Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kasihan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Echy membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Pusing. Memang akhir-akhir ini dia sering pusing berlebihan


"Chy".


"Kak".


Rein dan Kelly langsung berhambur kearah Echy. Rein juga memanggil dokter untuk memeriksa Kakaknya itu.


"Kakak".


Echy melihat kearah Rein dan tersenyum hangat. Tapi kenapa kepala nya begitu sakit.


"Chy".


Echy menoleh kearah Kelly. Dia juga tersenyum pada sahabat nya itu. Echy tidak ingat betul kenapa dia bisa ada disini. Yang dia tahu, pria bajingan itu sedang memeluknya dengan paksa. Dia menangis dan Echy tidak tahu lagi apa yang terjadi berikutnya.


"Rein, bisakah singkirkan dulu selang ini. Kakak sedikit susah bergerak". Gerutu Echy mengangkat selang infusnya.


"Ck, Kak jangan dilepaskan. Kau ini bagaimana sih?". Protes Rein.


"Pelan-pelan Chy". Kelly membantu sahabat nya bersandar.


"Kenapa kau ada disini Kelly?". Echy menatap heran "Kau tidak kembali ke kantor. Astaga, Kel. Kita ada meeting bersama Kak Sean bagaimana jika dia mencari kita". Echy panik dan hendak turun.


"Ehhh jangan turun". Rein dan Kelly langsung mencegah gadis itu.


"Kakak ini, kau ini sedang sakit Kak jangan memikirkan pekerjaan dulu". Omel Rein.


"Iya Chy, kau ini". Timpal Kelly kesal "Kau jahat sekali padaku. Kau sakit tapi tidak memberitahuku". Protes Kelly.


Echy santai-santai saja sambil bersandar. Kepala nya sudah lumayan dan tidak terlalu sakit lagi.


"Rein dimana dia?".


Kening Rein berkerut. Dia siapa? Pikir Rein


"Siapa Kak?". Tanya Rein bingung dan juga penasaran.


"Kak Regan". Sahut Echy.


"Kenapa Kakak mencarinya?". Ketus Rein. Apa Echy mau memaafkan Regan.

__ADS_1


"Hanya menanyakan nya saja. Memangnya kenapa? Kau ini seperti wanita PMS saja Rein?". Ujar Echy juga kesal.


Kelly hanya tersenyum simpul. Kelly berjanji dalam hidupnya akan menjaga Echy. Dia tidak akan membiarkan Echy melewati ini sendirian. Dia akan menemani sahabat nya itu.


Echy menghela nafas panjang. Wangi parfum Regan masih melekat ditubuhnya. Tak bisa Echy pungkiri bahwa pelukkan Regan adalah pelukkan yang begitu dia rindukan. Pelukkan nyaman dan meneduhkan hati. Tapi Echy sadar bahwa perasaan nya itu salah. Dia tidak mau lagi terjebak. Sudah cukup rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Jangan sampai dia jatuh pada lobang yang sama.


"Chy, ayo makan".


Kelly mengambil semangkuk bubur dari atas nakas.


"Ck, tidak adakah bakso? Atau nasi goreng seafood?". Protes Echy.


"Jangan macam-macam Kak. Kau ini, dilarang makan makanan itu sementara waktu". Ujar Rein "Ingat Kakak harus jaga kesehatan. Ini akibat Kakak makanan sembarangan. Rein sudah bilang jangan makan makanan yang dilarang dokter". Omel Rein.


"Berhenti mengomel Rein. Kau bisa tua sebelum waktunya". Cibir Rein.


Jika saja bukan Kakaknya rasanya Rein ingin menendang Echy. Dalam keadaan sakit seperti ini saja masih suka membuat kesal.


Kelly menggeleng dengan senyum. Inilah kelebihan Echy. Dia selalu bisa menyembunyikan perasaan sakitnya didepan orang lain. Padahal kenyataannya adalah dia begitu rapuh dan tak berdaya.


Kelly menyuapi Echy dengan sabar. Gadis itu terus saja protes dan menolak tidak mau makan bubur. Kecuali bubur buatan Rein baru Echy suka malah selalu membuatnya ketagihan.


Ini apa? Makanan rumah sakit itu hambar, tak terasa ada garamnya. Sayurannya direbus begitu saja kadang juga hanya dicampur satu butir bawang putih. Dan Rasanya sangat tidak enak.


"Ck, jika setiap hari aku makan makanan seperti ini dipastikan timbangan ku akan turun. Rasanya sangat hambar". Protes Echy. Meski protes dia tetap menerima suapan dari tangan Kelly.


.


.


.


.


Regan hanya bisa memantau dari layar laptop. Dia belum beranjak dari sana. Hatinya sedikit senang saat Echy menanyakan dimana dia. Meski bukan mencari. Tapi Regan merasa bahagia karena Echy masih mengingatnya.


"Ben".


"Iya Tuan?". Ben mendekat.


"Panggilkan Zora".


"Baik Tuan". Ben keluar dari ruangan dan melakukan perintah Regan.

__ADS_1


Regan masih menatap layar laptop nya. Wangi tubuh Echy masih melekat diindra penciuman pria itu. Wangi vanilla yang sama seperti dulu. Echy memang menyukai wangi vanilla.


"Aku akan terus memperjuangkan mu sayang. Aku tidak akan menyerah. Seribu kali kau menolakku. Sejuta kali aku akan mendekatimu. Aku akan buktikan bahwa tidak sebajingan yang kau pikirkan". Gumamnya.


Tidak lama kemudian Ben datang dengan zora yang mengekor dari belakang nya.


Regan sengaja memilih dokter wanita itu menangani penyakit gadisnya. Tentu saja dia tidak ikhlas jika ada pria lain yang memegang bagian tubuh Echy walaupun hanya tangan. Regan takkan rela. Echy adalah miliknya. Meski pun gadis itu sama sekali tidak menatapnya.


"Ada apa Tuan memanggil saya?". Tanya Zora sedikit menunduk memberi hormat pada Regan


"Apakah gadisku harus makan bubur?". Tanyanya


"Tidak diharuskan Tuan, tergantung dari kondisi Nona Echy". Sahut Zora "Tapi biasa makanan rumah sakit memang identik dengan bubur Tuan". Sahut Zora lagi.


"Jika begitu siapkan makanan yang lain untuknya. Jangan bubur, aku kasihan padanya. Pastikan makanan itu sehat dan tidak mengandung kalori berlebihan". Tintah Regan.


"Baik Tuan". Sahut Zora "Kalau begitu saya permisi Tuan".


Regan tak merespon. Zora keluar dari ruangan Regan. Sementara Ben masih menjadi manekin disamping Regan, berdiri seperti patung pajangan ditoko baju.


"Apa kau sudah menemukan siapa pemilik motor itu Ben?". Tanyanya Regan.


"Sudah Tuan. Orang itu suruhan Nona Dea". Jelas Ben


"Dea?". Kening Regan berkerut "Apa dia punya masalah dengan gadisku?". Tanyanya penasaran.


"Nona Dea tunangan Tuan Sean, Tuan. Dia tidak menyukai Nona Echy, karena Tuan Sean tidak menerima cintanya. Nona Dea berpikir, Nona Echy adalah penghambat cintanya". Jelas Ben.


Regan mengepalkan tangannya. Kenapa banyak sekali yang mengincar gadisnya itu.


"Apa profesinya?". Tanya Regan


"Dia seorang desainer Tuan. Pemilik Dea Boutique's".


"Hancurkan karier nya. Jangan biarkan tersisa satu pun. Pastikan dia tidak akan mencelakai gadisku lagi". Ucap Regan tegas


"Baik Tuan".


"Kau boleh keluar. Aku sedang ingin sendiri. Persiapkan semua keperluan ku. Malam ini aku akan menginap disini. Aku tidak tenang meninggalkan nya". Ucapnya "Telpon Bik Yum untuk memastikan jika Zayn makan. Bilang saja aku tidak pulang karena urusan kantor".


"Baik Tuan. Saya permisi".


Regan kembali menatap layar laptopnya. Tampak Echy dan Kelly tengah bercanda. Sementara Rein tersenyum simpul mendengar ocehan kedua gadis itu.

__ADS_1


"Dalam keadaan terluka saja kau masih bisa tertawa sayang. Jujur aku merindukan sosokmu yang dulu. Sosok yang manja. Sosok yang selalu membuatku merasa menjadi pria paling bahagia. Semoga kelak perjuangan ku untuk mendapatkan cintamu berbuah manis. Kau berarti untukku". Regan mengusap layar laptopnya dimana ada wajah Echy disana.


Bersambung....


__ADS_2