Perjuangan Cinta CEO

Perjuangan Cinta CEO
Ketakutan Regan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Regan masih memeluk Echy. Tak ada lagi pemberontakkan dari gadis itu. Dia malah terdiam nyaman diperlukan Regan.


"Chy".


Regan melepaskan pelukannya saat merasakan tak ada pergerakkan dark Echy.


"Echy". Teriak Regan.


Echy terpejam. Darah segar mengalir dihidungnya. Wajah gadis itu tampak pucat.


"Echy, hiks". Regan menyeka darah yang mengalir dihidung Echy dengan tangannya.


Pria itu mengangkat Echy dan menggendong nya. Dia keluar dengan wajah panik dan takut.


"Nona Echy".


"Echy".


"Cepat siapkan mobil Ben". Teriak Regan.


"Baik Tuan".


Regan setengah berlari membawa gadis itu. Sementara itu banyak pasang mata yang menatapnya. Namun tak berani untuk sekedar bertanya.


Kelly ikutan panik. Gadis itu masuk kedalam mobil dan duduk disamping Ben tanpa izin pada Regan.


"Echy ku mohon Chy. Buka matamu sayang. Hiks hiks hiks. Buka sayang. Maafkan aku. Maafkan aku". Regan memeluk tubuh lemah itu. Tak peduli dengan darah yang masih mengalir dihidung Echy.


"Chy". Lirih Kelly.


Baru pertama kali ini dia melihat sahabatnya pingsan apalagi wajah Echy yang begitu pucat fasih. Kelly menyesal telah meminta Echy untuk berbicara dengan Regan.


Sampai dirumah sakit. Regan langsung turun membawa Echy. Dia berlari masuk kesana sambil berteriak.


"Cepat selamatkan gadisku".


"Baik Tuan".


Zora bersama beberapa dokter disana langsung menangani Echy.


Regan terduduk lemes dibangku tunggu. Pria itu menangis segugukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia ketakutan bukan main. Takut jika Echy meninggalkan dia untuk selamanya.


Padahal Ben sudah memperingatkan Regan agar tidak memaksa Echy karena itu berpengaruh pada kesehatan kondisi Echy.


"Apa sebenarnya yang terjadi pada Echy? Kenapa wajahnya pucat sekali? Kenapa Kak Regan tampak panik? Apa Echy menderita penyakit serius? Atau dia hanya kelelahan?". Batin Kelly.


Kelly juga duduk sambil menunggu. Wajah gadis itu tampak gelisah. Echy adalah sahabat satu-satunya Kelly. Sahabat yang selalu ada untuknya. Tapi dia tidak pernah ada untuk sahabat nya itu.


Kelly menghubungi Rein agar segera kerumah sakit. Bagaimana pun, Rein adalah adik Echy. Kelly takut jika terjadi sesuatu pada sahabat nya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Zora datang. Wajah wanita paruh baya itu tampak tak tenang. Tapi bagaimana pun juga dia harus mengatakan yang sebenarnya.


"Bagaimana Dokter katakan padaku". Ucap Regan berdiri menatap Zora dingin.


Zora menghela nafas panjang "Kondisi Nona Echy masih kritis Tuan. Sel kanker dalam tubuhnya sudah menyebar ke bagian syaraf".


Deg


Jantung Kelly berdenyut. Kanker? Apa selama ini Echy benar-benar sakit? Kenapa dia tidak tahu? Dia kan sahabat Echy?


"Lalu?". Seluruh tubuh Regan serasa melumpuh.


"Setelah hasil pemeriksaan tulang sumsum belakang keluar, kami akan melakukan kemoterapi pada nya Tuan". Jelas Zora "Sampai kondisi nya stabil. Saya akan memberikan beberapa obat penghilang rasa sakit". Jelas nya


"Lakukan sebaik mungkin. Selamatkan dia, anda tahu kan apa akibatnya jika gagal". Regan menatap Zora tajam.


"B-baik Tuan". Jawab Zora gegelapan


"Kak Kelly".


"Rein".


Rein berjalan dengan tergesa-gesa. Pria berkacamata tebal itu, tampak kacau dengan penampilan nya saking buru-buru nya.


"Apa yang terj.....". Rein menatap kearah Regan. Pasti gara-gara pria itu


"Brengsekkkk".


"Tuan".


"Rein".


Ben dan Kelly berusaha melerai Rein yang memukul Regan. Sementara Regan tak melawan sama sekali pria itu bagai patung hidup yang hanya diam saja.


"Hentikan Rein". Hardik Kelly.


"Pria brengsekkkk, anda lah penyebab penderitaan Kakak saya. Kenapa anda kembali? Apa yang anda lakukan disini? Apa anda ingin membuatnya lebih menderita lagi?". Bentak Rein menggema.


Regan hanya terdiam. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut pria itu. Dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan Rein. Perih sudah pasti. Tapi itu memang pantas dia dapatkan.


"Kenapa anda hanya diam, hah? Anda tahu apa yang Kakak saya lewati selama lima tahun ini? Anda tahu bagaimana dia menderita?". Rein menatap Regan dengan benci.


Ben merasa kasihan melihat Regan yang tampak terpojokkan. Regan menunduk saja. Hatinya berdenyut sakit bukan karena teriakkan Rein tapi ketakutan nya akan kehilangan Echy.


"Pergi anda dari sini. Pergi". Usir Rein "Jangan pernah datang dikehidupan Kakak saya lagi. Kami sudah bahagia. Jangan hancurkan kami lagi". Ucap Rein


Rein adalah saksi bisu bagaimana penderitaan Kakaknya itu. Lima tahun dilewati bukanlah hal yang mudah. Pernikahan yang gagal. Kehilangan orangtua secara bersamaan serta harta benda semua pergi tak tersisa satu pun.


Dengan gampangnya Regan datang, setelah Echy sudah bangkit kembali. Setelah Echy sudah baik-baik saja dan setelah lukanya sudah sembuh. Apa Regan tak berpikir bagaimana sulitnya dia berjuang hidup?


.

__ADS_1


.


.


.


Rein dan Kelly masuk kedalam ruangan Echy. Gadis itu masih terpejam dengan selang infus yang mengalir ditangannya. Ada satu selang lagi yang juga mengalir dibagian tubuh lainnya, entah lah apa fungsi nya.


Kelly menangis segugukan. Setelah mendengar cerita Rein dia terluka. Selama ini Echy menderita penyakit. Tapi dia sama sekali tidak tahu, padahal hampir dua puluh empat jam dia bersama sahabat nya itu.


"Chy".


Kelly memeluk Echy. Echy dan Rein sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Apalagi mereka memang akrab.


"Hiks hiks maafkan aku Chy. Maafkan aku". Kelly masih menangis sambil menelungkupkan wajahnya dilengan Echy.


Rein menatap sendu Kakaknya. Dia rapuh melihat Echy yang terbaring lemah seperti ini. Kakaknya yang selalu ceria itu kini hanya menampilkan wajah pucatnya.


.


.


.


.


Regan terduduk lemas. Dirumah sakit ini dia memiliki satu ruangan yang khusus tempatnya memantau Echy.


"Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan Ben?". Ujarnya menatap Echy dari layar laptopnya


"Semua orang memiliki kesempatan Tuan. Tanpa terkecuali". Jawab Ben.


"Tapi kenapa Echy sama sekali tidak memberiku kesempatan Ben. Padahal aku sangat mencintainya". Gumam Regan pelan tapi masih didengar oleh Ben


"Sebaiknya anda ceritakan saja Tuan. Kenapa anda pergi saat itu". Saran Ben.


"Aku tidak yakin Ben, dia akan mengerti. Luka yang aku tanamkan dihatinya terlalu banyak. Aku takut dia malah membenciku. Sungguh Ben, aku tidak bisa jauh darinya. Lima tahun berlalu ini aku hanya bisa menahan diri untuk tak menenemui nya. Seandainya waktu bisa diulang kembali aku tidak akan pergi saat itu dan tetap melanjutkan pernikahan kami". Lirih Regan. Dia mengeluarkan segala sesak dalam dadanya.


"Anda belum mencobanya Tuan. Nona Echy adakah gadis yang baik, dia hanya terlalu terluka sehingga hatinya keras". Sahut Ben


"Tapi aku takut Ben. Takut semakin membuat kondisinya drop. Kau lihat saja kan nanti, saat aku mengajaknya berbicara kondisi nya langsung menurun. Apa aku ini memang pembawa sial Ben? Apa semua orang yang ada didekatku akan pergi meninggalkan aku". Regan menunduk


Ben menatap Regan dengan kasihan. Dia juga tidak bisa membantu banyak. Sebagai asisten dia hanya menemani dan mengikuti perintah Tuan-nya. Jika tidak disuruh maka dia tidak akan jalan.


Bersambung.....


Apakah yang harus Regan lakukan untuk mencairkan hati Echy?????


Ayo simak terus kisah mereka.


Jangan lupa tanda cinta buat author yaaaaaa..

__ADS_1


GBU ....


__ADS_2