
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Deska bernafas lega. Setelah dua hari dirawat, akhirnya dia diperbolehkan pulang oleh Dokter.
"Dil, kau tidak kuliah?". Tanya Deska pada adiknya yang sedang menggelap tubuh sang ibu.
"Tidak Kak. Hari ini hanya satu mata kuliah saja". Sahut gadis itu.
Deska mengangguk dan tersenyum. Dia menatap sang Ibu yang masih terbaring lemah.
"Bu".
"Iya Nak". Senyum wanita patuh baya itu "Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?".
"Aku sudah sehat Bu. Hari ini aku akan masuk kerja kembali". Balas Deska sambil mengelus lengan wanita paruh baya itu "Ibu cepat sembuh yaaa?". Deska mendaratkan kecupan singkat dikening wanita patuh baya itu.
"Nak, dari mana dapat uang untuk biaya rumah sakit Ibu? Kenapa kita pindah diruangan VVIP?". Ujar Lisa menelisik ruangan mewah yang dia tempati sekarang "Ini pasti mahal". Imbuhnya lagi.
Deska menghela nafas panjang. Dia juga tidak harus menjelaskan bagaimana pada Ibu nya.
"Bu, ini semua Kak Rein yang bantu". Jawab Dilsa jujur.
Lisa merasa tak nyaman. Ini merepotkan sekali dan kedua putrinya pasti malu.
"Nak, kan Ibu sudah bilang jangan merepotkan orang lain. Nanti kita berhutang budi". Nasehat Lisa "Des, nanti jual salah satu kebun almarhum Ayah untuk ganti uang Rein. Ibu sudah sehat dan bisa pulang". Ucap Lisa. Ya tidak mau merepotkan banyak orang.
"Tapi Bu, itu usaha satu-satunya milik Ibu. Kalau kita jual bagaimana Bu?". Sergah Deska "Ibu tidak perlu khawatir. Aku akan ganti uang nya. Ini harus dirawat sampai sembuh". Sambung Deska
"Tapi_".
"Aku berangkat dulu yaa Bu". Deska menyalimi tangan Lisa "Dil, Kakak titip Ibu. Jika ada apa-apa, segera hubungi Kakak". Ujar Deska mengambil tasnya.
"Iya Kak, hati-hati".
Deska keluar dari ruang rawat Ibu nya. Gadis cantik itu tampak lelah. Memang sejak Lisa dirawat dirumah sakit, dia menginap disana, pulang ke rumah hanya memasak dan berganti baju lalu kembali lagi ke rumah sakit.
Gadis itu menatap gedung pencakar langit yang begitu mewah dan menjulang tinggi. Dia menghembuskan nafasnya pelan lalu berjalan masuk.
Deska masuk kedalam lift dan dia terkejut melihat ada Sean dan asisten nya Willy disana. Kenapa harus bertemu pria ini lagi? Ketika mengingat kejadian di lift tempo hari Deska sedikit canggung karena pernah merepotkan Sean.
"Selamat pagi Tuan". Sapanya
"Pagi juga Nona". Balas Willy. Sementara Sean hanya menjawab dengan anggukan.
Deska masuk dan berdiri disamping Willy. Sementara Sean disebelah kanan Willy.
__ADS_1
Sean mengintip wajah Deska dipantulan lift. Wajah gadis itu masih pucat tapi sudah memaksa bekerja.
Sean geleng-geleng kepala. Deska mengingatkannya pada Echy yang keras kepala juga. Walau sakit tetap suka memaksa diri.
"Apa kau sudah sembuh?". Dia bertanya tanpa melihat lawan bicara nya.
"Sudah Tuan". Jawab Deska mengangguk sopan.
"Kau masih pucat?". Imbuhnya. Terdengar dingin tapi sebuah perhatian.
"Saya baik-baik saja Tuan". Sahut Deska lagi.
Willy sedikit bingung dengan pertanyaan Sean untuk Deska. Dalam hati apakah ada sesuatu yang terjadi ketika dia melakukan perjalanan bisnis ke Jepang? Yang Willy tahu Sean tidak mau berinteraksi dengan wanita sembarangan kecuali Echy dan orang-orang terdekatnya.
Pintu lift terbuka. Ketiga orang itu langsung keluar
"Saya duluan Tuan". Deska membungkuk hormat.
"Tunggu". Cegah Sean "Buatkan aku kopi". Suruhnya dingin.
"Baik Tuan. Saya permisi".
Sean dan Willy menuju ruangan mereka. Pesona Sean tak ada duanya. CEO tampan itu menjadi incaran para wanita dikantor ini, tapi tidak ada yang berhasil dekat dengannya. Jika dulu hanya Echy yang bisa dekat Sean, sekarang tidak ada satu wanita pun yang bisa mendekat.
"Bacakan jadwalku Will".
"Jam sembilan pagi anda ada meeting bersama Tuan Dae, Tuan. Membahas saham pemindahan atas nama Nona Echy".
"Dilanjutkan meeting bersama beberapa pemegang saham dan pergantian direksi".
"Jam dua belas siang anda ada undangan makan bersama Tuan Markus dan Nonya Ardina, Tuan".
"Batalkan Will. Aku tidak mau bertemu mereka". Sean memijit pelipisnya "Pasti mereka ingin membicarakan Dea dan memaksaku membebaskan wanita itu". Sean menghela nafas panjang.
"Baik Tuan". Willy menutup iPad ditangannya.
"Permisi Tuan. Ini kopi anda". Deska datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
"Kenapa dua?". Tanya Sean sedikit heran
"Ohh ini Tuan Willy, Tuan". Senyum gadis itu manis.
"Terima kasih Nona". Willy mengambil cangkir dari nampan Deska.
"Sama-sama Tuan". Gadis berlesung pipi itu terlihat manis saat tersenyum "Kalau begitu saya permisi Tuan".
__ADS_1
"Iya Nona".
Sean menatap tak suka saat Willy tersenyum pada Deska.
"Kenapa kau masih senyum-senyum sendiri Will? Cepat keluar". Usir pria itu tak suka.
"Maaf Tuan. Saya permisi".
Sean menghela nafas panjang. Pria itu termenung sejenak. Dia kembali mengingat Echy. Gadis yang pernah singgah dihatinya. Kini gadis itu sudah bahagia bersama pilihan nya. Sementara Sean masih terjebak dalam patah hati yang hebat.
Semua wanita tergila-gila padanya. Tapi Echy, sama sekali tak menatapnya. Sean sadar Regan lebih segalanya dibanding dirinya. Tentu saja hati Echy akan berlabuh pada pria itu. Sean tidak tahu saja masa lalu Regan dan Echy.
.
.
.
.
"Dil". Rein masuk kedalam ruang rawat Lisa sambil meneteng plastik ditangannya.
"Kak Rein". Senyum terbit diwajah gadis kecil itu.
"Selamat siang Bu". Rein menyalimi tangan Lisa.
"Siang Nak Rein". Lisa tersenyum simpul. Zaman sekarang masih ada orang sebaik Rein yang mau membayar biaya rumah sakitnya.
"Bagaimana kondisi Ibu?". Rein meletakkan kantong plastiknya diatas nakas.
"Ibu baik-baik saja Rein. Terima kasih sudah membayar biaya berobat Ibu. Ibu berhutang budi". Ujar Lisa benar-benar merasa tak nyaman.
"Tidak perlu sungkan Bu. Rein ikhlas membantu Ibu". Ujar Rein
"Dil, kau sudah makan?".
Dilsa menggeleng "Belum Kak". Jawab gadis itu jujur
"Ya sudah, kau makan lah. Ini Kakak bawakan makan siang untukmu".
"Wahh terima kasih Kak. Kak Rein sudah makan?". Pria itu menggeleng saja "Kita Kakan bersama". Ajaknya.
Lisa tersimpul melihat kedekatan Rein dan Dilsa. Dilsa sering menceritakan padanya bahwa hanya Rein yang mau berteman dengan gadis miskin seperti nya. Sebab semua orang menatapnya rendah dan dia juga sering di-bully.
Bersambung.....
__ADS_1