Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Menyelidiki


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Regan duduk dikursi kebesaran nya. Pria itu tampak sedang berpikir keras. Seolah tak bisa terelakkan.


"Jadi Jerry Miller adalah Paman gadisku. Dan dia yang mengambil seluruh harta, mertuaku?". kesimpulan Regan setelah mendengar penjelasan Ben


Ben mendelik ketika Regan menyebut nama Mertua. Sejak kapan? Menikah saja gagal. Bagaimana bisa jadi mertua


"Iya Tuan. Sekarang perusahaan Miller Corp dalam acang kebangkrutan. Seluruh investor menarik saham mereka". Jelas Ben "Tuan Sean dan Tuan Dae sedang bersaing untuk mengajukan harga saham yang tinggi pada perusahaan itu". Imbuh Ben lagi


"Bagaimana bisa Dae dan Sean mengajukan investasi disana? Apa mereka tahu jika itu perusahaan gadisku?". Regan menatap kearah Ben


"Tidak Tuan. Mereka hanya menginginkan perusahaan itu. Karena perusahaan ini satu-satunya yang bergerak dibidang Furniture". Jawab Ben "Apalgi perusahaan Tuan Dae sedang naik daun, dia sangat membutuhkan asumsi untuk mempertahankan ketenarannya salah satunya dengan mengajukan penawaran pada perusahaan Miller Corp".


"Jangan lupa Ben, perusahaan ku nomor satu di Asia". Ketus Regan tak terima saat Dae dipuji


"Maaf Tuan anda benar. Perusahaan anda nomor satu di Asia". Ucap Ben memuji. Harimau ini harus dipuji, jika tidak bisa-bisa Ben diterkam olehnya.


"Atur pertemuan ku dengan Jerry Miller. Ajukkan penawaran yang lebih besar dari Sean dan Dae. Pakai saja nama gadisku". Tintah Ben


"Tapi Tuan_".


"Lakukan saja Ben jangan banyak protes". Ketus Regan


"Baik Tuan". Sahut Ben mengalah dan tidak mau berdebat lagi


"Apa gadisku sudah masuk hari ini?". Tanya Regan membuka berkas dimejanya


"Sudah Tuan. Nona bekerja seperti biasa". Sahut Ben


"Bagus. Awasi terus dia". Tintah Regan "Aku mau besok sudah bertemu dengan Jerry Miller. Pastikan pertemuanku dengannya tanpa sepengetahuan Sean dan Dae". Sambungnya


"Baik Tuan". Ben sambil membungkuk dan memberi hormat "Kalah begitu saya permisi Tuan". Regan tak menjawab dan malah fokus dengan berkas ditangannya


Regan menyenderkan punggungnya. Dia tersenyum ketika membayangkan wajah Echy. Setidaknya sudah ada kemajuan dan gadis itu tidak lagi menghindari nya meski masih begitu dingin tak tersentuh.


"Tenanglah sayang. Aku akan berjuang mengembalikan semua milik mu. Aku berjanji. Milik Ayah Mertua akan kembali padamu". Regan tersenyum simpul. Indahnya jatuh cinta


"Sean dan Dae, takkan kubiarkan kalian merebut milik ku. Lihat saja nanti. Aku akan memusnahkan kalian jika berani mendekati gadisku". Ujar Regan


.

__ADS_1


.


.


.


"Apa kau yakin Hon ingin menyusul Regan ke Indonesia?". Tanya pria paruh baya pada istrinya.


"Aku yakin Domain. Aku harus membangu putra kita menjelaskan pada Echy yang sebenarnya. Aku tidak mau nanti Regan depresi karena masalah percintaan nya. Kau tahu kan bahwa Regan benar-benar mencintai Echy?". Ucap Sang istri


"Iya aku tahu. Tapi bukankah Regan melarang kita untuk ikut campur. Aku rasa kita tidak perlu turun tangan dan biarkan Regan menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia sudah dewasa". Ucap sang suami menimpali


"Tapi_".


"Regan tahu apa yang harus dia lakukan Hon. Dia bukan anak kecil lagi. Dia pria dewasa yang bisa memilih sendiri yang terbaik untuk nya. Biarkan dia berjuang. Kita hanya cukup mendukungnya dari belakang. Aku tahu keresahan mu. Sama aku juga khawatir dan takut jika untuk kali ini Regan benar-benar tidak bisa jatuh cinta setelah ditolak Echy. Tapi aku yakin Echy gadis yang baik. Setelah dia tahu alasan Regan pergi pasti dia bisa memahami".


Sang istri menghela nafas berat. Dia menatap suaminya yang tersenyum lembut padanya.


"Kita kembali ke Indonesia untuk bertemu Gian saja. Aku merindukan cucu kita itu". Ucap sang istri


"Baik. Aku akan menyuruh Josh agar menyiapkan keberangkatan kita besok". Ucap sang suami tersenyum lembut pada sang istri dia merengkuh tubuh sang istri.


Pria paruh baya memeluk istrinya dengan erat. Ikut menangis. Memahami segala luka membelut. Mengingat kejadian lima tahun yang lalu sungguh benar-benar menyiksa hati.


.


.


.


.


Dae berjalan keluar dari gedung perusahaan nya. Wajah pria itu datar tak terbaca. Entah apa yang dia pikirkan hanya dia yang tahu.


"Silahkan Tuan". Rio membuka pintu mobil dan mempersilahkan pria itu masuk.


Dae masuk tanpa mengucapkan kata terima kasih. Dia menatap keluar jendela mobil.


Sampai disebuah restorant mobil Rio berhenti. Dia turun duluan dan membukakan pintu untuk Tuan-nya.


Dae menjadi pusat perhatian. Pria tampan dengan senyum minim itu mencuri perhatian para pengunjung. Semua mata menatapnya kagum dan damba, seolah baru pertama kali melihat pria tampan

__ADS_1


Sudut bibir Dae terhenti saat melihat dua orang gadis tengah asyik makan sambil mengobrol hangat. Jam makan siang memang biasanya restourant dipenuhi oleh para karyawan kantor yang mengambil jam istirahat.


"Boleh bergabung".


Kedua gadis itu mengangkat kepala mereka dan menatap pria yang tengah menanti jawaban mereka dengan senyum.


"Boleh Kak". Senyum Echy.


Sementara Kelly menatap Dae tak berkedip. Sumpah demi apapun pria ini benar-benar tampan dan menarik untuk ditatap dalam waktu lama. Mirip sekali seperti artis-artis Korea.


"Apa kabar?".


Dae menatap Echy tak berkedip. Hari ini dia mendapat keberuntungan karena bisa makan bersama Echy. Wanita incarannya. Dan untungnya Regan sedang melakukan meeting diluar kota jadi tidak perlu repot-repot harus berdebat dengan rivalnya itu.


"Sehat Kak". Jawab Echy sambil mengangguk dan memaksa kan senyum.


Rio memesan makanan untuk mereka. Kelly terus menatap Dae. Jantungnya berdebar melihat pria tampan itu. Walau dia tahu Dae adalah rival dari Regan. Tapi sekedar menganggumi boleh kan?


"Kau mau lagi?". Tawar Dae pada Echy


"Tidak Kak. Ini sudah cukup". Sahut Echy


"Benarkah? Biasanya kau makan banyak. Kenapa sekarang sedikit?".


"Aku sedang diet". Balas Echy beralasan. Padahal dia tidak boleh makan terlalu banyak


"Hai Kak. Perkenalkan aku Kelly". Kelly mengulurkan tangannya kearah Dae.


"Dae". Tanpa menyambut tangan gadis itu. Dae malah kembali menatap makanannya.


Kelly menarik tangannya. Gadis itu mencebik kesal. Dalam hati sombong sekali pria itu. Tapi kenapa dengan Echy begitu hangat dan padanya sangat dingin.


Mereka kembali makan. Rio ikutan makan biasanya dia tidak ikut Dae makan. Tapi karena Dae meminta nya jadi mau tak mau dia harus makan dengan Tuan-nya itu.


"Pelan-pelan". Dae membersihkan makanan yang menempel sudut bibir Echy


"Terima kasih Kak". Echy secepatnya menepis tangan Dae. Dia tidak suka disentuh.


Bukannya tersinggung Dae malah tersenyum simpul. Gadis ini benar-benar menarik. Sangat menarik. Ahh Dae jadi ingin merubah rencana untuk memiliki gadis itu seutuhnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2