
Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rein memarkir motornya diparkiran rumah sakit. Dilsa turun duluan dan membuka helmnya.
"Dirumah sakit ini?". Tanya Rein sambil membuka helm dan turun dari motor.
"Iya Kak. Ayo masuk".
"Iya".
Kedua mahasiswa kedokteran itu masuk kedalam koridor rumah sakit.
Sampai diruangan Ibu Dilsa dirawat, keduanya masuk. Disana seorang wanita paruh baya tengah terbaring dan seorang gadis cantik menyuapi wanita itu.
"Kak".
"Dil".
Gadis itu tersenyum lebar menyambut kedatangan adiknya.
"Nak". Panggil seorang wanita paruh baya juga.
"Bagaimana keadaan Ibu?". Tanya Dilsa lembut
"Ibu baik-baik saja Nak". Sang Ibu tersenyum lembut "Siapa dia Nak?". Wanita paruh baya itu melirik Rein.
"Ini Kak Rein Bu, senior dikampus Dilsa". Ucap Dilsa memperkenalkan Rein
"Saya Rein Bu". Rein berkenalan sambil salaman tangan.
Rein tersenyum hangat. Dia jadi rindu Ibu nya yang meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu dia menangis histeris tidak mau kehilangan dan perpisahan itu terjadi. Tapi sekuat apapun menolak takdir semua takkan kembali lagi.
"Kak perkenalkan ini teman ku Kak Rein".
"Rein".
"Deska".
Deska menyambar tas nya. Gadis ini hanya lulusan SMA yang bekerja sebagai cleaning service disebuah perusahaan besar.
"Dil, jagain Ibu yaaa? Kakak bekerja dulu". Ucapnya berdiri
"Iya Kak". Senyum Dilsa "Hati-hati Kak semangat kerjanya".
"Iya Dil. Rein Kakak duluan yaaa". Dia berpamitan ada Rein
"Iya Kak".
__ADS_1
Rein menatap iba pada Dilsa. Gadis kecil yang murah senyum ini memiliki kehidupan yang lebih susah darinya.
Dilsa gadis terbuka yang selalu menceritakan keluh kesahnya pada Rein. Jadi Rein cukup tahu kehidupan Dilsa.
"Dil, kenapa Ibu tidak dirawat saja dirumah sakit yang fasilitas nya lebih lengkap?". Tanya Rein penasaran dan heran. Jika dilihat Ibu Dilsa menderita penyakit cukup serius.
"Tidak ada biaya Kak. Ini juga Kak Deska pinjam uang temannya nanti diganti". Jawab Dilsa sendu "Biaya rumah sakit sangat besar, kalau dibawa ke rumah sakit yang mahal mau dapat uang dari mana? Yang kerja hanya Kak Deska saja". Lirih nya.
Rein terdiam sejenak. Dia menatap wanita paruh baya yang sudah tidur dengan tenang itu. Didalam ruangan itu ada empat pasien termasuk Ibu Dilsa. Ruangan sempit dan kelas menengah.
"Bawa saja Dil. Biar semua biaya Kakak yang tanggung. Ibu mu harus dirawat lebih intensif". Saran Rein.
"Tapi Kak Deska pasti menolak Kak. Kaka Deska bilang jangan bergantung pada orang lain, karena hutang budi tidak bisa dibayar dengan uang". Jelas Dilsa lagi.
Rein menghembuskan nafasnya pelan. Seperti nya Kakak yang Dilsa sama dengan Echy yang keras kepala dan tidak suka dibantu meski keadaannya susah.
"Kakak akan bicarakan dengan Kakak mu. Tidak usah khawatir". Senyum Rein
"Tunggu sebentar disini. Kakak keluar sebentar".
"Iya Kak".
Rein keluar. Dia menuju meja resepsionis dan menanyakan tagihan rumah sakit Ibu Dilsa. Rein juga meminta para dokter untuk memindahkan Ibu Dilsa keruangan VVIP yang lebih berfasilitas.
"Terima kasih Tuan. Kami akan segera memindahkan Nyonya Ayu ke ruangan VVIP".
Rein kembali keruangan Ibu nya Dilsa. Pria itu tersenyum hangat melihat Dilsa yang menyenderkan kepalanya dibibir ranjang sambil terpejam
Rein teringat ketika dulu dia berada dititik terendah dalam hidupnya. Sang Kakak yang sakit dan dia tidak memiliki biaya rumah sakit. Untung saja Echy bekerja di perusahaan yang memiliki asuransi untuk para karyawan nya jadi dia tidak perlu berepot-repot mencari uang untuk biaya rumah sakit Echy.
"Dil". Tangan Rein terulur mengusap kepala Dilsa.
"Kakak". Dilsa terbangun saat merasakan sentuhan dikepalanya.
"Siap-siap yaa. Ibu akan dipindahkan keruangan VVIP". Senyum Rein
"Lho, dipindahkan Kak? Siapa yang pindahkan?". Cecar gadis itu heran
Rein hanya menampilkan senyum manis nya saja. Gadis ini mengingatkannya pada Echy. Dia jadi rindu Kakak manja nya itu. Tapi sayang sejak Regan dan Echy kembali, Rein hanya memiliki sedikit waktu untuk Kakak nya itu. Selain sibuk, Regan juga posesif luar biasa.
.
.
.
.
__ADS_1
Deska naik ojek sampai ke perusahaan tempat nya bekerja. Selalu begitu setiap hari. Dia akan bergantian dengan Dilsa untuk menjaga Ibunya.
"Untung aku bisa datang siang". Dia menghela nafas panjang "Biaya rumah sakit Ibu besar sekali. Aku dapat uang dari mana untuk melunasinya?". Gadis cantik itu menghela nafas panjang.
Dia masuk kedalam gedung pencakar langit yang megah dan mewah itu.
Brakkkkkkkkkkk
"Awwwwwwww".
"Maaf Tuan". Gadis itu mengambil tas seorang pria yang jatuh karena ditabrak olehnya.
"Kau bisa hati-hati tidak?". Ketus pria itu mengambil dengan kasar tas ditangan gadis tadi.
"Maaf". Deska hanya bisa menunduk.
Pria itu menatap Deska dengan selidik. Gadis memakai seragam cleaning service dan baru datang setelah jam makan siang.
"Apakah kau bekerja disini?". Tanya nya mengintimidasi.
"I-iya Tuan". Deska hanya bisa menunduk takut.
"Kau baru datang?". Tanya nya lagi tak puas.
"I-iya Tuan". Jawabnya
"Jam makan siang? Ini jam berapa?". Dia menggeleng tak percaya "Besok tidak usah datang lagi". Ketus nya.
"Tuan, Tuan saya mohon jangan pecat saya Tuan. Saya masuk siang, karena...".
"Karena apa?". Tanya pria itu menatap sang gadis dengan selidik.
"Karena Ibu saya sakit Tuan".
Pria itu memejamkan matanya sejenak. Tidak tega. Ada rasa iba.
"Baiklah, kali ini ku maafkan. Tapi tidak untuk lain kali. Besok usahakan masuk pagi". Ujarnya dingin.
"Baik Tuan. Terima kasih".
Pria itu melenggang pergi meninggalkan Deska.
Deska menghela nafas panjang dia merasa jantungnya ingin berpindah tempat. Dia takut sekali pada pria tadi. CEO perusahaan tempatnya bekerja terkenal kejam dan dingin bahkan tak ada yang bisa berinteraksi dengannya secara langsung kecuali asisten sekaligus sekretaris nya.
"Hufffffft. Hampir saja aku dipecat. Kalau dipecat mau cari kerja dimana?". Gumamnya mengelus dadanya.
Bersambung...........
__ADS_1