Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Tidak semua orang beruntung


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹


"Ayo Kak kita susul Rein ditaman belakang". Echy membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.


"Biar aku yang bawa sayang". Regan mengambil alih.


Echy tersenyum hangat. Dia bersyukur memiliki suami seperti Regan. Pria itu memahami dirinya. Sejak perbincangan masalah mengugurkan bayi, Regan akhirnya mendukung istrinya dan berjanji akan membantu wanita itu melewati semuanya.


"Bagaimana kandungan mu sayang? Apa masih mual-mual?". Tanya Regan melirik perut Istrinya yang sudah sedikit membengkak.


"Harus nya aku yang bertanya pada Kakak? Yang ngidam kan Kakak. Aku hanya ingin memeluk Kakak saja". Seru Echy.


Benar Regan mengalami masa ngidam atau sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Tapi syukur nya ini tidak berlangsung lama hingga Regan tidak mengalami penderitaan yang lama.


Regan terkekeh "Aku senang kau memelukku saat tidur sayang. Bahkan bila perlu setiap saat memelukmu saja aku tidak keberatan?". Regan mengerlingkan matanya jahil.


Echy mendelik sambil bergidik ngeri "Kakak ini, kalau yang seperti itu saja cepat". Ketus Echy


Mereka berdua berjalan menuju taman dekat kolam Mansion Regan.


Rein memilih tinggal bersama Echy atas permintaan Regan. Karena Regan tahu bahwa Rein ingin selalu berada didekat Kakak nya itu.


Sedangkan Dae dan Kelly sebentar lagi akan menikah. Jadi Kelly bolak-balik ke sana untuk mengurus keperluan kekasihnya itu. Dae kembali tinggal sendirian dan sesekali dia berkunjung ke kediaman Regan


"Rein".


Rein menoleh "Kak Echy. Kak Regan". Calon dokter itu tersenyum simpul.


"Minum Rein". Regan meletakkan nampan diatas meja


"Terima kasih Kak". Senyum Rein. Kadang dia iri melihat keharmonisan Regan dan Echy yang selalu romantis setiap hari apalagi Echy sedang hamil Regan seolah menempel dua puluh empat jam dengan istrinya itu.


"Kenapa Rein?". Echy bisa menangkap kegelisahan di mata adiknya itu "Ceritalah Rein siapa tahu Kakak bisa bantu". Echy tersenyum hangat.


Sementara Regan tersimpul melihat keakraban Kakak beradik ini. Lagi-lagi dia teringat pada adiknya yang meninggal beberapa bulan yang lalu.


Rein menghela nafas. Dia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Echy. Kakaknya selalu bisa membaca raut wajahnya. Bagaimana pun Rein berbohong Echy akan tahu apa yang dirasakan oleh adiknya itu.


"Iya Rein, katakan ada apa. Siapa tahu kami bisa membantu". Imbuh Regan. Dia menggeser kursinya agar dekat dengan Echy takut jika nanti wanita itu bisa terjungkal atau bagaimana lah, karena Echy ini sangat ceroboh.


"Ini masalah Kakak nya Dilsa Kak". Rein menarik nafas panjang "Kak Deska". Sambungnya.


"Dilsa? Yang sering kau ceritakan pada Kakak itu?". Rein mengangguk "Ada apa dengannya? Apa Dilsa butuh biaya kuliah? Bukannya dia dapat beasiswa?". Cecar Echy heran. Rein sering menceritakan gadis kecil itu padanya.


Rein menggeleng "Bukan Dilsa Kak. Tapi Kak Deska, Kakak nya Dilsa". Ujar Rein

__ADS_1


"Ada apa dengannya Rein?". Regan penasaran pasti ada sesuatu yang terjadi.


Rein menghela nafas panjang. Lalu perlahan menceritakan semua yang terjadi pada Deska, Kakak nya Dilsa.


Mata Echy membulat sempurna saat mendengar penjelasan Rein. Begitu juga dengan Regan yang tak menyangka.


"Jadi Kak Sean memperkosa Deska hingga hamil?". Ulang Echy


"Iya Kak". Sahut Rein


"Sean ingin bertanggungjawab dan Deska tidak mau?". Rein mengangguk dan membenarkan ucapan Kakaknya.


"Bahkan Kak Deska ingin mengugurkan anaknya Kak. Dia tidak mau mengandung anaknya Kak Sean. Kasihan Kak Sean Kak, dia depresi sekali". Desah Rein.


Echy heran dengan wanita yang bernama Deska itu. Tidak mau melahirkan sendiri. Tapi saat ingin dinikahi malah menolak. Apa kurangnya Sean? Echy jadi penasaran siapa Deska itu? Kenapa mirip dengannya yang begitu keras kepala?.


.


.


.


.


Rein takut jika Deska mengamuk dan malah menyakiti Kakaknya. Sudah dijelaskan panjang lebar tapi tetap saja si Echy yang keras kepala itu tidak aku mendengar penjelasan dan alasan dari suami dan adiknya.


"Kak". Rein mendesah. Dia duduk dibangku depan bersama Ben


"Kenapa Rein? Sudah jangan mengomel terus. Tunjukkan dimana rumah Deska, apa Kak Sean ada disana?". Ujar Echy.


"Kau mencari pria lain daat ada suamimu sayang?". Regan kesal.


Echy terkekeh. Dengan manja dia memeluk lengan suaminya.


"Mana mungkin? Aku kan cinta mati pada suamiku ini. Bagaimana bisa aku berpaling? Suamiku itu paket komplit. Tampan. Kaya. Baik. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau aku dustakan?". Goda Echy mengerlingkan matanya jahil.


"Sayang, kau ini".Regan dengan gemesnya menciumi wajah Echy.


Ben dan Rein yang duduk dibangku depan hanya menggeleng kepala saja. Dimana-mana kedua orang itu selalu mengumbar kesemesraan. Apa tidak bosan? Membuat jiwa jomblo Ben dan Rein meronta-ronta.


"Lho kenapa berhenti disini Rein?". Echy celingak-celinguk melihat kearah jendela "Untung Gian tidak ikut, bisa panik dia melihat jalan sekecil ini". Imbuhnya


"Iya Kak. Mobil tidak bisa masuk kedalam". Rein membuka sealbeat nya.


"Jangan duluan sayang. Biar aku buka pintu". Cegah Regan

__ADS_1


Echy menurut saja. Suaminya menang selalu begitu, membuatnya merasa seperti ratu didunia dongeng.


"Ayo sayang". Regan mengulurkan tangannya agar Echy keluar dari mobil.


Echy mendelik melihat gang sempit itu. Para warga yang disana berbandong-bondong menatap mereka. Ada yang mengira jika mereka adalah artis.


Rein dan Ben berjalan duluan didepan. Sementara Regan dan Echy berjalan pelan dibelakang mereka.


"Pelan-pelan sayang". Tegur Regan


"Kak aku ini tidak sakit. Kau ini bagaimana sihh? Aku bisa jalan sendiri". Gerutu Echy. Bagaimana tidak suaminya itu malah memapah nya seperti orang sakit.


"Berhenti menggerutu sayang. Aku tidak mau kau terluka".


Bukan hanya menjaga kandungan Echy. Tapi juga menjaga istri nya itu. Kondisi Echy ini bisa drop tiba-tiba dan Regan harus siaga dua puluh empat jam menjaga Echy. Jangan sampai lengah apalagi teledor.


Tok tok tok tok


Rein mengetuk pintu rumah sederhana Dilsa. Bukan sederhana tapi rumah kecil yang menang tidak layak ditinggali untuk orang-orang kelas atas seperti mereka.


Jika bukan karena Echy. Regan benar-benar tidak mau menginjakkan kaki ditempat ini. Selain sempit, tempat ini juga tampak tak terawat. Mungkin karena posisi nya yang terlalu sempit.


Pintu terbuka. Dilda terkejut melihat Rein yang sudah tersenyum hangat didepan pintu.


"Kak Rein". Sapa gadis itu. Dilsa menatap Echy, Regan dan Ben yang juga berada disana.


"Ayo Kak masuk".


Regan mengenggam tangan istrinya. Echy ini memang aneh, kenapa harus menemui orang yang tidak dia kenal sama sekali.


"Dil, kenalin ini Kak Echy. Kakak ku yang sering aku ceritakan padamu. Dan ini Kak Regan suaminya".


Dilsa mengangga ketika tahu bahwa Regan adalah suami Echy. Dia sangat kenal Regan karena sering muncul di televisi sebagai pengusaha muda.


"Dilsa Kak".


"Echy".


Dilsa menyalimi ketiga orang itu secara bergantian.


Echy menatap keadaan rumah Dilsa. Kasihan sekali tinggal ditempat kecil seperti ini. Dulu dia dan Rein masih tinggal di Apartement mewah nya. Meski tidak memiliki apa-apa tapi setidaknya dia masih tinggal ditempat yang layak dan nyaman.


Memang kadang tidak semua orang itu beruntung. Harusnya kita bersyukur meski sering buntung. Tapi setidaknya masih ada jalan buntu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2