
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jari lentik Echy bergerak. Matanya juga mengerhab-ngerjab tampak bulu matanya bergerak seperti hendak membuka matanya.
Perlahan mata gadis itu terbuka. Dia menatap langit-langit rumah sakit. Tampak kamar ini sangat asing bukan dikamarnya.
"Kak".
Echy menoleh. Terlihat Rein tengah menyambut nya dengan senyum. Adiknya itu selalu menjadi tempat terbaik Echy bersandar dan bermanja-manja.
"Rein Kakak dimana?". Lirihnya memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kakak dirumah sakit". Sahut Rein.
Echy memperhatikan setiap sudut ruangan itu dan memang dia sedang berada dirumah sakit tampak dari peralatan medis yang berada diruangan itu.
Echy berusaha duduk. Tak lupa Rein siaga membantu Kakaknya itu.
"Ck, kenapa kau masih membawa Kakak kerumah sakit Rein?". Gerutu Echy kesal sambil bersandar di dinding ranjangnya.
"Kakak ini bagaimana sih? Orang sakit ya dibawa kerumah sakit tidak mungkin Rein bawa Kakak ke bengkel". Ketus Rein
Echy menatap ruangan mewah. Dia heran kenapa bisa dipindahkan ke ruangan mewah ini? Berapa uang sewa yang harus dia bayar? Belum lagi biaya rumah sakit. Kehidupannya dengan Rein sederhana. Gaji Echy memang besar tapi itu dia gunakan untuk biaya hidup biaya praktek Rein.
Rein memang mendapat beasiswa tapi hanya biaya kuliah saja, jika biaya praktek dan yang lainnya ditanggung sendiri.
"Rein kenapa Kakak ada diruangan ini? Kau tahu kan ini ruang VVIP? Berapa banyak uang yang akan kita keluarkan untuk bayar ruangan ini?". Ujarnya
"Kakak tenang saja. Kakak dapat asuransi dari perusahaan Kak Sean".
"Asuransi?". Kening Echy berkerut "Apakah semua ditanggung perusahaan?".
Sean mengangguk. Karena memang itu yang dia dengar dari Zora.
"Apa Kak Sean tahu?".
Rein menggeleng "Tidak Kak. Kan Kakak juga yang bilang jangan kasih tahu siapapun". Sahut Rein.
"Iya juga sih. Tapi bagaimana bisa Kakak dapat asuransi Rein? Mencurigakan". Gumam gadis itu.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang Kakak istirahat sebentar. Baru makan. Setelah ini Kakak harus melakukan pemeriksaan selanjutnya". Ujar Rein menaikkan selimut Echy.
"Rein, Kakak bosan disini". Renggek Echy .
__ADS_1
"Astaga Kak, baru saja Kakak bangun sudah dibilang bosan. Sudah pokoknya Kakak jangan banyak protes". Sergah Rein
Echy mencebik kesal. Gadis itu paling tidak suka jika keinginan nya tidak dituruti. Tapi dia juga tidak mungkin membantah adiknya. Apalagi Rein dokter, pasti lebih tahu tentang penyakitnya.
"Rein keluar sebentar ya Kak". Ucap Rein tersenyum hangat sambil mengelus kepala Echy "Kakak mau buah apa? Biar Rein belikan". Tawarnya
Echy langsung sumringah. Wajahnya yang tadi ditekuk kesal langsung berbinar-binar. Jika berbicara tentang makanan, dia paling jagonya
"Kakak mau apel, salak, jeruk, alpukat, pear, stroberi, terus mangga, apalagi ya". Echy mengetuj pelipisnya seolah sedang berpikir keras "Sawo dan buah naga". Seru Echy menampilkan rentetan giginya
"Ck, Kak. Tidak boleh pesona terlalu banyak. Kau hanya boleh makan apel saja. Yang lain dilarang". Tegas Rein.
"Rein".
"Tidak Kakak. Itu tidak baik untuk kesehatan Kakak. Menurutlah pada adikmu yang tampan ini yaaa". Ujar Rein setengah menggoda Echy
"Cih, tampan tapi jomblo". Sindir Echy
"Tenang saja Kak, Rein akan bawa pacar Rein kesini". Rein terkekeh
"Ya ya. Baiklah Tuan Dokter Tampan". Ketus Echy.
Rein tertawa pelan. Melihat Kakaknya yang sudah mau bercanda membuat dirinya sedikit tenang. Setidaknya dia tidak panik seperti kemarin lagi.
Rein harus memantau Echy. Echy tidak boleh bertemu Regan. Gara-gara pertemuannya dengan Regan membuat gadis itu jadi drop dan jatuh sakit.
"Lepaskan Dea".
Sean menarik paksa tangan Dea yang melingkar dipinggangnya. Dia tidak suka disentuh oleh wanita itu.
"Kau ini kenapa sayang? Aku tunangan dan calon istrimu? Kenapa kau malah bersikap kasar padaku?". Ucap Dea dengan sendu nya.
"Ingat Dea. Aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Ini semua karena kedua orangtuaku dan aku tidak pernah mencintaimu. Camkan itu". Tegas Sean menatap Dea dengan jijik.
"Kenapa? Apa karena Echy? Apa karena gadis yatim piatu itu kau tidak mencintai ku?". Tanya Dea menatap Sean.
"Bukan urusanmu dan semua tidak ada kaitannya dengan Echy". Sahut Sean dingin "Keluar dari ruangan ku Dea. Aku sedang tidak ingin diganggu". Usir Sean.
Dea mengepalkan tangannya dengan kuat. Nafasnya memburu menahan amarah yang seolah ingin membeluncah didalam sana.
Dea keluar dari ruangan Sean dengan wajah ditekuk kesal. Sejak mereka dijodohkan Sean tidak pernah berlaku lembut padanya dan selalu menganggapnya tidak ada.
"Ini semua gara-gara gadis sialan itu". Dea mencengkram stir mobilnya dengan kuat.
__ADS_1
Dea memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah mewah.
Wanita itu turun dengan langkah aroggant dan sombong. Dea adalah seorang desainer ternama. Butik yang dia bangun dengan bantuan Ayah dan Ibunya melesat sangat tinggi. Bahkan para artis ternama juga memakai hasil rancangan nya.
Namun entah apa yang membuat Sean sama sekali tidak menyukai wanita itu? Padahal tidak ada yang kurang dari Dea. Wanita itu cantik. Kaya. Pintar dan elegan serta terlahir dari keluarga yang memiliki segalanya juga.
Dea masuk kedalam rumah besar itu. Dia disambut oleh para pelayan dan pengawal yang berjaga disana.
"Selamat datang Nona". Sapa mereka.
"Dimana Dae?".
"Tuan sudah menunggu anda didalam Nona". Sahut salah satu dari mereka dan tak lupa memberi hormat.
Dea masuk kedalam sana. Wanita itu tersenyum sumringah saat melihat seorang pria tampan tengah duduk dengan memangku laptop. Dia tampak serius dengan layar laptop dipangkuannya.
"Dae".
Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap seorang wanita yang tengah tersenyum manis kearahnya.
"Ada apa?". Tanyanya dingin.
"Tidak perlu ketus begitu padaku sayang". Dea duduk disamping pria itu dan menatap pria ini dengan damba.
"Singkirkan tangan kotormu itu dari dadaku sebelum aku memotongnya dan memberikanya pada harimau peliharaan ku". Hardiknya.
Bukannya takut Dea malah tertawa lebar. Ahh pria ini tak pernah berubah dia selalu dingin dan aura pembunuhnya terlihat jelas diwajah nya.
"Ehem, kau pasti senang mendengar kabar yang akan disampaikan padamu". Senyum Dea licik.
"Katakan. Aku tidak suka basa-basi". Dae menutup laptopnya. Dan menatap kearah Dea "Katakan". Desaknya lagi.
"Santai sayang". Dea mengelus dada bidang Dae "Kau masih menginginkan gadis itu bukan?". Ucapnya setengah menggoda "Tapi kau benar-benar harus menyingkirkan nya dari muka bumi ini. Karena aku ingin dia pergi dari kehidupan Sean". Imbuhnya.
Dae menepis tangan Dea. Dia tidak suka disentuh oleh wanita bekas pria lain seperti Dea.
"Tidak perlu memberitahu ku, aku akan melakukan nya dengan atau tidaknya dirimu". Ucap Dae "Jika tidak ada lagi. Silahkan pergi dari sini. Kau tahu kan pintu keluar?".
Dea menghentakkan kakinya kesal. Bibir wanita itu mengerucut.
Dengan wajah kesal dan mengerutu Dea pergi dari sana. Kehadiran nya selalu tidak dianggap oleh siapapun.
Sementara Dae menghela nafas panjang. Dia sedang mengatur strategi untuk menculik gadis itu. Dia tidak mau gegabah. Balas dendam nya harus berjalan mulus sesuai dengan rencana.
__ADS_1
Bersambung