Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Belum beruntung


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹


Kelly menatap kecewa benda pipih berukuran panjang ditangannya. Masih satu garis, ahh kapan dua garis merahnya?


"Ahhh belum beruntung". Desahnya pelan meletakkan benda itu di ranjang tidurnya "Kapan aku hamil?". Gumamnya pelan


"Echy. Aku ingin merasakan perjuangan mu. Tapi sampai sekarang aku belum juga hamil". Dia mendesah lemas.


Usia pernikahan nya dengan Dae sudah memasuki bulan ketiga. Tapi Kelly belum juga hamil dan wanita itu sudah panik.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil? Lalu Kak Dae meninggalkan ku dan menikah lagi hikss aku tidak akan rela". Celetuknya "Echy seandainya kau ada, aku ingin bercerita banyak hal padamu. Kapan kau bangun Cinta? Ini sudah tiga bulan. Tapi kau masih saja betah tertidur". Gumam Kelly terdengar lirih.


Dae masuk kedalam kamarnya. Pria itu baru menyelesaikan beberapa pekerjaan nya diruang kerja. Karena Dae mengontrol tiga perusahaan sekaligus. Dia juga membantu Domain mengurus perusahaan Regan. Perusahaan Echy dan perusahaan nya.


Dae juga membimbing Rein. Dia paham, karena Rein memang bukan bidang bisnis tapi tidak salahnya jika belajar.


"Sayang kenapa?". Wajah Dae tampak lelah. Tanggung jawab ada dipundaknya.


"Kak kita belum beruntung". Sambil menunjukkan hasil testpack nya.


Dae malah terkekeh. Istrinya ini sudah kebelet sekali ingin hamil, padahal mereka juga baru menikah.


"Sayang, pernikahan kita baru tiga bulan. Masih baru sayang. Wajar dong kalau belum hamil. Bahkan ada yang bertahun-tahun baru hamil". Dae menggelleng dengan gemes.


Kelly mencebik kesal "Kak aku ingin hamil Kak. Ayo kita ikut program bayi saja bagaimana? Biar Gian ada temannya sama putranya Kak Regan dan Echy". Kelly mengedip-ngedipkan matanya menggoda suaminya.


Dae menggeleng dengan gemas. Kelly ini sama dengan Echy. Kalau keinginan nya itu harus segera dipenuhi dan tidak mau menunggu nanti.


"Iya sayang. Iya. Asal kau jaga kesehatan dan pola makan". Dae mencolek hidung istrinya.


"Siap Kak pasti, demi kecebong Kakak". Seru Kelly semangat.


Dae menelan salivanya, Kelly kalau berbicara asal keluar seperti kentut tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


"Iya sayang". Dae hanya tersenyum simpul.


Kelly memang tak sabar menjadi seorang Ibu. Setiap malam mereka harus melakukan olahraga ranjang wajib dan itu adalah peraturan Kelly.


Biasanya yang meminta duluan adalah suami atau pria tapi tidak berlaku untuk Kelly saking terinspirasi nya ingin memiliki bayi imut seperti Echy, dia meminta suaminya untuk bercocok tanam setiap malam tanpa ada absen. Pokoknya Kelly tidak mau tahu, karena dia ingin hamil.

__ADS_1


Dae sampai kewalahan dengan istrinya itu. Entah lahir diplanet mana Kelly ini, kenapa buas dan suka sekali aneh-aneh.


"Kak bagaimana keadaan Echy?". Tanya Kelly. Wajahnya langsung berubah.


Dae menggeleng dengan lemes "Belum ada perubahan. Masih seperti ketika dibawa dari sini". Jawab Dae


"Apa penjelasan dokter Kak?". Kelly menatap suaminya.


"Dokter tidak banyak menjelaskan. Sama seperti yang dokter Zora katakan. Hanya mujizat Tuhan yang bisa membangunkan Echy kembali".


Dae memeluk istrinya. Mereka berdua juga rapuh sama seperti Regan. Disini mereka selalu mengirimkan doa agar Regan dan Echy kembali lagi ke di Indonesia dan keluarga kecil itu bahagia.


.


.


.


.


Rein memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia sedang memeriksa beberapa berkas data meeting serta kerja sama bersama beberapa perusahaan lainnya.


Rein yang memang cerdas dengan mudah paham, apalagi Dae selalu mengajari adiknya itu. Hanya saja, Rein benar-benar tak menyukai bisnis tapi bagaimana lagi tidak mungkin dia mengandalkan Dae sendirian mengurus perusahaan nya.


"Dilsa". Senyumnya langsung mengembang.


Memang setiap makan siang Dilsa selalu datang ke perusahaan Rein untuk makan siang bersama pria itu saat Rein tidak masuk kampus.


"Aku bawakan Kakak makan siang". Seru nya sambil menunjukkan rantang nasi ditangannya.


"Kebetulan Kakak belum makan siang". Rein beranjak dari duduknya dan menghampiri Dilsa yang sudah duduk disoffa.


"Ayo makan Kak". Dilsa membuka rantang nasi itu.


"Terima kasih Dil". Senyum Rein.


"Sama-sama Kak. Semoga suka yaaa. Ini aku yang masak lho". Ucapnya dengan bangga.


"Iya Kakak tahu". Rein terkekeh.

__ADS_1


Kehidupan Dilsa berubah sejak Sean menikah dengan Deska. Dia juga tinggal dirumah besar Sean bersama Ibu nya.


Sean memberikan segala fasilitas lengkap untuk adik iparnya itu. Namun Dilsa malah menolak, dia tidak mau dianggap memanfaatkan kekayaan Kakak Ipar nya itu.


Saat Sean membelikan Dilsa mobil. Gadis itu malah meminta motor saja. Karena bagi Dilsa hidup sederhana itu lebih menyenangkan fari pada syok kaya tapi barang milik orang lain.


"Enak Kak?".


"Enak. Kau memang jago nya masak". Puji Rein sambil menunjuk kan jempolnya.


Dilsa tersenyum senang. Dipuji oleh pria tampan seperti Rein siapa yang takkan senang.


"Kakak habis ini mau ke kampus?".


"Tidak Dil. Pekerjaan Kakak masih banyak". Rein menunggak air dalam gelasnya.


"Dilsa boleh bantu tidak Kak? Kebetulan Dilsa tidak ada kelas siang ini" . Ujarnya


"Memang bisa?". Rein sedikit ragu.


"Jangan salah Kak. Walaupun mahasiswa kedokteran Dilsa juga jago bisnis. Apalagi masalah seperti ini, gampang". Gadis itu menyombongkan dirinya.


Rein terkekeh pelan sambil menggeleng gemes. Dilsa memang cerdas selain itu dia juga rajin. Tak heran jika dia mendapat beasiswa penuh dari kampus sama seperti Rein.


Rein dan Dilsa adalah mahasiswa berprestasi. Keduanya sering ikut lomba perwakilan kampus. Oleh sebab itulah banyak yang tidak menyukai mereka lebih tepatnya iri.


.


.


.


.


Dea meringkuk dibalik jeruji besi. Hatinya remuk redam ketika tahu Sean sudah menikah dan bahkan memiliki anak. Sementara dia akan membusuk disini seumur hidup.


"Sean". Wanita itu mengusap pipinya "Semoga kau bahagia Sean. Pada akhirnya aku bukanlah pelabuhan terakhir mu. Maaf pernah memaksa mu mencintaiku. Akhirnya aku lah yang tidak beruntung dan aku lah tumbal dari semua drama ini".


Dea menangis segugukan sambil memeluk kedua lututnya. Dia telah menuai segala perbuatannya. Menangis juga tidak ada guna nya lagi. Dia akan membusuk ditempat ini selamanya.

__ADS_1


Namun cintanya pada Sean tak juga memudar oleh lekang waktu.


Bersambung...


__ADS_2