
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Aku Permisi Tuan". Echy berdiri mengambil tasnya
"Mau ku antar?". Tawar Dae juga berdiri.
"Ck, Tuan kenapa kau tidak memakan makanan mu?". Protes Echy "Kau ini keterlaluan sekali". Gerutu Echy "Pelayan". Gadis itu melambaikan tangan memanggil pelayan.
"Mau apa?". Kening Dae berkerut.
Echy tak menjawab dia hanya menampilkan wajah kesalnya.
"Iya Nona ada yang bisa saya bantu?". Tanya sang pelayan.
"Tolong bungkus makanan ini yaa?". Echy menunjuk makanan dipiring Dae yang masih utuh.
"Baik Nona". Sang pelayan mengikuti perintah Echy.
"Kenapa kau bungkus makanan itu? Buang saja". Ucap Dae.
"Jangan karena kau kaya seenaknya membuat makanan Tuan. Biar ku bawa pulang saja, lumayan buat hebat-hebat uang saku". Celetuk Echy.
"Ini Nona". Sang pelayan menyerahkan kantong berisi makanan pada Echy.
"Terima kasih". Ucap Echy "Permisi Tuan. Aku duluan". Echy meninggalkan Dae
"Tunggu".
"Ada apa?". Echy berbalik menatap pria itu.
"Biarkan antar saja. Kebetulan aku juga sudah mau kembali". Tawar Dae.
"Maaf Tuan saya menolak. Karena kantor saya tidak jauh. Sekali lagi terima kasih untuk tawaran nya". Tolak Echy melanjutkan langkah kakinya.
Dae malah mengekor gadis itu. Entah kenapa dia menjadi tertarik pada gadis.
"Sayang kau sudah selesai?". Regan datang dengan senyum sumringah.
"Maaf aku tidak jadi makan siang denganmu". Dia melingkarkan tangannya dipinggang ramping Echy
Echy terpaku. Dia menatap pria itu dengan intens. Sementara Regan tersenyum apalagi saat merasa tak ada perlawanan dari Echy.
"Anda siapa ya? Ada hubungan apa dengan kekasih saya?". Regan menatap dingin kearah Dae.
__ADS_1
"Saya kebetulan bertemu dia". Kilah Dae. Padahal mereka saling kenal tapi didepan Echy Seolah mereka baru bertemu.
"Ayo sayang". Ajak Regan "Kami permisi Tuan". Ujar Regan
Regan masih melingkarkan tangannya dipinggang Echy. Dia takkan memberi celah pada siapapun yang ingin mendekati gadisnya.
Sementara Echy hanya menatap kosong. Dia membiarkan Regan memeluknya karena dia merasa tidak nyaman dengan Dae. Seolah Dae punya sesuatu yang membuat Echy sedikit takut.
"Lepaskan". Sentak Echy saat mereka sudah berada didepan restourant "Jangan mengambil kesempatan dalam kesimpulan ehh kesempitan maksudnya". Echy menepuk bibirnya yang salah bicara.
Regan malah terkekeh. Cara paling jitu mendekati Echy adalah jangan paksa dia. Dekati perlahan. Kenali pelan-pelan. Masuk lagi dalam kehidupan nya dengan cara baik-baik. Jangan memaksa karena gadis itu tidak suka dipaksa.
"Apa kau tahu jika pria itu punya niat jahat denganmu? Kau ini, lain kali jangan makan sendirian. Itu bahaya". Omel Regan. Untung dia memiliki pengawal bayangan yang selalu melaporkan keadaan gadisnya
Echy memutar bola matanya malas. Kali ini gadis itu sudah tidak takut lagi pada Regan. Malah dia terlihat biasa saja.
"Apa pedulimu Tuan?". Tatap Echy dingin "Sudahlah. Kenapa kau masih terus menemui ku? Aku sudah mengatakan jangan pernah temui aku lagi". Tegas Echy.
"Kau jangan percaya diri Nona. Aku hanya kebetulan lewat saja. Aku hanya tidak mau kau terjebak dengan pria itu tadi". Kilah Regan mencari alasan.
"Percaya diri itu penting demi masa depan". Ketus Echy "Sudahlah. Ku harap kita tidak bertemu lagi".
Echy mellengang pergi dari sana tanpa memperdulikan Regan.
Regan menatap punggung gadis itu. Senyum nya mengembang. Benar kata Ben, jangan membahas masa lalu saat bersama gadis itu. Anggap saja tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Terbukti Echy tidak ketakutan saat bertemu Regan. Biasanya gadis itu akan menghindar tidak mau menatapnya.
"Perjuangan ku masih panjang untukmu sayang. Ku harap kau akan selalu baik-baik saja. Aku mencintaimu". Gumam Regan.
Echy masuk kedalam gedung pencakar langit itu. Tanpa Kelly rasanya hampa. Biasanya mereka berdua bagai paku lekat dipapan dimana-mana selalu bersama.
"Siang Nona Echy". Sapa para karyawan saat Echy sudah masuk kedalam ruangan.
"Siang". Sahut Echy tersenyum "Melda, buatkan laporan keuangan bulan ini. Saya butuh data meeting bersama Tuan Sean".
"Baik Nona".
Echy kembali duduk dimeja kerjanya. Gadis itu meletakkan tasnya. Sebagai kepala bagian, dia harus disiplin waktu. Menjadi contoh yang baik untuk para bawahannya.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk Echy berada dititik ini. Perjalanan yang tidak mudah. Perjalanan yang sulit.
Echy menghela nafas panjang. Pikirannya kembali teringat pada Regan.
"Mau apa lagi dia? Sampai kapanpun aku tidak pernah menerima dia lagi. Terlalu banyak sakit yang dia berikan padaku. Aku tidak peduli lagi padanya. Walaupun, jika boleh jujur aku juga merindukan nya". Gumam Echy sambil menekan tombol-tombol keyboard komputer nya.
__ADS_1
"Semoga dia tidak menganggu ku lagi. Semoga aku tidak pernah lagi bertemu dengannya". Gumam gadis itu.
Echy melanjutkan pekerjaan nya. Gadis periang dan ceria itu tampak serius bekerja.
"Permisi Nona. Ini data yang anda minta". Melda menghampiri meja Echy.
"Terima kasih Mel". Echy mengambil berkas itu "Apa semua sudah rangkup disini?". Tanyanya membolak-balik berkas itu.
"Sudah Nona". Sahut Melda.
"Baik".
"Kalau begitu saya permisi Nona". Ucap Melda Sopan.
"Iya". Respon Echy singkat.
Echy adalah Manager termuda diperusahaan ini. Setiap tahun dia selalu mendapat award sebagai staff terbaik yang mencapai target lebih dari seratus persen.
Echy berdiri dari duduknya dan membawa berkas ditangannya. Dia akan menemui Sean.
Berkali-kali gadis itu menghela nafas panjang. Akhir-akhir ini dia memang terkesan mengindari Sean. Selain ancaman orangtua Sean, Echy juga tidak mau menghancurkan hubungan orang lain. Meskipun dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun ada Sean.
"Nona Echy". Panggil Willy.
"Tuan Willy. Apa Tuan Sean ada?". Tanya Echy tak lupa senyuman manis selalu dia lemparkan. Hingga membuat Willy salah tingkah.
"Ada Nona. Mari". Willy membuka ruangan Sean
"Terima kasih Tuan".
Echy masuk kedalam ruangan Sean. Tampak Sean tengah sibuk dengan berkas ditangannya.
"Kak Sean".
Sean mengangkat pandangan nya.
"Echy". Pria itu langsung sumringah dan meletakkan berkasnya "Kau kemana saja?". Cecar Sean menghampiri Echy.
"Maaf Kak. Akhir-akhir ini aku sibuk". Kilah Echy "Ini data keuangan bulan ini".
Sean menatap Echy dalam. Ingin rasanya dia merenggkuh tubuh Echy. Tapi dia sadar bahwa gadis itu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sean tidak mau membuat Echy merasa tidak nyaman karena dirinya.
Sean akan berusaha menghapus perasaan nya dan menganggap Echy sebagai adiknya sendiri. Tidak perlu memiliki gadis itu, cukup selalu berada didekatnya saja sudah merasakan bahagia.
__ADS_1
Bersambung....