
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Flashback on
Sampai ke Inggris. Regan langsung menuju rumah sakit. Sementara Domain dan Ellena langsung ke rumah karena kondisi Ellena langsung drop total.
Ben mengekor dari belakang. Asisten setia yang selalu menemani Regan bertahun-tahun itu tetap fokus pada tugas dan kewajiban nya.
"Tuan Regan". Sapa beberapa bodyguard Jeremy.
Regan masuk kedalam ruangan dokter. Kedatangan nya memanh sudah ditunggu oleh para dokter itu.
"Bagaimana?". Tanya Regan tanpa basa-basi.
"Nona Megan kekurangan banyak darah Tuan. Kami akan mengeluarkan bayi nya karena kondisi bayi itu juga kritis akibat benturan kuat. Beberapa organ tubuh Nona Megan juga rusak, seperti ginjal, usus, paru-paru dan jantung. Karena saat kecelakaan Nona Megan terjebak dalam mobil sehingga oksigen yang masuk kedalam paru-paru nya menipis".
Deg
Regan memejamkan matanya. Tangannya terkepal sangat kuat. Lebih kuat. Jika saja bukan dirumah sakit dia pasti sudah berteriak histeris sambil memanggil nama adiknya.
"Ambil darah dan ginjalku. Kami kembar pasti memiliki golongan darah yang sama". Ucap Regan yakin dengan keputusan nya
"Tapi Tuan_".
"Aku tidak suka mengulang perintah. Persiapkan operasi nya dengan baik. Pastikan keponakan ku selamat". Ucapnya lagi
"Baik Tuan".
Ben menatap Regan menggeleng. Bagaimana bisa Regan mendonorkan ginjalnya untuk adiknya? Bukankah itu bahaya.
"Tuan anda yakin?". Tanya Ben memastikan.
"Nyawa adikku lebih penting dari satu ginjal. Asal dia bertahan. Aku akan melakukan apapun untuknya". Jawab Regan dingin dan datar.
Regan dan Ben menunggu diruang dokter. Menunggu persiapan operasi besar yang akan mereka lakukan.
Hanya ini yang bisa Regan lakukan untuk kembaran nya itu. Waktu kecil mereka berdua tidak terpisahkan. Selalu bersama. Tumbuh bersama. Namun saat menginjak usia dewasa, Regan memilih pulang ke Indonesia dan diikuti oleh kedua orangtuanya karena banyak bisnis yang akan mereka urus. Sedangkan Megan tetap di Inggris dan menikah dengan Jeremy seorang pengusaha muda yang sukses dinegara itu.
"Echy". Regan baru teringat dengan nama gadis itu "Ben bagaimana dengan Echy Ben? Bagaimana acaranya?". Cecar Regan wajahnya gelisah tak menentu.
"Saya belum mendapat informasi dari orang suruhan kita Tuan. Saya yakin Nona Echy akan mengerti. Atau apa perlu saya beritahu mereka?".
__ADS_1
"Mari Tuan. Kami sudah menyiapkan ruang operasi. Anda dipersiapkan untuk mempersiapkan diri". Ucap salah satu perawat.
"Baik".
Regan dan Ben keluar dari ruangan dokter. Mereka masuk kesalah satu ruangan untuk mempersiapkan diri.
Ben menemani Regan dengan setia. Tak meninggalkan Tuan-nya itu barang sejenak. Bagi Ben, Regan bukan hanya sebagai majikkan tapi juga sahabat dan saudara.
Regan masuk kedalam ruang operasi. Dia melirik adiknya yang sudah terpejam dengan perban dibeberapa bagian tubuh.
Regan menatap adik nya dengan sendu. Bagaimana jika dia bangun dan tahu bahwa suami nya meninggal? Megan sangat mencintai Jeremy, bahkan dia rela meninggalkan karirnya didunia modeling demi mengurus suaminya.
.
.
.
.
"Ben bagaimana?".
Domain berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Ben
"Maksudnya?". Tanya Domain tak mengerti.
"Nona Megan kehilangan banyak darah. Ginjal nya juga bermasalah. Tuan Regan mendonorkan darah dan ginjalnya untuk Nona Megan". Jelas Ben
"Apa?". Domain menutup mulut tak percaya. Pria paruh baya itu sampai terduduk lemas dibangku tunggu "Regan. Megan". Dia menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa kedua buah hatinya dalam kondisi seperti ini?
Regan akan kehilangan salah satu ginjalnya. Bukankah itu berbahaya nantinya? Dia akan cuci darah seumur hidup. Bergantung hidup dari cuci darah itu. Jika tidak, Regan akan kehilangan nyawanya.
"Regan. Megan". Domain menangis dengan hebat. Untung saja Ellena tidak ikut dengannya sehingga tidak syok seperti itu.
Ben ikut menitikkan air mata. Keluarga Domain Walkie sudah seperti keluarganya sendiri. Apalagi dia tidak memiliki siapa-siapa.
"Tuan kita hanya bisa berdoa. Biar oeprasi Tuan Regan dan Nona Megan berjalan lancar". Ucap Ben menepuk punggung Domain berusaha menenangkan pria paruh baya itu.
"Bagaimana bisa aku tenang Ben? Kedua anakku, mereka sedang bertarung nyawa didalam sana Ben. Aku tidak mau kehilangan mereka. Hiks hiks". Domain menangis segugukan
Ben memberikan pelukan hangat pada Domain. Dia paham perasaan pria paruh baya itu. Karena dulu dia juga pernah mengalami ketakutan karena kehilangan, saat sang Ayah meninggalkan dia untuk selamanya. Sementara Ibu nya meninggal sejak Ben kecil. Sehingga dia tidak tahu seperti apa wajah Ibu nya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja Tuan. Tuan Regan dan Nona Megan adalah orang-orang yang kuat. Mereka saudara kembar yang saling menguatkan. Saya yakin mereka bisa melewati ini". Ucap Ben menenangkan.
Domain hanya bisa menangis. Berharap semua baik-baik saja. Berharap kedua anak kembarnya selamat dalam operasi ini. Domain ingin menyalahkan takdir. Tapi apa hak nya. Dia hanya insan manusi yang juga bernafas sementara.
Domain melepaskan pelukan Ben "Bagaimana dengan pemakaman Jeremy, Ben? Apa Lauren dan Wilson sudah mengebumikan jenazahnya?". Domain menyeka air matanya. Dia cukup kehilangan sosok Jeremy, menantunya itu sangat menghormati nya.
"Belum Tuan. Keluarga besar Tuan Jeremy, sedang menunggu kita". Jawab Ben
"Temani aku ke sana Ben. Utus pengawal untuk menjaga Regan dan Megan disini". Domain berdiri dan diikuti oleh Ben
"Baik Tuan".
Domain dan Ben meninggalkan rumah sakit. Mereka menuju pemakaman. Dimana disana sudah banyak orang yang akan menyemayamkan jezanah Jeremy
"Domain".
"Wilson".
Kedua pria paruh baya itu saling memeluk dan tangisan.
Wilson melepaskan pelukannya "Bagaimana keadaan Megan? Bagaimana dengan cucu kita?". Cecar Wilson menyeka air matanya
"Megan masih di operasi. Cucu, kita semoga dia baik-baik saja". Sahut Domain dengan nada berat nya "Apa Kelly pulang?". Tanya Domain dia beralih menatap peti mati Jeremy yang sebentar lagi akan dimasukkan kedalam tanah.
"Kelly tidak bisa pulang. Dia masih menjaga sahabat nya atas perintah Megan". Sahut Wilson juga menatap sendu pada peti mati putranya
"Apa dia tahu kalau Jeremy meninggal?". Ujar Domain lagi.
Wilson mengangguk "Dia tahu. Dia ingin pulang ke sini. Tapi tidak bisa". Jawab Wilson lagi.
Suasana pemakaman dipenuhi dengan tangis haru. Beberapa relasi bisnis Jeremy turut hadir disana. Karangan bunga ucapan belasungkawa memenuhi sekitar pemakaman.
Jeremy pengusaha yang cukup berpengaruh di Inggris. Bahkan dia salah satu pengusaha yang mencapai kesuksesan diatas rata-rata. Setiap tahun, suami Megan itu selalu mendapat penghargaan sebagai pengusaha muda terbaik.
Wilson juga menangis histeris. Jeremy adalah putra pertamanya. Putra yang selalu dia banggakan. Sangat disayangkan jika Jeremy berakhir seperti ini.
Domain juga berderai air mata. Menatap peti mati Jeremy yang dimasukkan ke dalam tanah. Menantu nya itu, sudah seperti anaknya sendiri.
"Jeremy". Lauren berteriak dengan keras.
"Mom". James memeluk Ibu nya. James adalah adik Jeremy.
__ADS_1
"Jeremy, kenapa kau meninggalkan Mommy, Nak". Isak Lauren menangis histeris.
Bersambung....