Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Akan melakukan apapun agar kau bangun


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Regan menggendong bayi munggil nan tampan itu. Dia belum menyiapkan nama untuk putra nya masih menunggu keajaiban terjadi dan menunggu istrinya terbangun.


"Son, berbaring didekat Mommy ya Nak. Daddy akan membersihkan tubuh Mommy". Ujarnya meletakkan bayi itu didekat Echy.


Oksigen uap dimulut Echy sudah dilepaskan. Kondisinya beberapa hari terakhir sudah stabil hanya saja tidak tahu entah kapan wanita yang baru saja yang menjadi Ibu itu akan bangun.


Bayi munggil itu seolah tersenyum saat berbaring disamping Ibu nya. Mungkin merindukan belaian sang Ibu.


Regan menatap istrinya dengan penuh kerinduan. Rindu sekali melihat wanita ini bangun. Kapan Echy akan bangun? Kenapa lama sekali tidurnya.


"Tunggu Mommy, sebentar ya Son. Daddy akan mengambil kain untuk membersihkan tubuh Mommy". Celetuknya.


Seolah mengerti bayi munggil itu tertawa ketika Regan mengajaknya berbicara. Padahal usianya baru satu bulan tapi sudah mengerti.


Regan mengambil kain basah dan mangkuk berukuran besar.


Setiap hari dia akan merawat dan membersihkan bagian tubuh Echy. Tak lupa juga dia memakai parfum miliknya. Sebab istrinya itu sangat suka sekali dengan wangi tubuh Regan.


Regan menggelap tangan Echy dengan lembut dan telaten. Tidak mau kasar, takut nanti menyakiti istrinya itu.


Regan menyeka air matanya. Jujur dia lelah. Dia berusaha tegar. Berusaha kuat. Melihat orang yang begitu dia cintai terbaring tak berdaya seperti ini membuatnya merasa gagal menjadi seorang suami.


"Sayang". Tangan Regan mengusap kepala plontos Echy "Bolehkah aku jujur? Aku lelah sayang. Aku lelah sendirian. Aku rindu padamu. Bangunlah, apa kau tidak ingin menggendong putramubl sayang?". Lirihnya pelan.


Regan mengambil bayi nya dan membaringkan bayi munggil itu ditengah-tengah antara dia dan Echy.


Regan membuka sedikit lampin yang membungkus tubuh putranya. Dia mengambil tangan munggil bayi itu, lalu menyatukannya dengan tangan Echy.


Regan mengenggam tangan kedua orang itu. Kedua orang yang begitu berarti dan jantung hati nya.


"Kita bertiga akan kuat jika bersama. Tapi jika kau terus tertidur seperti ini, bagaimana kami bisa kuat sayang? Kami membutuhkan mu. Aku dan putra kita. Apa kau tidak rindu menggenggam tangannya seperti yang sedang aku lakukan sekarang?". Gumam Regan sambil menyatukan tangannya dengan Echy dan putranya.


Setiap hari Regan mengajak Echy berbicara. Dia tidak membiarkan siapapun merawat istri dan putranya. Dia turun tangan sendiri untuk merawat kedua orang yang begitu berarti untuknya.


Regan melepaskan genggaman tangannya. Dia kembali membungkus tubuh putranya itu.

__ADS_1


"Son, temani Mommy sebentar yaa? Daddy ingin menyimpan ini sebentar". Celotehnya.


Regan duduk disoffa sambil mengotak-atik ponselnya. Dia sedang menghubungi Ben untuk menyiapkan keperluan mereka.


"Ben, masuk sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu".


"Baik Tuan".


Regan meletakkan ponselnya. Lalu kembali menggendong putranya.


Echy masih terlelap dengan nyaman. Tak terganggu sama sekali, meski tangisan putranya menjadi alarm setiap pagi. Seolah tangisan itu adalah nyanyian penghantar tidur untuknya.


Ben masuk kedalam ruangan rawat inap Echy "Permisi Tuan ada yang bisa saya bantu?". Ben menghampiri Regan dan tak lupa membungkuk hormat pada pria itu.


"Ben, urus keberangkatan ku ke Amerika. Aku akan membawa istri dan anak ku kesana". Tintah Regan sambil menggendong putranya.


"Baik Tuan".


"Persiapkan dokter terbaik dengan fasilitas terbaik Ben. Lakukan apa pun untuk membuat istri dan putraku merasa nyaman". Imbuhnya lagi.


"Baik Tuan. Saya permisi Tuan". Ben mellengang keluar dari sana.


"Sayang, kita akan kembali ke Amerika. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bangun. Cepat bangun yaaa?". Ujarnya lagi.


Memutuskan kembali ke Amerika bukan keputusan yang mudah bagi Regan. Tapi inilah perjuangan nya. Kedua orang yang sangat dia cintai itu harus tetap berada disampingnya.


Regan akan menjadi penguat untuk istri dan anaknya. Semoga perjuangan nya kali ini membuahkan hasil. Dia akan bahagia selamanya bersama Echy, merawat putra mereka.


Regan tidak mau lenggah lagi seperti Megan. Dia sudah merasakan betapa menyakitkan nya kehilangan adiknya. Dan Regan tidak mau lagi itu terjadi pada istrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Ben sudah mempersiapkan keberangkatan Regan. Dia juga akan ikut kesana membantu Regan mengurus semuanya.


Sedangkan perusahaan, akan dihandle oleh Domain dan Dae dibantu oleh Rio asisten Dae. Semoga kali ini Regan dan Echy pulang ke Indonesia dengan kabar baik.


"Hati-hati Regan. Segera hubungi aku jika ada apa-apa". Dae memberikan pelukan hangat pada sahabat nya itu.


"Iya Ae. Aku titip Kelly dan Gian padamu serta perusahaan". Ucap Regan


"Tidak perlu khawatir. Mereka tanggung jawab ku". Sahut Dae.


Dae beralih pada Echy yang sebentar lagi akan dimasukkan kedalam jet pribadi milik Regan.


"Hai kesayangan Kakak". Lirih Dae berkaca-kaca "Cepat bangun cantik. Ada dua pria tampan yang selalu menantimu. Kau sudah berjanji bukan akan menjaga mereka?". Dae mengecup punggung tangan adiknya "Semoga kau bisa kembali kesini, bersama mereka berdua". Ucapnya lagi.


Domain dan Ellena serta Kelly dan Gian turun mengantarkan Regan dan Echy ke bandara. Ellena ingin ikut, tapi Domain melarang takut jika istrinya itu drop lagi. Biarlah Regan disana menjaga istrinya.


"Kak". Rein juga ikut mengenggam tangan Echy "Cepat sembuh yaa. Cepat pulang. Biar bisa makan masakkan Rein lagi. Jangan lama-lama disana. Nanti Kakak rindu Rein malah repot lagi". Rein terkekeh pelan "Kami menunggumu Kak. Selamat berjuang". Imbuhnya lagi.


Setelah acara pamitan selesai. Jet pribadi itu segera mengudara dan terbang dilangit tinggi.


Regan sama sekali tidak mau jauh dari Echy dan bayi nya. Meski Echy hanya terbaring dengan alat medis ditubuhnya, tapi Regan terus berada disamping wanita itu sambil menggendong putranya.


Sekarang dia adalah penguat kedua orang itu. Dia adalah benteng yang akan melindungi keduanya. Semoga setelah ini, ada bahagia yang selalu menantikan mereka berdua.


Rein menatap pesawat Regan yang mengudara jauh dari pandangan mata. Calon dokter berkacamata tebal itu tak bisa menahan air matanya.


"Rein". Dae merangkul pundak Rein "Berdoalah untuk Echy. Dia pasti kembali. Percayalah. Dia mencintai kita. Dia tidak akan meninggalkan kita".


Rein mengangguk sambil mengusap air matanya "Iya Kak". Sahut Rein


"Kembalilah ke perusahaan Rein. Jalankan perusahaan Ayah. Kakak akan bantu, jangan ragu. Rio juga akan membantumu nanti". Ucapnya.


Rein menghela nafas panjang. Dia mahasiswa kedokteran dan ingin menjadi dokter bukan penguasa. Tapi dia diminta untuk menjalankan perusahaan Miller Groups, perusahaan almarhum Ayahnya. Tentu saja dia sedikit keberatan. Tapi tidak ada jalan lain lagi bukan. Dia adalah harapan satu-satunya.


"Baik Kak. Mohon bantu Rein". Sahut Rein.


"Pasti. Ayo pulang". Ajak Dae.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2