
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Regan berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Ikut oleh Ben yang mengekor dibelakang nya. Tatapan pria itu sangat dingin. Seolah tak tersentuh oleh apapun.
Setelah pertemuan nya dengan Echy tadi dia berusaha untuk tidak emosional dan memeluk gadis itu. Takut jika Echy malah membencinya dan menghindarinya. Dia memang bersalah dan pantas untuk menerima hukuman. Namun dia juga punya alasan kenapa melakukan hal itu.
"Silahkan masuk Tuan". Ben membuka pintu ruangan seorang dokter.
"Selamat siang Tuan Regan". Sapa Zora "Silahkan duduk Tuan".
Regan duduk tanpa merespon ucapan Ben dan Zora, wajahnya selalu seperti itu. Regan adalah pemegang saham terbesar dirumah sakit ini. Jadi sebagian besar dokter dan perawat sangat mengenal pria tampan satu ini.
"Bagaimana?". Tanyanya tanpa basa-basi dan sama sekali tak melirik Ben mau pun Zora.
Zora menghela nafas berat. Dia tidak boleh asal bicara. Pria didepannya ini lebih kejam dari Mafia. Dia bisa kehilangan pekerjaan nya dalam hitungan menit.
"Kanker getah bening atau limfoma merupakan yang menyerang sistem limfatik, yaitu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi untuk melawan infeksi. Limfoma dapat mempengaruhi bagian mana pun dari sistem limfatik, termasuk kelenjar getah bening, amandel, limpa, kelenjar tenis, usus dan sumsum belakang". Jelas Zora.
"Lalu?".
"Saya aja mencoba Teknik Bone Marrow Inspiration, atau yang bisa melakukan pemeriksaan melalui tulang sumsum belakang untuk mendeteksi penyebaran kanker sebelum melakukan kemoterapi". Sahut Zora.
Regan memejamkan matanya berat. Takut kehilangan, jelas dirasakan oleh Regan. Tidak. Tidak. Gadis itu tidak boleh pergi lagi. Tujuan dia kembali adalah memperjuangkan cintanya.
"Apakah kemoterapi berbahaya untuk nya?". Tanya Regan lagi. Kini tatapan pria itu kosong, matanya mulai kabur menahan lelehan bening yang ingin lolos itu.
"Banyak Tuan tergantung dari kondisi tubuh pasien". Jawab Zora
"Rambut rontok. Nyeri. Kehilangan nafsu makan. Bisa juga menyebabkan infeksi paru-paru dan mata bengkak. Bintik-bintik merah. Tergantung dari metode kemo yang dilakukan Tuan". Jawab Zora.
Regan mulai resah. Pikirannya sekarang sedikit khawatir. Apalagi gadis itu seperti nya mengabaikan penyakit ini.
"Bisakah anda berjanji untuk menyembuhkan gadis ku?". Tanya Regan dia tak mau menatap Zora
Zora terdiam sejenak "Saya akan lakukan sebisa saya Tuan. Karena kesembuhan hanya milik sang Pencipta". Jawab Zora "Tapi saya yakin jika Nona Echy masih memiliki kesempatan untuk sembuh jika melakukan perawatan rutin serta kemo setiap bulan". Imbuhnya.
"Aku akan mencari dokter terbaik untuk membantumu. Jika peralatan medis disini kurang katakan saja padaku, aku akan memenuhi nya. Tapi tolong selamatkan gadisku". Tingkahnya.
"Baik Tuan".
Regan berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan keluar diikuti oleh Ben dibelakang nya. Kini bukan lagi tatapan tajam atau dingin yang ada adalah tatapan kesedihan dan kepatahhatian.
"Apa ada informasi yang dilewatkan tentang Sean, Ben? Kau bilang mereka hanya berteman saja, tapi kenapa begitu akrab?". Regan masih penasaran. Tidak mungkin jika teman biasa memberikan perhatian lebih.
__ADS_1
"Menurut saya, Tuan Sean memiliki perasaan khusus terhadap Nona, Tuan". Sahut Ben hati-hati takut membangunkan harimau yang sedang tidur.
"Kau bilang Sean memiliki tunangan. Jika dia menyukai gadisku, bagaimana dengan tunangannya?". Tanya Regan. Dia sedikit khawatir jika Echy pada akhirnya juga menyukai Sean.
"Iya benar Tuan. Nona Dea adalah tunangan Tuan Sean. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka". Jawab Ben sambil menyetir.
"Jika seperti itu tidak mungkin dia menyukai gadisku. Bukankah harusnya dia mencintai tunangan nya? Kau bilang juga mereka hanya bersahabat?". Regan berusaha menepis semua perkiraan terhadap fakta-fakta kekasihnya itu.
"Tidak ada persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan, Tuan. Pasti diantara salah satunya ada yang memiliki perasaan". Jawab Ben
"Kau seperti nya suka jika aku patah hati Ben?". Regan memincingkan matanya kesal.
"Maaf Tuan saya hanya menjawab sesuai fakta". Jawab Ben membela diri. Perasaan dari jawaban nya tidak ada yang salah? Tapi kenapa pria ini begitu sensitif?
Regan terdiam sejenak. Dia kembali mengingat penjelasan dokter tadi. Rasanya Regan ingin berlari menemui Echy dan memeluk gadis itu.
"Ben bagaimana dengan pengawal bayangan yang kau tugaskan?".
"Mereka menjalankan tugas mereka dengan baik Tuan. Seperti dugaan kita ada yang ingin memakai Nona Echy sebagai balas dendamnya kepada anda". Jelas Ben
"Dae Woong?".
"Iya Tuan".
"Perketat penjagaan Ben. Kerahkan semua pengawal terbaik. Ikuti gadisku kemana pun dia pergi. Pastikan dia kembali tanpa kekurangan satu pun". Tintahnya.
"Baik Tuan". Sahut Ben
.
.
.
.
"Kak makan dulu".
Rein meletakkan nampan diatas nakas kamar Echy. Gadis itu masih terlelap dengan nyaman.
Setelah pertemuan nya dengan Regan tadi, Echy mengalami stress berat hingga membuat tubuh gadis cantik itu drop secara total.
"Kak".
__ADS_1
"Rein Kakak masih mengantuk". Renggeknya
"Makan Kak. Setelah itu minum obat. Kalau Kakak tidak mau makan, Rein akan bawa Kakak ke rumah sakit". Ancam Rein.
Sontak gadis itu terbangun dan duduk "Ishhh kau ini, selalu saja mengancam". Gerutu Echy.
Rein terkekeh. Ancaman paling ampuh ya bawa saja Echy ke rumah sakit. Gadis itu membenci bau rumah sakit, apalagi melihat jarum-jarum suntik yang akan menyiksa tubuhnya.
"Kak, kenapa wajah Kakak ada bintik-bintik merah?". Tanya Rein memeriksa wajah Kakaknya
"Kakak juga tidak tahu Rein. Ini gatal dan sedikit perih kalau digaruk".
"Jangan digaruk Kak". Cegah Rein "Kakak makan dulu. Setelah ini kita kerumah sakit Kak. Seperti nya bintik-bintik ini berasal dari penyakit Kakak".
"Rein". Renggek Echy "Kakak tidak mau dibawa kesana". Ujarnya dengan wajah sendu.
"Tidak bisa Kak. Kakak harus kesana. Jangan takut ada Rein yang menjaga Kakak". Sahut Rein berusaha membuat Kakaknya tenang.
Echy hanya mencebik kesal. Entahlah kenapa pokoknya dia benci rumah sakit dan bau-bau obat yang begitu menyengat.
Rein menyuapi Echy dengan sabar dan telaten. Untung saja Echy mau makan dan bahkan kuat makan sehingga daya tahan tubuhnya tetap kuat. Jika dia tidak makan kemungkinan dia bisa drop total dan tidak bisa berjalan.
"Minum Kak". Rein membantu Echy minum obat.
"Kak".
Rein kembali panik saat melihat darah segar mengalir dihidung Echy.
"Rein". Lirih Echy memegang hidungnya
"Kakak berbaring dulu".
Echy menurut dan berbaring. Lalu Rein mengambil kapas dan menutup lobang hidung Echy dengan kapas itu agar darahnya tidak keluar.
"Apakah sakit Kak?". Tanya Rein kasihan pada Kakaknya yang berwajah pucat.
"Ck, yang seperti ini tidak akan sakit Rein. Jarum suntik lebih menyeramkan". Ketus Echy membiarkan Rein membersihkan hidungnya.
"Kau ini Kak. Rein sedang tidak bercanda". Gerutu Rein.
"Kakak juga sedang tidak serius Rein". Ucap Echy terkekeh pelan.
Rein mendengus kesal. Dalam keadaan seperti ini saja, Kakaknya itu masih sempat-sempatnya bercanda
__ADS_1
Bersambung...