
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Echy menatap suaminya yang tengah memasak bubur kesukaan nya. Biasanya Rein yang memasak. Tapi karena sekarang sedang berada di Amerika jadi Regan yang mengambil alih, pria itu memang jago masak terbiasa hidup mandiri.
"Sayang mau pakai bawang goreng?". Regan melirik istrinya
"Mau.. mau... Mau".
Regan terkekeh, ucapan Echy sangat lucu. Apalagi wanita itu sambil manggut-manggut seperti anak kecil.
Setelah melakukan beberapa treatment pengobatan, kondisi Echy sedikit membaik meski rambutnya takkan tumbuh lagi tapi setidaknya daya tahan tubuhnya sedikit kuat.
"Tidak usah pakai daun seledri yaa?". Ucap Regan
"Tapi Kak tidak enak". Protes Echy.
"Tidak boleh Sayang".
Echy memutar bola matanya malas. Suaminya ini posessif batas negara. Apa-apa tidak boleh. Semua Regan yang atur. Echy benar-benar seperti Tuan Putri di negeri dongeng yang dilayani dengan baik oleh Pangeran.
Regan membawa semangkuk bubur buatannya. Bubur dengan potongan daging ayam serta beberapa potong sosis madu, dibumbui dengan bawang merah goreng, kecap manis dan sedikit garam.
"Wahhh pasti enak". Seru Echy tak sabar.
"Aku suapi".
Wajah Echy langsung berubah masam "Kak aku bisa makan sendiri". Sergah Echy
"Tidak sayang, kau tidak boleh capek. Biar aku saja yang suapi yaaa?". Ujar Regan. Dia tidak mau istrinya itu kelelahan.
"Kakak_".
"Menurutlah sayang". Regan dengan gemes mencium bibir Echy hal itu semakin membuat wanita berkepala plontos itu kesal.
"Jangan ambil kesempatan dalam kesimpulan dehh Kak".
"Kesempitan sayang". Ralat Regan sambil meniup-niup bubur yang masih panas itu.
Echy tersenyum hangat. Suaminya ini paket komplit. Kaya. Tidak pelit. Tampan sudah pasti. Baik hati. Pengertian. Rajin. Lemah lembut. Dan masih banyak lagi. Echy sampai bingung untuk mendeskripsikan suaminya.
"Makan sayang".
Echy menerima suapan Regan seperti seorang Ayah tengah menyuapi putrinya.
"Bagaimana dengan perasaan mu sayang? Apakah masih terasa sakit?". Tanya Regan cemas, untung saja kondisi Echy tidak seperti kemarin.
__ADS_1
"Sudah lebih baik Kak. Kalau aku tidak sakit lagi, kita pulang ke Indonesia yaa. Aku rindu Gian dan Kelly, Rein dan Kak Dae. Semua tentang Indonesia aku rindu". Ucap wanita itu sendu.
"Iya sayang. Makanya harus semangat sembuh ya. Katanya mau punya anak?". Regan tersenyum simpul.
Echy mengangguk dengan cepat. Anak adalah motivasi terkuat wanita itu untuk sembuh, Echy tak pernah lagi meremang dalam kesakitan yang terdapat didadanya adalah bagaimana dia sembuh dan melewati semua proses penyakitnya.
"Kakak tidak makan?".
"Aku masih kenyang sayang". Sahut Regan "Ayo makan lagi". Regan kembali menyuapi Echy "Setelah makan mandi dan nanti aku ingin mengajak mu kesuatu tempat".
"Iya Kak". Ucap wanita itu dengan semangat.
Echy merindukan dunia luar. Selama kurang lebih tiga bulan berada di Amerika dia hanya terkurung dirumah sakit. Ditempat membosankan dan paling Echy benci. Namun, dia tidak bisa melawan takdir. Echy hanya berusaha menerima apa yang sudah Tuhan takdirkan untuknya, pasti ada kesembuhan disetiap penyakit.
Regan mengenggam tangan Echy. Dia mengajak istrinya itu berkeliling kota New York.
"Wahh Kak, indah sekali". Seru Echy semangat "Ternyata bahagia itu sederhana yaa Kak. Cukup saling mencintai dan menerima. Dan aku minta maaf karena selalu merepotkan Kakak. Aku seperti ratu saja".
Regan terkekeh. Dia menempelkan kedua tangannya di wajah Echy. Tersenyum simpul menatap wajah sang istri.
"Tidak sayang. Kau tidak pernah merepotkanku. Justru aku yang minta maaf karena belum bisa menjadi suami terbaik untukmu. Kau ratuku. Aku ingin selalu melayani mu".
"Kak rasanya bunga berterbangan dihatiku, andai saja Kakak bisa lihat". Celetuk Echy.
"Ayo sayang".
Mereka berjalan menikmati keindahan kota New York. Bermain dibawah guyuran salju. Untung daya tahan tubuh Echy sudah kuat jadi tidak rentan terhadap dingin.
Echy bermain sepuasnya diatas salju, bahkan wanita itu guling-guling saking senangnya. Dari dulu dia memang suka salju hanya saja waktu nya yang tidak sempat untuk liburan ke luar negri.
"Kakak hahha". Echy melempar suaminya dengan salju yang dia satukan.
"Rasakan pembalasan ku yaaa?".
Regan mengejar istrinya. Echy benar-benar jahil suka sekali membuat suaminya kesal.
Mereka saling kejar-kejaran dibawah butiran salju itu. Tertawa lepas tanpa beban. Seolah semua telah baik-baik saja.
Echy, dia tidak pernah meminta banyak hal. Dia hanya ingin bahagia bersama Regan disisa hidupnya. Mencintai pria itu dan memberi Regan keturunan
Setidaknya jika suatu saat Echy benar-benar pergi, ada yang menemani Regan yaitu buah cinta mereka. Echy berharap Tuhan mengabulkan satu doa nya saja. Jika dia tidak bisa sembuh izinkan dia memiliki keturunan.
"Kak capek. Gendong". Renggek wanita itu manja sambil mengulurkan tangannya.
Percayalah pria begitu menyukai wanita yang bermanja-manja dengannya. Merasa dibutuhkan. Merasa berarti. Begitulah perasaan Regan.
__ADS_1
"Ayo sayang naik". Regan berjongkok agar Echy naik ke punggung nya.
Echy naik seperti anak kecil dipunggung Regan. Gadis itu menggoyangkan kakinya dan bercanda ria dengan jahil juga dia mencium pipi suaminya.
Regan hanya menggeleng dengan gemes. Suasana seperti ini adalah saat terindah didalam hidup Regan dan Echy. Tidak pernah meminta yang lain ingin selalu bersama dan bahagia selamanya.
"Kakak aku mau makan spaghetti". Pinta Echy.
"Tidak boleh". Tegas Regan.
"Es cream". Masih menawar
"Tidak boleh". Tukas Regan
"Bobba". Mata Echy berbinar mendengar nama Bobba. Ahh apa kabar minuman kesukaannya itu?
"Semua tidak boleh sayang". Regan dengan gemesnya mengacak wig istrinya dari belakang.
Bibir Echy mengerucut kesal. Memang menjadi orang penyakitan itu terbatas. Tidak boleh makan sembarangan dan semua harus punya peraturan nya. Echy sangat tidak suka. Tapi bagaimana lagi, demi sembuh dia harus tahan untuk pantang.
Regan masuk kedalam Mansion mewahnya. Beberapa pelayan memberi hormat kepada dua majikan nya itu.
Kadang mereka iri melihat keharmonisan Regan dan Echy. Selalu bahagia dan manis.
Regan membawa Echy masuk kedalam kamar mereka. Dia mendudukan wanita itu dibibir ranjang.
"Capek tidak". Regan membuka sepatu istrinya.
"Kak aku bisa sendiri". Cegah Echy. Dia tidak nyaman selalu dilayani Regan harusnya dia yang melayani Regan bukan sebaliknya.
"Diam sayang".
Regan membuka mantel istrinya. Melepaskan kaos tangan Echy. Dia tidak akan membiarkan Echy kecapean. Dia harus jadi suami siaga yang selalu ada dua puluh empat jam.
"Kakak". Echy memeluk suaminya dengan manja
"Iya sayang kenapa? Ada yang sakit?". Regan membalas pelukan Echy.
Echy menggeleng "Aku bangga punya Kakak. Jangan berubah yaaa Cinta". Ucapan Echy manis sekali.
Regan rasanya ingin terbang melayang. Gombalan Echy selalu membuat hatinya berdebar-debar tak karuan.
Regan melepaskan pelukannya. Dia langsung menyambar bibir manis milik Echy. Bibir ini, hanya milik Regan dia tidak mau kehilangan bibir ini selamanya.
Bersambung......
__ADS_1