Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kita harus bicara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Regan turun dari mobil. Tatapan pria itu tajam. Para pengunjung menatapinya dengan damba.


Ben mengekor dari belakang. Mereka masuk kedalam restorant itu.


Regan menyapu tatapannya pada setiap meja, hingga tatapannya terhenti pada dua orang gadis yang tengah asyik makan sambil mengobrol.


"Ben, aku tunggu diruangan".


,


"Baik Tuan".


Ben menghampiri kedua gadis itu. Bagaimana pun caranya dia harus bisa membujuk Echy untuk berbicara dengan Regan.


"Selamat siang Nona".


Sapaan Ben, membuyarkan obrolan kedua gadis itu. Serentak keduanya menatap kearah Ben.


Kening Echy berkerut. Bukankah pria ini adalah asisten dari lelaki itu.


"Ada apa?". Tanya Echy dingin. Dia menyeruput jus dalam gelasnya. Padahal sudah dilarang minum minuman dingin tapi gadis itu sama sekali tidak peduli.


"Maaf Nona, Tuan ingin berbicara dengan Anda". Ucap Ben sopan.


"Mau bicara apa? Saya tidak ada urusan dengan Tuan mu itu". Sahut Echy menatap Ben tajam.


Ben bergidik ngeri. Dia menelan salivanya kasar. Wanita kalau sudah mengamuk biasanya lebih seram dari pada laki-laki.


"Anda temui saja dia Nona". Ujar Ben lagi.


Dalam hati Ben sudah berdoa agar Echy mau. Jika sampai dia gagal membujuk Echy. Hidupnya akan diujung tanduk oleh amukkan Regan.


"Saya tidak punya waktu". Jawab Echy


"Chy". Kelly mengenggam tangan sahabat nya "Temuilah dia. Mungkin dia ingin berbicara penting denganmu". Bujuk Kelly "Kau tenang saja. Kurasa dia tidak akan berani menyakiti mu lagi". Imbuh Kelly.


Echy menarik nafasnya dalam "Aku tidak takut padanya Kel. Aku hanya tidak ingin melihat wajahnya. Kau tahu kan dia penyebab segala penderitaan ku?". Jelas Echy.

__ADS_1


"Anda tidak tahu apa yang terjadi Nona. Jika anda tahu mungkin anda merasa bersalah karena sudah membenci Tuan". Batin Ben


"Aku tahu Chy. Makanya kau berikan dia kesempatan untuk berbicara". Sahut Kelly "Mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu padamu". Sambung Kelly.


Echy memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam. Rasanya emosinya sudah mengendap didalam sana. Dia benar-benar tidak bisa rasanya bertemu dan dekat dengan pria itu. Perasaan nya masih kacau dan berantakkan.


"Baiklah".


Echy mengikuti Ben. Gadis itu meremas ujung blazer yang dia pakai. Gugup. Jelas saja gugup. Dia akan berhadapan langsung dengan pria yang sudah menghancurkan hidup dan masa depan nya.


Rasanya Echy tidak sanggup. Tapi Echy harus lawan. Echy berharap ini adalah pertemuan terakhir mereka.


"Silahkan masuk Nona".


Ben membuka pintu dan mempersilahkan gadis cantik itu masuk kedalam sana.


Echy mengigit bibir bawahnya kepalanya tertunduk kebawah. Jantungnya berdegup kencang. Tak bisa dipungkiri bahwa ada rasa yang tak bisa Echy jelaskan. Bagaimana pun dia dan Regan adalah mantan pasangan kekasih. Dulu mereka adalah pasangan paling serasi yang selalu membuat orang lain iri. Namun dalam sekejap gelar itu mengulang begitu saja.


Echy masuk kedalam sana. Tampak Regan yang berdiri menyambutnya dengan senyum tak berdosa. Tuhan, bolehkah Echy mencakar wajah pria itu? Tapi jika Echy boleh jujur dia juga rindu pada pria ini. Pria yang dulu menjadi tempatnya bermanja-manja. Pria yang selalu menjadikan seperti ratu. Namun dalam sekejap membuangnya seperti batu.


"Chy". Suara Regan seakan tersekat. Dia ingin berlari memeluk Echy tapi dia tahu bahwa gadis itu tidak akan pernah menerima nya.


"Kita harus bicara". Ucap Regan mendekat.


"Jangan mendekat. Jika anda mendekat saya akan keluar dari ruangan ini dan tidak akan mendengarkan perkataan anda". Ancam Echy.


Kaki Regan terhenti. Dia menatap Echy berkaca-kaca. Orang yang tumbuh dari luka akan sensitif terhadap orang lain


"Maafkan aku Chy. Maafkan aku". Ucap Regan tanpa sadar air mata pria itu luruh.


"Jika anda memanggil saya hanya untuk minta maaf. Maaf saya tidak akan pernah memaafkan anda. Memaafkan anda tidak akan membuat orangtua saya kembali lagi ke dunia ini". Ucap Echy dingin dia tak menatap Regan sama sekali


Regan menunduk. Sebegitu patahkan luka yang dia tanam dihati Echy? Sehingga membuat wanita itu sama sekali tak mau menatap nya.


"Aku tahu aku salah. Tapi kumohon berikan aku satu kesempatan lagi. Aku mencintaimu". Regan menangkupkan tangannya didada


Echy tertawa sinis mendengar kata cinta dari mulut Regan. Rasanya Echy ingin mengajak pria ini baku hantam.


"Jangan katakan omong kosong mu itu Tuan. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan lari dihari pernikahan kita dan menghilang tanpa jejak".

__ADS_1


"Kau tahu, kaulah penyebab dari segala penderitaan ku. Karena kau, aku kehilangan segalanya. Kehilangan orangtuaku dan kehilangan diriku. Kau yang merebut semua kebahagiaan ku. Dan aku menyesal pernah mencintai pria bajingan seperti mu".


"Kau tahu bagaimana susahnya aku bertahan hidup selama ini. Aku mengorbankan hidupku agar bisa tetap makan. Aku bekerja keras. Aku hidup tanpa siapapun. Hanya Rein yang selalu menemaniku. Tapi setelah semuanya baik-baik saja, kau malah datang dan mengatakan kata maaf. Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya? Hah?". Sentak Echy meneriaki Regan. Air mata berderai dipipi gadis itu


"Kau tahu aku sangat membencimu. Sangat membencimu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu. Jadi tolong jangan temui aku lagi. Jangan ganggu hidup aku lagi. Biarkan aku tenang, sebentar saja. Aku ingin bahagia tanpa masa laluku. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Kau dan aku adalah orang asing. Lupakan semuanya. Dan aku berharap ini adalah pertemuan terakhir kita". Echy berbalik hendak keluar.


"Echy".


Regan menarik gadis itu kedalam pelukkannya. Dia menangis memeluk gadis itu.


Echy memberontak dan berusaha melepaskan pelukkan Regan. Bahkan dia memukul dada bidang pria itu. Namun Echy tetap tak bisa lepas dari Regan karena tubuh Regan yang kekar dan juga besar tak mampu dilawan oleh Echy.


"Lepaskan aku brengsekkkk. Lepaskan aku". Teriak Echy menggema.


Untung saja ruangan itu kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar pertengkaran mereka.


"Hiks hiks maafkan aku. Maafkan aku Echy. Aku terpaksa. Maafkan aku. Hiks hiks".


Regan memeluk Echy dan tak peduli lagi dengan pemberontak gadis itu. Dia ingin memeluk Echy. Melepaskan semua rasa rindu dan sesak didalam dadanya.


"Lepaskan aku".


Suara Echy mulai melemah. Seluruh tenaganya serasa habis. Energi nya menghilang entah kemana.


"Lepaskan aku".


Perlahan gadis itu tidak lagi memberontak. Air mata yang luruh menandakan bahwa dia terlihat begitu lemah.


Sakit. Patah. Kecewa. Hari yang dinantikan oleh nya dengan begitu tak sabar. Hari yang akan menjadi kebahagiaan untuknya. Berakhir tragis. Calon suaminya hilang tanpa kabar. Kedua orangtuanya meninggal dihari yang sama. Dalam sekejap harta bendanya ikut hilang begitu saja.


Dan dengan gampangnya pria itu malah meminta maaf dan meminta kesempatan kembali. Apa pria ini tidak tahu malu? Pria ini telah menurihkan luka kebencian dihatinya. Tapi dengan santainya meminta maaf tanpa dosa.


"Lepaskan aku".


Echy sudah tak memberontak. Tenaganya sudah habis. Dia membiarkan saja pria itu memeluknya. Dia ingin lepas. Tapi sudah tidak bisa melawan.


"Maafkan aku hiks hiks hiks".


Regan semakin erat memeluk gadis itu. Apalagi tidak ada perlawanan dari Echy. Entahlah, mungkin egois. Tapi Regan hanya ingin Echy memberinya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki segala kesalahannya yang dulu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2