
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sean mengerhab-ngerjabkan matanya. Kepalanya terasa berat dan sakit. Berdenyut-denyut seperti orang mabuk.
Pria itu membuka matanya. Pantulan sinar matahari menyinari wajahnya. Selimut tebal membungkus tubuhnya.
Sean mengedarkan pandangannya. Seperti nya ini bukan kamar dirumahnya. Terasa asing, karena dia jarang tidur dikamar pribadinya ini.
Sean duduk sambil menyenderkan punggungnya. Dia memijit pelipisnya. Kepalanya masih terasa berdenyut sakit.
"Apa yang terjadi kenapa kepalaku sakit sekali?". Keluh pria itu.
Sean menyimak selimut nya. Mata pria itu membulat sempurna saat menyadari dirinya tanpa sehelai benang pun. Pantasan dingin.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?". Sean menggeleng tak percaya.
Sean menyimak seluruh selimut nya dia kembali kaget ketika melihat bercak merah disprei.
"Ya Tuhan apa yang aku lakukan? Siapa yang sudah ku anggap keperawanan nya?". Sean terlihat frustasi.
Pria itu turun dari ranjang dan memasang celananya. Wajahnya gelisah tak menentu. Rasa bersalah tentu saja. Bagaimana bisa dia menghancurkan masa depan seseorang dalam keadaan tanpa sadar.
"Dimana bajuku?".
Sean mencari-cari bajunya. Hingga dia menemukan baju Deska.
"Deska?". Pria itu menggeleng tak percaya
"Maafkan aku Deska. Aku berjanji akan bertanggung jawab". Sean menangis merasa bersalah. Bagaimana bisa dia menghancurkan masa depan gadis lugu seperti Deska?
Sean membersihkan dirinya. Pria itu menangis bawahan guyuran shower. Sean tidak tahu kenapa dia benar-benar merasa bersalah. Hatinya gelisah tak menentu. Bagaimana ini? Bagaimana dengan gadis itu.
.
.
.
.
"Willy ke ruangan ku".
"Baik Tuan".
Tidak lama kemudian Willy masuk.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Ujar Willy sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
"Berikan tekanan CCTV kemarin padaku". Ujarnya
"Baik Tuan".
Willy mengotak-atik iPad nya mencari rekaman CCTV yang memang terhubung langsung dengan iPad nya
"Ini Tuan".
Sean melirik rekaman CCTV itu. Dia menggeleng tak percaya bagaimana dia memaksa Deska untuk menuntaskan hasratnya. Dia sudah melukai masa depan seorang gadis tak berdosa seperti Deska.
"Apa Deska masuk Will?". Tanpa melihat Willy.
"Maaf Tuan. Sudah beberapa hari ini Nona Deska tidak masuk. Menurut keterangan dari teman-teman nya dia sedang sakit". Willy tidak tahu apa yang terjadi. Dia belum sempat melihat rekaman CCTV itu lantaran pekerjaan dan tugas yang begitu banyak.
"Cari alamat nya Will. Aku ingin menemuinya".
"Baik Tuan". Willy bingung kenapa Sean ingin menemui Deska? Ada hubungan apa Sean dengan cleaning service itu?
Karena rasa penasaran, Willy melihat rekaman CCTV itu. Mata Willy membulat dengan sempurna. Bahkan beberapa kali pria itu mengucek matanya, takut dia salah lihat atau penglihatan nya mulai tidak jelas.
Willy sampai lupa berkedip. Apa yang terjadi? Kenapa Sean bisa sampai memaksa Deska?
"Will selidiki juga siapa yang memberi obat perangsang diminumanku". Tintah Sean.
"Baik Tuan". Sahut Willy.
Ini karena hanya rasa bersalah saja kan? Tidak ada perasaan khusus untuk gadis itu? Karena sampai sekarang Sean masih belum bisa melupakan Echy. Bagaimana bisa dia melupakan gadis yang pernah membuatnya tergila-gila itu.
"Silahkan Tuan".
Sean masuk dan duduk dibelakang. Wajahnya tampak gelisah dan tak sabar.
Sean ingin menemui Deska dan dia akan bertanggungjawab atas semua perbuatannya pada gadis itu. Sean akan menikahi Deska tanpa cinta. Meski begitu dia berjanji akan membuka hatinya. Dia tidak mau terus dihantui perasaan bersalah seperti ini.
Willy mengintip wajah Sean. Dia benar-benar tak menyangka jika Sean melakukan hal sekeji itu. Willy tidak yakin jika Deska mau bertemu Sean.
Sampai disebuah gang sempit. Willy memarkir mobil nya ditepi jalan. Sebab mobil tidak bisa masuk karena jalanan yang terlalu kecil.
Sean keluar dari mobil. Para tentangga yang melihatnya seperti melihat artis atau penjabat yang datang. Sosok tampan itu bisa mengunjungi tempat ini adalah sesuatu yang langka.
Willy berjalan duluan didepan untuk mencari alamat rumah Deska. Sementara Sean mengekor dibelakang.
Hingga sampai dirumah paling kecil. Rumah sederhana dengan pintu yang terlihat tua.
Hati Sean seketika mencelos melihat tempat tinggal Deska yang menurut nya tidak layak. Rumah kecil yang bahkan lebih besar ukuran kamar mandi dirumah Sean. Sangat kecil.
"Apakah ini rumahnya Will?". Sean menatap sekeliling rumah itu. Usang. Atap-atap nya sudah beberapa yang lepas.
__ADS_1
"Iya Tuan". Sahut Willy.
Tok tok tok tok
Cekreekkkkkkkkkkk
Tampak Dilsa dengan pakaian rumahan. Dia tidak masuk kampus hari ini karena tidak bisa meninggalkan Kakak dan Ibunya.
"Siapa?". Dilsa menatap Sean dingin.
"Apa ini rumah Deska?". Tanya Willy
"Iya kenapa?". Ketus Dilsa. Bagaimana pun dia tidak lupa bahwa Sean adalah pria yang menghancurkan masa depan Kakak nya.
"Kami ingin bertemu Deska". Jelas Willy lagi.
"Ada apa? Mau menghancurkan Kakak saya lagi? Belum puas? Hah?". Sentak Dilsa menatap Sean jijik. Sayang tampan-tampan tapi tidak punya hati.
"Tolong berikan saya kesempatan saya ingin berbicara dengan Deska". Ucap Sean penuh permohonan.
Dilsa memutar bola matanya malas. Jika karena tidak ingin dilihat warga dia pasti sudah memaki-maki Sean.
"Siapa Dil?".
Lisa keluar mendengar perdebatan anaknya.
"Ini Bu.....". Dilsa menggaruk tengkuknya.
"Ehh ada tamu. Silahkan masuk". Ucap Lisa.
Lisa tahu jika pria inilah yang sudah menghancurkan masa depan putrinya. Namun dia tidak mau main hakim sendiri pasti kedatangan Sean kesini adalah untuk menjelaskan alasan semua yang terjadi.
Deska menunduk takut. Tak mau melihat Sean. Bagaimana pun, bayangan kejadian itu benar-benar menghantuinya. Dia takut bertemu pria itu. Dia takut kejadian yang sama akan terjadi lagi. Dia tidak mau. Tidak akan pernah mau.
Sementara Sean menatap Deska dengan dalam. Melihat tatapan dingin gadis itu seperti melukai hatinya. Luka sekali dan sakit. Deska selalu ramah padanya tapi sekarang gadis itu bahkan enggan melihatnya.
"Kedatangan saya kesini ingin menjelaskan kejadian malam itu". Tapi tatapan Sean melekat pada Deska "Saya.....". Sean menghela nafas lalu menceritakan kejadian nya.
Lisa adalah wanita lemah lembut yang tidak mau menghakimi. Jika didengar dari cerita Sean tentu pria itu dijebak. Tapi tetap Sean salah karena sudah merebut sesuatu yang dijaga oleh putrinya. Sebagai seorang Ibu dia juga terluka tapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan kembali menjadi beras lagi.
"Jadi saya ingin bertanggungjawab dan menikahi Deska". Tukas Sean mantap.
"Tidak mau". Tegas Deska menatap Sean dengan penuh kebencian "Saya tidak akan pernah mau menikah dengan anda". Bentak Deska.
Sean tertegun mendengar bentakkan gadis itu dan tak menyangka jika Deska berani meneriaki nya seperti itu. Deska menolak nya? Rasanya Sean tidak terima.
Bersambung....
__ADS_1