika sampai dipeti mati Megan. Tak kuasa. Tak kuat. Hal ini mengingatkan Echy pada kematian kedua orangtuanya.


“Megan”. Lirih Regan menatap wajah adik nya yang begitu pucat dan kaku tanpa darah


“Megan”. Dada Regan terasa benar-benar sesak. Adiknya. Satu Rahim, pergi untuk selamanya.


“Kak Megan”. Dae memeluk Echy yang memberontak. Teriakkan Echy terdengar menggema.


“Kak Megan”. Echy luruh dilantai dengan tangisan yang tak henti-hentinya.


Kelly juga tampak rapuh. Kakak iparnya kini benar-benar pergi untuk selamanya.


Domain dan Ellena juga tak kuasa menahan air mata. Lima tahun menunggu Megan terbangun dan akhirnya wanita itu mengakhiri masa komanya dan meninggalkan dunia ini.


“Megan”. Gumam Ellena. Putrinya kini pergi meninggalkannya.


Sementara Gian hanya diam menyaksikan orang-orang menangis. Dia tidak tahu kenapa mereka menangisi wanita didalam peti itu.


Reing menggedong Gian. Dia turut merasakan kehilangan. Meski tidak dekat dengan Megan tapi wanita itu menyanyangi Kakak nya.


“Uncle Rein”.


“Iya Gian?”. Senyum Rein menatap keponakkannya itu


“Kenapa Daddy dan Mommy, menangis?”. Tanya nya heran. Dari tadi dia ingin memeluk Echy tapi wanita itu malah terus menangis.


Rein bingung mau menjawab apa. Gian masih terlalu kecil untuk memahami arti sebuah kehilangan.


Echy menyeka air matanya. Dia menatap pria kecil digendongan Rein. Hati Echy semakin sakit melihat wajah polo situ. Gian? Bagaimana reaksinya jika dia tahu bahwa yang tertidur itu adalah Ibu kandungnya.


Keluarga besar Jeremy, Kakak Kelly juga hadir disana. Mereka turut berbelangsungkawa melihat kematian Megan. Apalagi Megan adalah menantu kesayangan keluarga Jeremy.


“Gian”. Lauren mendekat kearah cucunya


“Oma”. Gian mengulurkan tangannya ingin meminta gendong.


Lauren menggendong pria kecil itu. Melihat Gian mengingatkannya pada Jeremy, putra sulungnya yang meninggal lima tahun yang lalu.


“Apa kabarmu Nak?”. Lauren menahan tangisnya sambil mengusap kepala cucunya

__ADS_1


“Gian baik-baik saja Oma”. Sahutnya “Gian ingin peluk Mommy, tapi Mommy masih menangis dan tidak mau melihat Gian. Daddy juga masih menangis”. Ujar nya sendu sambil menunjuk Echy yang menangis didalam pelukkan Dae, sedangkan Regan dan Kelly berdiri didepan peti mati istrinya.


Lauren mengusap kepala cucunya dengan sayang. Dia tidak bisa menjawab. Hatinya sedang tergores sangat dalam. Kehilangan putra dan menantunya membuat dia terpukul sangat kuat.


“Gian”.


“Uncle James”.


“Waah semakin tampan keponakkan Uncle ini”. Ujar James mencium kepala keponakkannya.


Gian terkekeh pelan. Dia tersenyum rindu pada James, Uncle yang juga ikut merawatnya sebelum dia pulang ke Indonesia.


“Uncle James, Gian mau peluk Mommy”. Sambil menunjuk Echy.


“Tapi_”.


“Uncle”. Renggek Gian. Dia merindukan Echy. Sangat malah.


“Iya Gian. Sini sama Uncle”. James mengalah dan mengambil Gian dalam gendongan Lauren.


“Mommy kenapa menangis ya Uncle?”. Gumam Gian yang dari tadi terus bertanya kenapa Echy menangis.


James menatap Echy didalam pelukkan Dae. Wig yang melekat dikepalanya sampai terlepas akibat dirinya yang histeris. Kasihan tentu saja.


“Mommy”.


Echy langsung tersadar mendengar suara munggil dari pria kecil yang selalu membuatnya rindu. Echy melepaskan pelukkan Dae. Dia menyeka air matanya.


“Mommy”.


Gian turun dari gendongan James dan berlari kearah Echy


“Mommy”. Gian berhambur memeluk Echy.


“Gian”. Echy menyambut pelukkan pria kecil itu. Dia tidak bisa jelaskan bagaimana perasaan Gian, tapi Echy berjanji akan menjaga Gian seperti putra kandungnya sendiri.


“Mommy kenapa menangis?”. Gian melepaskan pelukkannya dan menyeka air mata Echy.


“Mommy, sedang latihan drama sayang”. Sahut Echy asal.


Dae dan James tersendak mendengar jawaban Echy yang tidak masuk akal. Ada-ada saja dalam keadaan seperti ini.


“Latihan drama?”. Tanya Gian heran “Drama itu apa?”. Pria kecil itu tampak berpikir keras


“Ehem, seperti film Spiderman, itu termasuk drama sayang”. Echy mencoba tersenyum simpul


“Ohhh seperti itu Mom. Apa Daddy, Aunty Kelly, Grandma, dan Grandfa juga ikut latihan drama Mom?”. Tanya Gian polos dia menatap satu persatu orang-orang yang masih menangis didepan peti mati Megan.


“Iya. Gian mau ikut?”. Tawar Echy tersenyum menggoda

__ADS_1


“Mau Mom. Tapi Gian tidak bisa pura-pura menangis”. Sahut Gian wajahnya sendu.


Echy menggaruk kepala plontosnya. Mau jawab apa? Salah sendiri yang suka berbicara asal pada bocah seperti Gian


“Sayang. Gian”.


Regan menghampiri kedua orang yang sama berarti didalam hidupnya itu.


“Daddy”.


“Kak”.


Regan memeluk Echy dan Gian bersamaan. Tangis nya tertahan melihat kedua orang yang sama-sama berarti dalam hidupnya itu.


Regan takkan mengatakan pada Gian tentang kedua orangtuanya. Dia tidak mau menyakiti hati putranya itu. biarlah Gian selalu beranggapan bahwa dia dan Echy adalah orang tua kandungnya. Karena bagi Regan siapapun Gian, takkan mengubah rasa sayang nya pada Gian.


.


.


.


.


Jenazah Megan dikebumikan ditempat pemakaman keluarga besar Jeremy. Tepat didekat suaminya, tubuh Megan dimasukkan kedalam tanah. Tangisan terdengar saling bersahutan satu sama lain bersamaan dengan jenazah.


“Megan”. Teriak Domain dan Ellena


Brughhhhhhhhhhhhhhhhhhh


Echy langsung ambruk dan untung saja Regan dengan sigap menangkap tubuh istrinya. Darah kembali lagi mengalir dari hidung Echy


“Mommy”. Gian langsung menangis sambil berlari kearah Echy.


“Regan cepat bawa Echy ke rumah sakit”. Sentak Dae panic.


Regan menggendong wanita itu. tubuh Echy sangat dingin. Darah mengalir dihidungnnya dan wajahnya sangat pucat. Regan panic. Takut. Tidak. Echy tidak boleh pergi. Regan takkan sanggup hidup tanpa Echy.


Dae menyusul Regan sambil menggendong Gian yang masih terus menangis memanggil nama Echy. Mungkin pria kecil itu merasakan ketakutan saat melihat Echy yang tiba-tiba ambruk


Sementara Domain, Ellena, Kelly dan keluarga besar yang lainnya berada dipemakaman. Menyaksikan jenazah Megan yang masuk kedalam tanah.


Regan memeluk Echy dengan menangis didalam mobil. Tangisnya terdengar menyayat hati. Takut sekali. Jiwanya terasa terbang melayang jauh. Apalagi tubuh istrinya begitu dingin.


“Cepat sedikit Ben. Istriku”. Teriak Regan


“B-baik Tuan”.


Regan tak bisa bayangkan jika Echy juga menghilang dari hidupnya. Jika Echy pergi, Regan juga akan pergi dan meninggalkan dunia ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2