Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Cinta butuh pembuktian


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Kak Dae". Panggil Kelly genit


"Ada apa?". Ketus pria itu


"Makan siang yukkk". Tawarnya manja


"Belum lapar". Judesnya.


"Jangan menunggu lapar baru makan. Nanti kalau Kak Dae sakit bagaimana?". Celetuknya "Sekalian sama Echy dan Kak Regan. Mereka sudah menunggu direstourant". Jelasnya masih berusaha. Cinta butuh pembuktian bukan?


Pria itu terdiam sejenak. Sebenarnya dia sangat lapar tapi karena malas terus dibuntuti gadis ini membuatnya harus menahan.


"Bagaimana Kak?". Echy mengintip wajah Dae. Ahhh pria ini sangat tampan membuatnya ingin mengigit pipi Dae, gemes.


Dae menghela nafas. Kelly sama dengan Echy. Sebelum keinginan nya terpenuhi dia takkan berhenti untuk meminta sesuatu.


"Baiklah". Sahut pria itu pasrah


"Yesssss". Gadis berjingkrak senang "Ayo Kak". Dia mengandeng lengan Dae.


"Jangan pegang-pegang". Ketus pria itu.


"Sudah. Jangan banyak protes Kak".


Kelly menarik tangan Dae keluar dari ruangannya. Saking love love nya pada pria itu dia rela pindah kantor dan membujuk Echy agar bisa berkerja di kantor Dae.


Mereka menjadi pusat perhatian. Banyak karyawan Dae yang patah hati berjamaah. Karena CEO tampan mereka sudah dapat gandengan.


Kelly ingin menunjukkan pada semua karyawan Dae bahwa dia dan Dae memiliki hubung spesial lebih dari Boss dan anak buah.


Dae menghela nafas panjang. Kelly memang sering sekali membuatnya kesal. Tapi juga membuatnya merasa nyaman


"Cintaku".


"Sayangku".


Echy dan Kelly cepika-cepiki seolah baru bertemu dari perpisahan panjang. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu.


"Apa kabar cinta?". Kelly melepaskan pelukannya.


"Baik Cinta. Ayo duduk".


Gian menatap heran mendengar nama panggilan kedua gadis itu. Bocah tampan itu melirik Echy dan Kelly secara bergantian.


"Mommy dan Aunty Kelly pacaran?".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


"Minum". Dae menyedorkan gelas pada Kelly.


"Terima kasih Kak".

__ADS_1


Sedangkan Echy kesem-kesem sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Regan dan Dae menahan tawa. Dia menggeleng gemes. Echy dan Kelly memang sering menggunakan nama panggilan itu. Siapa yang takkan salah paham?


"Kau bicara apa sayang?". Tanya Echy kikuk tidak nyaman dengan Regan yang mentertawakan nya.


"Tadi Mommy panggil Aunty Kelly dengan panggilan Cinta". Bocah itu tampak penasaran.


"Makan Son. Tidak usah dibahas". Ucap Regan


"Iya Dek".


Mereka lanjut makan. Echy dan Kelly terus saja saling berceloteh satu sama lain. Sehingga meja makan itu penuh dengan suara makan mereka berdua.


Regan dan Dae hanya bisa menggelengkan kepala nya gemes. Kedua gadis itu memang sudah biasa berbicara sambil makan. Tidak peduli jika ditegur yang penting mereka senang.


"Bagaimana dengan perusahaan Miller?". Tanya Dae pada Regan. Mereka biarkan saja Echy dan Kelly terus bercanda


"Ya semua akta perusahaan sudah berganti nama Echy. Aku akan menyuruh Ben untuk menghandle semuanya sementara waktu, sampai Echy memungkinkan untuk bekerja kembali". Jelasnya


Dae mengangguk paham. Mereka kembali makan. Dae bersyukur Echy memiliki pria seperti Regan. Pria bertanggung jawab yang setia berjuang untuknya dan selalu menjaga Echy dengan cintanya.


Setidaknya Dae merasa tenang dan aman. Karena Echy pasti akan nyaman bersama Regan. Regan pria yang tepat untuknya.


.


.


.


.


"Kak Rein".


"Iya Dil?". Dia tersenyum hangat pada gadis kecil itu.


"Kak makan siang yuk. Kebetulan aku bawa bekal lebih buat Kakak". Tawarnya


"Boleh".


Mereka berdua menuju kantin kampus. Rein memang pria tertutup yang jarang bergaul dengan mahasiswa lainnya. Hanya Dilsa yang begitu dekat dengannya. Itu pun karena gadis itu tidak pernah menyerah mendekati nya.


Mereka berdua duduk dikantin. Suasana menjad tegang. Para mahasiswa-mahasiswi menunduk hormat pada Rein. Sebab mereka tahu bahwa Rein adalah calon adik ipar dari pengusaha ternama dan bahkan pemilik saham terbesar dikampus ini.


"Kak, kenapa mereka melihat kita yaaa? Apa ada yang aneh ya Kak?". Dilsa celingak-celinguk melihat sekitar nya.


"Sudah. Tidak usah dipikirkan. Mana bekalnya?". Ujar Rein yang tidak peduli.


"Ini Kak. Aku sendiri yang masak lho". Seru Dilsa memberikan satu kotak bekalnya


"Apakah enak?". Rein membuka kotak bekal itu.


"Buka saja Kak".

__ADS_1


Rein mengambil makanan itu lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


"Enak". Dia manggut-manggut


Mereka berdua melanjutkan makan, sesekali diselingi dengan canda dan tawa.


"Bagaimana keadaan Ibu?". Rein menutup kotak makanannya.


Dilsa menggeleng lemas "Tidak ada perubahan Kak. Kata dokter harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar. Tapi aku tidak uang banyak Kak. Bahkan biaya semester saja belum dibayar. Belum lagi biaya kuliah Kak Deska. Kakak sampai cuti kuliah dan kerja paruh waktu demi agar bisa makan Kak". Jelas gadis itu sendu sambil merebahkan kepalanya di meja.


Rein mengusap kepala Dilsa. Gadis ini berusia enam belas tahun. Masih muda dan baru semester satu.


"Ayo ajak Kakak jengguk Ibu". Ujarnya


"Kak mau jengguk Ibu?". Gadis itu langsung bangkit


"Ayo. Bereskan tempat makannya". Ajaknya


"Iya Kak". Dilsa merapihkan bekas makanan mereka.


"Ayo Dil".


Rein mengandeng tangan Dilsa. Membuat gadis heran dan salah tingkah. Dilsa menatap Rein yang berjalan sambil tersenyum mengandeng tangannya. Pria berkacamata tebal ini tidak hanya tampan dan pintar tapi juga baik hati.


Dilsa tersenyum senang. Dulu pertama kali dia kenal Rein, pria itu selalu dingin dan seperti menganggapnya tak ada. Tapi sekarang pria ini benar-benar hangat dan selalu memperlakukan nya dengan baik.


Banyak yang ingin dekat dengan Rein atau sekedar berteman. Tapi pria itu seperti memasang tembok pemisah yang tidak bisa ditembus oleh orang lain. Rein ingin menemukan seseorang yang mencintai dan berteman dengannya dengan perasaan tulus tanpa embel-embel dia adik ipar Regan.


"Pakai Dil". Rein memberikan helm pada gadis itu.


"Terima kasih Kak". Dilsa memasang helm dikepala munggilnya.


Rein menggeleng dengan senyum saat melihat Dilsa kesusahan memasang helm itu, hal itu mengingatkan Rein pada Kakak nya Echy yang selalu manja dan minta dipasangi helm


"Sini Kakak pasang".


Rein memasangkan helm itu dikepala Dilsa. Hal itu sukses membuat gadis belia itu salah tingkah. Menatap wajah Rein dari dekat. Ahhh ada apa dengan jantungnya?


"Ayo".


"Iya Kak".


"Pegang yang kuat".


Meski sudah kaya dan memiliki segalanya. Rein tetap tampil apa adanya. Tidak tergiur dengan kemewahan. Bagi Rein pamer harta kekayaan orangtua itu tidak seharusnya. Rein ingin sukses menjadi dokter dan memiliki rumah sakit sendiri.


"Rumah sakitnya jauh dari sini?". Tanya Rein sedikit berteriak.


"Lumayan jauh Kak". Balas Dilsa juga berteriak.


Dilsa gadis ceria itu, selalu menyembunyikan kesedihannya. Hidup tanpa Ayah dan hanya bertiga dengan Ibu nya membuatnya harus belajar mandiri dan tidak manja. Dia ingin bekerja paruh waktu. Tapi Kakak nya yang sebentar lagi akan wisuda itu, tidak mau mengizinkan adiknya. Apalagi Dilsa calon dokter dan harus lebih fokus lagi belajar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2