Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Rapuh


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seorang pria menangis segugukan dikeheningan malam. Di tangannya selembar kertas berwarna putih.


Tak peduli dengan apa yang dia rasakan. Dia hanya ingin menangis.


"Echy". Lirihnya.


Dia kembali melihat tinta yang tertuang dalam kertas itu. Tertulis nama penyakit ganas yang tertera dengan huruf tebal.


Dia menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa gadis yang dia cintai menghindap penyakit mematikan.


"Tuhan ku mohon berikan aku satu kesempatan untuk memperjuangkan cintaku. Jangan pisahkan kami lagi. Sudah cukup selama lima tahun aku meninggalkan nya. Sekarang biarkan aku dan dia bahagia. Aku mencintainya. Sangat mencintai nya. Biarkan kali ini saja, aku membahagiakan nya. Dia sudah cukup menderita karena diriku. Kali ini kumohon berikan kesempatan kedua padaku". Ucapnya segugukan.


Regan Domain Walkie. Seorang CEO, RDG Group. Perusahaan besar di Asia. Dia salah satu pembisnis muda yang sekarang sedang naik daun dikalangan para pembisnis.


Bergelimpangan harta tak membuatnya bahagia. Ada banyak rahasia yang tidak orang tahu bahkan orang terdekat nya sekalipun. Kepergian nya lima tahun silam menyisakan luka mendalam dihatinya. Terpaksa. Tak ada pilihan lain. Namun semua sudah terjadi.


"Maafkan aku Echy. Maafkan aku".


Tangisnya menggema. Untung saja Mansion sebesar itu kedap suara. Hingga para pelayan tidak ada yang mendengar tangisnya.


Dibalik wajah dingin dan datar itu. Dia menyimpan banyak misteri dan luka. Tak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Menahan segala sesuatu nya sendiri menjadi beban tersendiri dijiwainya.


Kembalinya dia ke Indonesia dengan harapan agar bisa memperbaiki segalanya dan melindungi gadis yang dia cintai. Namun baru saja dia mendapat kabar yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Gadisnya itu menghindap penyakit mematikan yang bisa membahayakan nyawanya.


"Aku akan lakukan apapun untukmu sayang. Aku berjanji akan mencarikan dokter terbaik. Aku ingin kau sembuh. Kau ingin membuatmu bahagia. Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Aku ingin bertemu denganmu dan memeluk tubuhmu".


Jika boleh menyesal dia sangat menyesal karena dulu pernah pergi dan meninggalkan wanita yang dia cintai. Namun semua sudah terjadi dan takkan bisa diulang kembali.


.


.


.


.


Echy mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasa lebih baikkan setelah tiga hari dirawat oleh adik nya Rein.


"Kak". Rein membuka orden jendela Echy.


"Bangun". Rein menggeleng gemes. Kakaknya ini sungguh manja.


"Rein".


Echy duduk sambil mengumpulkan nyawanya. Dia menguap beberapa kali. Masih mengantuk. Namun dia harus bekerja. Agar hidupnya dan Rein terjamin nanti.


"Bagaimana kondisi Kakak?". Rein menempelkan punggung tangannya dikening Echy.

__ADS_1


"Sudah lebih baik. Enak ya punya adik Dokter, dirawat gratis plus selalu dimanja". Echy mengerlingkan matanya jahil.


Rein menggeleng gemes sambil tersenyum simpul.


"Sudah. Kakak mandi lagi. Rein tunggu dimeja makan. Kita sarapan bersama Hari ini Rein yang akan antar jemput Kakak". Ucap Rein


"Terima kasih Dokter Tampan. Cup".


Satu.... Dua.... Tiga.


"Kabur".


"Kakak".


Rein mengusap pipinya kesal. Kakaknya itu memang suka sekali mencium pipinya. Coba ada yang lihat bisa-bisa malu dia dianggap seperti anak kecil.


Rein keluar dari kamar Echy dengan senyum mengembang. Dia gemes sendiri dengan Kakaknya itu.


Sementara Echy cekikian didalam kamar mandi. Dia suka mengerjai adiknya. Rein paling tidak suka dicium. Namun Echy suka melihat wajah kesal adiknya.


Gadis itu membersihkan diri sambil bersenandung ria didalam kamar mandi. Echy tak lagi meremang dan memikirkan penyakitnya. Dia hanya ingin hidup dan membahagiakan Rein.


Echy keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dia ikat. Jika pagi hari dia jarang sekali keramas karena dingin. Mandi pun dia harus dengan air hangat, karena tubuhnya begitu rentan terhadap dingin.


"Pagi kesayangan Kakak". Sapa nya sambil menarik kursi


Mereka berdua sarapan pagi. Sejak lima tahun keduanya belajar hidup mandiri tanpa orangtua. Belajar menerima takdir diri. Belajar untuk hidup tanpa mengeluh dengan keadaan ini.


Kedua nya makan sambil diselingi dengan canda dan tawa. Echy selalu saja mengoceh sambil makan. Rein menggeleng melihat Kakaknya. Kakaknya ini memang gadis berisik. Sifatnya tak berubah dari dulu. Meski dihempaskan oleh keadaan Echy tetaplah gadis ceria yang berhasil menyembunyikan masalahnya.


"Kak jangan lupa jacket Kakak". Pesan Rein


"Iya bawel". Ketus Echy sambil memasang jacket tebal ditubuh nya.


"Naiknya pelan-pelan Kak. Jangan buru-buru". Pesan Rein lagi. Kakaknya ini ceroboh jadi harus diperingati agar tidak lupa.


"Aishhh kau ini. Kau pikir Kakak anak kecil yang harus dingati terus?". Gerutu Echy sambil naik keatas motor.


"Hehhee". Rein hanya terkekeh


"Pegangan yang kuat Kak".


"Iya".


Rein melajukan mobilnya. Echy memeluk adiknya dengan erat dari belakang. Tak lupa dagunya. Dia sangkutkan dibahu Rein.


Echy sangat suka jika naik motor sambil memeluk Rein dan memainkan dagunya dibahu adiknya. Menurut Echy itu adalah moment menyenangkan yang selalu ingin dia lakukan setiap hari. Karena Echy ingin selalu bersama adiknya. Meski dia tidak tahu kapan usia akan memanggilnya untuk pergi.


Sampai digedung pencakar langit. Rein menghentikan motornya. Echy turun duluan.

__ADS_1


"Buka". Ucapnya manja.


"Dasar manja". Cibir Rein namun tetap membuka helm sang Kakak.


"Nanti Rein jemput Kakak. Jangan lupa makan siang dan minum obatnya".


"Iya Tuan Dokter".


Echy masuk kedalam gedung pencakar langit itu. Senyumnya mengembang. Sudah tiga hari dia tidak masuk. Untung saja dia bersahabat baik dengan pemilik perusahaan ini sehingga ada sedikit toleransi untuk nya.


"Echy".


Kelly berhambur memeluk gadis cantik itu. Hingga membuat Echy mengerutu kesal karena dia hambur saja terhuyung ke belakang.


"Ck, kau ingin membunuhku". Gerutunya "Jangan kencang-kencang Kel, kau ini". Protesnya


"Hiks hiks. Aku merindukan mu sayangku".


"Cihhh, kau menjijikkan sekali".


Echy melepaskan pelukannya dengan kesal. Sehingga membuat Kelly terkekeh gemes. Dia suka melihat wajah kesal sahabat nya itu


Sudah biasa keduanya saling panggil cinta dan sayang. Bahkan ada yang mengira jika mereka lesbian. Padahal itu hanya lah bentuk panggilan rasa sayang mereka.


"Chy".


Hingga candaan keduanya terbuyarkan saat ada yang memanggil Echy.


"Pagi Tuan Sean". Sapa keduanya


Sean memutar bola matanya malas. Dia tidak suka dipanggil Tuan oleh Echy.


Sementara Echy menahan tawa. Dia merasa kurang sopan jika memanggil Kakak apalagi sekarang mereka sedang berada dikantor.


"Keruangan ku sebentar". Ketus Sean melengang pergi dari sana.


"Iya Tuan".


Echy meletakkan tasnya dan tak lupa dia membawa beberapa berkas penting ditangannya.


"Aku ke ruangan Tuan Sean dulu, Kel". Ucapnya.


"Iya Chy".


Kelly duduk sambil menatap punggung Echy. Ada sesuatu yang berbeda dari Echy hari ini. Wajah gadis itu tampak pucat meski dilapisi oleh bedak tetap saja terlihat begitu pucat.


**Bersambung.....


Regan with Rexy**

__ADS_1


__ADS_2