Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Kami merindukan mu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Domain dan Ellena masuk kedalam kamar wanita itu. Hati keduanya berdenyut sakit melihat seorang wanita yang terbaring lemah dengan wajah pucat serta beberapa selang mengalir dibagian tubuhnya lain.


"Nak". Lidah Ellena terasa tercekat "Kapan kau bangun Nak? Kami merindukan mu". Ucap Ellena begitu lirih dan terdengar sendu.


Domain ikut menghampiri. Hatinya juga sakit sekali. Sudah lima tahun wanita itu terbaring setelah melahirkan dan sampai hari ini tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan bangun.


"Kami merindukan mu Nak. Apa kau tidak ingin bertemu putramu? Sekarang dia sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Dia sangat tampan. Mirip sekali dengan Regan dan denganmu". Ucap Domain terasa begitu berat.


Ellena mengusap kepala wanita itu dengan lembut. Berusaha kuat dengan keadaan tapi pada kenyataannya dia tetaplah seorang wanita yang juga lemah.


"Bagaimana penjelasan Dokter Zora, Domain. Apakah ada perubahan terhadap Megan?". Tanya Ellena pada suaminya. Tanpa menatap wajah pria itu.


Domain menggeleng "Belum ada perubahan. Benturan dikepalanya sangat kuat. Apalagi Megan pernah mengalami pendarahan di otaknya, ini sedikit sulit untuk nya". Sahut Domain dengan sendu.


Ellena kembali menatap wanita cantik. Dia menggenggam tangan wanita itu air mata luruh begitu saja. Tidak kuat sudah pasti. Lima tahun berlalu, sama sekali wanita itu tak terusik dari tidur panjangnya.


"Apa yang harus kita lakukan Domain? Kasihan Regan. Dia harus menanggung semua beban ini. Belum lagi masalah Echy. Pasti gadis itu sangat membencinya". Ucap Ellena sendu, air mata sudah tak terhitung berapa yang jatuh.


Domain menghela nafas panjang. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia sudah mencari dokter terbaik untuk merawat wanita itu tetap tak ada perubahan sama sekali.


"Tidak ada Hon. Kita hanya bisa berdoa. Semoga keajaiban terjadi untuk Megan". Ucapnya sendu dan dengan nada berat.


Ellena tak bisa lagi berucap. Selama lima tahun ini hidup mereka selalu diselimuti dengan rasa takut dan bersalah. Tidak bisa lepas begitu saja. Dan perasaan bersalah itu tidak akan hilang sampai kapanpun


"Kematian Adam dan Viollitha masih begitu membekas dihati Echy. Aku tidak yakin, jika gadis itu bisa menerima Regan kembali. Mungkin hukum karma untuk kita karena sudah menyebabkan penderitaan Echy". Ungkap Domain lagi.


"Iya Domain. Entah bagaimana kita bisa mendapatkan maaf dari gadis itu. Tapi jika dia tahu alasan kepergian Regan, aku yakin dia akan mengerti. Dia gadis baik". Ellena tersenyum getir.


"Iya. Bagaimana pun caranya kita harus membantu Regan untuk menyelesaikan semua masalah ini Hon. Aku tidak bisa membiarkannya berjuang sendiri. Dia butuh kita. Regan itu hanya berpura-pura kuat saja. Padahal sebenarnya dia rapuh sekali". Ujar Domain.


Keduanya kembali menatap wanita itu. Wanita cantik yang terbaring selama lima tahun. Entahkah wanita itu tertidur, pingsan atau memang sudah mati?


Tapi jika dia sudah mati. Kenapa pendektesi jantung nya masih bekerja? Menunjukkan kinerja jantungnya. Jika tertidur kenapa tidak bangun-bangun? Apakah tidak lelah. Dengan tubuh terbaring seperti itu? Tidakkah panas atau dingin meski ruangan itu dipenuhi AC?


"Cepat bangun Nak. Kasihan Regan dan Gian. Mereka menanti kedatangan mu. Mereka merindukan mu. Ayo bangun Nak". Ellena terisak.


Kedua pasangan paruh baya itu menangis didepan wanita yang masih terbaring lemah. Meluapkan semua perasaan mereka.

__ADS_1


.


.


.


.


Sean keluar dari ruangan nya. Hari ini dia akan bertemu Jerry Miller pemilik perusahaan Miller Groups.


"Apa kau sudah menyiapkan semua nya Wil?" Tanya Sean sambil melihat iPad ditangannya.


"Sudah Tuan". Sahut Willy.


Sampai disebuah restorant mereka langsung turun.


Sean melangkah dengan langkah lebar. Tatapannya dingin dan tajam. Willy mengekor dari belakang. Tidak hanya tampan tapi dia juga berkarismatik.


Langkah Sean terhenti saat melihat banyak orang yang berkerumun.


"Ada apa Will?". Sean sedikit penasaran


"Siapa?".


"Tidak tahu Tuan". Sahut Willy.


"Aku ingin melihat nya Will. Aku penasaran". Sean melangkah berbalik menuju kerumuman itu


"Tapi Tuan sebentar lagi anda meeting". Willy berusaha mencegah dan Sean tidak peduli.


Willy menghela nafas panjang lalu mengikuti langkah kaki Sean.


Sean semakin penasaran. Banyak sekali orang disana.


Sean menyelip diantara orang-orang itu.


"Kak Regan hiks". Kelly memangku Regan yang sudah dipenuhi dengan darah.


Echy masih mematung ditempatnya. Seluruh pompa darah dalam jantung nya terasa berhenti mengalir. Tubuhnya kaku seketika. Matanya tak berkedip sama sekali.

__ADS_1


"Rio cepat bawa dia". Tintah Dae


"Baik Tuan".


Ben dan Rio segera membawa Regan masuk kedalam mobil. Echy masih mematung ditempatnya.


"Echy". Gumam Sean


"Echy ayo". Dae merangkul bahu gadis itu "Echy ayo". Echy malah terdiam mematung. Kepala plontos menjadi ciri khasnya


"Echy ayo. Echy. Echy". Dae menguncang tubuh wanita itu dengan panik. Apalagi Echy hanya diam tanpa ucapan apapun.


Melihat Echy yang hanya diam. Dae segera menggendong gadis itu dan membawa nya masuk kedalam mobil menyusul Kelly, Ben dan Rio.


Kelly sudah menangis histeris memeluk Regan. Trauma tentu saja. Takut sudah pasti. Apalagi banyak darah yang keluar dari kelas Regan


Kelly menatap Echy. Dia juga panik melihat sahabatnya yang hanya diam seperti orang bisu itu.


"Chy kau baik-baik saja? Chy jawab aku Chy. Jangan hanya diam saja. Jangan membuatku panik". Desak Kelly.


Namun lagi-lagi gadis itu seperti mati berdiri. Tak menjawab apapun. Hanya menatap kosong saja. Pikirannya kosong entah apa yang dia pikirkan. Hanya dia yang tahu.


"Tidak perlu didesak. Urus saja Regan". Ucap Dae mencegah Kelly yang mengguncang tubuh Echy.


Kelly kembali menatap wajah pucat Regan. Tidak. Tidak. Dia tidak akan siap kehilangan Regan. Sudah cukup rasa kehilangan yang juga Kelly rasakan. Kehilangan itu tidak nyaman. Bisa menemukan seluruh raga dan perasaan.


Mata Echy terpejam dan gadis itu jatuh ke dalam pelukan Dae. Syok pasti. Bagaimana tidak? Pria yang begitu dia benci rela mengorbankan nyawanya demi dirinya. Ada gelajar aneh yang Echy rasakan didalam hatinya.


"Echy bangun Chy. Bangun Chy". Dae menepuk-nepuk pipi gadis itu.


"Astaga Kak, Echy mimisan lagi". Kelly lagi-lagi panik. Dia seperti orang mati pikiran "Ini Kak tolong bersihkan darahnya". Kelly memberikan selembar tissue pada Dae.


Dengan tangan bergetar dan takut Dae membersihkan hidung Echy yang berdarah. Sumpah demi apapun dia takut darah. Dae takut darah. Darah mengingatkan nya pada kematian sang adik yang memilih membunuh diri dengan menusuk perut nya sendiri.


Kelly menangis histeris memeluk Regan. Sedangkan Dae menangis dalam diam memeluk Echy. Mereka berdua saling bertangisan memeluk kedua orang itu.


Rio dengan cepat mencapkan gas nya. Sedangkan Ben sibuk menghubungi rumah sakit agar bersiap-siap.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2