
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pejamkan matamu sejenak. Resapi setiap perasaan yang menyeruak didalamnya. Tak semua yang terjadi adalah sesuatu yang buruk. Ada kalanya sesuatu terjadi agar lebih giat lagi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Terkadang Tuhan mencintai manusia dengan cara berbeda-beda. Ada yang baik-baik saja. Ada yang harus merasakan sakit. Semua bukanlah awal penderitaan tapi bagaimana belajar untuk berserah diri dalam keadaan tidak baik.
Begitu juga dengan gadis cantik yang sudah sah menjadi istri itu tapi masih perawan. Dalam benaknya bertanya-tanya kenapa suaminya tidak mau menyentuh nya? Apakah suaminya jijik atau takut jika dia tidak bisa memuaskan pria itu. Berbagai pertanyaan timbul didalam benaknya.
Dia berusaha menepis semua perasaan yang menyudutkan suaminya. Hingga dia disadarkan oleh sebuah kenyataan pahit, bahwa dia berbeda.
Gadis itu menatap keluar jendela menyaksikan butiran salju yang berjatuhan dikota New York, Amerika serikat. Dia memakai mantel tebal serta topi untuk membungkus kepalanya. Tak lupa kaos tangan juga menutupi kedua belah tangannya.
"Sayang". Sang suami memeluk wanita itu dari belakang "Kenapa hmmm?". Dia membenamkan wajahnya diceluk leher sang istri "Apa kau merasa tidak nyaman?". Dia memeluk wanita itu semakin erat. Mencari kenyamanan didalam pelukkan istrinya.
Namun wanita itu malah terdiam menatap kosong kedepan. Tak ada niat untuknya membalas pelukan suaminya.
Entahlah, sejak dia tahu kenapa suaminya tidak mau menyentuh nya rasanya dunia nya runtuh. Hancur berkeping-keping. Pernikahan yang dia inginkan bahagia malah membawanya kepada luka yang mendalam.
"Sayang". Pria itu membalikkan tubuh istrinya "Kenapa menangis?". Dia menyeka air mata wanita cantik itu "Apa sakit lagi?". Tampak kekhawatiran diwajah pria tampan itu.
"Kak". Dia memberanikan diri menatap suaminya "Kakak tidak bahagia bersamaku?". Dia menatap suaminya dengan dalam. Ingin tahu sebesar apa pria ini mencintai nya.
"Kau bicara apa sayang? Aku bahagia bersamamu. Tidak ada yang lebih berharga didunia selain dirimu". Ucapnya jujur tangannya menempel diwajah wanita itu.
Wanita itu tersenyum getir. Semua orang bisa mengatakan cinta. Tapi tidak semua orang bisa membuktikan cinta.
"Kak, kenapa selama kita menikah Kakak tidak pernah menyentuh ku?". Dia menatap suaminya meminta agar pria itu menjelaskannya
Pria itu malah terdiam. Tangannya terlepas dari wajah istrinya. Dia tidak tahu harus jawab apa? Ini akan sangat menyakiti hati wanita yang dia cintai itu.
"Sayang aku_".
"Jika aku memang tidak bisa memuaskan Kakak. Kita cerai saja".
Deg
Pria itu menggeleng dengan cepat. Tidak sampai kapan pun dia tidak akan pernah menceraikan wanita itu.
"Sayang kau bicara apa? Bagaimana aku berpikir kau tidak bisa memuaskan ku. Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu. Tolong jangan ucapapkan kata perpisahan itu, aku tidak sanggup". Dia memegang bahu istrinya sambil menangis.
Wanita itu menepis tangan suaminya "Jika kau mencintaiku kenapa kau tidak pernah menyentuh ku? Bahkan kita menikah sudah sebulan tapi kita tidak memiliki malam pertama. Bukankah itu tandanya kau tidak mencintaiku Kak? Lalu untuk apa kau menikahiku? Hanya untuk pajangan, hah?". Sentaknya menangis dengan hebat.
__ADS_1
"Apa gunanya kita menikah Kak? Aku ingin hamil, aku ingin punya anak. Aku bahagia. Aku ingin kita bersama". Dia menangis tersedu-sedu.
"Sayang_".
"Jangan sentuh aku". Dia menepis tangan pria itu
"Sayang, bukan aku tidak mau. Hanya_". Suaranya putus-putus
"Hanya apa Kak. Hanya karena aku sakit?". Ucapnya menyeka air matanya dengan kasar
"Kau tidak boleh hamil sayang. Jika aku menyentuhmu dan kau hamil itu bahaya. Aku tidak sanggup harus kehilangan mu. Aku lebih baik tidak memiliki keturunan dibanding kehilangan mu. Kau begitu berarti bagiku".
Tubuh wanita itu luruh dilantai. Sekejam inikah hidup? Kenapa dengan hidupnya? Kenapa dia berbeda.
"Hamil berbahaya untukmu. Kau bisa saja hamil tapi kau bisa kehilangan nyawamu. Dan jika memakai pil penunda kehamilan itu akan berbahaya untuk tubuhmu". Terpaksa dia mengatakan yang sebenarnya. Padahal dia sudah berjanji tidak ingin menjelaskan apapun pada istrinya. Ini akan menyakiti wanita itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks".
Wanita itu menangis dengan hebat. Tangisnya sampai tak terdengar. Lirihan. Rintihan. Kekecewaan. Terdengar memilukan.
"Sayang".
Pria itu merengkuh tubuh istrinya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain memeluk wanita ini.
Wanita itu merasa tak berarti. Apakah dia harus menyerah dan pergi? Percuma bertahan hidup, dia sudah tidak berguna bahkan untuk suaminya sendiri. Dia selalu merepotkan pria itu.
Wanita itu ambruk dipelukkan suaminya. Matanya terpejam kian erat. Tubuhnya sudah tak mampu menahan sakit. Sel kanker itu sudah menyebar ke bagian otak dan saraf.
"Sayang".
Pria itu menggendong istrinya dengan berlari. Segera menuju rumah sakit.
Didalam mobil tangisnya kembali pecah. Apalagi melihat wajah wanita itu yang begitu pucat. Darah segar mengalir keluar dari hidung wanita itu.
Rasa takut kehilangan itu menghantui pikiran nya.
.
.
.
__ADS_1
.
Regan mengusap kepala plontos Echy. Sekarang mereka sedang berada dirumah sakit terbesar di New York.
"Kak". Echy tersenyum menatap suaminya.
"Iya sayang?". Balas Regan tersenyum hangat. Tapi matanya berkaca-kaca.
"Bisa ambilkan buku itu Kak". Tunjuknya.
"Tentu saja. Apa sih yang tidak untuk istriku ini?". Dia mencolek hidung wanita itu sambil terkekeh gemes
Dia mengambil buku yang ditunjuk istrinya. Sebenarnya dia penasaran apa isi buku itu.
"Ini sayang".
"Terima kasih suami". Godanya
Echy membuka lembar buku itu. Senyum nya mengembang seolah tak ada rasa sakit ditubuh wanita cantik itu.
"Kak lihat ini". Dia menujukkan gambar didalam buku itu. Gambar itu adalah hasil lukisan nya.
"Apa ini sayang?". Regan melihat gambar yang ditunjuk istrinya.
"Ini kita Kak". Dia meraba gambar itu "Suatu hari nanti, kita akan punya anak. Kita akan merawat nya. Kita membesarkannya bersama-sama. Kita akan bahagia Kak". Senyumnya menjelaskan gambar itu.
Hati Regan mencelos. Sakit. Patah. Hancur. Mendengar ucapan Echy.
"Ini impianku Kak. Tidak salah kan aku bermimpi? Barangkali Tuhan kasihan dan mau memberiku sedikit waktu untuk bahagia". Ujarnya
"Sayang". Regan mengenggam tangan istrinya
"Kak ayo kita ucapkan amin bersama. Semoga doaku terkabul dan impianku menjadi nyata". Serunya dengan semangat.
Regan mengangguk dan mengiyakan ucapan wanita itu meski hatinya berteriak kesakitan.
"Kak naik sini peluk aku". Dia menepuk ranjangnya.
"Iya sayang".
Regan naik keatas ranjang. Lalu memeluk wanita itu. Setiap malam. Selalu seperti itu. Tidur saling berpelukkan.
__ADS_1
Bersambung.