
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
*Echy POV.
Saat aku membuka mata, aku terheran saat mendapati diriku berada disebuah tempat yang asing namun indah. Tempat ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada orang disana selain aku. Tempat yang nyaman sekali, tempat yang membuatku tenang.
Sejenak aku tersadar, kenapa tubuhku tidak sakit lagi. Perutku juga tidak lagi membesar, apa aku sudah melahirkan? Lalu dimana bayiku? Aku mencari nya seperti orang yang kehilangan harta. Aku juga bingung bagaimana aku bisa ada disini?
Tubuhku tidak sakit, perutku tidak membucit dan rambutku juga sudah tumbuh lagi. Tapi kenapa aku ada disini? Bukankah terakhir kali aku berada dirumah dan tidur dikamar bersama suamiku. Lalu setelah itu aku merasakan tenggorokan ku kering, dan ingin mengambil air setelahnya aku terjatuh dan tidak tahu lagi apa yang terjadi, dan sekarang aku ada disini.
“Nak”.
Tuhan suara itu, suara yang sangat aku kenal. Suara yang sangat aku rindukan dan suara yang sudah lama menghilang dari ku.
Aku menoleh kearah suara. Jantungku berdegup kencang.
“Ayah”. Gumamku tak percaya.
Aku melihat Ayah berdiri didepanku dengan tersenyum. Wajahnya sangat cerah, pakaiannya serba putih. Senyumnya juga manis sekali.
“Ayah”.
Aku berlari memeluk pria yang sangat kurindukan ini. Aku sangat rindu padanya. Apa aku sedang bermimpi bisa bertemu dengannya?
“Ayah, Echy rindu”. Renggeku manja memeluknya seperti dulu.
Sungguh tak bisa kuungkapkan kebahagiaan yang saat ini kudapatkan. Aku bisa bertemu kembali dengan Ayah setelah sekian lama kepergiannya yang membuatku duniaku runtuh dan rata bersama tanah.
“Ayah”. Aku memeluk Ayah sepuasku, melepaskan kerinduan sejak kepergiannya lima tahun silam.
“Sayang”. Ayah melepaskan pelukku. Dia tersenyum hangat, jari kekarnya menyeka air mata yang berjatuhan dipipiku “Jangan menangis, dan jadilah wanita yang kuat”. Ucapnya lembut namun mampu membuat hatiku bergetar dan merasakan kehangatan akan kasih sayang seorang Ayah yang sudah lama tak kudapatkan.
“Echy rindu Ayah”. Ucapku manja menatap Ayah dengan bahagia.
Dia hanya melemparkan senyum manis dan mengelus kepalaku dengan lembut, rambut panjang yang menjuntai itu dielusnya dengan penuh kasih sayang. Aku heran, sejak kapan rambutku tumbuh bukankah kepalaku botak akibat efek kemoterapi yang aku jalani?
“Echy ingin ikut Ayah”. Ucapaku.
Ayah menggeleng “Tidak sayang!! Kau tidak boleh ikut Ayah, dunia kita berbeda”. Jawab Ayah sambil tersenyum lembut tak ada raut kesedihan seperti dulu yang selalu aku lihat diwajahnya.
“Tapi Ayah……”.
__ADS_1
“Tempatmu bukan disini Nak. Belum waktunya kau tinggal bersama Ayah, suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali dan Ayah akan menunggumu disini”. Ucap Ayah lagi
Aku menggeleng tidak mau, aku ingin ikut Ayah “Disana kejam Yah. Echy tidak sanggup melewatinya sendiri.n Echy kesakitan Ayah. Echy tidak mau merepotkan Kak Regan terus. Tidak ada tempat mengadu dan bersandar saat Echy melewati banyak masalah, Echy kasihan pada Kak Regan yang terus bersedih memikirkan Echy, Ayah. Echy tidak mau kembali kesana Ayah”. Kukeluarkan semua unek-unek yang kurasakan selama ini, aku berharap bisa tinggal disini bersama Ayah. Disini nyaman dan tentram dan tak ada kesakitan serta air mata lagi yang menyerangku.
“Echy”.
Aku kembali mematung mendengar suara itu. Kualihkan tatapanku pada arah panggilan itu.
"Bunda”. Aku berlari memeluk Bunda dengan isakkan tangis.
“Bunda”. Tangisku memeluk wanita ini, dia tampak muda dan sangat cantik wajah keriputnya menghilang
“Bunda, Echy rindu”. Renggekku. Ibu mengelus kepalaku dalam pelukkannya seperti anak kecil yang merenggek minta belikan mainan.
“Echy lelah Bunda”. Ucap ku sendu menatap wajah cantik wanita yang begitu ku rindukan ini.
Ayah dan Bunda hanya terus tersenyum. Mereka tak menangis sepertiku yang sangat merindukan kehadiran mereka. Apa mereka tidak merindukan aku? Kenapa wajah mereka biasa saja dan hanya tersenyum.
“Bunda, Echy ingin ikut Bunda, dan Ayah tinggal disini. Echy selalu menyusahkan Kak Roger dan Echy juga selalu membuat Kak Roger menangis”. Curhatku pada wanita itu.
Bunda malah tersenyum mengelus kepalaku lagi dengan lembut serta senyumnya yang tak memutar sama sekali
“Ecyh tidak bisa tinggal disini, Echy harus kembali lagi kesana. Disana ada orang-orang yang merindukan Echy”. Ucap Bunda sangat lembut dan penuh kasih sayang.
“Kembalilah Nak, tempatmu bukan disini. Belum waktunya kamu tinggal bersama kami”. Sahut Bunda dengan senyum ayunya.
“Bunda ”.
"Ayah".
“Kembalilah Nak. Dia sedang menunggu mu disana, kasihan dia dari tadi terus saja menangis memanggil mu dengan tangisan nya karena dia belum bisa berbicara”. Aku tak mengerti dengan ucapan Ayah, siapa dia? Kenapa belum bisa berbicara?
“Ayah, Bunda”. Tiba-tiba mereka berjalan menjauh sambil melambaikan tangan kearahku.
“Ayah”.
“Bunda”.
Aku berlari mengejar mereka sambil menangis dan terjatuh ditanah.
“Ayah, jangan tinggalkan Echy. Echy butuh kalian”. Tangisku kian pecah.
__ADS_1
Sampai aku melihat tangan munggil dan kecil mengulurkan tangannya padaku. Aku mendongrakkan kepalaku dengan simbahan air mata.
Seorang pria kecil tengah tersenyum hangat menatapku. Tangannya masih terulur meminta kusambut dengan sabar.
Aku mengulurkan tanganku juga menyambut tangan munggil itu.
“Mommy”.
Dia memanggilku Mommy? Aku kembali mengarahkan pandanganku kearah padanya menatapnya dengan penuh tanda tanya
“Mommy”.
Dia kembali memanggilku, senyumnya seolah tak lekang oleh waktu. Anehnya hatiku menghangat saat mendengar panggilan itu, ya Tuhan apa aku sudah menjadi seorang Mommy? Kenapa rasanya bahagia sekali.
Mataku berkaca-kaca ketika mulut kecil itu memanggilku Mommy.
“Kau siapa Nak? Apa yang kau lakukan disini?”. Tanyaku lembut menjongkokkan badanku dan menyamakan tinggi dengannya .
Ya Tuhan kenapa wajah dia sangat mirip dengan suamiku. Dan jantungku juga berdebar hebat saat kusentuh wajah nya seketika hatiku menghangat dan merasakan nyaman dan bahagia yang tidak bisa kuungkapkan lewat tulisan atau lukisan.
“Mayu cempuy Mommy”. Aku terkekeh mendengar jawaban pria kecil itu yang tidak bisa menyebut huruf T dengan benar.
"Sayang".
Aku dan bocah tampan itu sama-sama menoleh kearah suara.
"Kak Regan". Sontak aku berdiri.
Kak Regan tersenyum sambil menghampiri kami berdua. Wajahnya sangat tampan bahkan seribu kali tampan dari biasanya. Ya Tuhan aku baru sadar suamiku ini memang tampan diluar batas.
"Ayo sayang". Kak Regan mengandeng tanganku.
"Kemana Kak?". Tanyaku bingung maish bertahan diposisiku.
Kak Regan malah tersenyum hangat. Dia memegang tanganku lalu menatapku dengan cinta.
"Ayo". Dia mengusap kepalaku dengan lembut.
“Ayo Mommy”. Mereka mengandeng tanganku. Meskipun bingung aku mengikuti saja. Entah kemana Kak Regan dan bocah ini akan membawa ku pergi.
Anehnya kenapa aku mau saja dan malah ada bahagia yang menyelimuti hatiku. Apalagi saat mendengar panggilan Mommy itu untukku.
__ADS_1
Bersambung*.....