
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ayo Chy makan. Ingat jangan makan yang pedas-pedas yaaa. Kau suka ini kan?". Sean menambahkan beberapa menu makanan dipiring Echy.
"Terima kasih Kak". Ucap Echy.
Regan menatap tak suka. Dia yang sudah bersusah payah menyiapkan makanan itu, kenapa Echy malah berterima kasih pada Sean?
Regan menatap Echy yang makan dengan lahap. Gadis itu sama sekali tak berubah. Sama seperti lima tahun yang lalu. Jika makan selalu lupa jika ada orang lain bersamanya.
Sean juga menatap Echy dengan senyum. Saat makan seperti itu, Echy justru terlihat begitu menggemaskan. Apalagi pipinya mengembul ketika makanan itu memenuhi mulutnya.
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk
"Minum".
Kedua pria itu serentak memberikan gelas pada Echy. Ketiganya saling menatap bingung.
"Maaf". Regan menarik gelasnya
"Minum Chy". Sean menyerahkan gelasnya pada Echy.
"Terima kasih Kak".
Echy meneguk minuman itu hingga tandas. Sebenarnya dia terbatuk saat menyadari jika kedua pria itu menatapnya dengan dalam.
Mereka makan. Sesekali Regan dan Sean berbincang-bincang tentang bisnis. Sementara Echy gadis itu hanya makan dalam diam. Dia tidak tertarik. Rasanya dia ingin cepat pulang bertemu Rein dan memeluk adiknya itu sambil bercerita bahwa dia bertemu pria yang paling dia benci dalam hidupnya.
"Saya yakin Tuan jika produk kita kali ini akan berhasil". Sean mengelap mulutnya dengan tissue.
"Iya saya juga Tuan Sean. Kalau boleh tahu ide desain yang anda buat diproduk ini dari siapa Tuan?". Tanya Regan.
"Nona Echy yang mendesain semuanya Tuan. Disalah satu staff yang multitalenta, bisa marketing dan bisa juga dibagian desain". Sahut Sean memuji Echy. Sementara Echy acuh saja dan asyik dengan makanan didepannya.
"Wahhh Nona Echy hebat yaaa... Saya yakin jika produk baru kita akan meluncur dipasaran". Ucap Regan menimpali. Sudut bibirnya tertarik ketika melihat Echy makan "Apakah Nona Echy sudah menikah?". Tanya Sean
"Dia masih single". Sahut Sean mewakili sambil terkekeh melihat Echy yang makan dengan blepotan "Pelan-pelan makannya Chy". Sean menggambil tissue sambil membersihkan sudut bibir Echy "Kau ini makan seperti anak kecil saja". Omel Sean.
"Aku bisa sendiri Kak". Ucap Echy mengambil tissue dari tangan Sean lalu mengelap bibirnya sendiri.
Regan tersimpul. Echy masih sama seperti dulu. Selalu menjaga diri terhadap wanita. Bahkan dulu saja Regan tidak pernah menyentuh Echy diluar batas. Gadis itu selalu memasang tembok pembatas bagi para lelaki.
"Silahkan tambah lagi Nona". Ucap Regan tersenyum
"I-iya Tuan".
__ADS_1
Cukup lama ketiga orang itu makan siang sambil diselingi dengan obrolan hangat.
Regan sengaja mengulur waktu dan terus mengajak Sean berbicara agar dia bisa berlama-lama dengan Echy. Sean tidak mempermasalahkannya karena dia ingin belajar bisnis pada Regan.
Sementara Echy sudah merasa tak nyaman. Sumpah demi apapun Echy ingin segera pulang. Dia ingin bertemu Rein.
Melihat Echy yang mulai gelisah. Regan segera mengakhiri obrolan nya. Dia tahu jika gadis nya ini merasa tak nyaman. Regan tidak ingin membuat Echy tertekan karena dirinya. Dia tidak mau memaksa gadis itu. Namun dia berjanji akan memperjuangkan kembali cintanya.
"Terima kasih Tuan Regan. Kalau begitu kami permisi".
"Sama-sama Tuan Sean. Senang bekerjasama dengan anda".
.
.
.
.
Rein memarkir motornya di basement apartement mereka.
Echy turun duluan dengan langkah tak sabar. Entah apa yang akan Echy lakukan.
"Kak".
Setelah menyimpan motor nya. Rein bergegas mengejar sang Kakak. Jika sudah seperti ini pasti Echy sedang mengalami serangan panik lagi.
"Kakak".
"Kak".
"Kakak".
Rein menarik Echy kembali pelukkan nya. Dari tadi dia merasa ada yang aneh dengan Kakaknya itu. Lebih banyak diam dan tidak mau bicara apapun.
"Kak".
"Rein hiks hiks".
Echy melingkarkan tangannya ditubuh Rein. Meski Rein masih berusia belasan tahun tapi tinggi pria itu sudah mencapai tinggi pria dewasa pada umumnya.
"Kak menangis lah. Jangan ditahan. Mennagislah Kak". Rein memeluk Echy erat.
Echy segugukan dipelukkan Rein. Pertemuannya dengan Regan benar-benar membuatnya ketakutan. Dia takut jika pria itu kembali lagi dikehidupan nya dan membuat hidup Echy tambah menderita. Dia juga membenci pria itu. Sangat benci.
__ADS_1
"Rein".
Kakak adik itu saling bertangisan dengan memeluk erat. Setiap kali ada masalah apapun, Rein adalah tempat ternyaman untuk Echy bersandar. Tak peduli jika Rein muda darinya. Harusnya dia yang menjadi sandaran ternyaman adiknya tapi justru sebaliknya.
"Kak". Rein melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata Echy "Ayo duduk dulu Kak".
Rein memapah Echy duduk disofa. Penampilan Kakak nya tampak berantakkan. Rambut yang sudah acak-acakan serta make up yang luntur akibat air matanya.
"Ceritakan pada Rein Kakak kenapa?". Rein berjongkok didepan Echy dan mengenggam tangan Kakaknya itu.
"Rein hiks hiks". Echy malah menangis segugukan
"Katakanlah Kak jangan ditahan. Siapa tahu Rein bisa bantu Kakak". Tangan Rein terulur mengusap pipi wanita itu.
Echy mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap sang adik. Dari awal meeting tadi dia sudah menahan sesak didadanya dan tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengan adik semata wayangnya itu.
"Rein dia......".
"Dia siapa Kak?".
"Dia......". Echy memejamkan matanya kembali "Kak Regan". Ucap Echy memberanikan diri menyebut nama yang paling dia benci itu
"Apa?". Rein mendengar tak percaya "Maksud Kakak, Regan pria bajingan itu?". Echy mengangguk segugukan.
Sedangkan Rein mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dan saling bergemeletukkan. Pria itu adalah penyebab segala penderitaan kehidupan mereka.
"Apa dia kembali menyakiti Kakak?". Tanya Rein sedikit panik. Dia takut jika Regan kembali mengusik keluarga nya.
Echy menggeleng "Kakak takut bertemu dengannya Rein. Kakak benar-benar membenci pria itu. Dia penyebab Ayah dan Bunda meninggal. Dia sudah menghancurkan hidup Kakak". Ucap Echy terisak.
Rein kembali membawa gadis itu kedalam pelukannya.
"Kakak tenang yaaa. Semua akan baik-baik saja. Ada Rein yang menjaga Kakak. Dia tidak akan berani menyentuh Kakak barang se inci pun". Rein mengusap punggung Echy "Kakak jangan menangis terus. Besok kita harus kembali ke rumah sakit. Rein sudah menemui Doktwr Zora. Dokter Zora menyarankan agar Kakak melakukan Teknik Bone Marrow Inspiration". Jelas Rein melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Echy.
"Istirahat apa itu Rein? Kakak tidak mau pasti sakit". Renggek nya.
"Ck Kak, jelas sakit lah. Namanya juga disuntik. Kakak tenang saja, ada Rein yang akan memeluk Kakak. Rein sudah mengirim surat izin ke perusahaan Kakak kerja. Jadi mereka tidak akan mencari Kakak besok dikantor".
"Hiks terima kasih Rein". Echy kembali memeluk adiknya.
"Sama-sama Kak. Sudah tugas Rein".
Bersambung....
Hai guyssssss.....
__ADS_1
Seperti nya banyak teka teki masa lalu Echy dan Regan yang harus dipecahkan...
Yuk ikutin terusss jangan lupa tanda cinta buat author ya