
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Regan membanting pintu mobilnya. Pria itu berjalan memasuki Mansion mewah itu dengan letih dan lesu.
"Bagaimana aku bisa menjaganya secara langsung?". Gumamnya. Pria itu menghela nafas panjang
Kaki jenjangnya menuntunnyq masuk kedalam. Dia melepaskan jacket yang melekat ditubuhnya. Dia benar-benar lelah.
"Daddy".
Senyumnya langsung mengembang dan rasa lelahnya kian menyurut ketika mendengar panggilan dari bocah tampan yang selalu menghiasi hari-harinya.
"Boy".
Dia berjongkok dan menyambut pelukkan bocah berusia lima tahun itu lalu menggendong nya dengan senyuman mengembang.
"Sudah makan?". Bocah itu mengangguk "Ya sudah ayo Daddy akan menidurkan mu".
"Iya Dad".
Bocah tampan itu memeluk leher Regan dengan posessif. Dia begitu menyanyangi pria itu. Sangat menyanyangi pria ini.
Mereka berdua masuk kedalam kamar sang bocah dengan tertawa renyah seolah tanpa beban. Regan tidak mau terlihat sedih didepan anak laki-laki itu. Dia harus kuat dan tangguh.
Regan menidurkan bocah tampan itu. Hanya ada mereka berdua tinggal dirumah ini. Kadang kesepian melanda, bocah itu bisa menangis memanggil nama Ibu nya.
Regan menatap wajah damai bocah tampan itu. Hatinya teriris sakit karena tidak bisa dua puluh empat jam menjaga bocah ini. Bocah ini sangat rewel bahkan para pengasuh saja sudah menyerah mengasuhnya. Tak ada yang bertahan, hanya Bik Yum saja yang bertahan itu pun wanita tua itu dikerjai habis-habisan.
"Daddy akan menjagamu Boy. Cup". Regan mengecup kening bocah itu.
Regan keluar dari kamar pria kecil itu, dia menutup pintu sangat pelan takut jika terdengar suara yang bisa membangunkan bocah itu.
Regan melangkah masuk kedalam sebuah kamar disamping kamarnya.
Pria itu menatap sendu, seorang wanita cantik yang masih terbaring damai disana. Sudah lima tahun wanita itu tak bangun-bangun. Apakah dia masih hidup? Atau sudah mati.
Saat Regan pindah ke Indonesia dia juga membawa wanita ini bersamanya. Dia ingin memantau perkembangan wanita itu.
Regan berjalan pelan. Dentingan pendeteksi jantung terdengar menggema disana. Kamar mewah itu lengkap dengan berbagai fasilitas alat medis.
Regan duduk dikursi samping ranjang wanita cantik itu. Wajah wanita itu pucat. Oksigen menempel dihidung mancungnya.
"Kapan kau akan bangun? Aku sudah lelah menunggumu. Apa kau tidak merindukan putramu. Dia sudah besar dia terus menanyakan dimana Mommy nya? Aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku membawanya bertemu dengan mu dalam keadaan seperti ini? Jika kau mendengar ku, bukalah matamu. Tolong buka matamu".
Regan mengecup punggung tangan wanita itu. Tangannya juga terulur mengusap kepala wanita cantik itu.
Beban dipundaknya begitu banyak. Selama lima tahun belakangan dia merasa sendirian. Tak ada tempatnya untuk menggadu.
Kedua orangtuanya juga dalam keadaan tidak sehat. Regan tidak berani membebani mereka dengan perasaan nya. Biarlah dia tanggung sendiri. Dia yakin bisa melewati ini, meski harus jungkirbalik.
"Kau tahu sekarang kita sudah berada di Indonesia? Aku sudah mencari gadisku. Dia semakin cantik. Aku merindukan nya. Tapi". Suara Regan tercekat "Dia juga membenciku. Bahkan dia sama sekali tidak mau menatap mataku. Aku seperti virus yang harus dia hindari. Apa yang harus aku lakukan Megan? Aku mencintainya sangat mencintainya. Aku tidak mau lagi kehilangan nya seperti lima tahun yang lalu".
Regan menelungkup kan wajahnya ditangan wanita itu. Begitulah dia, setiap kali merasakan rapuh dia akan mendatangi wanita koma itu untuk sekedar bercerita tentang suasana hatinya. Berharap wanita ini mendengar nya dan terbangun untuk membantu nya.
"Hiks hiks. Dia sakit Megan. Dia menderita penyakit serius. Aku takut. Aku benar-benar takut, jika dia benar-benar pergi untuk selamanya dari hidupku".
Regan menangis bersahutan dengan dentingan suara dari arah monitor itu. Tak peduli lagi dengan hatinya. Dia hanya ingin menangis melepaskan semua beban yang ada didadanya.
__ADS_1
.
.
.
.
Rein memasukkan barang-barang Echy kedalam tas. Hari ini Echy sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sementara hasil pemeriksaan Echy akan keluar Minggu depan.
"Ayo Rein". Echy turun dari ranjang dengan semangat.
"Kak pelan-pelan". Tegur Rein membantu Echy turun "Pakai kursi roda atau mau digendong?". Tanya Rein sambil membantu gadis itu turun
"Ck jalan saja. Kau pikir Kakak ini lumpuh yang tidak bisa berjalan". Gerutu Echy.
"Kak, Rein tidak mau nanti Kakak kelelahan. Kata Dokter Zora Kakak tidak boleh lelah". Sahut Rein.
"Tidak perlu lebay Rein. Kakak ini kuat. Jangan meremehkan". Ketus Echy.
"Ya ya baiklah. Kakak memang kuat". Rein mengalah dari pada berdebat "Ayo. Gandeng tangan Rein saja ya?". Echy mengangguk.
Echy melingkarkan tangannya dilengan Rein. Sejujurnya perasaan nya masih ngambang. Tapi karena dia tidak suka bau rumah sakit jadi dia tahan saja dan penyakit harus dilawan bukan jangan dimanjakan.
Mereka berdua keluar dari ruangan.
"Selamat siang Tuan. Nona". Sapa seorang pria berbaju hitam. Yang tidak lain adalah orang suruhan Regan.
"Siang".
Echy dan Rein saling melihat heran. Siapa pria ini dan kenapa terlihat sopan sekali pada mereka?
"Maaf. Tapi_".
"Saya pengawal Dokter Zora. Dokter Zora memerintahkan saya untuk mengantar anda Nona. Untuk sekedar memastikan bahwa anda baik-baik saja sampai rumah". Sahutnya
"Tapi_".
"Saya mohon Nona. Jangan mempersulit saya. Nyawa saya taruhan nya jika anda menolak untuk saya antar pulang".
Echy dan Rein semakin heran. Mencurigakan
"Apakah bayar?". Tanyanya Echy.
Pria berbaju hitam itu malah tersenyum simpul.
"Tidak Nona. Saya memang ditugaskan untuk mengantar anda pulang".
"Baiklah". Sahut Rein
Ketiga orang itu berjalan. Sang pengawal mengekor kedua orang itu dan tak lupa menghubungi Tuan-nya bahwa dia segera mengantar Nona Muda mereka pulang ke Apartement.
Rein dan Echy masuk kedalam mobil mewah itu. Kedua orang itu benar-benar kagum melihat interior mobil mewah itu. Pasti harga mobil ini sangat mahal.
"Ehem, Rein gaji dokter itu mahal atau tidak?". Tanya Rein pada adiknya.
"Tergantung Kak. Memang kenapa?". Rein menatap heran kearah Echy.
__ADS_1
"Kakak penasaran sekaya apa Dokter Zora. Berapa harga mobil ini? Rasanya tidak percaya saja jika Dokter Zora memperhatikan kita seperti anak sendiri". Ujar Echy. Dia bicara blak-blakan tanpa memikirkan perasaan pengawal yang menyetir didepan.
"Sttttttttttt, Kak". Tegur Rein sambil meletakkan jarinya dibibirnya
Sementara pengawal yang menyetir menjadi kikuk. Bahkan pria itu mengangguk tengguk nya yang tidak gatal. Ternyata Nona Muda mereka itu begitu peka dan mudah curiga. Untung saja tidak ketahuan. Jika sampai ketahuan sudah pasti hidupnya diujung tanduk.
.
.
.
.
"Kelly".
"Iya Tuan Sean".
Kelly yang tengah membereskan meja kerjanya sedikit kaget dengan panggilan Sean.
"Apa alasan Echy mengambil izin?". Tanya Sean. Dia belum melihat surat izin yang Echy ajukan pada perusahaan.
"Sebentar Tuan".
Kelly mengambil amplop berwarna putih didalam lacinya. Lalu memberikan nya pada Sean.
Sean membuka amplop itu dan membawa isinya. Dia menghela nafas. Entah untuk apalagi Echy mengambil izin. Yang Sean takutkan jika Echy ini sedang sakit, maklum gadis itu suka sekali mengerjainya.
"Terima kasih".
Sean mellengang pergi dari ruangan Marketing. Pria itu tampak frustasi karena sudah tiga hari Echy tidak masuk. Memang ada surat izin, tapi Sean tetap merasakan panik.
"Permisi Tuan. Ada telpon dari Nyonya Besar". Ucap Willy.
"Bilang saja aku sibuk. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun". Ketus Sean.
"Baik Tuan". Sahut Willy yang tidak mau memaksa "Apa anda baik-baik saja Tuan?". Tanya Willy hati-hati.
Sean menarik nafas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan
"Echy sudah tiga hari tanpa kabar. Aku khawatir terjadi sesuatu untuk nya". Sahut Sean
"Kenapa anda mengkhawatirkan nya Tuan?". Willy memberanikan diri bertanya
"Karena aku_". Sean tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Apa anda menyukai Nona Echy Tuan?". Sean hanya terdiam "Maaf Tuan bukan maksud saya ingin mengurui anda, sebaiknya anda jangan berharap banyak pada Nona Echy. Bukan saya sok tahu tapi Nona Echy hanya menganggap anda sebagai Kakak dan atasan nya saja Tuan. Anda juga sudah memiliki tunangan, saya hanya khawatir jika Nona Dea nekat mencelakai Nona Echy". Ucap Willy hati-hati.
"Apa maksudmu?". Sean menatap Willy tajam.
"Saya rasa anda paham Tuan, siapa Nona Dea". Sahut Willy.
Sean menghembuskan nafas kasar "Tapi aku tidak bisa membohongi perasaankh Willy. Aku sama sekali tidak menyukai Dea. Entah bagaimana Daddy dan Mommy bisa memilih nya menjadi calon istri ku. Padahal mereka sudah tahu siapa Dea". Desah Sean merasa begitu lelah.
"Ini bukan semata untuk anda Tuan. Didalam nya ada bisnis yang sedang Tuan Besar dan Nyonya Besar rencanakan".
"Aku tahu Willy. Maka dari itu, aku tidak akan pernah membuat mereka berhasil". Sahut Sean.
__ADS_1
Bersambung.....