
Happy Reading 🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rein berjalan di koridor rumah sakit. Wajah pria itu sedikit cemas. Almamater mahasiswa kedokteran melekat ditubuh pria yang baru saja menginjak semester ketiga ilmu kedokteran itu.
"Semoga semua baik-baik saja".
Dia berusaha menyakinkan dirinya bahwa tidak akan terjadi sesuatu pada Kakak nya yang paling dia cintai itu.
Rein melangkah masuk kedalam lift. Calon dokter itu menyenderkan punggungnya didinding lift sambil memejamkan matanya. Dia lelah. Dia rasanya ingin menangis dan berteriak. Kenapa harus Kakaknya? Kenapa tidak dia saja yang mengalami sakit mematikan itu.
Rein masuk kedalam salah satu ruangan dokter dirumah sakit mewah itu.
"Selamat siang Dokter Zora". Sapanya.
"Siang Rein". Balas seorang wanita paruh baya "Silahkan duduk Rein". Ujarnya.
Rein duduk dibangku depan dokter itu. Pria itu menatap sang dokter yang tampak tak tenang.
"Bagaimana kondisi Kakak saya Dok?". Tanyanya. Lidahnya kelu, sebenarnya dia tak sanggup tapi bagaimana pun dia harus mengetahui.
Zora menghela nafas pelan. Kasihan sekali Kakak dari Rein. Mereka berdua hidup tanpa orangtua dan terlantar begitu saja dan lagi harus menghadapi satu kenyataan pahit.
"Kita harus melakukan Teknik Bone Marrow Aspiration". Jawab Zora
Rein menunduk. Pria berkacamata tebal itu menahan air mata yang sebentar lagi akan menetes dipelupuk matanya.
"Kapan Dokter bisa melakukannya?". Tanya Rein menyeka air matanya.
"Secepatnya Rein. Kondisi Kakakmu semakin hari semakin menurun. Kita harus segera mengambil tindakan sebelum kanker ini menyebar ke bagian tubuh lainnya". Sahut Zora "Sabar Rein. Kita akan berdoa dan berusaha. Saya akan berusaha untuk membantu Kakak mu melawan penyakit ini".
Rein mengangguk sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan calon dokter itu.
"Terima kasih Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk Kakak saya". Ucap Rein
"Pasti Rein. Echy itu sudah seperti anak saya sendiri". Senyum Zora.
"Terima kasih Dok. Saya pamit".
Rein melangkah keluar dari ruangan Zora. Pria itu menahan tangisnya yang ingin pecah. Bagaimana bisa dia kehilangan Kakak satu-satunya? Apapun akan Rein lakukan demi Kakaknya itu.
Rein memasang helm dikepalanya. Lalu naik keatas motor dan meninggalkan rumah sakit.
Sampai dipemakaman umum, pria berkacamata tebal calon dokter itu memarkirkan sepeda motornya.
Rein melangkah memasuki pemakaman umum itu. Hingga langkah kakinya terhenti didepan dua pusara yang bertuliskan nama kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Ayah. Bunda".
Rein mengusap kedua pusara itu secara bergantian. Air mata luruh begitu saja dipipi tampannya.
"Apa yang harus Rein lakukan untuk menyembuhkan Kakak? Apa yang harus Rein lakukan?". Dia terisak sambil berjongkok ditanah "Rein tidak mau kehilangan Kakak seperti Rein kehilangan kalian. Kakak satu-satunya orang yang Rein punya didunia ini. Apa yang harus Rein lakukan?". Ujarnya sambil menangis dan tersungkur ditanah
Rein beberapa kali memukul dadanya menghilangkan sesak yang terasa menyengat disana. Hidupnya akan hampa tanpa Kakaknya itu. Tidak. Tidak. Rein takkan bisa hidup tanpa sang Kakak.
Pria itu menangis hingga tubuhnya bergetar hebat. Dia menangis segugukan dan mengadu pada pusara kedua orangtuanya. Berharap ada yang bisa membantunya dan menguatkan hatinya.
Dia tidak mungkin lemah didepan Kakaknya. Dia tidak mau jika kesedihan nya semakin membuat Kakaknya itu drop nantinya.
"Kakak, hiks hiks".
Dia menutup wajahnya agar tangisnya tak terdengar. Takut jika ada pengunjung lain yang berada dimakam itu.
.
.
.
.
Seorang pria tengah menaikkan kedua kakinya diatas meja. Disela-sela jarinya terselip rokok yang dia sesap dari tadi.
"Kami belum menerima hasil pemeriksaan selanjutnya Tuan. Tapi jika dilihat-lihat dari yang kami terawang bahwa dia menderita penyakit cukup berbahaya". Sahut sang asisten.
"Lalu apa Regan sudah kembali dan mencarinya lagi?". Ujarnya.
"Iya Tuan. Seperti dugaan kita selama ini bahwa Tuan Regan diam-diam mengirim pengawal bayangan' untuk melindungi gadis itu". Jelas sang asisten
"Ehem, aku tahu. Pastikan gadis itu jatuh ke tanganku. Aku ingin melihat kehancuran Regan. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini, kehilangan orang yang dicintai". Dia mematikan rokok ditangannya sambil menekan ****** rokok itu kedalam asbak rokok.
"Baik Tuan. Saya permisi".
Pria tampan itu tersenyum licik. Balas dendam adalah salah satu cara untuk memuaskan hati yang sakit. Tak peduli siapa yang harus berkorban dan dikorbankan. Selama rasa sakit ini terbalas maka tidak masalah pada siapapun yang harus dikorbankan.
"Sebentar lagi kau akan merasakan kehilangan sesungguhnya Regan. Aku akan mengabulkan semuanya. Aku akan merebut gadis mu kembali. Aku akan membawanya pergi. Aku akan menjualnya dan organ tubuh nya akan aku jadikan perdagangan manusia". Dia tertawa penuh kemenangan.
Tangan pria itu terkepal. Apapun yang terjadi dia harus menculik gadis itu. Apalagi dia tahu jika gadis itu sedang menderita penyakit tak biasa. Tanpa dia melenyapkan gadis itu juga sebentar lagi gadis itu akan lenyap dari muka bumi ini.
Tatapan pria itu terhenti pada sebuah foto yang terpajang dimeja kerjanya. Foto seorang pria tampan dengan gadis remaja. Foto disaat mereka sedang berbahagia dan lengkap saat itu.
Tangannya mengambil foto itu lalu mengusapnya dengan Ibu jarinya.
__ADS_1
"Maafkan Kakak". Lirihnya "Kakak berjanji akan membalaskan semua dendam mu pada pria brengsekkkk itu. Jika kau tidak bahagia maka dia juga tidak boleh bahagia. Dia harus merasakan kesakitan seperti yang kau rasakan".
Dia meletakkan foto itu didadanya lalu memeluk foto itu dengan mata terpejam. Lirih terdengar Isak tangis didalam ruangan kerjanya. Ternyata kehilangan sesakit ini. Ternyata kehilangan seserius ini. Sakit sekali. Karena takkan sanggup ikhlas meski waktu berlalu begitu cepat.
.
.
.
.
Rein meninggalkan pemakaman umum. Dia membersihkan almamaternya yang sedikit terkena noda tanah.
Pria itu kembali ke kampus Karen ada beberapa mata kuliah lagi yang belum selesai.
"Kak Rein".
Rein menoleh dan dia tersenyum hangat saat melihat seorang gadis cantik adik tingkatnya menyapanya.
"Iya Dilsa". Dia tersenyum hangat pada gadis cantik itu "Ada apa Dil?". Tanyanya
"Kenapa baju Kak Rein kotor sekali?". Dilsa menyapu tanah yang sedikit menempel dibaju Rein.
"Ohhh ini terkena percikan air". Sahutnya asal ikut membersihkan bajunya.
"Aku membawa bekal lebih. Ayo Kak, kita makan siang". Ajaknya menarik tangan Rein.
Rein tersenyum simpul sambil menggeleng gemes. Dilsa selalu mengingatkannya pada sosok sang Kakak.
"Ayo Kak dimakan". Mereka berdua duduk dibangku taman kampus "Enak tidak?".
Rein mengangguk sambil melahap makanan yang diberikan Dilsa padanya.
"Kakak habis menangis?". Tanya Dilsa penasaran melihat mata Rein yang basah dan sembab.
"Tidak. Ini hanya kelilipan tadi". Sahut Rein
"Kakak kan pakai kacamata bagaimana bisa kelilipan?". Tanya Dilsa heran.
"Ya tentu saja bisa. Sudah, cepat makan".
Dilsa adalah adik tingkat Rein. Sama-sama fakultas kedokteran. Mereka berdua memang cukup akrab, apalagi Dilsa notabene gadis yang benar-benar berisik dan cerewet tentu lebih mudah akrab dengan Rein.
Bersambung......
__ADS_1