
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak Regan".
Seorang gadis cantik datang keruangan kerja di Mansion mewahnya. Gadis itu cukup khawatir saat melihat sang Kakak sudah beberapa hari tidak masuk ke kantor.
"Bagaimana keadaannya?". Tanya Regan tanpa melihat gadis itu.
"Dia sudah lebih baik Kak. Hari ini dokter sudah memperbolehkan dia pulang". Sahutnya "Kakak kenapa? Kenapa tidak masuk kantor? Aku pikir Kakak sakit? Dimana Gian?". Cecar gadis itu pada sang Kakak
"Kakak baik-baik saja. Gian sedang sekolah". Regan menghela nafas "Bagaimana cara menghidupkan orang yang sudah mati?".
Gadis itu menatap sang Kakak terkejut "Menghidupkan orang yang sudah mati? Kakak ada-ada saja, mana ada yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati Kak?". Gadis itu menggeleng sambil tersenyum gemes
"Dia akan memaafkan Kakak jika Kakak bisa mengidupkan kedua orangtuanya kembali. Jika hal itu memang bisa, Kakak akan melakukan apapun agar orangtuanya bisa hidup kembali dan dia memberikan Kakak satu kesempatan". Ujarnya dengan wajah sendu. Dia sama sekali tak menatap gadis cantik itu.
Gadis itu menatap sang Kakak dengan kasihan. Ingin sekali dia menjelaskan pada sahabat nya. Tapi Regan selalu melarang. Biarlah dia ditolak asal tidak menyakiti gadisnya
"Apa aku ceritakan saja pada Kakak alasan Kakak pergi?".
Regan menggeleng "Jangan. Itu percuma. Kebencian nya sudah mendarah daging". Lirih nya pelan "Apa Kakak harus menyerah?". Dia memberanikan diri menatap adiknya "Kakak lelah. Kakak tidak mau membuatnya semakin tertekan dengan kehadiran Kakak. Dia sangat membenci Kakak". Pria itu menghela nafas panjang.
"Kak. Aku tidak menyuruh Kakak menyerah. Aku juga tidak menyuruh Kakak tetap berjuang. Tapi coba sekali lagi Kak. Echy memang gadis keras kepala, tapi sebenarnya dia baik. Dia hanya tidak bisa melupakan bagaimana sakitnya kehilangan kedua orangtuanya. Kakak tahu sendiri kan bagaimana manjanya dia pada Ayah dan Bunda nya. Jadi Kakak mengerti lah dan coba sekali lagi. Tapi jika ini gagal lagi, Kakak boleh memilih pergi dan jangan paksakan diri Kakak". Ucap gadis itu "Tidak mudah bangkit seperti Echy Kak. Aku yang menemani nya selama lima tahun ini. Aku tahu bagaimana sulitnya dia berjuang dan bahkan berkorban segalanya untuk Rein. Jadi wajar saja jika dia sedikit keras kepala ketika berhadapan dengan Kakak". Imbuh gadis itu lagi.
Regan terdiam menunduk. Bolehkah menyesal? Tapi apakah dengan menyesal Echy akan kembali lagi padanya? Rasanya hatinya mulai lelah ketika mendengar penolakkan Echy. Tapi sungguh dia benar-benar mencintai gadis itu.
"Selamat berjuang Kak. Dekati Echy dengan cara baik-baik. Aku yakin perlahan dia akan luluh. Dia hanya butuh waktu". Ucapnya
"Aku pamit Kak. Jangan lupa makan. Titip salam untuk Gian".
Gadis itu mellengang pergi meninggalkan Regan yang masih membisu ditempatnya. Regan sedang memikirkan kata-kata adiknya.
"Benar aku harus berjuang lebih keras lagi. Aku takkan menyerah. Aku akan membuat Echy kembali lagi kedalam pelukanku".
.
.
.
__ADS_1
.
"Ahhhh akhirnya hari ini pulang". Echy turun dari ranjangnya dengan senyuman lebar
"Apa tidak rindu dengan rumah sakit Chy? Disini banyak yang perhatian. Makan saja di ingatin. Disuruh minum obat tiap waktu". Celetuk Kelly sambil memasukkan barang-barang Echy kedalam tas
"Ya kau benar dan aku juga merindukan wajah dokter-dokter tampan itu. Ahh andai saja dia meminta nomor ponsel ku pasti aku akan senang jika dia menelpon". Seru Echy melangsungkan ucapan Kelly
"Dasar genit". Sindir Kelly
"Apa kau cemburu sayang?". Echy mengerlingkan matanya jahil.
"Huweekkkkkkkkkk rasanya aku ingin muntah". Ujar Kelly bergidik ngeri menatap sahabatnya.
Echy tertawa terbahak-bahak sungguh hobby nya benar-benar bisa membuat sahabatnya jengkel. Sementara Rein geleng-geleng kepala tersenyum sambil ikut membereskan barang-barang Echy.
"Ingat ya Cinta makan harus teratur. Dan kalah bosan pakai Wig pakai topi saja". Ujar Kelly
"Terima kasih sayangku".
Hari ini Echy sudah diperbolehkan pulang. Hampir satu Minggu dia dirawat dan melakukan kemoterapi dirumah sakit. Membosankan pasti. Setiap hari bertemu jarum suntik yang menyiksa tubuhnya
"Tenang saja Cinta. Aku memakai uang tabungan ku dan untuk biaya praktek Rein aku sudah mengajukan pinjaman diperusahaan. Jadi potong gaji setiap bulan". Sahut Kelly
"Memangnya bisa? Bukankah baru masuk kerja?". Echy sedikit heran semudah itu kan perusahaan memberikan pinjaman padanya.
"Tentu saja bisa. Kan aku pakai namamu. Diperusahaan lama kau staff berprestasi tentu saja dengan mudah jika mengajukan pinjaman". Ucap Kelly beralasan
"Begitu ya". Echy hanya beroh-ria saja
Brakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Mereka bertiga menatap kearah pintu masuk
"Kak Regan". Gumam ketiganya bersamaan.
"Kau sudah siap sayang?". Regan mendekati Echy
Rein hendak maju. Tapi Kelly mencengkram tangan pria kecil itu dan menggeleng. Rein mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Echy tak menjawab. Dia meremes ujung bajunya. Menahan panas dihatinya. Marah dan kecewa masih menjadi satu padu disana.
"Ayo sayang".
Tanpa peduli Regan menggendong Echy dan tak terpengaruh sama sekali dengan pemberontakkan gadis itu.
"Kak lepasin". Echy memberontak
"Diam sayang. Apa kau tidak malu ditatap oleh para dokter dan perawat?".
Echy melihat sekeliling nya dan benar saja banyak para perawat dan dokter yang menatap mereka sambil memberi hormat. Beberapa penunggu pasien juga memberi hormat pada mereka.
"Apa kau tidak malu?". Regan tersenyum gemes sambil menggendong gadis itu dengan berjalan
"Malu".
Echy melingkarkan tangannya dileher Regan lalu menyembunyikan wajahnya didada bidang pria itu. Regan tersenyum bahagia. Sangat bahagia. Seperti nya dia perlu mengucapkan terima kasih pada Ben dan adiknya
Rein mengekor dari belakang sambil membawa tas Echy. Wajah pria itu tampak dingin dan datar. Regan adalah penyebab penderitaan Kakak nya dan dia takkan melupakan itu.
Berbeda dengan Kelly yang tersenyum senang. Dia turut bahagia melihat Echy dan Regan. Sebagai sahabat dekat, Kelly tahu jika Echy masih mencintai Regan. Terlihat dari emosi gadis itu saat mereka membicarakan Regan.
"Silahkan Tuan". Ben membuka pintu mobil.
Regan masuk sambil menggendong Echy. Dia masuk dengan pelan seakan takut membuat gadis dalam gendongan nya itu merasa tidak nyaman.
"Jalan Ben".
"Lho Kelly sama Rein bagaimana?". Tanya Echy saat melihat Kelly dan Rein yang tidak ikut bersama mereka.
"Mereka menyusul". Sahut Regan tak melepaskan tatapannya dari Echy.
Sementara Rein mengejar mobil Regan
"Sudahlah Rein. Kita naik mobil itu saja. Biarkan Echy dan Kak Regan". Cegah Kelly.
"Tapi bagaimana jika dia menyakiti Kak Echy?". Rein masih menatap mobil yang ditumpangi Regan dan Echy yang mulai menjauh.
"Kau ini bicara apa sih Rein? Bagaimana mungkin Kak Regan menyakiti Echy?". Gerutu Kelly "Sudah ayo". Kelly menarik tangan Rein agar masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Bersambung...